Berbincang dengan Sukarno usai pelantikan Dewan Konstituante pada 1955. (Sumber: Kenang-kenangan 70 Tahun Buya HAMKA).
Ketua Majelis Ulama -Mufti- Indonesia: Buya HAMKA
mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html
MAJELIS ULAMA INDONESIA
"Kita umat Islam ini sudah lama didendami oleh pihak yang berkuasa. Ini adalah sisa-sisa indoktrinasi yang ditanamkan oleh PKI dan Orde Lama. Akibatnya apa pun yang baik yang hendak kita lakukan, selalu dicurigai. Begitu pun kita sendiri secara apriori menganggap segala upaya dan peraturan yang datang dari pemerintah untuk mengatur dan membangun negara, semuanya salah. Kita kehilangan pertimbangan pada setiap apa pun yang datang dari pemerintah." "Kalau begitu alasan Ayah menerima kehadiran Majelis Ulama dan mungkin kesediaan Ayah menerima jabatan Ketua Umumnya adalah politik. Bukankah Ayah selalu mengatakan bukan orang politik?" tanya saya. "Benar kalau hendak dikatakan demikian, tapi kalau orang politik menginginkan jabatan dan kursi itu, karena empuknya kursi itu. Ayah sendiri melihat kursi Ketua Majelis Ulama itu sebagai sebuah kursi listrik, kita akan mati terkena aliran listriknya yang membunuh ..."
(Rusydi Hamka, Pribadi Dan Martabat Buya HAMKA, Penerbit Noura, Cet.I, 2017).
TAUHID YANG KHALIS
Menegakkan agama yang benar, Tauhid yang khalis adalah tujuan hidup kita. Di zaman modern pun orang telah mengakui betapa pentingnya berperang menegakkan ideologi, yaitu cita-cita yang diperjuangkan, haruslah jelas. Perang-perang sebagai di zaman feodal dahulu, yaitu memusnahkan harta benda dan jiwa raga untuk kepentingan seorang raja atau pengeran tidak ada lagi. Perang sekarang ialah perang ideologi. Sepihak ideologi komunis, sepihak lagi ideologi kapitalisme. Mana ideologi menegakkan kepercayaan kepada Allah penguasa seluruh alam?
JANGAN MEMOHONKAN AMPUN UNTUK MUSYRIKIN
"... telah jelas baginya bahwa dia itu musuh bagi Allah ..." (at-Taubah: 113-114).
Tiada Dia bersekutu dalam keadaan-Nya dengan yang lain. Demikian juga tentang mengatur syari'at agama, tidak ada peraturan lain, melainkan dari Dia.
ISLAM SUDAH SANGAT SEMPURNA
"... Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu ..." (al-Maa'idah: 3).
Dalam hal-hal yang musykil berkenaan dengan urusan dunia, pun telah cukup pula agama memberikan bimbingan. Kenyataan pertama ialah agama murni menurut yang diturunkan dari langit, yang telah cukup dan sempurna, tidak dapat dikurangi atau ditambah lagi. Orang yang menambah-nambah, bernama tukang Bid'ah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 443, Jilid 4 Hal. 304, Jilid 2 Hal. 599-600, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
CAHAYA BARU
Yaitu 12 abad setelah tiadanya Nabi saw. dengan lahirnya Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab, guru besar ajaran Wahabi yang masyhur. "Kembali pada ajaran Rasul saw. yang asli", adalah dasar pengajarannya. Tauhid yang khalis, yang tidak bercampur dengan syirik sedikit juga ke sanalah semua umat harus pulang agar selamat dunia dan akhirat.
MUHAMMAD IBNU SA'UD
Sebuah paham agama yang besar (orang sekarang menyebutnya sebuah ideologi) tidak akan bertumbuh kalau tidak ada kekuasaan. Sebaliknya, suatu kekuasaan tidak bisa kekal kalau tidak mempunyai ideologi yang kokoh. Begitulah tiap pendiri negara yang besar di dunia sejak dahulu, kini dan nanti. Kebesaran Islam yang mengagumkan bukankah karena ideologi yang diterima Muhammad saw. dari Allah, yaitu "Tidak ada Tuhan selain Allah?" Sehingga muncullah niat besar pada orang yang senama dengan Nabi Muhammad saw., yaitu Muhammad ibnu Sa'ud hendak mendirikan kekuasaan untuk menerapkan ajaran gurunya yang senama pula dengan Nabi Muhammad saw., yaitu Muhammad ibnu Abdul Wahab. Maksud itu disampaikannya pada gurunya bahwa ia hendak menegakkan kekuasaan untuk menerapkan ajaran gurunya yang diberi nama Madzhab Salaf. Anjuran itu diterima baik oleh gurunya. Pedang dan Al-Qur'an, yakni pedang dalam tangan Amir Muhammad ibnu Sa'ud dan Al-Qur'an dalam tangan Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab. Mulailah Muhammad ibnu Sa'ud menyiarkan ajaran itu, membongkar Syirik dan Bid'ah di kalangan kabilah yang dipimpinnya dalam kota kecil Dar'iyah.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 289, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
ISLAM UNTUK INDONESIA
"Kita, ini hari," tulisnya, "dipandang sebagai 'orang lain', sebagai 'pengacau', sebagai orang yang menumpang dalam Negara ini!"
Dia marah karena mesti merasa kesetiaannya dipertanyakan. Bagaimana pun, umat Islam telah berperan besar dalam perjuangan meraih kemerdekaan, dia menyebut-nyebut para santri yang keluar dari surau untuk maju ke medan perang dan para pemimpin seperti Haji Agus Salim, Sudirman, Syafruddin dan Mohammad Roem.
Di Konstituante, Hamka mengecam Demokrasi Terpimpin sebagai "totalitarianisme" dan menyebut Dewan Nasional Sukarno sebagai "partai negara". Semua upaya Hamka di Konstituante akhirnya sia-sia. Pada Juli 1958, dalam manuver menit terakhir untuk memecah kebuntuan Konstituante, Kepala Staf Angkatan Darat, Abdul Haris Nasution, mengusulkan pemberlakuan kembali UUD 1945 dengan tambahan Piagam Jakarta -- kalimat yang mengandung kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluknya, yang telah ditolak oleh para pendiri negara. Usul itu ditolak melalui pemungutan suara. Pada Juli 1959 Sukarno membubarkan Konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945 melalui Dekrit Presiden, menghancurkan sisa harapan akan adanya undang-undang dasar berbasis Islam.
(James R. Rush, ADICERITA HAMKA: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Hal. 147-155, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Cet.1, 2017).
MUNAFIK
Munafik adalah perangai jahat yang diberi kulit baik. Siapakah orang yang munafik? Orang munafik itu sendiri lebih tahu siapa dirinya. Yaitu orang yang hendak menipu orang lain dia memperdayakannya. Musang yang meminjam bulu ayam yang sudah dibunuhnya, lalu dipakainya untuk menipu ayam lain.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 55, Republika Penerbit, 2015).
MUNAFIK
Jika Tuan bertanya, di mana "sarangnya"?
Mari kita jawab! Carilah dalam diri kita sendiri.
Insting (naluri) kebinatangan kita, keinginan hendak hidup, hendak berkuasa, hendak memiliki, takut mati dan lain-lain yang ada dalam jiwa kita. Semuanya itu akan memungkinkan kita jadi munafik. Itulah guna kecerdasan akal, ilmu pengetahuan di otak dan agama yang benar untuk meneguhkan pendirian, untuk menguatkan karakter yang sehat dan pribadi yang berpotensi. Itulah alat-alat untuk mencegah kita menjadi munafik.
Kita telah melalui perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Bukankah kita bertemu dengan "peristiwa" munafik itu berpuluh, beratus, bahkan beribu kali?
(Buya HAMKA, Bohong Di Dunia, Hal. 49, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
MENYEMBAH SETAN
"Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu, wahai Anak Adam supaya kamu jangan menyembah Setan ..." (Yaasiin: 60).
Akibat dari orang yang menukar persembahan itu, dari menyembah Allah lalu mereka tukar dengan menyembah Setan. Dari menempuh jalan lurus, shirathal mustaqim, mereka tempuh jalan berbelok-belok tidak menentu.
TERTIPU
"Dan telah tertipu mereka oleh kehidupan dunia dan mereka pun telah menyaksikan atas kesalahan diri-diri mereka bahwa sesungguhnya mereka memang telah menjadi orang-orang yang kafir." (al-An'aam: 130).
Untuk menjelaskan pengertian ayat ini, dapatlah kita kemukakan suatu misal yang dapat kita alami sehari-hari. Segolongan kaum Muslimin mendirikan suatu partai agama, yang bercita-cita (ideologi) agar hukum, peraturan dan syari'at Allah berlaku dalam negara mereka. Padahal, negara itu bersifat nasional dan tidak yakin akan peraturan syari'at Islam. Negara itu berdasar sekularisme, yaitu pemerintahan yang sengaja dijauhkan dari segala pengaruh agama. Pada suatu hari, datanglah ajakan pada penganjur partai yang berideologi Islam itu supaya duduk dalam satu kabinet (pemerintahan). Dia akan diangkat jadi menteri, padahal dia tahu kalau dia terus duduk dalam pemerintahan, belumlah mungkin negara itu menegakkan syari'at Islam, malahan akan tetap membuat undang-undang yang jauh dari Islam. Namun, tawaran itu diterimanya juga. Sebab apa? Sebab hidup menjadi penguasa atau menjadi menteri akan mengakibatkan kemewahan, rumah gedung yang indah, mobil yang mengilap dan semua itu karena pangkat dan kedudukan tinggi. Dia simpan cita-cita yang telah dibinanya itu dan diterimanya jabatan karena keinginan pada kemewahan duniawi. Beberapa waktu kemudian terjadi lagi perubahan pemerintahan dan pangkatnya pun jatuh. Dan, cita-cita yang telah direncanakannya beberapa tahun itu belumlah dapat dilaksanakannya sama sekali dalam pemerintahan yang dimasukinya itu. Setelah keluar dari jabatan pemerintahan, dia pun menyesal. Sesudah pekerjaan itu ditinggalkannya, barulah dia menyaksikan sendiri dengan dirinya apa yang menjadi tujuan hidupnya yang sejati tidaklah pernah dicapainya melainkan bertambah jauh. Yang dicapainya hanyalah kemewahan buat dirinya sendiri dan itu pun hanya sebentar. Karena politik berubah, dia jatuh sesudah naik atau dia mati, padahal selama berpangkat dahulu dia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menegakkan citanya yang sejati. Dan, cita (ideologi) adalah perjuangan hidup manusia yang sejati. Dia menyangka beruntung, padahal modal aslinya sendiri yang telah hilang dan licin tandas. Tegasnya, mereka akhirnya insaf bahwa mereka telah menempuh jalan yang salah, yaitu meninggalkan jalan shirathal mustaqim, jalan Allah yang lurus, lalu oleh karena perdayaan Setan Manusia dan Jin yang menyebar kata lemak manis, padahal berisi tipuan. Dan setengah dari tipuan itu ialah keenakan dan kemewahan duniawi, lalu cita-cita yang asal mereka tinggalkan. Cita-cita yang asal mereka pandang perkara kecil dan remeh belaka. Peraturan Allah meliputi akan seluruh segi dari kehidupan. Selain dari ibadah untuk diri sendiri, seumpama shalat dan puasa, manusia pun diperintah menjalankan peraturan Allah mengenai masyarakat, mengenai ekonomi, sosial dan politik, serta mengenai negara. Dahulu ketika menerima pangkat dan jabatan, mereka tidak sadar bahwa dengan perbuatannya itu mereka telah menunjukkan bahwa mereka tidak percaya lagi akan peraturan Allah bisa menyelamatkan dunia ini. Dengan membayangkan pengakuan bahwa mereka telah kafir di ujung ayat itu, dapatlah kita memahamkan bahwa kufur itu bukanlah semata-mata karena tidak mengakui adanya rasul saja. Meskipun mengaku bahwa Allah itu ada, padahal tidak meyakini peraturan dari Allah atau memandang bahwa peraturan buatan manusia lebih baik dari peraturan dari Allah, kufurlah orang itu, walaupun mulanya tidak merasa kufur. Jalan pikiran manusia yang sehatlah setelah merasakan berbagai pengalaman yang pahit, yang menginsafkan bahwa dia telah kufur. Barulah setelah maut datang dan tidak dapat dielakkan, ternyata bahwa dunia telah habis begitu saja, tanpa bekas. Dan, setelah datang Hari Mahsyar, hari yang pasti itu, diinsafi bahwa dia kecil tak berharga, lebih hina dari cacing. Waktu itu baru mengaku terus terang, "Aku ini telah kafir!"
PENDIRIAN YANG TEGAS
Di dalam menegakkan pendirian ini, sejak dari langkah pertama sudah mesti berterang-terang, tidak boleh bersembunyi.
Ayat-ayat ini tegas benar menyatakan bahwa Rasulullah saw. harus menyatakan terus terang bahwa dia tidak akan menerima hakim lain selain Allah. Tidak menerima peraturan lain selain peraturan Allah.
Satu waktu orang pun merasa kecewa dengan demokrasi sebab kemerdekaan memilih dan dipilih hanya untuk orang yang kaya, tuan tanah dan ahli-ahli pidato demagogi penipu.
Segala teori yang tidak berdasar atas kepercayaan kepada Allah adalah teori omong kosong atau kedustaan dan kebohongan yang diatur rapi.
Yang kita kemukakan di sini ialah teori-teori manusia mengenai urusan kemasyarakatan atau pemerintahan.
Sudah terang pula kalau sekiranya kaum jahiliyyah tidak menyukai peraturan Allah.
Pada zaman modern sekarang ini, pejuang-pejuang Islam yang ingin mengikuti Sunnah Nabi, yang bercita-cita hendak menegakkan peraturan Allah di dalam alam ini kebanyakan dibenci oleh golongan yang tidak mengenal peraturan Allah itu. Di dalam negeri-negeri Islam sendiri, pejuang Islam dibenci dan menderita berbagai penderitaan jika dia mengemukakan keyakinan hidup, menjelaskan bahwa dia bercita-cita supaya di negerinya, peraturan dan undang-undang negeri harus diambil daripada peraturan dan undang-undang Allah. Ayat yang selanjutnya memberikan ketegasan lagi sehingga kebimbangan pejuang Islam itu dihilangkan,
"Dan jika engkau ikut kebanyakan orang di bumi ini, niscaya akan mereka sesatkan engkau daripada jalan Allah. Karena tidak ada yang mereka ikuti kecuali sangka-sangka. Dan, tidaklah ada mereka selain dari berdusta." (al-An'aam: 116).
KEKAL DALAM NERAKA
"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kedustaan atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?" (al-A'raaf: 37).
Keduanya ini adalah puncak-puncak kezaliman yang tidak dapat dimaafkan.
Ini bertali dengan ujung ayat 33, yaitu berbicara di atas nama Allah barang yang tidak ada pengetahuan mereka padanya.
Disini terdapat dua keputusan. Pertama, pintu langit tidak terbuka bagi mereka. Kedua, tidak mungkin mereka masuk surga. Menurut Tafsir Ibnu Abbas, tidak ada amalan mereka yang diterima Allah. Dan dalam penafsiran yang lain Ibnu Abbas berkata, tidak terbuka pintu langit buat menerima amal mereka dan doa mereka. Dan dalam riwayat yang lain ditafsirkan lagi oleh Ibnu Abbas bahwa pintu langit tidak dibuka buat menerima ruh mereka setelah mereka mati. Suatu riwayat dari Ibnu Juraij mengumpulkan keduanya, amal tidak diterima dan ruh pun ditolak naik ke langit.
Untuk menjadi peringatan bagi manusia agar jangan mereka sangka mudah-mudah saja masuk surga, setelah pokok kepercayaan kepada Allah itu yang telah dirusakkan dan puncak kezaliman yang telah ditempuh.
"(Yaitu) orang-orang yang memalingkan (manusia) daripada jalan Allah ..." (al-A'raaf: 45).
Jalan Allah adalah jalan lurus. Orang yang bertujuan baik masuk ke dalam jalan itu. Namun, orang yang sekarang kekal dalam neraka ini kala di dunia telah berusaha menarik, menghimbau dan kalau perlu mencoba menghambat jalan lurus itu atau membendungnya sehingga manusia-manusia itu terpelanting ke jalan lain. Kalau diingat lagi janji sumpah Iblis kepada Allah bahwa mereka hendak memperdayakan Adam sampai kepada keturunannya agar mereka terpaling daripada jalan Allah yang lurus (ayat 15). Jelaslah bahwa orang-orang yang zalim ini telah menjadi kaki-tangan Setan. Maka, mereka inilah yang telah disebutkan Allah dalam ayat 18 bahwa mereka bersama Setan Iblis itu akan diambil sepenuh padatnya Jahannam.
TEGASNYA, JALAN YANG LURUS HANYA SATU
"Dan bahwa sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus ... Demikianlah Dia wasiatkan kepada kamu, supaya kamu semuanya bertakwa." (al-An'aam: 153).
Yaitu yang digariskan oleh Allah.
Lain dari jalan yang satu itu, ada lagi bermacam-macam jalan, bersimpang-siur jalan. Yakni jalan yang dibuat Setan atau jalan yang dibuat khayalan Manusia. Jalan Syirik, jalan Khurafat dan jalan Bid'ah. Demikian juga segala maksiat karena menuruti jalan Setan.
PASTI
Apabila kita teguh berbenteng dengan iman, kita akan jadi Hizbullah, golongan Allah dan apabila kita terpedaya oleh Setan kita pasti jadi anggota Hizbusy-Syaitan. Na'udzubillah.
GEMBIRA BUAT YANG MUNAFIK?
Meskipun munafik dan kafir sama-sama masuk neraka, namun tempat munafik adalah di alas yang di bawah sekali. Sebab karena dipandang lebih hina.
KAUM MUSLIMIN TERLALU JUJUR
"Inilah kamu! Kamu kasih kepada mereka, padahal mereka tidak kasih kepada kamu ..." (Aali 'Imraan: 119).
Di dalam merenungkan ayat-ayat ini, teringatlah kita kepada orang-orang munafik pada zaman modern. Dengan lidah yang fasih mereka menyebut nama, "Allah Subhanahu Wa Ta'aala, Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam," dan sebagainya, padahal hatinya sebagai direndang dengan kacang miang kalau kaum Muslimin akan mendapat kemajuan. Kaum Muslimin diserunya supaya bangun, tetapi dia sudi mati dalam kebencian. Ditipunya kaum Muslimin berpuluh, bahkan beratus kali. Kaum Muslimin yang malang tetapi jujur, kalau mendengar nama seseorang yang berjabatan tinggi selalu bertanya, "Apakah si fulan golongan awak juga?" Atau mereka bertanya, "Apakah bapak anu itu shalat?" Demikianlah karena harapnya moga-moga hukum Allah berlaku dalam negerinya, senang benar hatinya kalau ada seorang wazir atau seorang kepala negara diangkat, mudah-mudahan orang itu golongan awak juga. Padahal kemudian mereka bersedih hati karena pengharapan mereka menjadi hampa. Orang yang mereka sangka hendak menegakkan Islam ternyata berusaha meruntuhkannya. Kadang-kadang dia tertipu mendengar namanya. Misalnya dia bernama Amir Syarifuddin, padahal dia seorang Kristen. Atau dia bernama Muhammad Lukman, padahal dia komunis. Atau orang yang memulai perkataan dengan "Assalamu'alaikum," padahal dia penganut Marxisme.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 442, Jilid 3 Hal. 253-423, Jilid 7 Hal. 349, Jilid 2 Hal. 499, Jilid 2 Hal. 56-57, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DOSA YANG LEBIH BESAR DARI DOSA SYIRIK
[4] Mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu). (Al A’raf: 33)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “... Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.” [I’lamul muwaqqi’in hal. 31, Dar Kutubil ‘Ilmiyah].
muslim. or. id/41186-dosa-yang-lebih-besar-dari-dosa-syirik. html
ULAMA SU' (ULAMA JAHAT)
Memang banyak orang tertipu oleh ulama yang pertama tadi, dengan ulama su'. Karena mereka pandai berhias dengan ilmu-ilmu hafalan. Pandai pula menjadi penarung menghambat masyarakat yang sedang maju. Pandai pula memakai pakaian yang menyerupai orang saleh, untuk memikat harta dan kehormatan. Tetapi tipuan itu tidak akan lama berlaku. Sebab topeng demikian akhirnya mesti terbuka. Mereka tiadakan tahan di dalam, satu saat mesti terlempar ke luar. Atau tertinggal jauh di belakang.
Awaslah wahai kaum muslimin yang hendak memperbaiki nasibnya dalam mengejar kemuliaannya kembali. Peganglah kata ulama. Ikutlah perkataan ulama. Jadikanlah mereka contoh dan teladan dalam mengerjakan agama. Yaitu ulama yang berkidhmat kepada umatnya dan negerinya. Yang hanya berlindung kepada Tuhan dan memegang Sunnah Nabi. Mengikuti jejak jalan Salafus Shalihin yang terdahulu, yang sanggup menghadapi kehendak khaas dan 'aam, dan meninggalkan kehendak nafsunya sendiri.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 362, Republika Penerbit, 2015).
BUYA HAMKA SOSOK TELADAN: Pengawal Akidah Umat
kemenag.go.id/home/artikel/12724
HALANGAN DARI PENGUASA
"Dan demikianlah, telah Kami jadikan pada tiap-tiap negeri beberapa orang-orang besar jadi pendurhaka supaya mereka menipu daya di dalamnya. Padahal, tidaklah mereka menipu daya, melainkan kepada diri mereka sendiri, namun mereka tidaklah sadar." (al-An'aam: 123).
Pada zaman modern ini, pihak-pihak yang berkuasa mudah saja melakukan makar itu dalam mempertahankan kekuasaannya. Orang yang berjuang hendak menegakkan ajaran Nabi Muhammad saw. mendapat berbagai halangan dan rintangan. Cara propaganda yang modern bisa saja membuat suatu cita-cita yang benar dan suci sebagai suatu kejahatan. Keinginan agar hukum Allah berlaku dalam masyarakat dapat saja dituduh sebagai pemberontak dan segala usaha hendak menyingkirkan peraturan Allah dari muka bumi mendapatkan pujian yang besar. Berusaha menegakkan syiar Allah, mengucapkan salam menurut ajaran Muhammad saw. teguh memegang ajaran Al-Qur'an. Sabda dan wahyu Allah, dapat saja dituduh fanatik dan menghalang-halangi kemajuan. Inilah usaha dari "Akaabira Mujrimiha!" Penjahat kaliber besar dalam negeri itu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 269, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DENGAN DUTA-DUTA ASING
Datanglah undangan dari Duta Turki di kedutaannya. Ia menyesalkan saya, "Mengapa tidak diteruskan perjalanan ke Turki kalau Tuan sudi ke Turki, dengan segera, saya akan memberi Tuan visa. Bangsa Indonesia sangat dikagumi di Turki, dan Perdana Menteri kami telah menyatakan di hadapan parlemen bahwa perhubungan dengan Indonesia akan diperapat."
Sebagian dari perkataannya yang sangat tersisip di hati saya adalah, "Lanjutkanlah perjalanan ke Turki, wahai Tuan yang mulia. Di Ankara, Tuan akan menyaksikan Turki baru yang ditegakkan di atas reruntuhan Turki lama. Namun, di Istanbul, Tuan akan melihat bukti yang nyata dan jelas bagaimana kami, bangsa Turki, selama 400 tahun memegang kewajiban suci menjaga benteng Islam. Di sana, Tuan akan melihat masjid-masjid yang indah, bekas keimanan kami kepada Tuhan." Dengan berani, saya berkata, "Maafkan saya, Paduka Tuan, jika saya menyinggung perasaan Tuan. Lama sekali tersiar berita bahwa bangsa Turki telah meninggalkan ajaran agama Islam dan menukar undang-undang dasarnya dengan yang baru, serta pemerintahan negeri Tuan hanya kebangsaan saja." Wajah Duta Turki itu kelihatan memerah, timbullah fanatik keturkiannya. Namun, sebagai seorang diplomat, ia dapat menghilangkan perasaannya yang tersinggung itu dengan cepat.
(Buya HAMKA, DI TEPI SUNGAI DAJLAH, Hal. 160-161, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2019).
NEGARA ISLAM, NEGARA TAUHID
Setelah Nabi saw. pindah ke kediamannya yang baru (Madinah), Islam pun menempuh penghidupan yang baru. Di sanalah, terdapat keteguhan dan kekuatan. Di sanalah, mulai didirikan negara yang Nabi saw. cita-citakan yaitu negara Islam, negara Tauhid.
DARUL KUFAR
Tuntunan dari ajaran Islam sendiri pun amat jelas untuk menjadi pegangan mereka. Peraturan Islam membagi negara-negara (dar) kepada tiga macam saja, yakni Darul Islam, Darul Kufar dan Darul Harb. Negeri-negeri yang telah ditaklukkan oleh Islam dan telah dapat didirikan di sana hukum syari'at Islam di bawah pimpinan khalifah dinamakan Darul Islam. Negeri yang belum menerima Islam dan pimpinan tidak pada tangan khalifah Islam, bahkan pada tangan kerajaan yang bukan Islam dinamakan Darul Kufar, dan negeri yang sedang berperang dengan kekuasaan Islam dinamakan Darul Harb (negeri yang sedang berlaku padanya peperangan). Ada peraturan-peraturan yang harus dilakukan oleh seorang Muslim apabila ia tinggal dalam ketiga macam negeri itu. Adapun kalau tinggal di Darul Kufar hendaklah diperhatikan adakah kita sebagai Muslim mendapat kebebasan melakukan ibadah kepada Allah, diusirkah kita dari negeri itu atau tidak. Kalau tidak, bolehlah kita tinggal sementara dalam negeri itu sambil menyebarkan juga paham agama kita tanpa kekerasan. Akan tetapi, kalau keadaan sudah mengizinkan hendaklah selalu berusaha agar negeri itu menjadi Darul Islam.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 87, Hal. 515, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
DAJJAL
Yang sebaik-baik kepercayaan ialah tiada menafsirkannya dan tunggu saja, apa pun yang akan terjadi. Selama nama Allah SWT masih bersemayam dalam hati, bagaimanapun besar cobaan dan kebohongan (Dajjal), kita tidak akan kena "dajjal", artinya tidak akan dapat "dibohongi".
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM, Hal. 338, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
BOHONG DI DUNIA
Ibnu Taimiyah berkata, "Yang salah itu tidak ada hakikatnya."
Orang yang telah membohongi, artinya mengada-ada yang tidak ada, adalah orang yang tidak beres akalnya atau sakit jiwanya. Perlulah orang yang sakit itu diobati sampai sembuh. Dengan kesembuhan itu, hilanglah kedustaan dan itulah yang benar.
Sekian.
(Buya HAMKA, Bohong Di Dunia, Hal. 122, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
DARI HAL FANATIK
Malahan ada yang berani berkata, "Jangan disebut-sebut juga hukum-hukum Islam itu di sini, negeri ini bukan negeri Islam. Negeri ini negeri Pancasila."
Bagaimana sekarang, wahai mereka yang disudut jiwanya masih ada sisa rasa tanggung jawab agama?
Takutkah kalian dituduh fanatik?
Kalau takut lebih baik berhenti jadi orang Islam.
Kalau kalian tidak mau keluar dari Islam, janganlah separuh-separuh.
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, keluarga kamu, dan harta benda yang kamu tumpuk-tumpukkan, dan harta yang kamu takuti akan ruginya, dan rumah kediaman yang sangat kamu senangi semuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad pada jalan-Nya, maka berwaspadalah sampai Allah datang dengan keputusan-Nya. Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.'"
Ayat itu jelas menyuruh kita tegas pendirian, yang cintanya melebihi segala cinta, hanya Allah dan Rasul.
Kita hormat dan cinta kepada manusia kalau mereka menjalankan kehendak Allah dan Rasul.
Ya Allah! Kalau karena cinta kepada-Mu dan Rasul-Mu, bercita-cita agar hukum-Mu berjalan dalam dunia ini, kalau karena berani menentang segala yang batil, kalau itu yang dikatakan fanatik, perdalamlah ya Allah rasa fanatik itu dalam jiwa kami. Matikanlah kami dalam membuktikan cinta kepada Engkau.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 120-123, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI
PENDAHULUAN
"Ketuhanan Yang Maha Esa" bukanlah semata-mata berisi ketakutan (khauf) atas murka-Nya, bahkan ia mengandung harapan (raja') atas hidayah-Nya. Bukan pula semata-mata mengandung kecemasan (rahaban) atas siksa-Nya, bahkan mengandung pula akan kerinduan (raghaban) atas pimpinan-Nya. Hidup yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa ialah hidup yang penuh dengan cinta. Sebab itu apabila negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, pembelaan seseorang kepada negaranya, jadilah ia ibadah, menuntut ridha Allah SWT, tidak sekali-kali mengharap laba duniawi, ganjaran bintang-bintang dan tanda kehormatan, pendeknya tidak karena tertarik oleh benda yang tiada kekal, yang dahulunya tidak ada kemudian ada dan akhirnya lenyap.
Maka berduyun-duyunlah umat Islam melaksanakan revolusi, mengejar maut, laksana lelatu mengejar cahaya lampu, padahal di sana ada kematian.
"Mati karena percintaan adalah tanda cinta yang sejati."
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 7, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
HAK UMAT ISLAM
Undang-Undang Dasar 1945 adalah berjalin berkelindan dan dijiwai oleh Piagam Jakarta yang mengakui Hak Umat Islam menjalankan Syari'at Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 303, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JAKARTA CHARTER (PIAGAM JAKARTA)
Presiden Soekarno menyebutkan bahwa "Jakarta Charter" itu memang menjiwai UUD '45.
Ternyata, sebagian besar dari penantang "Ideologi Islam" di zaman hebatnya pertentangan ideologi itu, ialah penganut agama Islam sendiri.
-Disampaikan oleh Prof. DR. HAMKA sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dalam Pertemuan dengan Wanhankamnas pada 25 Agustus 1976.
(Rusydi Hamka, Pribadi Dan Martabat Buya HAMKA, Penerbit Noura, Cet.I, 2017).
HALANGAN DARI PENGUASA
"Dan demikianlah, telah Kami jadikan pada tiap-tiap negeri beberapa orang-orang besar jadi pendurhaka supaya mereka menipu daya di dalamnya. Padahal, tidaklah mereka menipu daya, melainkan kepada diri mereka sendiri, namun mereka tidaklah sadar." (al-An'aam: 123).
Liyamkuru fiha, kita artikan karena hendak membuat tipu daya di dalamnya, yaitu di dalam negeri itu. Yamkuru ialah dari kata "makar", kita artikan tipu daya, Di dalam bahasa hukum, dalam bahasa Indonesia modern, kata-kata makar itu telah diambil alih dan dijadikan bahasa Indonesia. Segala tindak pidana untuk maksud yang jahat di dalam bahasa hukum di Indonesia disebut makar. Dalam maksud asalnya disebut maksud makar. Makar ialah segala tipu daya dan telah buat memalingkan seseorang dari tujuan yang dimaksudnya pada tujuan yang lain, baik dengan perbuatan maupun dengan ucapan-ucapan yang manis. Dan, dipakai untuk memalingkan orang dari yang benar pada yang salah, dari yang baik pada yang jahat.
Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa dalam perjuangan menegakkan agama Allah, janganlah heran apabila mendapat hambatan dan gangguan dari orang-orang terkemuka di negeri itu. Sebab, yang begitu selalu terjadi di tiap-tiap negeri jika ada orang yang bermaksud baik dan bercita-cita mulia. Mereka itu selalu berbuat makar dengan segala tipu daya akal busuk menyalahartikan segala maksud yang baik itu dan bekerja keras membelokkan tujuannya. Dan, ayat ini menjadi pedoman bagi umat Muhammad hingga ke akhir zaman, apabila mereka bermaksud akan menegakkan agama yang haq. Halangan pasti ada. Yang menghalangi bukan sembarang orang, bahkan orang-orang terkemuka di negeri itu.
Pada zaman modern ini, pihak-pihak yang berkuasa mudah saja melakukan makar itu dalam mempertahankan kekuasaannya. Orang yang berjuang hendak menegakkan ajaran Nabi Muhammad saw. mendapat berbagai halangan dan rintangan. Cara propaganda yang modern bisa saja membuat suatu cita-cita yang benar dan suci sebagai suatu kejahatan. Keinginan agar hukum Allah berlaku dalam masyarakat dapat saja dituduh sebagai pemberontak dan segala usaha hendak menyingkirkan peraturan Allah dari muka bumi mendapatkan pujian yang besar. Berusaha menegakkan syiar Allah, mengucapkan salam menurut ajaran Muhammad saw. teguh memegang ajaran Al-Qur'an. Sabda dan wahyu Allah, dapat saja dituduh fanatik dan menghalang-halangi kemajuan. Inilah usaha dari "Akaabira Mujrimiha!" Penjahat kaliber besar dalam negeri itu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 268-269, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
POLITIK
Masjid adalah lembaga tempat pertumbuhan politik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 220, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEMANGAT BERJIHAD MENJADI BERGELORA
Saya terangkan dengan sejelas-jelasnya bagaimana orang berkhutbah menurut ajaran Nabi Muhammad saw. yang membuat semangat berjihad menjadi bergelora.
Terima kasih.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 456, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Di mata Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) K.H.A. Syaikhu dalam buku HAMKA Di Mata Hati Umat, HAMKA menempatkan dirinya tidak cuma sekedar pimpinan Masjid Agung Al-Azhar atau organisasi Muhammadiyah saja, tetapi juga sebagai pemimpin umat Islam secara keseluruhan, tanpa memandang golongan.
sukabumikota.kemenag.go.id/file/dokumen/D000598.pdf
PERISTIWA SEBELUM PEMBERONTAKAN CILEGON
Apa artinya menjadi orang Islam, di tanah air sendiri pula, apabila
perbuatan musyrik mendapat
perlindungan dari
pemerintah.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 92, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
Ketua MPR Ajak Da'i Teladani Buya HAMKA
antaranews.com/berita/586911/ketua-mpr-ajak-da’i-teladani-buya-hamka
PEMBERONTAKAN DI LHOKSEUMAWE
"HAMKA San! Apakah perbedaan di antara agama Islam yang dipeluk orang di Aceh dengan yang dipeluk orang di sini dan di tempat lain?" "Kenapa begitu Tuan Besar?" "Kemarin (11 November) telah terjadi hal yang sangat menyedihkan hati di Bayu, dekat Lhokseumawe di Aceh. Seorang guru Islam telah melawan Dai Nippon. Tentu Islamnya berbeda dengan Islam di tempat lain?" "Saya rasa tidak, Tuan!" Tyokan terkejut mendengar jawaban itu. "Jadi kalau tidak berlainan, tentu orang Islam yang lain juga anti-Jepang. HAMKA San juga anti-Jepang dalam hati! Yah, saya sudah belajar dari Tuan, orang Islam mempunyai pikiran supaya mendirikan Kerajaan Islam. HAMKA San tak usah sembunyi-sembunyi." "
Tentang niat untuk mendirikan Pemerintahan Islam memang ada dalam ajaran Nabi saw. ..."
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. 304-305, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
TAJDID DAN MUJADID
Ahli-ahli fiqih ketika menguraikan maksud
hadits tentang
mujadid ini mereka berkata bahwa yang dimaksud dengan
mujadid ialah
orang-orang yang
menghidupkan kembali
Sunnah Nabi, setelah
nyaris hilang ditimbuni oleh perbuatan
Bid'ah yang datang kemudian.
Abdullah bin Mas'ud, salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang terkemuka dalam pengetahuan tafsir dan hadits, pernah membayangkan bahaya orang yang meninggalkan Sunnah Rasul itu demikian,
"Bagaimana sikap kalian bila datang waktunya negeri diserang suatu fitnah, yang anak-anak kecil terdidik dengan ia, dan orang tua telah tua dengan ia, perbuatan Bid'ah telah dijadikan orang jadi Sunnah, dan kalau ditegur mereka marah dan mereka katakan bahwa Sunnah telah berubah." Lalu, orang bertanya kepada beliau,
"Bilakah akan kejadian hal yang demikian itu dan apakah tandanya?" Beliau menjawab,
"Hal seperti itu akan kejadian kalau telah banyak yang hanya pandai membaca, tetapi sedikit yang pandai memahamkan (fuqahaukum), banyak yang memegang kuasa, tetapi sedikit yang dapat dipercaya, dan orang mencari keuntungan duniawi dengan berselubungkan amal akhirat, dan orang yang memperdalam pengetahuannya tentang agama bukan untuk agama." Di saat-saat seperti demikianlah
datangnya
mujadid, yaitu
orang-orang yang
berani membuka mulutnya menyatakan,
"Stop penyelewengan itu!"
Itulah orang-orang yang
telah mempertaruhkan segenap jiwa raganya untuk
tegaknya kebenaran Tuhan, untuk
terpeliharanya keaslian kebenaran Tuhan Allah dan
Sunnah Rasulullah,
la yakhaafu fillahi laumata laimin di dalam mempertahankan kemurnian
dari orang yang hendak membencanakan. Mungkin satu orang di pangkal kurun, mungkin juga berdua dan bertiga. Mungkin berpuluh. Apalagi Dunia Islam telah meluas. Mungkin ada mereka di tanah Arab dan di tanah Iran, di India ataupun di Indonesia. Kadang-kadang
mereka tegak seorang diri menyampaikan
seruan kebenaran yang
disambut dengan
cemooh dan
lemparan batu. Kadang-kadang
mereka jadi korban, dibuang, dihukum, bahkan
disingkirkan oleh
pihak yang berkuasa.
Khalifah yang berempat (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) dalam rangkaian sejarah yang ditulis oleh Brookelman,
Orientalis Barat yang terkenal, disebut khalifah yang
ortodoks atau Salaf. Orang boleh mengartikan
ortodoks itu kolot, tetapi kepada semangat dan
intisari yang
ortodoks itulah
tajdid sekarang ini hendak kembali.
Gerakan Muhammadiyah serta
segala gerakan tajdid yang lain, baik di Indonesia maupun di luarnya,
hendak kembali kepada Sunnah Rasul itulah yang jadi tujuan.
Bukan menyelewengkan Islam dari pangkalnya karena
sok modernisasi.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 22-30, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
TOBAT NASUHA
Oleh Universitas Muhammadiyah,
Soekarno diberi gelar
"Doctor Honoris Causa" dalam
ilmu Tauhid. Sampai profesor dan sarjana perempuan yang kita banggakan, Ny. Bararah Baried menjadi promotor. Namun, di saat itu juga Allah menunjukkan bahwa Dia tidak
ridha atas perbuatan itu. Sebab dalam promosinya, Bung Karno sendiri menganjurkan supaya orang ziarah ke kubur ibu atau bapaknya, meminta supaya ibu atau bapaknya itu menyampaikan permohonannya kepada Allah agar Allah memberikan pertolongan kepada yang meminta.
Padahal, itulah yang
oleh kalangan Muhammadiyah diberantas selama 54 tahun
sampai sekarang ini. Itulah yang dikatakan
"At-Tawassul wal Wasilah" yang dikarang oleh
al-Imam Ibnu Taimiyyah. Buku
"At-Tawassul wal Wasilah" ini adalah salah satu buku pegangan kaum
mubaligh dan ulama Muhammadiyah.
Inilah program pertama Muhammadiyah sejak ia berdiri, yaitu
memberantas kemusyrikan.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 158, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Ibnu Taimiyah Nusantara." (Riwayat Hidup HAMKA - Dr Rozaimi Ramle).
youtube.com/watch?v=irIWCrvw9Hw
"HAMKA - The Single Fighter." (Dato Dr Asri).
youtube.com/watch?v=Wio8_VMDGsU
KEMURKAAN-KU DAN KEMURKAANMU!
"Demikianlah kamu karena apabila diseru Allah sendiri saja, kamu kafir. Dan jika Dia dipersekutukan, kamu pun beriman. Maka keputusan hukum adalah pada Allah Yang Maha Tinggi, Maha Besar." (al-Mu'min: 12).
Ditutup ujung ayat dengan
ketegasan ini
supaya jelas bagi kaum musyrikin bahwa keputusan terakhir tetap pulang kepada Allah jua, sebab Yang Maha Kuasa, Maha Tinggi hanya Allah, Yang Maha Besar hanya Allah,
tidak ada berhala, tidak ada
al-Laata, tidak ada
al-Uzza, tidak ada
Manaata dan yang lain.
Jika di zaman sekarang tidak ada
kubur keramat,
wali anu dan
keramat anu.
Omong kosong!
"Tidak ada yang mereka seru selain dari Dia, melainkan perempuan-perempuan dan tidaklah mereka seru, melainkan Setan yang durhaka." (an-Nisaa': 117).
Kita pun mengenal kepercayaan yang
karut ini pada
kaum penyembah berhala yang lain. Di samping dewa-dewa mereka pun percaya adanya dewa-dewi. Mereka menamai bumi ini
Ibu Pertiwi. Menurut
kepercayaan jahiliyyah di Indonesia bahwasanya padi yang menjadi makanan pokok kita berasal dari
Dewi yang bernama
Sang Hyang Sri. Dia pun
perempuan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 85, Jilid 2 Hal. 461, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
UMAT YANG SATU
"Sesungguhnya ini adalah umat kamu, umat yang satu. Dan Aku adalah Tuhan kamu, maka sembahlah Aku. Tetapi telah mereka pecah-belahkan urusan di antara mereka. Sekalian mereka itu kepada Kamilah akan kembali. Maka, barangsiapa yang mengamalkan sebagian dari amal-amal yang saleh, sedang dia pun beriman, maka tidaklah akan tersia-sia apa yang diusahakannya. Dan sesungguhnya Kami terhadapnya adalah mencatat." (al-Anbiyaa': 92-94).
Menurut tafsiran dari
Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Qatadah dan
Abdurrahman bin Aslam, arti pangkal ayat ini ialah
"Agama kamu pada hakikatnya adalah agama yang satu." Hasan al-Bishri mengartikan
"Sunnah kamu, atau jalan yang kamu tempuh adalah hanya satu jalan." Hal ini difirmankan oleh Allah sesudah menyebutkan nama beberapa orang Nabi dengan berbagai ragam perjuangannya. Disebut Musa dan Harun. Diuraikan tentang Ibrahim dan Luth, Isma'il dan Ya'qub, Idris dan Dzulkifli, Dawud dan Sulaiman, Yunus dan Zakariya, Maryam dan putranya, semuanya telah diterangkan. Akhirnya dijelaskan bahwa semuanya ini adalah umat yang satu.
Tegasnya, sama
membawa satu ajaran, yaitu menyembah kepada Allah yang Maha Esa, yang
tidak ada serikat bagi-Nya, meskipun
syari'at dapat berubah-ubah sesuai kondisi zaman. Ajaran yang dibawa hanya satu saja pada pokoknya, yaitu menyuruh manusia agar menyembah kepada Allah yang Satu,
dengan sendirinya mereka pun jadi umat yang satu. Karena kalimat
Tauhid itu
dengan sendirinya menimbulkan
Tauhidul Kalimah, kata yang satu menimbulkan kesatuan kata.
PECAH-BELAH
Kesatuan umat karena
kesatuan ajaran
aqidah menjadi
hilang. Mereka menjadi
berpecah-belah, porak-poranda. Sebab tempat tujuan tidak yang satu lagi, yaitu Allah. Mereka mulai
menyembah benda, menyembah berhala, menuhankan raja, musyrik, mempersekutukan alam buatan Allah dengan Allah sendiri.
Orang berpecah-belah adalah karena
memperturutkan hawa nafsu masing-masing atau karena
mau menang sendiri. Demikianlah tiap-tiap rasul diutus Allah SWT membawa satu seruan, satu dakwah. Manusia tidak semua mau menerima. Ada yang menerima dan banyak pula yang menolak. Didustakannya rasul-rasul itu. Namun baik yang menerima atau menolak, pasti kembali ke hadirat Allah,
tegasnya pada hari Kiamat.
Semua akan
mendapat ganjaran sesuai dengan
amalnya.
Dengan penutup ayat ini terobatlah hati orang beriman dan beramal saleh.
Sebab banyak amal saleh tidak tercatat oleh sesama manusia. Ada yang memang lupa dan
ada yang sengaja dibuat supaya dilupakan. Ada yang orang takut menyebutnya atau menyiarkannya meskipun yakin akan kebenarannya, sebab
orang yang
berjasa itu sedang
dibenci oleh
pihak yang
berkuasa. Ada pula yang
hitam dikatakan putih, yang hijau dikatakan merah, karena
hendak mempertahankan kekuasaan. Cobalah
misalnya perhatikan bagaimana bunyi sejarah hidup
Muhammad Hatta tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menurut susunan kaum komunis! Atau
jasa Islam tidak ada dalam perjuangan kemerdekaan dan
pembangunan Indonesia menurut yang disusun oleh
golongan-golongan yang
sejak semula tidak senang kalau-kalau pengaruh Islam bertambah besar.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 81-83, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAN SEPUHAN
Hukum Allah mengatasi segala hukum. Kalau aku berkuasa dan bisa menciptakan hukum, yang terlebih dahulu aku pikirkan ialah bagaimana supaya hukum itu jangan mengenai diriku. Dan kalau aku masuk dalam satu partai, dan partaiku menguasai negara, lalu mencipta hukum, maka yang lebih dahulu aku pikirkan ialah bagaimana supaya hukum yang diciptakan oleh partaiku itu dapat membungkamkan partai yang kami kalahkan. Selama dunia masih dunia yang ini juga, dan
selama manusia masih manusia yang ini juga, kepentingan
hukum tidak akan beranjak dari
kepentingan golongan yang berkuasa. Sebab itu
wajiblah ada
hukum yang
tertinggi, yang
mutlak adil. Itulah
hukum Allah SWT. Itulah
hukum yang
tidak berpilih kasih dan itulah
hukum yang
tidak untuk kepentingan golongan sendiri. Oleh sebab itu maka pada ayat 50 dijelaskan,
bahwasanya orang-orang yang tidak rela menerima hukum Allah dan Rasul, atau melaksanakan suruhannya dan menghentikan larangan, adalah
orang yang
aniaya, orang yang
zalim.
TRADISI BELANDA
Setiap orang yang akan diberi jabatan tinggi disumpah terlebih dahulu, bahkan di negeri kita ini diadakan pula tradisi, bahwa setiap orang yang tengah disumpah itu, di belakangnya berdiri seorang haji
mengangkat sebuah
kitab suci Al-Qur'an, yaitu
tradisi yang
diwarisi dari
Belanda dan
diteruskan oleh pemerintah kita, dan
sekali-kali tidak ada dari
Nabi Muhammad saw. ataupun dari
para sahabatnya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 320, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
INTI TAUHID
Rasul sekali-kali tidak membuat jalan sendiri.
TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL
Kewajiban engkau adalah
semata-mata menyampaikan perintah,
bukan turut menentukan hukum dengan kehendak sendiri dan bukan pula berkuasa buat membela dan memelihara mereka.
SYIRIK
Inilah yang
pokok dari
ad-Din, agama, yaitu mengakui adanya Tuhan dan Tuhan itu hanya satu.
Tidak ada yang lain yang berserikat atau
yang bersekutu dengan Dia, baik dalam
ketuhanan-Nya maupun dalam
kekuasaan-Nya. Segala dosa bisa diampuni, namun syirik tidak!
Inilah pokok pegangan.
JANGAN MEMOHONKAN AMPUN UNTUK MUSYRIKIN
Tiada Dia bersekutu dalam
keadaan-Nya dengan yang lain.
Demikian juga tentang mengatur syari'at agama, tidak ada peraturan lain, melainkan dari Dia.
MADZHAB YANG BENAR DARI AHLI SUNNAH WAL JAMAAH (ASWAJA)
AYAH BUNDA RASULULLAH SAW.
Seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah saw.,
"Di mana ayahku, ya Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Di neraka!" Setelah orang yang bertanya itu berdiri hendak pergi, dia dipanggil oleh
Rasulullah saw. dan beliau bersabda,
"Sesungguhnya bapakku dan bapak engkau di neraka!" (HR. Muslim). Lalu
ditegaskan oleh
Imam Nawawi dalam syarah-nya,
"Di sini jelas bahwa barangsiapa yang meninggal dalam keadaan kafir maka masuk nerakalah dia dan tidaklah bermanfaat baginya karena kerabat (kekeluargaan). Dan di dalam hadits ini pun dapat dipahamkan bahwa orang yang mati dalam zaman fitrah dalam keadaan apa yang dipegang oleh orang Arab, menyembah berhala, dia pun masuk neraka. Dan ini tidaklah patut diambil keberatan yang mengatakan bahwa belum sampai kepada mereka dakwah karena kepada mereka sudahlah sampai dakwah Ibrahim dan Nabi-nabi yang lain. Dan Nabi saw. mengatakan ayahku dan ayahmu dalam neraka, ialah untuk menunjukkan pergaulan yang baik dan pengobat hati yang bertanya karena sama-sama dalam menderita sedih." Demikian
syarah (komentar) Imam Nawawi.
"Memohon izin aku kepada Tuhanku hendak memintakan ampun untuk ibu, tetapi tidak diberi izin kepadaku. Lalu aku mohon izin hendak menziarahi kuburnya lalu aku diberi izin." (HR. Muslim). Malahan dalam hadits yang lain diterangkan bahwa
beliau sampai
menangis di kubur itu dan
memberi anjuran umatnya supaya
ziarah ke kubur untuk
mengingat mati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 47, Jilid 2 Hal. 374-375, Jilid 2 Hal. 317-318, Jilid 4 Hal. 304, Jilid 3 Hal. 190-191, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEGALA MACAM ISME KECUALI ISLAM
Sukarno tidak keberatan berangkul-rangkulan dengan Komunis, asal Islam jangan tampil ke muka.
Pejuang-pejuang di Konstituante adalah
saksi yang
nyata tentang
sekularisme yang berarti
memencilkan Islam. Seketika
Front Islam memperjuangkan agar
ditambahkan pada
UUD kalimat
Piagam Jakarta, "Dengan kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluknya sebagai ayat B dari negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa." Oleh karena itu, seluruh ideologi, golongan dan partai, mulai dari PKI, PNI, PSI hingga Partindo dan Murba serta IPKI bersatu menolaknya. Artinya, segala ideologi boleh berkembang dan boleh dicobakan.
Hanya satu yang
disoroti dan
selalu dipandang berbahaya, yaitu
ideologi Islam yang
jantan dan
konsekuen hendak
menegakkan Sunnah Nabi saw. Kalian boleh menyebut Islam, tetapi jangan Islam yang diajarkan Rasul, jangan
Daulah Islamiyah, jangan
Syari'at Islam! Kalian juga boleh duduk dalam pemerintah asal Islam kalian simpan, jangan diperjuangkan.
Hendak harta kami beri harta, hendak pangkat kami beri pangkat, tetapi kekuasaan tidak ada di tangan kalian.
ANTARKAN KE KUBURAN
Apabila
Ghirah telah
tak ada lagi, ucapkanlah
takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu.
Kocongkan kain
kafannya, lalu
masukkan ke dalam
Keranda dan
antarkan ke
Kuburan.
(Buya HAMKA, GHIRAH: Cemburu Karena Allah, Hal. 56-57, Hal. 14, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Buya HAMKA adalah
seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang
dihormati dan
disegani di kawasan
Asia hingga Timur Tengah.
Pengabdian dan pengorbanan Buya HAMKA dalam membangun kesadaran umat Islam mendapat apresiasi dari Pemerintah berupa gelar
Pahlawan Nasional pada Tahun 2011.
kebudayaan.kemdikbud.go.id/buya-hamka-sosok-suri-tauladan-bermulti-talenta
KLIK DISINI: PIAGAM JAKARTA, UUD 1945, KONGRES KHILAFAH: UTUSAN-UTUSAN KITA
KESATUAN ATAU PERSATUAN UMAT ISLAM
Seorang pemuda dengan semangat pernah menyerang penulis dengan rangkaian pertanyaan yang bertubi-tubi, berisi kejengkelan dan kemurkaan. Sebagian dari kata pemuda tersebut ialah bahwa sekarang tengah "dibina" yang namanya Orde Baru yang demokratis, dan dihancurkan Orde Lama yang serba otoriter dan berbau komunis, sedang pemimpin-pemimpin Islam masih berpecah-belah dan partai-partai Islam masih saja bercakar-cakaran. Yang satu mengatakan ia-lah yang benar, sedang partai politik Islam yang lain adalah salah. Ada pula yang merasa takut, sebagaimana takutnya perempuan penuh takhayul kepada hantu, mendengar suara yang santer meminta supaya Masyumi direhabilitasi. Sementara itu, orang-orang Masyumi sendiri masih saja gigih memperjuangkan agar partainya direhabilitasi kembali.
Sejarah di zaman Nabi telah menunjukkan bahwa ada golongan Muhajirin dan golongan Anshar. Dalam Muhajirin ada golongan Bani Hasyim dan ada golongan Bani Umayyah. Dalam golongan Anshar ada puak Aus dan ada puak Khazraj. Semuanya berlindung di bawah naungan kalimat
"La ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah." Jika terjadi peperangan dengan musuh, Nabi saw. membagi-bagi bendera
(vandel) untuk tiap-tiap golongan tersebut, dan masing-masing mempertahankan benderanya jangan sampai jatuh ketika berhadapan dengan musuh.
Persatuan kaum Muslimin Indonesia pasti tercapai sebab kamu, wahai pemuda, telah bangkit. Jiwamu yang bebas merdeka tidak bisa lagi dijadikan objek oleh
golongan-golongan tua. Karena itu,
menataplah ke depan.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 198-202, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Ya Tuhanku, penuhilah apa yang engkau janjikan kepadaku. Ya, Tuhanku, jika binasa rombongan Ahlul Islam ini tidaklah akan ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini!" (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi).
MENUHANKAN GURU
"Telah mereka ambil guru-guru mereka dan pendeta-pendeta mereka menjadi Tuhan-Tuhan selain Allah ..." (at-Taubah: 31).
Menurut riwayat dari Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir yang diterima dari beberapa jalan riwayat dari Adi bin Hatim.
Ringkasan cerita ialah
begini,
"... Rasulullah saw. menjawab, 'Bahkan! Karena sesungguhnya pendeta-pendeta itu mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka ikuti saja. Itulah yang dinamai mereka beribadah (memuja) kepada pendeta-pendeta itu.'"
Imam ar-Razi dalam tafsir beliau
Mafatihul Ghaib, "Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Arbab (Tuhan-Tuhan) terhadap pendeta itu bukanlah bahwa mereka berkepercayaan bahwa pendeta yang menjadikan alam ini, tetapi bahwa mereka patuhi segala perintah dan larangan mereka!" Berkata
ar-Rabi',
"Aku bertanya kepada Abul Aliyah, 'Bagaimana artinya Bani Israil mempertuhan pendeta itu?' Dia menjawab, 'Kadang-kadang mereka bertemu sesuatu dalam Kitab Allah, berbeda daripada yang dikatakan oleh guru-guru dan pendeta-pendeta mereka, maka kata-kata guru-guru dan pendeta-pendeta itulah yang mereka patuhi dan tidak mereka terima hukum Kitab Allah.'"
Jangan sampai sebagai yang diisyaratkan oleh Abul Aliyah kepada muridnya
ar-Rabi' itu bahwa
tersesatnya Bani Israil ialah
karena mereka meninggalkan hukum Kitab Allah karena memandang
sabda ulama lebih dari
hukum Allah.
Termasuk juga dalam rangka ini, yaitu menganggap ada kekuasaan lain di dalam menentukan ibadah
selain daripada kekuasaan Allah, ialah menambah-nambah ibadah atau wirid, doa dan bacaan pada waktu-waktu tertentu yang tidak berasal dari ajaran Allah dan Rasul saw. Ibadah tidak boleh ditambah dari yang diajarkan Rasul saw. dan tidak boleh dikurangi. Menambah atau mengurangi, memaksa-maksa dan berlebih-lebihan dalam ibadah adalah
ghuluw. Dan,
ghuluw adalah tercela dalam syari'at. Sama pendapat (ijma) sekalian ulama mencela perbuatan itu.
Inilah dia
Bid'ah!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 131-137, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MENGHADAPI HARI KIAMAT
"Maka serulah Allah dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya, walaupun tidak merasa senang orang-orang yang kafir." (al-Mu'min: 14).
Kalau
Rasulullah saw. diwajibkan memegang pendirian setegas itu menghadapi musyrikin Quraisy dahulu kala, maka
pengikut Muhammad sampai di akhir zaman wajib pula mempertahankan pendirian itu. Agamanya murni untuk Allah saja.
Kadang-kadang mereka bertemu dengan
penyembah-penyembah berhala model lain; berhala
tanah air, berhala
diktator, berhala
mendewa-dewakan pemimpin, berhala
kultus individu, bahkan berhala
menyembah dan
memuja kubur-kubur, sampai
menjadi mata pencarian. Maka hendaklah
seorang Mukmin Muslim dengan
tegas menegakkan keyakinannya bahwa agama adalah murni untuk Allah semata-mata,
walaupun untuk itu
dia akan dibenci orang. Walaupun
yang membencinya itu
mengaku Islam juga! Karena
mereka telah
mengotori Tauhid, ikhlas dan Muslim (menyerah bulat kepada Allah) dengan memberhalakan kubur-kubur.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 87-88, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARI'AT ISLAM BAGI PEMELUKNYA
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin, sebagian mereka adalah pemimpin-pemimpin dari yang sebagian. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka pemimpin di antara kamu, maka sesungguhnya dia itu telah tergolong dari mereka. Sesungguhnya Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (al-Maa'idah: 51).
Sebagaimana pernah terjadi di Bandung pada masa
Republik Indonesia telah memilih Anggota
Badan Konstituante. Wakil-wakil partai-partai Islam ingin agar di dalam
Undang-Undang Dasar yang
akan dibentuk itu dicantumkan tujuh kalimat, yaitu,
"Dengan kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluknya." Maka seluruh partai yang
membenci cita-cita Islam itu
sokong-menyokong, pimpin-memimpin, beri-memberi, menentang cita-cita itu, walaupun di antara satu sama lain berbeda ideologi dan berbeda kepentingan.
Dalam menghadapi Islam mereka bersatu. Bersatu Katolik, Protestan, partai-partai nasional, partai sosialis dan partai komunis.
Suku ayat ini amat penting diperhatikan. Yaitu
barangsiapa yang mengambil
Yahudi atau
Nasrani menjadi
pemimpinnya, tandanya
dia telah termasuk golongan mereka, artinya
telah bersimpati kepada mereka. Tidak mungkin seseorang yang mengemukakan orang lain jadi pemimpinnya kalau dia tidak menyukai orang itu. Meskipun dalam kesukaannya kepada orang yang berlain agama itu,
dia belum resmi pindah ke dalam agama orang yang disukainya itu. Menurut riwayat dari Abd Humaid, bahwa sahabat Rasulullah saw. yang terkenal
Hudzaifah bin al-Yaman pernah berkata,
"Hati-hati tiap-tiap seorang daripada kamu, bahwa dia telah menjadi Yahudi atau Nasrani, sedang dia tidak merasa." Lalu
dibacanya ayat yang sedang kita tafsirkan ini, yaitu kalau orang telah menjadikan mereka itu jadi pemimpin,
maka dia telah termasuk golongan orang yang diangkatnya jadi pemimpin itu.
Maka, orang yang telah mengambil Yahudi atau Nasrani menjadi pemimpinnya itu
nyatalah sudah
zalim. Sudah aniaya. Sebagaimana kita maklum kata-kata zalim itu berasal dari
zhulm, artinya gelap. Mereka telah memilih jalan hidup yang gelap, sehingga terang dicabut Allah dari dalam jiwa mereka. Mereka telah memilih musuh kepercayaan, meskipun bukan musuh pribadi.
Padahal di dalam surah
al-Baqarah ayat 120 telah
diperingatkan Allah bahwa
Yahudi dan
Nasrani tidak akan ridha,
selama-lamanya tidaklah mereka ridha sebelum umat Islam menuruti jalan agama mereka. Mereka itu bisa senang pada lahir, kaya dalam benda, tetapi
umat mereka jadi
melarat karena
kezaliman mereka. Lantaran itu
selamanya tidak akan terjadi kedamaian. Sebab
umat Islam yang
memegang teguh Tauhid, selama-lamanya akan menyimpan dendam dalam hati,
sampai mereka mendapat kemerdekaan kembali. Dan
orang yang jiwanya dipimpin oleh
Yahudi dan
Nasrani itu akan
tetap menjadi
kudis dan
borok di hadapan mata mereka.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 715-717, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
UKHUWAH ISLAMIYYAH
"Muhammad adalah utusan Allah! Dan orang-orang ada besertanya bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, sayang-menyayangi di antara sesama mereka ..." (al-Fath: 29).
Inilah pedoman hidup dan
pedoman perjuangan bagi
kaum Muslimin dalam menghadapi dunia.
Kita mengakui kerasulan beliau ialah dengan
konsekuensinya sekali, akan
meniru meneladan langkah, mencontoh sepak terjangnya, menjunjung tinggi Sunnahnya. Muhammad Rasulullah itu adalah laksana cahaya yang memberikan terang bagi kita buat melanjutkan perjuangan ini.
Buat melanjutkan jihad ini! Apabila kalimat ini telah dimulai dengan
"Laa Ilaha Illallah" disusul dengan
"Muhammadur-rasulullah" tersimpullah seluruh kehidupan Muslim kepada dua kata itu.
Hidup menurut kehendak Allah dan
mati pun menurut kehendak-Nya dari Dia datang dan kepada-Nya kembali. Bagaimana agar supaya seluruh kehidupan itu menempuh
jalan yang benar, yang diridhai oleh Allah hendaklah
menuruti contoh teladan yang ditinggalkan oleh Nabi. Untuk kehidupan seperti ini akan
timbullah orang-orang yang
sepaham, seaqidah, sehaluan dan
setujuan. Itulah yang bernama
umat. Maka
umat ini diberi lagi nama yang
tegas, yaitu
umat Islam!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 406-407, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAN, HIJRAH DAN JIHAD
Darul Islam ialah yang di sana
telah berlaku hukum dan
Syari'at Islam. Darul Fisq, yaitu yang di negeri itu telah leluasa saja kemaksiatan, korupsi, kejahatan sehingga pemerintahan negeri itu sendiri pun tidak berwibawa lagi. Adapun
Darul Harb ialah negeri yang dalam berperang. Ingatlah tujuan hidup menyelamatkan jalan Allah. Kalau perlu jangan hijrah, melainkan
menyusun kekuatan apa yang ada, dengan
teman-teman yang
sepaham, guna
memperjuangkan terus cita-cita Islam
di tempat kediaman sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 417-420, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Tidak ada kawan yang bisa dipercayai kalau dia tidak takut kepada Allah."
Sekian fatwa
Sayidina Umar bin Khaththab.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 387, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
KEBOHONGAN HIDUP
"Dan setengah dari manusia ada yang menjual dirinya karena mengharapkan keridhaan Allah. Dan, Allah adalah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (al-Baqarah: 207).
Keringatnya yang
mengalir akan diseka oleh Malaikat,
air matanya yang
meleleh di pipinya akan dihapus dan
darahnya yang
menyiram membasahi bumi akan jadi
saksi atas
kebenaran perjuangannya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 391, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DI SINI TIDAK ADA LAKI-LAKI
"Mereka lebih senang bahwa ada mereka bersama-sama perempuan-perempuan yang tinggal dan telah dicap atas hati mereka. Maka tidaklah mereka mengerti." (at-Taubah: 87).
Sangat keras pukulan pangkal
ayat ini kalau
si munafik itu
ada perasaan. Senang hati mereka tinggal bersama perempuan-perempuan.
Apakah tidak ada lagi pada mereka perasaan sebagai laki-laki? Padahal
laki-laki beriman harus bersemangat jantan, gagah berani, tak takut mati dan
menggentarkan musuh.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 242, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEMILIH PIMPINAN
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu ambil akan orang-orang kafir menjadi pemimpin ..." (an-Nisaa': 144).
Orang yang beriman tidaklah akan menyerahkan pimpinan kepada orang
kafir ataupun kepada orang
munafik.
"Sesungguhnya orang-orang yang munafik itu, adalah di tingkat yang paling bawah dari neraka. Dan sekali-kali tidak akan engkau dapati untuk mereka satu penolong pun." (an-Nisaa': 145).
"Kecuali orang-orang yang telah tobat dan memperbaiki dan berpegang teguh dengan Allah dan mengikhlaskan agama mereka kepada Allah. Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang beriman. Dan Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman itu ganjaran yang besar." (an-Nisaa': 146).
Sebagai ganti dari sikap selama ini yang hanya berpegang teguh dengan
cari nama, dengan
megah kebendaan. Berpegang teguh kepada Allah ialah dengan mengerjakan yang disuruh, menghentikan yang ditegah, menurut bimbingan
Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul.
Dia mengetahui kelemahanmu selama ini. Dia mengetahui betapa pun
hawa nafsumu memengaruhimu sehingga selama ini tertempuh jalan yang sesat,
namun maksud yang terpendam di dalam hati sanubari senantiasa hendak mencari jalan yang baik, jalan kepada Allah. Maka Allah adalah Maha Mengetahui perjuanganmu itu, yaitu
perjuangan dalam batin yang hebat sekali sehingga
akhirnya cita-cita yang
mulia jua
yang menang. Allah mengetahui itu dan
Allah pun tidak melupakan memberi penghargaan kepada perjuangan kamu itu.
Selesai.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 498-501, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MATI SYAHID
Orang yang
beriman bersedia
mati syahid dalam imannya,
si fasik hanya
mencintai hidup.
Oleh sebab itu,
peringatan yang dikemukakan Allah di dalam ayat-ayat ini dapatlah
kita jadikan pedoman untuk
mengukuhkan semangat Islam dengan
terus-menerus berdakwah, terus-menerus berani menegakkan kebenaran, walaupun kadang-kadang akan meminta
jihad dengan
harta benda kadang-kadang
mengorbankan jiwa.
Orang yang
beriman kepada Allah adalah
berani karena takutnya. Alangkah ganjilnya. Dia
berani menghadapi
segala macam bahaya di dalam hidup, karena dia takut kepada siksa Allah sesudah mati. Dia
berani mati badan karena takut nama. Pernah saya bertemu dengan orang demikian. Seketika saya bertanya kepada Ayahku dan guruku
Syekh Abdul Karim Amrullah,
almarhum, tidakkah beliau takut akan siksa
kempetai Jepang ketika beliau tidak mau
ruku' (keirei) ke istana Kaisar Jepang? Beliau menjawab,
"Ayah tidaklah takut kepada mati, hai anakku! Yang ayah takuti ialah yang sesudah mati!"
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 43-46, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEMERDEKAAN PEMELUK AGAMA
"Dan barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka adalah mereka itu orang-orang yang kafir." (al-Maa'idah ujung ayat 44).
Di negara-negara modern ada
undang-undang dasar yang
menjamin kemerdekaan pemeluk agama yang kecil bilangannya dalam negeri itu,
seumpama golongan kecil orang Islam di
Burma, Philipina, Muangthai dan
lain-lain.
Niscaya orang Islam di negeri itu, kalau dapat, hendaklah
memperjuangkan agar
Syari'at Islam dan
hukumnya berlaku di kalangan penduduk Islam itu sendiri, dalam rangka
kesatuan negara.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 707, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEBENARAN (AL-HAQ)
"Dan demikianlah Kami turunkan dia (sebagai) hukum, dalam bahasa Arab. Dan jika engkau turuti hawa nafsu mereka, sesudah datang kepada engkau pengetahuan, maka tidaklah bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak penghambat." (ar-Ra'd: 37).
Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab,
isinya ialah
hukum yang
memutuskan menjelaskan
garis pemisah di antara
kegelapan Jahiliyyah dengan
nurul Islam. Pemisah di antara yang
hak dengan yang
batil. Menjelaskan
halal dan
haram. Diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga setiap orang dalam masyarakat yang didatangi pada waktu itu dapat mengerti sendiri. Diperingatkan kepada Utusan-Nya oleh Allah bahwa
hukum yang telah
terang dari
Al-Qur'an itu
wajib dijelaskan dan
dinyatakan, walaupun
kafir-kafir itu tidak merasa senang atau
merasa tersinggung.
Dengan ujung ayat,
tegaslah bahwa di dalam
menegakkan hukum tidak boleh beliau tenggang-menenggang. Pokok hukum ialah
al-Haq, Kebenaran. Dan
selain dari Kebenaran hanyalah
al-Bathil, yang ada
Kebatilan. Kadang-kadang
bagi kaum yang mempersekutukan yang lain dengan Allah, pahitlah buat menelan kebenaran itu.
Kalau diterangkan yang sebenarnya, mereka sakit hati. Apakah karena menenggang hawa nafsu mereka itu, supaya mereka jangan tersinggung, kebenaran akan diubah atau disembunyikan sama sekali? Sampai kapan? Boleh dipakai
cara yang
lunak atau
cara yang
keras, tetapi lunak atau keras, namun
penolak kebenaran akan tetap menolak kebenaran. Di waktu dilunakkan, mereka pun akan menolak dengan lunak, bersilemah tak patah! Padahal Rasul telah diberi pengetahuan, dan
mereka yang menentang itu berdiri atas pendirian yang
bodoh. Allah menjelaskan, kalau sedikit saja Rasul-Nya memperturutkan hawa nafsu mereka, niscaya kebenaran tidak tegak lagi. Siapa yang akan melindungi Nabi saw. kalau itu terjadi? Kalau kebenaran yang tunggal dari Allah ditegakkan, maka Allah berjanji akan melindungi, dan
Allah yang akan menghambat segala bahaya yang mengancam. Tetapi kalau
hawa nafsu si kafir diperturutkan, bahaya akan datang bertimpa-timpa, dan tidak ada yang selain Allah itu yang akan dapat menghambat datangnya. Nabi Muhammad saw. pun telah dilatih oleh Allah supaya teguh menegakkan pendirian, dan tidaklah beliau akan cenderung memperturutkan hawa nafsu orang yang ingkar itu.
Tetapi peringatan ini diteruskan kepada beliau, karena akan
diteruskan kepada kita, pengikut beliau.
Jangan mundur menegakkan kebenaran karena
tenggang-menenggang dengan
hawa nafsu orang kafir. Kebenaran jangan sampai berubah.
Karena bila berubah sedikit saja, tidaklah kebenaran lagi namanya. Laksana
satu ember air suci, dimasukkan ke dalamnya
satu tetes kencing, najislah dia semua.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 75-76, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KABUR TAUHID
"Mereka akan berkata, 'Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan kami taat kepada Rasul.'" (al-Ahzaab ujung ayat 66).
"Alangkah baiknya" kita pilih untuk menjadi arti dari
Yaa laitana meskipun arti demikian kurang juga tepat. Sebab menurut pemakaian kalimat Arab,
laita adalah harap yang mengandung
tamanni, yang berarti mengharapkan sesuatu yang tidak akan dapat terjadi. Di sini karena masanya sudah lampau. Ketaatan kepada Allah dan Rasul telah diserukan sejak mereka masih hidup di dunia. Sekarang setelah sengsara dalam neraka, baru teringat andaikata seruan Rasul supaya taat kepada Allah dan Rasul ini dituruti di kala masih hidup di dunia, tentu tidaklah akan menderita sengsara seperti ini.
"Dan mereka berkata, 'Ya Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah menaati tuan-tuan kami dan orang besar-besar kami.'" (al-Ahzaab pangkal ayat 67).
Mereka setelah dalam neraka menerima adzab mengakui terus terang bahwa bukan seruan agar taat kepada Allah dan Rasul yang kami turuti, bahkan seruan itu tidak kami acuhkan. Yang kami dengarkan dan yang kami taati, kami patuhi ialah perintah atau panggilan dari tuan-tuan kami, yaitu orang-orang yang dianggap cabang pemegang kuasa, darah bangsawan, yang dipertuan, yang kuasa dan orang besar-besar kami. Dengan kekuasaan dan kekuatan yang ada pada mereka, kami telah mereka bujuk atau mereka paksa. Kami takut atau kami segan atau kami terbujuk, sehingga perintah mereka lebih kami pentingkan.
"Lalu mereka sesatkanlah kami dari jalan yang sebenarnya." (al-Ahzaab ujung ayat 67).
Perhatikanlah intisari dari ayat ini. Dia menerangkan bagaimana besar adzab yang akan diderita oleh manusia-manusia yang lemah pendirian, menyerah kepada sesama manusia karena manusia itu berkuasa, sampai meninggalkan pendirian yang asli, yaitu taat kepada Allah dan Rasul. Mereka telah disuruh memilih, mereka telah salah pilih. Jalan yang benar yang direntangkan Allah dengan wahyu-Nya, digariskan Nabi dengan hidup yang dijalaninya, lalu ditinggalkan karena mengikuti teori-teori manusia yang sengaja hendak membelakangi Allah SWT. Setelah menderita dalam neraka, orang-orang yang telah tersesat jalan itu baru menyesal dan mengutuk kepada tuan-tuan dan pembesar-pembesar yang telah membawa mereka kepada jalan yang sesat itu, sehingga selanjutnya mereka berseru lagi kepada Allah SWT,
"Ya Tuhan kami! Berikanlah kepada mereka." (al-Ahzaab pangkal ayat 68).
Yaitu tuan-tuan dan pembesar-pembesar yang telah menyesatkan kami itu,
"Dua kali lipat dari adzab."
"Dan kutukilah mereka, kutuk yang besar." (al-Ahzaab ujung ayat 68).
Ini belum kejadian, tetapi pasti kejadian. Belum kejadian sekarang, akan kejadian nanti di hari Kiamat, di waktu
Sa'ah datang kelak. Ancaman ini menakutkan, tetapi karena belum kejadian, dari sekarang dapat dielakkan. Kita disuruh memilih di antara dua jalan, jalan Allah dan Rasul yang terbentang nyata mengandung keselamatan sekarang dan masa datang, atau jalan yang diteorikan oleh para tuan-tuan, orang besar-besar penguasa-penguasa.
Orang yang lemah iman, kabur Tauhid lekas menyerah, sampai
pendiriannya yang
aslinya dikorbankannya. Padahal dengan
jelas Allah menyuruh sampaikan kepada Rasul-Nya,
"Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikut jalan-jalan lain, niscaya akan terpecah-pecah kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia wasiatkan kepada kamu, supaya kamu bertakwa." (al-An'aam: 153).
Memang, mempertahankan pendirian kadang-kadang
menempuh perjuangan yang berat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 268-269, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KLIK DISINI: WASIAT ALLAH, TENTANG ASWAJA (AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH) SEJATI (JALAN YANG LURUS VS. JALAN YANG BERSIMPANG-SIUR)
INSAN DAN IBLIS
"Dia berfirman, 'Ini adalah satu jalan kepada-Ku, yang lurus.'" (al-Hijr ayat 41).
Sebab di dalam berjalan menuju Aku,
mereka tidak memilih jalan lain hanyalah
satu jalan saja. Jalan-Ku!
Ini jadi
peringatan dari Allah bahwa
selama manusia masih tetap berjalan di atas jalan
ash-Shiratal Mustaqim itu,
perdayaan Setan Iblis tidaklah akan mempan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 139-140, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TENTARA ALLAH
"Dan sesungguhnya Tentara Kami, merekalah yang pasti akan menang." (ash-Shaaffaat: 173).
Segala mereka yang
berjuang menegakkan jalan Allah di dunia ini, bernamalah
Tentara Allah. Kadang-kadang mereka disebut
Jundullah, kadang-kadang disebut
Hizbullah, Tentara Allah atau
Partai Allah. Yakni orang yang
telah mengorbankan dirinya untuk
semata-mata menyampaikan seruan Allah, atau
melapangkan jalan Allah di muka bumi ini.
Perjuangan mereka pasti menang. Dengan arti bahwa setiap perjuangan mesti menempuh pengorbanan. Bila peperangan telah terjadi, yang akan tewas mencapai syahid sudah termasuk dalam perhitungan. Barangkali akan banyak tentara yang tewas, karena hebatnya pertempuran. Tetapi kemenangan terakhir akan tercapai oleh Tentara Allah. Sebab tidaklah dia bernama Tentara Allah
kalau bukan kebenaran yang dia perjuangkan.
Inilah yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. dalam sabda beliau,
"Senantiasa akan ada suatu golongan dalam umatku orang-orang yang tegak membela kebenaran. Tidaklah mereka akan dapat diperdayakan oleh orang yang mencoba menggagalkan mereka dan tidak pula orang yang menantang mereka, sampai datang saat yang ditentu Allah (Kiamat). Dan merekalah yang menang." (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi ketika menafsirkan hadits ini berkata bahwa yang dimaksud dengan
Thaaifah atau
golongan yang berbagai corak orang yang beriman, di antaranya ialah orang-orang yang
di medan perang, di antaranya ialah
ahli-ahli pikir agama (fiqih), di antaranya ialah
ahli-ahli hadits, di antaranya ialah orang-orang yang
zahid, di antaranya ialah orang yang
berani melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan di antaranya ialah
macam ragam Mukmin yang lain yang suka dengan jelas mengerjakan yang baik-baik. Sebab itu
tidaklah mesti bahwa
mereka terkumpul. Mungkin mereka tersebar di negeri, namun
corak perjuangan mereka adalah
sama, yaitu
menegakkan jalan Allah dengan gagah berani.
Maka dapatlah kita mengambil
kesimpulan, bahwa dengan ayat 171 dan 172 adalah janji Allah SWT kepada rasul-rasul yang Dia utus. Sedang
ayat 173 adalah janji kepada
orang-orang yang
menyambung perjuangan rasul-rasul itu.
Yang tegas ialah
para ulama yang sadar akan tugasnya, menurut sabda Rasulullah saw.,
"Orang-orang yang berpengetahuan adalah penerima waris dari nabi-nabi." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Maka
orang yang
berpengetahuan adalah
bertanggung jawab buat bersedia masuk
Thaaifah (golongan) yang
selalu berani menegakkan kebenaran, walaupun bagaimana perdayaan yang ditimpakan oleh penghambat dan penghalang.
"Sampai suatu ketika." (ash-Shaaffaat ujung ayat 174).
Dalam ungkapan yang biasa
terpakai di Indonesia kalimat
sampai suatu ketika itu berdekatan artinya dengan
"Tunggu tanggal mainnya."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 523-524, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUKUM SYARI'AT ISLAM
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Kemarilah, kepada apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul,' engkau lihatlah orang-orang yang munafik itu berpaling dari engkau sebenar-benar berpaling." (an-Nisaa: 61).
Nyatalah bahwa
orang-orang itu telah
dicap oleh ayat ini sebagai
orang yang
munafik. Tidak bulat hati meminta
hukum Allah dan Rasul, melainkan masih percaya juga kepada hukum
thagut.
Berkata
al-Hafizh Ibnu Katsir mengenai ayat-ayat ini,
"Ayat ini adalah satu penegasan bahwa Allah tidak mau menerima kalau ada orang yang mengaku beriman kepada perintah yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada rasul-rasul yang dahulu, padahal ketika akan mengambil keputusan suatu hukum dalam hal yang mereka perbantahkan, mereka ambil hukum di luar dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." Berkata pula
ahli-ahli tafsir yang lain,
"Ayat ini memberikan petunjuk bahwa menerima keputusan hukum dari Allah adalah wajib dan wajib pula ridha menerima syari'at-Nya. Ayat ini menunjukkan pula dengan pasti bahwa orang Islam tidak dibolehkan menerima hukum selain dari Syari'at Islam." Berkata setengah
ahli fiqih,
"Apabila dua orang berperkara, lalu yang seorang ridha menerima hukum ketentuan Syari'at Allah, yang seorang enggan menerima hukum itu, lalu dia suka menerima hukum dari hakim-hakim yang mengingkari peraturan Allah, yang enggan itu kafirlah!"
Tumbuhlah golongan orang yang mengakui beragama Islam dan beribadah, tetapi tidak yakin lagi akan Syari'at Islam.
Merekalah yang keras menantang tiap gagasan hendak meletakkan dasar hukum Syari'at Islam di dalam negeri yang penduduknya terbanyak orang Islam. Daripada menerima hukum Syari'at Islam
mereka lebih suka menyalin kitab hukum pusaka penjajah atau
menyalin hukum negara-negara Barat yang lain.
PENEGASAN ALLAH DENGAN SUMPAH
Di
ayat 65 akan kita baca
penegasan Allah dengan sumpah bahwa orang yang tidak mau menerima
tahkim dari Allah dan Rasul-Nya,
tidaklah termasuk orang yang beriman,
"Walau shallaa, walau shaama!" Walaupun dia
Shalat, walaupun dia
Puasa.
"Maka sungguh tidak, demi Allah engkau! Tidaklah mereka itu beriman, sehingga mereka ber-tahkim kepada engkau pada hal-hal yang berselisih di antara mereka." (an-Nisaa': 65).
SEKALI-KALI JANGANLAH DIAKUI
Sekali-kali janganlah diakui ada satu
peraturan lain yang lebih baik dari Peraturan Islam.
KAFIR-LAH ORANGNYA
Jika ada keyakinan bahwa ada ajaran lain untuk
mengatur masyarakat yang lebih baik dari Islam,
kafir-lah orangnya,
walaupun dia masih
Shalat.
TAUHID
Ketenteraman jiwa yang timbul lantaran dipupuk oleh
Tauhid dan
ihsan menyebabkan tidak ada rasa keberatan dan
tidak ada pokrol-pokrolan terhadap
sekalian hukum agama.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 352-353, Jilid 1 Hal. 394, Jilid 3 Hal. 357, Jilid 2 Hal. 299, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SYIQAQ
"Dan jika kamu takut perselisihan di antara mereka berdua, maka hendaklah kamu utus seorang hakam dari ahlinya (si laki-laki) dan seorang hakam dari ahlinya (si perempuan)." (an-Nisaa' pangkal ayat 35).
Menurut riwayat
Imam Syafi'i di dalam
al-Umm, al-Baihaqi di dalam
as-Sunan, dan
beberapa riwayat lain, riwayat itu dari Ubaidah al-Sulamani, bahwa pada suatu hari datanglah seorang laki-laki dan seorang perempuan kepada Ali bin Abi Thalib (moga-moga Allah memuliakan wajahnya) dan bersama dengan mereka turut pula segolongan besar orang-orang. Rupanya mereka mengadukan perselisihan atau
syiqaq yang telah tumbuh di antara kedua orang suami istri itu. Maka Ali memerintahkan supaya diutus seorang
hakam dari ahli si laki-laki dan seorang
hakam dari ahli si perempuan, kemudian beliau (Ali) berkata kepada kedua
hakam itu,
"Apakah kamu keduanya tahu apa kewajiban kamu? Kewajiban kamu ialah menyelidiki, kalau pada pandangan kamu berdua masih dapat orang-orang ini dikumpulkan kembali, hendaklah kamu kumpulkan, dan kalau kamu berdua berpendapat lebih baik bercerai saja, maka perceraikan mereka!"
MENDUSTAKAN ALLAH
Mendengar itu berkatalah
si perempuan, "Hamba tunduk kepada Kitab Allah dan apa yang tersebut di dalamnya." Tetapi
si laki-laki menyanggah, "Kalau keputusan bercerai, aku tak mau!"
Ali menjawab,
"Kalau begitu, engkau adalah seorang yang mendustakan Allah. Kalau tidak engkau tunduk kepada apa yang telah aku tetapkan itu, engkau tidak akan kubiarkan pulang."
Demikianlah penetapan dari
Ali bin Abi Thalib tatkala
beliau menjadi
khalifah.
Serupa dengan itu pula pendapat
Ibnu Abbas.
Berkata
al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya,
"Telah sependapat para ulama bahwa kedua hakam itu berhak mempersatukan kembali di antara suami istri yang berselisih itu dan berhak juga memisahkan."
Ibrahim an-Nakha'i berkata,
"Jika kedua hakam itu hendak memisahkan keduanya dengan talak satu, atau talak dua, atau talak tiga, boleh saja."
Begitu pula satu riwayat dari pendapat
Imam Malik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 284-285, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KLIK DISINI: NIKAH SI KANI, MANFAATNYA SAMPAI MASA KINI
IMAN SEPUHAN
"Apakah dalam hati mereka ada penyakit? Apakah mereka ragu-ragu? Ataukah mereka takut kalau-kalau hukum Allah itu akan merugikan mereka? Demikian juga hukum Rasul? Tidak! Yang terang ialah, bahwa mereka adalah orang-orang yang zalim aniaya. Tidak ada jawaban lain bagi orang yang beriman, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya dilakukan hukum di antara mereka, hanya 'Kami dengarkan ajaran itu dan kami patuhi.' Itulah orang-orang yang menang." (an-Nuur: 50-51).
Mengucapkan dengan mulut mengaku patuh kepada Allah dan Rasul adalah
mudah saja, ialah
sukarnya bagi
lidah yang tidak bertulang. Tetapi sebagai akibat konsekuensi dari pengakuan dengan mulut percaya dan patuh itu, haruslah terbukti pada perbuatan dan sikap hidup.
"Engkau durhaka kepada Allah SWT, padahal engkau menyatakan cinta kepada-Nya."
Ini adalah perbuatan mustahil dan amat ganjil.
Jika benarlah cintamu itu, niscaya engkau laksanakan perintah-Nya. Karena orang yang tercinta kepada kecintaannya adalah setia.
Kita mengakui diri sebagai Muslim,
hendaklah karena
Islam kita
timbul dari
iman kita. Kalau
Islam hanya sebagai sambutan
pusaka dari
nenek moyang, bukan atau belum datang dari lubuk hati, belumlah berarti hidup ini dan belumlah akan kita ketahui rahasia dan keuntungan, jiwa yang didapat darinya.
REVOLUSI TAUHID
Revolusi Tauhid menentang Syirik, revolusi Allah Maha Besar menghadapi berbagai macam berhala,
revolusi dari
jiwa yang bebas dari pengaruh alam melawan jiwa yang diikat oleh perdayaan alam.
Iman atau kepercayaan yang sejati adalah meninggalkan nilai jiwa sendiri, yang apabila dia telah meresap dalam sanubari, pastilah nyata bekasnya kepada sikap hidup dan pandangan hidup. Karena yang menggerakkan manusia bukanlah semata nalurinya
(insting), tetapi akalnya. Dan akal itu bergerak dan aktif di bawah pengaruh anutan hidup. Islam adalah aqidah kepercayaan. Kepercayaan menentukan gerak, bukan negatif. Iman seseorang dibayangkan oleh sikap hidupnya.
Seorang yang
beriman hanya mempunyai
satu tujuan, yaitu
Allah SWT. Sebab itu
tidaklah benda, sebab benda itu pecah sifatnya. Maka orang yang beriman, senantiasa sesuai di antara percakapannya dengan perbuatannya.
Matanya jernih bersinar, sebab
tidak dikaburkan oleh keraguan dan kedustaan. Pribadi
seorang Mukmin tinggi, berwibawa, bersinar. Tidak ada takutnya hanyalah kepada Allah. Penilaiannya kepada laba dan rugi
amat berbeda dengan penilaian
orang yang
diperhamba oleh
harta benda.
Seorang Mukmin merasa rugilah hidupnya ini kalau dia tidak dapat menundukkan diri kepada hukum yang digariskan Allah SWT.
Apalah artinya harta benda, pangkat, kekayaan dan kebesaran, dan apalah artinya perhiasan dunia ini kalau sekiranya kita
kehilangan harta nyawa yang paling mahal,
yang tidak dapat dihargai dengan uang, yaitu
pendirian hidup.
Dengan
hati terbuka dan
bersyukur dia
menerima hukum Allah SWT dan hukum Rasul. Hawa nafsunya ditundukkan kepada hukum itu, sebab dia diikat oleh disiplin.
Kita sebagai orang Islam yang hidup di zaman modern, kadang-kadang iman kita digoncangkan oleh berbagai macam
isme yang kadang-kadang mendatangkan keraguan.
Ridha menerima hukum yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya, adalah
bukti dari
iman yang
sejati. Itulah bukti, bahwa
hakikat iman telah tumbuh dan
terhunjam dalam sanubari. Sebab
setengah dari
gejala iman itu ialah
adab, sopan dan
santun.
Seorang Mukmin sudah merasa
pasti, bahwasanya
hukum yang datang dari Allah SWT adalah
sebijaksana-bijaksananya hukum, dan
tidak ada yang akan melebihinya lagi. Orang yang
menolak hukum Allah ataupun orang yang
merasa ragu, adalah
orang yang
hatinya telah
"kemasukan", itulah dia
penyakit.
Hukum Allah mengatasi segala hukum.
Kalau aku berkuasa dan bisa menciptakan hukum, yang terlebih dahulu aku pikirkan ialah bagaimana supaya hukum itu jangan mengenai diriku. Dan kalau aku masuk dalam satu partai, dan partaiku menguasai negara, lalu mencipta hukum, maka yang lebih dahulu aku pikirkan ialah bagaimana supaya hukum yang diciptakan oleh partaiku itu dapat membungkamkan partai yang kami kalahkan.
Selama dunia masih dunia yang ini juga, dan
selama manusia masih manusia yang ini juga, kepentingan hukum tidak akan beranjak dari kepentingan golongan yang berkuasa. Sebab itu
wajiblah ada hukum yang tertinggi, yang mutlak adil. Itulah
hukum Allah SWT. Itulah
hukum yang
tidak berpilih kasih dan itulah
hukum yang
tidak untuk kepentingan golongan sendiri. Oleh sebab itu maka pada ayat 50
dijelaskan, bahwasanya
orang-orang yang
tidak rela menerima hukum Allah dan Rasul, atau melaksanakan suruhannya dan menghentikan larangan, adalah orang yang aniaya,
orang yang
zalim.
Setiap orang yang akan diberi jabatan tinggi
disumpah terlebih dahulu,
bahkan di negeri kita ini diadakan pula
tradisi, bahwa setiap orang yang tengah disumpah itu, di belakangnya berdiri
seorang haji mengangkat sebuah
kitab suci Al-Qur'an, yaitu
tradisi yang
diwarisi dari
Belanda dan
diteruskan oleh
pemerintah kita, dan
sekali-kali tidak ada dari Nabi Muhammad saw. ataupun
dari para sahabatnya. Mereka telah bersumpah dengan mengangkat Al-Qur'an, namun yang
curang ada juga. Telah
mengucap "Demi Allah", namun yang
korupsi masih ada. Karena semata sumpah
tidaklah akan dapat mengubah pribadi yang
kosong dari
iman.
Setiap
pegawai diangkat,
disumpah "Demi Allah" itu sudah hilang wibawa kalimatnya. Atau
Demi Allah telah
dijadikan tameng belaka dari
pribadi yang
bobrok.
Ayat 54 mengatakan dengan tegas,
"Tak usah bersumpah, laksanakan saja perintah. Itulah yang lebih baik." (an-Nuur pangkal ayat 54).
Karena Allah Maha Tahu apa jua yang kamu kerjakan. Maka
seorang Mukmin tidaklah banyak sumpah, karena dia jujur dan percaya kepada dirinya, yang
ya tetap ya, yang
tidak tetap tidak. Dia percaya kepada dirinya,
sebab dia percaya kepada Allah SWT.
"Dan kewajiban Rasul tiada lain hanyalah semata-mata menyampaikan dengan sejelas-jelasnya." (an-Nuur ujung ayat 54).
Di ayat 54
ditegaskan kembali pendirian
seorang Mukmin sejati, seorang yang
bukan munafik, yaitu supaya
taat kepada Allah dan Rasul. Kalau kamu masih berpaling dan tidak peduli, ketahuilah, bahwa Rasul hanya semata berkewajiban menyampaikan kepadamu, menjelaskan keadaan yang sebenarnya, sedangkan
kamu diberi akal budi buat berpikir, artinya kamu pun bertanggung jawab pula dan berkesempatan buat memikirkan.
Maka kalau kerusakan dan kehancuran yang bertemu karena keraguanmu, janganlah Rasul yang disesali.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 316-321, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEMERANGI ALLAH DAN RASUL-NYA
"Tidak ada lain balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan mengusahakan kerusuhan di bumi, selain dari dibunuh mereka, atau disalibkan mereka, atau dipotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka berselang-seling, atau dibuang dari bumi itu. Yang demikian itu adalah suatu penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan untuk mereka di akhirat adalah adzab yang besar." (al-Maa'idah: 33).
Memerangi Allah dan Rasul, artinya
menentang kehendak Allah dan Rasul dengan
sikap perbuatan sengaja.
Sebab orang yang
dirampasi atau
dirampoki itu bukan musuh, melainkan
orang-orang yang
merasa hidup aman di bawah lindungan peraturan Allah dan Rasul.
Di pangkal ayat tadi disebut bahwa
mereka telah melakukan dua pelanggaran besar, yang kedua bertali dengan yang pertama.
Pertama, mereka telah
memerangi Allah dan Rasul, sebab
peraturan Allah telah terang-terang mereka langgar dengan kekerasan. Lalu dengan sebab yang demikian mereka telah melakukan tindakan kedua yang lebih jauh, yaitu mengusahakan kerusakan di bumi. Dengan yang pertama, memerangi Allah dan Rasul,
artinya mereka telah terang-terang menentang Syari'at Allah; Allah menghendaki keamanan, dia melakukan pengacauan.
Untuk jadi pegangan dapat kita ambil satu penafsiran lagi dari
Ibnu Abbas, demikian bunyinya,
"Apabila orang memerangi Allah dan Rasul, lalu merampas harta orang, tetapi tidak sampai membunuh; dipotong tangan kakinya berselang-seling. Kalau dia keluar, lalu membunuh, tetapi tidak merampas harta, hukumnya bunuh saja. Kalau dia keluar, dirampasnya harta dan dibunuhnya orangnya; hukumnya dibunuh dan disalibkan. Dan kalau dia keluar lalu menyamun di tengah jalan, tetapi belum sampai merampas harta benda dan belum sampai ada yang dibunuhnya, hukumnya ialah dibuang." Pendapat ini pun dituliskan oleh
Imam Syafi'i di dalam kitabnya
al-Umm dan
Abdurrazak dan
beberapa ulama yang lain.
"Yang demikian itu." Yaitu salah satu dari keempat macam hukum itu, dari yang sangat berat, sampai kepada yang berat, sampai kepada yang agak ringan tetapi berat juga (potong selang-seling) dan yang ringan sekali (buang atau penjara),
"Adalah suatu penghinaan bagi mereka di dunia ini." Karena
memang mereka berbuat sangat hina, yaitu
memerangi Allah dan Rasul, maka seyogianya hukuman yang hina pulalah yang pantas mereka terima.
Dan bila orang lain melihat bekas hukum yang hina itu, takutlah mereka akan berbuat begitu pula. "Dan untuk mereka di akhirat adalah adzab yang besar." Dengan demikian belumlah habis hukum yang diterimanya di dunia ini saja, di akhirat perkaranya akan dibuka kembali dan akan diterimanya adzab yang pedih. Ini membuktikan bahwa
dosa orang-orang ini sangat besar. Di atas dunia ini mengacau masyarakat lalu dihukum yang setimpal, dan di akhirat akan diterimanya hukum lagi,
karena yang diperanginya ialah Allah dan Rasul. Tetapi yang masih hidup sesudah menjalani hukum potong selang-seling dan hukum buang,
masih ada kesempatan buat tobat.
"Kecuali orang-orang yang bertobat dari sebelum kamu dapat menangkap mereka. Maka ketahuilah bahwasanya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Penyayang." (al-Maa'idah: 34).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 677-681, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BUGHAT
Berbeda duduk perkara di antara
orang yang
memerangi Allah dan Rasul ini dengan orang yang
bughat. Di dalam surah al-Hujuraat ayat 9 diperintahkan Allah, bahwa jika terjadi perselisihan sampai berbunuh-bunuhan di antara dua golongan kaum Muslimin, hendaklah kamu mencoba mendamaikan. Kalau yang satu golongan
bughat terhadap yang lain, hendaklah kamu perangi yang
bughat itu, sampai dia kembali ke dalam garis jalan perintah Allah. Arti
bughat ialah golongan yang tidak mau didamaikan. Timbul pertanyaan, "Siapakah yang dituju Allah dengan kata-kata kamu, yang diperintahkan mendamaikan dua golongan yang berselisih itu?" Tentu yang diperkamu, yang di khithab menyuruh mendamaikan itu ialah golongan yang ketiga. Golongan yang tidak masuk ke salah satu pihak yang berselisih. Dalam hal ini tentu saja pihak pemerintahlah yang berkuasa, atau golongan ketiga yang netral yang lebih kuat dari kedua golongan yang berkelahi itu.
Tiba-tiba timbullah suatu pertanyaan yang berbeda dengan yang dituju ayat, yang payah buat memasangkan kata
bughat. Yaitu Mu'awiyah Gubernur Syam menentang Ali bin Abi Thalib yang telah diangkat umat menjadi Khalifah di Madinah. Mu'awiyah mengemukakan tuntutan agar diselesaikan terlebih dahulu soal kematian Utsman yang teraniaya. Kemudian itu kaum Khawarij memisahkan diri pula dari kekuasaan Ali dan melawan. Akhirnya perjuangan Mu'awiyah beroleh kemajuan, terutama dalam perundingan di Daumatul-Jandal, karena suara utusan Ali, yaitu Abu Musa al-Assfari dapat dikalahkan oleh kecerdikan Amr bin Ash. Teranglah bahwa ulama-ulama tidak dapat tergesa lagi memutuskan bahwa Mu'awiyah
bughat. Melainkan keluarlah pendapat ulama bahwa pemerintah Mu'awiyah itu sudah menurut hukum. Sebab kekuasaannya telah menjadi kenyataan. Terutama setelah kemudian, pada Tahun 40 Hijriyah, Hasan bin Ali menyerahkan seluruh kekuasaannya pula kepada Mu'awiyah.
BERONTAK TERHADAP KEKUASAAN YANG SAH
Kemudian menjadi perbincangan pula di dalam kalangan ulama-ulama fiqih tentang pemberontak melawan imam (kepala negara) yang zalim. Yaitu seperti yang dilakukan oleh Husain bin Ali terhadap kekuasaan Yazid bin Mu'awiyah.
Maka terdapatlah ijma (kesamaan pendapat) ulama bahwa kalau seorang imam kaum Muslimin murtad dari Islam dan dia tidak mau menyerahkan kekuasaannya kembali ke dalam Ahlulhalli wal Aqdi, kaum Muslimin wajib memberontak terhadap kekuasaannya. Dan sama pula pendapat ulama-ulama bahwa imam yang menghalalkan barang yang haram, dengan menganjurkannya, misalnya menghalalkan dan meminum minuman keras, atau menghalalkan zina dan melanggar peraturan-peraturan syara', meskipun dia tidak menyatakan murtad dari Islam, boleh pula imam yang seperti itu diberontaki. Berdasar kepada hadits Ubadah bin Shamit yang
shahih, yaitu salah satu rangkaian baiat kaum Anshar di Aqabah dengan Nabi,
"Dan supaya jangan engkau tandingi suatu urusan dari aslinya. Kecuali kalau kamu lihat kekafiran yang sudah berterang-terang." Imam Nawawi menjelaskan arti kafir berterang-terang ini, ialah kalau imam itu tidak segan-segan lagi memperlihatkan berbuat maksiat di muka mata umat yang diimaminya. Maka maksud hadits Ubadah bin Shamit ini jelaslah bahwa kekuasaan seorang imam (kepala negara) yang benar dan sah keimanannya, misalnya karena ingin merebut kuasanya, tidaklah diizinkan oleh syara', kecuali kalau dia telah terang-terang menunjukkan perbuatan yang bersifat kufur. Demikian juga amil-amilnya atau wali-walinya, atau menteri-menteri dan pembantu-pembantunya. Kalau dia zalim dan suka berbuat maksiat, wajiblah dia ditarik kembali ke dalam jalan yang benar dan biarlah dia tetap jadi imam asal dia telah sadar. Mana pekerjaannya yang ma'ruf ditaati dan mana yang mungkar tidak dituruti. Kalau dia masih berkeras, hendaklah wakil-wakil umat bersikap keras pula, ma'zul-kan dia dan ganti dengan yang lain, yang lebih menuruti jalan yang benar.
Oleh sebab itu, di dalam sejarah Islam, selalulah muncul ulama-ulama yang tulus ikhlas, merdeka jiwa dan tidak mau menjual imannya kepada kekuasaan imam-imam yang zalim, lalu dengan tegas ulama-ulama itu menegur pekerjaan imam yang salah, yang zalim, yang tidak menuruti garis yang ditentukan oleh syara'. Tetapi sebagian besar dari ulama-ulama itu, kalau diajak orang berontak kepada imam yang beliau tentang itu, mereka tidak mau. Sebab yang beliau-beliau jaga ialah jangan sampai ada fitnah. Pengalaman Islam karena peperangan Ali dengan Mu'awiyah, telah meninggalkan kesan luka parah yang payah menyembuhkannya dari Abad ke Abad. Itu sebabnya ulama-ulama itu tidak mau tergesa berontak, sebelum berhitung masak-masak. Tetapi kalau kezaliman sudah sampai di puncak yang kadang-kadang dengan senjata lisan fatwanya saja, bisa meruntuhkan kekuasaan raja yang besar. Kejatuhan Sultan Abdulhamid dari tahta Kerajaan Turki Osmani, sebagian besar adalah karena fatwa Syaikhul Islam telah keluar menyatakan bahwa dia tidak berhak buat ditaati lagi. Dengan ini bukan berarti bahwa umat telah taqlid saja kepada fatwa Syaikhul Islam dan ulama itu, melainkan kedudukan mereka di saat itu bukan saja lagi sebagai ulama, melainkan sebagai salah seorang yang telah mewakili umat, karena pribadinya yang telah memengaruhi dan mempesona orang banyak (massa) dari sebab sikapnya yang tegas menegakkan kebenaran.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 683-684, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
NABI MENYERU KEPADA JALAN YANG LURUS
"Sesungguhnya engkau mengajak mereka kepada jalan yang lurus." (al-Mu'minuun ayat 73).
Sebab itu di dalam menegakkan jalan yang lurus
tidaklah diadakan tolak-angsur.
"Supaya Dia kukuhkan kebenaran dan Dia hancur-leburkan kebatilan walaupun orang yang durjana tidak menyukainya." (al-Anfaal: 8).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 214-215, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH AL-INSYIRAAH
"Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (ayat 6).
Tetapi
sekali-kali jangan lupa, yaitu,
"Dan hanya kepada Tuhanmu, hendaklah engkau berharap." (ayat 8).
Inilah satu pedoman hidup yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dan dipusakakan oleh Rasul kepada umatnya, yang tegak berjuang menyambung perjalanan memikul beban berat itu menjalankan perintah Allah; selesai satu usaha, mulai lagi usaha baru. Tapi
Allah jangan ditinggalkan! Jangan gentar menghadapi kesukaran, karena dalam kesukaran itu pasti ada kemudahan, asal
engkau pergunakan otakmu buat memecahkannya. Sebab
Allah tidak pernah mengecewakan orang yang
bertawakal kepada-Nya.
Ada juga dipahamkan orang tentang pertalian ayat 5 dan ayat 6, beserta kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan. Dia melihat bahwa
'usrin (kesulitan) yang tercantum di ayat 6 adalah terjepit di antara dua
yusran, sebab itu maka
usri tidaklah akan menang. Akhirnya dia mesti kalah juga. Sebab
'usrin yang dijepit oleh dua
yusran.
Ataupun adalah sikap jiwa dari Sayyidina Umar bin Khaththab sendiri. Maka tersebutlah di dalam kitab
al-Muwaththa' karya
Imam Malik, di dalam kitab tentang
jihad, ada suatu riwayat demikian bunyinya,
Dari Zaid bin Aslam, berkata dia:
"Abu Ubaidah bin Jarrah menulis surat kepada Umar bin Khaththab yang isinya menerangkan bahwa tentara Rum yang sangat besar telah siap akan menyerang mereka, kekuatan tentara itu amat mencemaskan." Surat itu dibalas oleh
Sayyidina Umar bin Khaththab, di antara isinya:
"Amma ba'du, bagaimana jua pun kesukaran yang dihadapi oleh orang yang beriman, namun Allah akan melepaskannya jua dari kesukaran itu, karena satu 'usrin (kesulitan) tidaklah akan dapat mengalahkan dua yusran."
Di waktu saya masih kanak-kanak, ipar dan guru saya
Ahmad Rasyid Sutan Mansur senantiasa membaca sambil menyanyikan sebuah syair, yang dari kerapnya saya mendengar, saya pun dapat menghapalnya dan menyanyikan pula,
"Apabila bala' bencana telah bersangatan menimpamu, Pikirkan segera surah Alam Nasyrah, 'Usrin terjepit di antara dua Yusran, Kalau itu telah engkau pikirkan, niscaya engkau akan gembira."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 243-244, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ANDAI KAU MASIH ADA
Oleh: Ratih Sanggarwati
youtube.com/watch?v=BAfP-0Y_zaY
Andai kau masih ada, Buya
Kau akan gembira melihat Al-Azhar telah bertabur di seluruh Nusantara
Menyemai pendidikan dan mendidik anak-anak para ibu yang tak punya waktu
Andai kau masih ada, Buya
Kau kan bersedih melihat para ibu itu tak mau mengajarkan
Jangankan mengaji, Buya
Mengajarkan sopan santun saja mereka tak mampu
Oh bukan Buya, bukan tak mampu, tapi mereka tak mau
...
Andai kau masih ada, Buya
Kau akan tertawa melihat betapa agama telah menyelusup ke relung-relung jiwa muda di perkotaan
Tidak hanya di surau atau madrasah layaknya kau remaja dahulu
Andai kau masih ada, Buya
Kau pun akan menangis melihat betapa agama
Tak merasuk dalam akhlak keseharian mereka
Tak menjadi hiasan mata mereka dalam bacaan
Tak menjadi hiasan bibir mereka dalam bercakap
Andai kau masih ada, Buya
Kau akan bahagia melihat anak negeri ini berani berbicara
Mengeluarkan pendapat yang dapat mengubah negara
Tapi jua, Buya
Andai kau masih ada
Maka kau akan merana melihat keberanian mereka telah melanggar norma
Tak bisa mereka seperti engkau...
Yang berseberangan dengan penguasa tapi kau tetap menghargainya
Dan kau tetap menjadi imam shalat jenazah ketika dia tiada
Ah Buya, betapa kami berharap andai kau masih ada, Buya
Jakarta, 08 April 2008
(Irfan HAMKA, Ayah..., Hal. 322, Republika Penerbit, Cet. XII, 2016).
RENUNGAN BUDI
Umur badan terbatas. Umur batu nisan kadang-kadang lebih panjang dari umur badan,
tetapi umur jasa dan
kenangan lebih panjang dari umur batu nisan. Sebab itu
Jalaluddin Rumi pernah mengatakan ketika orang minta izin kepadanya hendak membuatkan kubah pada kuburannya nanti apabila dia telah mati,
"Tak usahlah nisan dan kubah pada kuburanku. Kalau hendak menziarahi aku, temuilah aku dalam hati orang yang mengenal ajaranku."
(Buya HAMKA, LEMBAGA BUDI: Menegakkan Budi, Membangun Jati Diri Berdasar Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, Hal. 178, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
BERJIHAD UNTUK BAHAGIA
Sesungguhnya
kematian perasaan
jihad inilah yang
telah menyebabkan kaum muslimin sangat mundur pada dewasa ini.
Dan
kaum muslimin akan
melebihi Barat dalam
berjihad bersungguh-sungguh, jika
pelajaran agamanya dipegangnya kembali teguh.
(Buya HAMKA, TASAWUF MODERN: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 336, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
Pada awal dekade 70-an HAMKA mengingatkan umat Islam terhadap tantangan
al-ghazwul fikr (penjajahan alam pikiran). Menurut HAMKA, penjajahan alam pikiran beriringan dengan
penghancuran akhlak dan
kebudayaan di negeri-negeri Islam.
Sekularisasi atau
sekularisme adalah
setali tiga uang dengan
ghazwul fikr yang
dilancarkan dunia Barat untuk
menaklukkan dunia Islam, setelah
kolonialisme politik dalam berbagai bentuk gagal.
sukabumikota.kemenag.go.id/file/dokumen/D000598.pdf
DEMOKRASI BANCI DAN EMANSIPASI MUKHANNAS
Mulanya
dihilangkan ghirah laki-laki, akhirnya
laki-laki mengikuti perintah perempuan, yang kemudian
perempuanlah yang
berkuasa di belakang layar.
Apa macam!
Islam dalam
ajarannya yang
asli dari Nabi Muhammad saw.
tidak memingit perempuan.
Dari mana ia mulai?
Dari
rumah tangga, melalui
pendidikan anak-anak.
Kita mempunyai gerakan-gerakan perempuan Islam, seperti
Aisyiyah dan
Nasyiatul Aisyiyah yang didirikan oleh
Muhammadiyah. Selain itu juga dari
Nahdatul Ulama ada
Muslimat dan
Fatayat NU. Pergerakan lainnya, yakni
Muslimat PERTI dan
Muslimat PSII.
Kepada mereka, dari sekarang wajib kita ingatkan supaya
sadar benar
di garis mana mereka harus tegak dan di garis mana mereka berjuang. Mana yang milik kita dan mana yang tiruan dari demokrasi banci dan emansipasi
mukhannas sehingga
kaum laki-laki kehilangan ghirahnya.
Kalau masih ada pemuda Islam yang merasa
bangga dibuang
15 tahun karena
ghirah akibat
saudara perempuannya diganggu, pertanda bahwa sesungguhnya
Islam belum kalah!
(Buya HAMKA, Ghirah: Cemburu Karena Allah, Hal. 12-14, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MAKSIAT DAN PENYAKIT JIWA
Penyakit jiwa itu dipancing dengan
pakaian yang
menimbulkan syahwat. Karena itu, Islam memberi batas-batas apa yang dinamai
aurat. Bukan pula dia menentukan mode dan bentuk suatu pakaian. Islam tidak melarang berpakaian secara Eropa dan Amerika. Islam tidak mewajibkan orang mesti memakai pakaian menurut suatu corak, karena itu adalah termasuk kebudayaan. Pakaian Eropa ada yang sopan, tertutup aurat, mengapa tidak itu yang ditiru? Islam tidak memerintahkan perempuan menutup tubuhnya dengan goni dan matanya saja yang keluar!
Apa gunanya membungkus badan dengan
goni itu padahal
mata yang
keluar sedikit itu penuh syahwat
seakan-akan mengucapkan "pegang aku"!
Di Timur, di negeri-negeri Islam, dan di Barat, di negeri-negeri Kristen, ada
pakaian yang
sopan dan
bila dipakai oleh
seorang perempuan timbullah
rasa hormat kita!
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM, Hal. 428-429, Penerbit Gema Insani, Cet.1, September 2018).
PEREMPUAN ITU SENDIRI ADALAH AURAT
Ananda menanyakan tentang batas aurat perempuan,
"Sampai batas-batas manakah seorang perempuan muslim harus berpakaian?" Oleh karena Ananda yang bertanya tampaknya memang seorang perempuan Muslimat yang ingin mengikuti Nabi saw., ingatlah sebuah hadits yang dirawikan oleh at-Tirmidzi, "
Perempuan itu sendiri adalah
aurat. Bila ia telah keluar,
Setan terus mendekatinya. Tempat yang paling dekat untuknya dalam perlindungannya adalah terang-terang di bawah atap rumahnya."
Oleh sebab itu kalau tidak perlu benar,
janganlah keluar. Misalnya pergi belajar.
Pergi ke Masjid tidaklah dilarang. Namun,
shalat di rumah adalah
lebih afdhal.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 167-168, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENJADI IBU RUMAH TANGGA YANG TERHORMAT
"Dan menetaplah kamu di dalam rumah kamu." (al-Ahzaab pangkal ayat 33).
Maka segala pesan Allah SWT untuk disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada istri-istrinya ini
menjadilah tuntunan bagi tiap-tiap perempuan yang beriman yang bukan istri Rasul,
berpakaianlah yang
sopan, jangan berhias secara jahiliyyah, janganlah shalat dilalaikan dan berzakatlah kalau ada yang akan dizakatkan dan
selalulah taat kepada Allah dan Rasul. Beribadah
menurut contoh teladan yang dibawakan Nabi saw., melakukan
syari'at yang
digariskan Allah dengan
penuh kesadaran, itulah dia
yang bernama IMAN.
JAHILIYYAH MODERN
Kita pun insaf betapa hebatnya perjuangan di zaman
jahiliyyah modern ini hendak menegakkan
kebenaran Ilahi. Namun yang
keji tetaplah
keji walaupun
banyak orang yang hanyut dibawa arusnya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 192-213, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PRIBADI DAN MARTABAT BUYA HAMKA
Sahabatnya, Buya Zainal Abidin Syu'aib, yang kami panggil Buya ZAS, kerap datang dari Padang, singgah dan makan di rumah. Mereka membicarakan keadaan negeri asal mereka Minangkabau, tentang ulama-ulama yang sudah makin menipis,
pergaulan pemuda-pemudi yang sudah sangat bebas, adat yang tak dihiraukan lagi, dan
berita-berita kejahatan yang
memenuhi koran-koran setiap hari.
Cerita-cerita sambil lalu itu pun bisa
membuat Ayah menitikkan air mata.
(Rusydi HAMKA, PRIBADI DAN MARTABAT BUYA HAMKA, Hal. 83, Penerbit Noura, Cet.I, Januari 2017).
RUNTUH BUDI RUNTUHLAH BANGSA
Sebagaimana kata
Syauqi Bey:
Wa innamal umamul akhlaqu maa baqiat
Wa in hummu dzahabat akhlaquhum dzahabuu
Yang kita salinkan ke dalam bahasa Ibu Pertiwi:
TEGAK RUMAH KARENA SENDI
RUNTUH SENDI RUMAH BINASA
SENDI BANGSA IALAH BUDI
RUNTUH BUDI RUNTUHLAH BANGSA
HAMKA
(Buya HAMKA, LEMBAGA BUDI: Menegakkan Budi, Membangun Jati Diri Berdasar Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, xi, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
AWAS DENGAN BAHAYA FITNAH
"Dan, jauhilah olehmu suatu fitnah yang tidak akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja. Dan, ketahuilah bahwasanya Allah amatlah pedih siksaan-Nya." (al-Anfaal: 25).
Adzab siksaan Allah yang timbul karena fitnah merupakan adzab dunia yang paling pedih.
Peringatan Allah dalam ayat ini perlulah
menjadi pedoman bagi umat Islam di mana-mana, bahwasanya fitnah adalah amat berbahaya. Yang kena bukan saja yang zalim, bahkan meliputi juga kepada orang-orang yang tidak bersalah, dan adzab siksanya amat mendalam bekasnya ke dalam jiwa,
telah meremukkan kekuatan Islam di zaman lampau.
Alhamdulillah, telah merdekalah sebagian besar dari
negeri Islam, dan termasuklah
negeri Islam Indonesia. Maka, awaslah diri dari fitnah dan
syukuri Allah atas nikmat kemerdekaan yang
telah diberikan dan
jadikanlah kemerdekaan itu menjadi
jembatan emas untuk
mencapai tujuan yang terakhir, yaitu
menegakkan ridha Allah dalam
negeri sendiri dan untuk
memancarkan pula
sinarnya ke seluruh dunia.
KITA AKAN BANGKIT KEMBALI
Kita akan bangkit kembali,
menyambung perjuangan Muhammad saw. menegakkan kebenaran dan
keadilan di atas permukaan bumi ini.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 692-694, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SINAR KEMAJUAN ISLAM
Lebih-lebih lagilah bagi pemuda-pemuda Islam Indonesia, untuk
menyiapkan dirinya, karena
telah sering kita mendengar dari beberapa orang
ahli-ahli Islam dari negara-negara yang disebut negara Islam, bahwa
sinar kemajuan Islam itu
nanti akan memancar dari
kepulauan Nusantara (Indonesia).
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 162, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
KEPADA PEMUDA:
"Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!"
-HAMKA-
(Buya HAMKA, PRIBADI HEBAT, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2014).
SUATU KAUM YANG DICINTAI-NYA
Teringat pula penulis tafsir ini akan perkataan
Mufti Palestina yang terkenal,
Sayyid Haj Amin al-Husainy ketika penulis bersama teman penulis saudara Asad Bafagih sampai bertemu dengan beliau pada bulan Oktober 1950. Dengan penuh semangat di antara lain beliau berkata:
"Kita telah rugi besar karena Palestina direbut Yahudi dan lebih dari satu juta orang Arab kehilangan tanah air. Tetapi Allah telah mengganti kerugian kita dengan laba yang lebih besar, dengan bangsa pemeluk Islam yang umumnya berjuta-juta mencapai kemerdekaannya, yaitu Indonesia dan Pakistan."
"Maka akan didatangkan oleh Allah suatu kaum yang dicintai-Nya, dan mereka pun mencintai-Nya, yang merendah diri kepada orang-orang yang beriman, gagah perkasa menghadapi orang-orang kafir, yang mereka berjihad pada jalan Allah, dan tidak mereka takut akan celaan orang yang mencela. Yang demikianlah kurnia Allah, yang Dia berikan kepada barangsiapa yang Dia kehendaki." (al-Maa'idah: 54).
Kita berdoa kepada Allah, moga-moga kita Muslimin Indonesia dapatlah memenuhi kelima keutamaan yang disebutkan Allah di dalam ayat ini, dengan dasar mencintai Allah dan Allah pun membalas cinta kita.
Aamiin! Dan mencintai pula akan seluruh orang beriman di dunia ini. Janganlah bertemu hendaknya apa yang
diperingatkan oleh
Almarhum Kiai Ahmad Dahlan dengan ucapannya yang terkenal:
"Islam bisa hilang dari Indonesia, tetapi tidak akan hilang dari muka bumi."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 727-728, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JANGAN TAKUT
"... Maka janganlah kamu takuti manusia tetapi takutlah Aku dan janganlah kau jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Dan barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka adalah mereka itu orang-orang yang kafir." (al-Maa'idah: 44).
Selama kita hidup, selama IMAN masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah sekali-kali boleh kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di dalam alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal.
Katakan itu terus terang dan jangan takut!
Dan insaflah bahwasanya rasa takut orang menerima hukum Islam ialah karena propaganda terus-menerus dari kaum penjajah selama berpuluh beratus tahun, sehingga orang-orang yang mengaku beragama Islam sendiri pun kemasukan rasa takut itu karena dipompakan oleh penjajahan.
Lihatlah bagaimana celakanya perikemanusian di zaman sewenang-wenang hukum buatan manusia.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 706, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
RAHASIA KEMENANGAN KITA
Laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar!
Inilah kekuatan kita.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 237, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MUNAFIK
"Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang yang munafik dan orang-orang yang kafir di dalam Jahannam." (an-Nisaa' ujung ayat 140).
Orang-orang kafir ataupun munafik akan berganti-ganti datang, dengan rencana barunya. Gagal rencana pertama, mereka tukar dengan rencana kedua. Gagal yang kedua, mereka tukar dengan rencana ketiga, dan seterusnya.
Namun Mukmin jalan terus. Bila tewas atau syahid seorang, datanglah pula gantinya sepuluh lagi, dan seratus lagi. Akhirnya kebenaran jualah yang menang. Dan segala rintangan perintang, hambatan penghambat, hanya menjadi tambahan bukti saja atas benarnya masalah yang diperjuangkan oleh orang yang beriman itu.
Nanti sebentar lagi, dalam ayat 145 akan diterangkan bahwa dalam neraka Jahannam itu tempat duduk orang munafik terletak di dasar yang di bawah sekali. Kalau kita pikirkan dapatlah kita maklumi bahwa jiwa orang munafik lebih rendah daripada jiwa orang kafir. Kafir terang menentang, sedang munafik tak dapat menyatakan pendirian yang tegas!
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah di tingkat yang paling bawah dari neraka." (pangkal ayat 145).
Dalam ayat 140 sudah dijelaskan bahwa orang munafik dan orang kafir akan sama dikumpulkan dalam neraka Jahannam. Di ayat 140 ini sudah jelas bahwa munafik didahulukan menyebutnya dari kafir. Sekarang datang ayat 145 ini, menjelaskan lagi, bahwa meskipun munafik dan kafir sama-sama masuk neraka, namun tempat munafik adalah di alas yang di bawah sekali. Sebab karena dipandang lebih hina.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 491-499, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEREKA BELI KESESATAN
"... Mereka beli kesesatan ..." (an-Nisaa': 44).
Mereka membeli pendirian yang sesat dengan mengorbankan harga kebenaran atau mereka pilih pendirian yang sesat dengan mengorbankan kejujuran.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 311, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JAWABAN ORANG-ORANG MUKMIN
"Sesungguhnya akan kami potong tangan-tangan kamu dan kaki-kaki kamu dengan bersilang dan sungguh akan kami salibkan kamu sekalian di batang kurma dan akan tahu sendirilah kamu siapa di antara kita yang teramat kejam adzabnya dan terlebih kekal." (Thaahaa: 71).
Tetapi takutkah mereka akan adzab siksaan yang sangat kejam dan bengis itu? Dipotong tangan dan kaki secara bersilangan? Kalau yang dipotong tangan kanan maka kaki yang dipotong ialah yang kiri, sesudah dipotongi cara demikian lalu dinaikkan ke batang kurma dan dipakukan, disalibkan!
Takutkah mereka akan semuanya itu? Tidak! Mereka tidak takut, bahkan mereka sambut dengan gagah,
"Putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan, yang akan kamu putuskan itu cumalah hidup di dunia ini saja." (Thaahaa: 72).
Itulah keyakinan sejati. Yang dibawa oleh Nabi Musa ini sudah terang bukan sihir. Tetapi mukjizat, kekuasaan Allah yang tidak dapat diatasi oleh manusia. Fir'aun boleh menggunakan kekuasaan, kegagah-perkasaan buat memaksa mereka mengubah pendirian itu, namun mereka tidak mau. Tidak ada yang lebih sengsara daripada mengubah pendirian. Maka jawaban orang-orang Mukmin itu adalah jawaban yang tepat, "Kalian hanya berkuasa di dunia ini saja. Dengan menghukum kami sampai mati, kebenaran itu tidak juga akan dapat diubah."
Di tiap zaman akan terjadi hal seperti ini. Barang yang batil hendak ditegakkan dengan kekerasan. Maka orang-orang yang lemah imannya dapat mendustai dirinya sendiri, lalu turut mempertahankan yang batil dengan mengatakan bahwa yang batil itu ialah yang hak. Orang yang seperti ini, yang mendustai diri, kebanyakan ialah karena takut mati. Padahal dengan mendustai diri itu dia tidak insaf bahwa hidupnya tidak ada harga lagi, artinya lebih hina daripada mati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 513, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUSUH BESAR
"Mereka itulah penghuni neraka, yang mereka di dalamnya akan kekal." (al-Baqarah ujung ayat 39).
Dengan ayat ini sebagai pengunci kisah, terbentanglah di hadapan kita suatu petunjuk bahwa kita tidak akan berhenti berjihad, bersungguh-sungguh, bekerja keras, bersemangat di dalam dunia ini. Kita sebagai turunan Adam telah diangkat menjadi khalifah Allah, menyambung tugas nenek moyang kita. Dan kita menghadapi satu kenyataan, yaitu di dalam melaksanakan tugas itu kita selalu diganggu dan diperdayakan oleh Setan Iblis.
Di sini pula kita mendapat suatu kesan yang mendalam tentang ajaran agama di dalam menentukan musuh kita. Kaum yang tidak bertuhan atau kaum yang hendak mempertahankan kekuasaan kezaliman, selalu membesar-besarkan bahaya musuh dari luar, supaya rakyat lupa atau dipalingkan perhatian mereka dari kelemahan pemerintahnya, lalu dikatakan bahwa musuh yang besar itu ialah Kapitalis, Imperialis dan Kolonialis. Sampai-sampai kalau rakyat tadi telah lapar, habis diisap darahnya oleh pemerintahnya sendiri, dikatakan juga bahwa sebab-sebab kesengsaraan rakyat itu ialah kaum kapitalis dari luar.
Akan tetapi, di dalam kehidupan beragama, diajarkan dan dititikberatkan sejak zaman dahulu bahwa musuh besar turun-temurun itu ialah Iblis atau Setan.
Oleh sebab itu, di dalam agama, orang diperintahkan menilik musuh terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri sebelum mengadakan propaganda besar-besaran menipu orang banyak, supaya menghadapkan perhatian ke luar diri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 147, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KERASULAN YANG BESAR
Puncak kebesaran nabi-nabi dan para utusan itu sampailah pada diri
nabi akhir zaman, Muhammad saw., rasul yang membawa
Risalat Uzhma ke dalam alam ini.
Dia adalah perjumpaan segala akhlak yang mulia dan perteduhan segala makhluk dunia mencari rahmat Ilahi. Mazhar dari cita yang paling tinggi di dalam kehidupan manusia.
Segala budi bahasa yang tinggi, segala cita-cita yang mulia, yang tadinya terbayang dalam khayal, yang menurut ahli filsafat Plato kita ini semuanya adalah datang dari alam
ideal itu karena
selalu kita mengingati dia dan
merinduinya.
Sekarang cita tinggi yang menjadi khayal itu
diberi bertubuh oleh Tuhan, dijadikan
insan yang
sempurna kamil dalam lingkungan
kemanusiaannya.
Itulah
Muhammad saw.
Segala orang besar dunia, bila
dibandingkan dengan
kebesaran beliau itu
hanyalah layak menjadi tentara pengiringnya.
Ali bin Abi Thalib, salah seorang pengiringnya,
masih jauh juga
lebih tinggi daripada
Napoleon, sedangkan
Umar bin Khaththab salah seorang khalifahnya.
Satu kesalahan juga bila
Bismarck diberi
kehormatan untuk
mendekatinya, apatah lagi
Khatamul Anbiyaa wal Mursalin.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM, Hal. 233-234, Penerbit Gema Insani, Cet.1, September 2018).
PANDANGAN SEORANG YANG BERAGAMA
Kalau kaumnya dikhianati oleh masa, dahulu mulia sekarang hina; dahulu memerintah dunia, sekarang di bawah kuasa orang beragama lain, dahulunya menjadi ahli budi, sekarang menjadi umat yang binasa; maka hatinya tak senang lagi, hidupnya tak senang diam. Dia belum akan berhenti berusaha sebelum umatnya kembali kepada kemuliaannya sediakala. Dia akan berusaha sekuat tenaga sampai cita-citanya berhasil. Dan kalau belum berhasil, sedang dia lekas mati, akan dipesankannya kepada anak-cucunya, menyuruh menyambung pekerjaan itu. Dia hanya menuju satu tujuan, yaitu kemuliaan umatnya, di dalam menuju tujuan tersebut dua pula yang harus dilaluinya, pertama berhasil dan dia sendiri yang memegang bendera kemenangan, kedua mati dalam perjuangan dengan pedang di tangan. Mati dengan cara demikianlah yang semulia-mulia mati dalam pandangan seorang yang beragama.
(Buya HAMKA, TASAWUF MODERN: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 112, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
AYAHKU
PESAN BELIAU KEPADA MUHAMMADIYAH
Cuma satu yang
akan aku sampaikan kepada
Pengurus Besar Muhammadiyah!
Tetaplah menegakkan agama Islam! Berpeganglah
teguh dengan
Al-Qur'an dan Sunnah! Selama Muhammadiyah masih berpegang dengan keduanya, selama itu pula ayah akan menjadi pembelanya.
Tetapi kalau sekiranya Muhammadiyah telah mensia-siakan itu, dan hanya mengemukakan pendapat manusia,
ayah akan melawan Muhammadiyah, biar sampai bercerai bangkai burukku ini dengan nyawaku!
Sampaikan pesanku ini kepada
K.H. Mas Mansur sendiri.
Demikian kata beliau!
(Buya HAMKA, Ayahku, 268, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
THAGHUT
"Mereka itulah ahli neraka. Mereka akan kekal padanya." (al-Baqarah ujung ayat 257).
Kita akan dapat pula merasakan suasana kufur itu dalam satu negeri, yang di dalam
statistik disebut
daerah Islam, tetapi
pimpinan mereka adalah
thaghut. Cahaya terang kian lama kian berganti dengan
gelap gulita, fitnah banyak, hasad dengki, perzinaan, kecabulan dan
kemaksiatan yang lain. Kalau
perwalian Allah telah
diganti dengan
perwalian thaghut, niscaya
padamlah suluh, kembali dalam
gelap.
Yang memimpin langsung orang yang beriman ialah
Allah.
Akan tetapi, orang yang tidak mau menerima iman, yang menolak (kafir), dia pun ada pemimpinnya,
tetapi bukan Allah, melainkan Thaghut, yaitu
sekalian pemimpin yang
akan membawa keluar dari
batas yang
ditentukan Tuhan. Kadang-kadang ditegaskan lagi adanya perwalian dari
Setan, sumber yang asli dari
segala macam
thaghut. Ini tersebut dalam surah Aali 'Imraan: 175, tersebut juga dalam surah al-A'raaf: 30. Dengan demikian, di samping orang-orang Mukmin berusaha mengambil pimpinan dan bimbingan Allah,
Setan pun
berusaha memasukkan
pimpinannya yang
sesat kepada
orang-orang yang memang sengaja mengelak dari pimpinan Allah.
Sebaliknya, orang-orang
yang beriman yang telah menerima pimpinan Allah tadi, yang
dikeluarkan Tuhan dari
gelap kepada
cahaya, mereka itu pun
diberi kehormatan tertinggi, diberi nama
"Auliaa Allah". Di dalam surah Yuunus: 62,
mereka diberi jaminan oleh Allah bahwa
wali-wali Allah itu
tidaklah mereka akan merasa takut dan
tidaklah mereka berduka cita.
Kemudian itu, dijelaskan pula bahwasanya orang-orang yang beriman laki-laki dan orang-orang yang beriman perempuan, yang sebagian adalah menjadi wali pula dari yang sebagiannya lagi, sama menyuruh berbuat
ma'ruf, sama mencegah berbuat
munkar, sama mendirikan shalat, sama mengeluarkan zakat, sama taat kepada Allah dan Rasul (surah at-Taubah: 71). Dikuatkan lagi oleh surah al-Anfaal: 72 bahwa
orang yang beriman itu sanggup
hijrah dan sanggup pula
berjuang (jihad) dengan
harta dan
nyawa pada
jalan Allah, dan
sebagian mereka jadi wali dari yang sebagian.
Begitulah luasnya daerah yang tercakup dalam kata wali itu, baik
Wali Allah maupun
Wali Thaghut dan
Wali Setan. Pengikut
masing-masing menjadi wali pula bagi masing-masing,
sokong-menyokong, bantu-membantu dan
pimpin-memimpin.
Dengan ayat yang tengah kita tafsirkan ini dan setelah kita mengukurnya dengan keadaan dalam masyarakat, dapatlah kita mengerti bahwa
thaghut itu, demikian juga
manusia yang
menjual kebebasan jiwanya kepada
thaghut, ada
macam-macam. Setengah
menyembah berhala, setengah
menyembah kubur, setengahnya
menyembah orang-orang hidup yang dipandang sebagai hero (pahlawan), lalu orang
menggantungkan nasib kepadanya.
Tauhid ialah untuk
membebaskan jiwa manusia dari
pengaruh thaghut itu. Karena, pengaruh
thaghut menghilangkan nilai manusia pada diri seorang anak Adam,
berganti dengan
binatang yang
patut dihalau ke hilir ke mudik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 517-519, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BER-KHILAFIYAH TENTANG PERINTAH ALLAH
Meskipun
nama itu
tidak diberitahu oleh
Allah, namun
dia sebagai
Mukmin telah
tercatat di sisi Allah. Mungkin ada hikmah tertinggi dari Allah tidak menyebut nama ini. Yaitu akan menjadi renungan bagi
tiap-tiap pejuang Mukmin yang
ikhlas bahwa
tidaklah penting nama disebut orang asal bercatat di sisi Allah. Akan jadi
teladan bagi
orang yang
berjuang dengan
ikhlas, yang disebut dalam
bahasa Jawa,
"Sepi ing pamrih, rame ing gawe".
"Orang-orang yang mempertengkarkan pada ayat-ayat Allah tidak dengan alasan yang sampai kepada mereka, amat besarlah dosanya di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mencap hati tiap-tiap orang yang sombong lagi angkuh." (al-Mu'min: 35).
Artinya kalau datang
ayat-ayat Allah bukanlah mereka musyawarah bagaimana supaya dapat
diamalkan, melainkan
jadi buah
pertengkaran dan
perdebatan.
Umumnya mereka sangat ahli memperdebatkan dan bertengkar, ber-
khilafiyah tentang perintah Allah,
bukan buat diamalkan, melainkan buat mencari jalan keluar. Sebab itu
Allah mengutuk dan
orang yang
beriman pun
bosan dengan mereka.
Mau menang sendiri. Hati telah dicap, telah ditutup diberi materai, diberi lak, sehingga
tidak terbuka lagi buat
menerima kebenaran.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 96-100, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUKUM ALLAH
Adakah sesuai peraturan yang
mereka perbuat dengan
kehendak Allah dan Rasul.
Itulah sebabnya dalam Islam diadakan
baiat di antara pihak yang diserahi kekuasaan dengan yang dikuasainya. Di hadapan rakyat yang menyerahkan kuasa itu yang diberi kuasa harus menerima
baiat, bahwa rakyat wajib taat kepada perintahnya, dan dia pun
berbaiat, bahwa
hukum yang
akan ditegakkannya mesti sesuai dengan
hukum Allah. Kalau tidak,
rakyat dapat
melepaskan diri dari
baiatnya.
Di dalam membicarakan
Thagut pada ayat 60 surah an-Nisaa' dijelaskan bahwa
sumber hukum Thagut adalah
Setan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 245-247, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MERAMPAS HAK ALLAH
Orang yang
kafir itu,
pemimpinnya ialah
Thaghut, yaitu
segala kekuasaan yang
bersifat merampas hak Allah, yang
tidak menghargai nilai
hukum Ilahi.
Thagut itu
pemimpin mereka, keluar dari tempat yang terang benderang bercahaya akan dibawa ke tempat yang gelap gulita dan
mereka jadi
ahli neraka dan
kekal di dalamnya.
Kalau
orang yang
beriman, dia
berjuang ialah pada
jalan Allah.
Tetapi
orang-orang yang
kafir berjuangnya ialah pada
jalan Thagut.
Pada lanjutan ayat
diperintahkan kepada
orang yang
beriman, hendaklah
perangi wali-wali Setan itu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 656, Jilid 8 Hal. 20, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TANGGUNGAN NEGARA, MASYARAKAT DAN RUMAH TANGGA
"Akan datang suatu zaman, orang yang memegang teguh agamanya pada waktu itu adalah laksana orang yang menggenggam bara." (HR. at-Tirmidzi dari Anas bin Malik).
Lebih celaka lagi apabila
perempuan telah
turut mengatur pula tujuan-tujuan hidup itu.
Mula-mula kaum perempuan meminta hak yang lebih luas. Jangan mereka hanya ditentukan untuk ke
dapur dan
menyusukan anak saja.
Lama-lama mereka pun meminta hak yang lebih luas daripada itu. Mereka meminta pula supaya mereka pun
turut memikirkan dan
membicarakan urusan-urusan negara. Mereka
meminta supaya diberi
hak
memilih dan
dipilih.
Kemudian mereka meminta lagi hak yang lebih dari itu. Mereka meminta hak pula buat turut masuk ke dalam
kantor, meminta hak pula buat
berjualan dalam toko. Lebih jauh, mereka pun meminta hak pula
supaya bebas keluar dari dalam rumahnya sebebas laki-laki.
Maka
tidaklah ada perbedaan lagi, mana batas
hak laki-laki dan mana batas
hak perempuan.
Bahkan kadang-kadang
laki-lakilah yang perlu menjadi
khadam, dari pada
kaum yang katanya "kaum lemah" itu,
padahal dengan
tikaman sudut matanya saja,
dia dapat menaklukkan sekuat-kuat laki-laki.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM Jilid 3, Hal. 204-220, Republika Penerbit, Cet.1, April 2018).
SAMA SAJA DASAR TUDUHANNYA
"Tatkala berkata orang-orang yang munafik dan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, 'Telah menipu kepada mereka agama mereka.' Padahal barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Gagah, lagi Maha Bijaksana." (al-Anfaal ayat 49).
Orang yang sakit hati dan
munafik menuduh "gharra ha-ulai-i dinuhum" mereka telah
ditipu oleh
agama mereka.
Persis perkataan
seperti inilah yang
selalu diulang-ulang oleh
musuh-musuh Islam kalau
kaum Muslimin telah
melawan kezaliman mereka.
Mereka tidak mau menjadi budak dari sesama manusia karena mereka telah memberikan
seluruh perhambaan diri untuk Allah.
Lalu
mereka melawan seketika ditindas, kadang-kadang kekuatan tidak seimbang, lalu
mereka disapu bersih dengan
senapan mesin, mereka pun
mati.
Maka
si penindas tadi
berkata,
"Mereka telah ditipu oleh agama mereka. Mereka fanatik agama!"
Maka baik
munafikin Quraisy dan orang-orang yang sakit hati di zaman Rasul di Perang Badar itu, atau kaum penjajah yang terhambat usahanya memadamkan Cahaya Islam di zaman kita, atau kaum komunis yang memandang bahwa agama adalah penghalang paling besar bagi kemajuan paham tidak bertuhan, yang jadi dasar ideologi mereka,
sama saja dasar tuduhannya, mengatakan bahwa orang yang berani menghadapi maut karena
mempertahankan agama, mereka katakan bahwa mereka telah ditipu oleh agama mereka.
Padahal ini bukan urusan kena tipu oleh agama, melainkan urusan
IMAN yang
telah sampai di
puncak, yaitu
tawakal.
Kalau tawakal sudah datang, betapa pun besarnya musuh, berapa pun kecilnya diri, orang tidak peduli lagi.
Orang sudah tawakal kepada Allah: hidup syukur, mati pun sudah!
Daripada hidup bercermin bangkai, baiklah mati berkalang tanah.
Kalau sudah sampai di suasana yang demikian,
diri pun menjadi gagah, karena telah dipercik oleh
sifat Aziz Allah. Dan
ilmu pun
datang, sebab
sudah disinari oleh
sifat Allah Alim, yaitu
Pengetahuan Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 22-23, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENGAMBILAN SUMPAH
Di beberapa negeri memang dilakukan
pengambilan sumpah di masjid dengan secara khidmat.
Malahan di beberapa negeri
memakai Al-Qur'an, sebagai tambahan
bid'ah.
Mengangkat sebuah kitab suci Al-Qur'an, yaitu
tradisi yang diwarisi
dari Belanda dan diteruskan oleh pemerintah kita, dan
sekali-kali tidak ada dari Nabi Muhammad saw. ataupun dari
para sahabatnya.
Mereka telah
bersumpah dengan
mengangkat Al-Qur'an, namun yang
curang ada juga. Telah mengucap
"Demi Allah", namun yang
korupsi masih ada.
"Tak usah bersumpah, laksanakan saja perintah. Itulah yang lebih baik." (an-Nuur pangkal ayat 54).
Maka
seorang Mukmin tidaklah banyak sumpah, karena
dia jujur dan
percaya kepada dirinya, yang
ya tetap
ya, yang
tidak tetap
tidak. Dia percaya kepada dirinya,
sebab dia percaya kepada Allah SWT.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 66, Jilid 6 Hal. 320-321, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TANGGUNGAN NEGARA, MASYARAKAT DAN RUMAH TANGGA
Tidaklah dapat kita ingkari bagaimana hebatnya perjuangan menegakkan agama di dalam masyarakat yang berbagai warna dan corak ini. Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Akan datang suatu zaman, orang yang memegang teguh agamanya pada waktu itu adalah laksana orang yang menggenggam bara." (HR. at-Tirmidzi dari Anas bin Malik).
Abdullah bin 'Abbas, sahabat Nabi yang alim itu pernah menyatakan bahwasanya jika keluar dari dalam rumah kita, di hadapan kita telah menunggu 700 macam pintu dosa. Payahlah kita mencari kehidupan yang tenteram tenang di tengah masyarakat yang ribut sibuk. Kadang-kadang, seperti tersebut juga dalam hadits Nabi kita tidak dapat memperbedakan lagi dari manakah sumber kehidupan kita, apakah dari yang haram atau dari yang halal.
Rumah-rumah tangga yang sepatutnya untuk "sakinah", ketenteraman hati di waktu malam, telah kosong dan dikunci. Sejak yang kecil sampai yang dewasa,
keluar dari dalam rumah dan
orang pergi ke tempat-tempat pelesir menghabiskan harta dan umur.
Bagaimana kaum wanita akan setaat dahulu menjaga kehormatannya dan tenteram dalam rumah tangganya, padahal
mode pakaian wanita telah ditentukan oleh
kaum kapitalis saudagar pakaian, yang mencari bentuk-bentuk yang selalu mesti baru dan selalu mesti ganjil, bertukar tiap sebentar,
sehingga belum lusuh kain dipakai, sudah terpaksa diganti dengan bentuk yang baru, sebab modenya sudah bertukar pula. Gadis-gadis sudah terlebih bebas bergaul dengan pemuda, dan dosa yang bernama zina sudah mulai tidak dirasa berat lagi. Dan banyak lagi yang lain-lain.
Pada suatu hari kami ziarah ke rumah almarhum
Haji Agus Salim. Lama kami mendengarkan fatwa-fatwa beliau yang penuh isi itu. Seorang di antara kami mengemukakan adanya krisis akhlak di zaman sekarang. Ada yang menyebut tentang kecurangan-kecurangan, tentang perebutan pengaruh di antara pemimpin-pemimpin negara, dan lain-lain. Kami minta pendapat beliau. Beliau menjawab,
"Jika saudara menampak banyak sekali krisis akhlak, saya pun masih melihat akhlak yang tidak krisis." Kami menunggu lanjutan perkataan beliau. Dan, setelah beliau berhenti sebentar berbicara, lalu beliau teruskan pula:
"Bagaimana kita pada saat ini akan dapat berbicara leluasa dan bebas, tidak merasa takut sedikit pun menyatakan yang terasa di hati, kalau sekiranya tidak ada keamanan. Keamanan itu sekarang ada pada kita. Karena ada dan nyatanya, kita tidak ingat lagi akan adanya. Kita menjadi aman karena ada polisi yang menjaga sekeliling kota ini. Kita tidak mengenal polisi itu, karena kita tidak menghadapkan perhatian kepadanya. Berapa banyaknya kita lihat polisi berdiri di tengah jalan raya, mengatur hubungan lalu lintas, kendaraan lalu bersilang-siur. Dia menaikkan tangannya menyuruh terus jalan, atau menyuruh berhenti. Dalam panas garang dia tegak, dan dalam hujan lebat pun dia tegak melakukan tugasnya di tempat yang ditentukan itu. Cobalah hitung-hitung, berapakah gajinya polisi lalu lintas itu! Sebab itu maka akhlak masih ada!"
Setelah itu beliau lanjutkan pula:
"Akhlak masih baik dan utuh! Jika saudara tadi memandang adanya korupsi dan kecurangan pada kantor-kantor, saya pun melihat, masih banyak jumlahnya, lebih banyak dari yang berbuat korupsi yaitu pegawai-pegawai yang setia, opas-opas kantor yang bekerja dengan setia. Gajinya kecil, anaknya banyak dan mukanya masih tetap dihiasi dengan senyum tanda patuh. Mereka masuk ke dalam kantor, kadang-kadang itu ke itu juga kemeja yang dipakainya. Karena kesetiaan dan akhlak mereka yang belum rusaklah, maka administrasi pemerintahan Republik ini masih utuh dan dapat dilanjutkan."
Banyak lagi beliau kemukakan contoh-contoh yang lain, yang beliau pandang dengan penuh perhatian dan dada terbuka. Beliau kisahkan juga sopir-sopir mobil kepunyaan pembesar, yang sampai larut malam memikul tugasnya, istri-istri yang setia, anak-anak yang tekun menghafal pelajaran sampai larut malam, karena iba kasihan akan kerugian orang tuanya.
Maka pahamlah kami, bahwa
beliau pada waktu itu
mendidik kami memperhatikan yang baik di dalam yang buruk.
Sampai akhirnya beliau berkata:
"Kalau sekiranya tidaklah ada orang yang ikhlas dalam perjuangan, niscaya tidaklah akan tercapai kemerdekaan negara ini."
Mengukur tujuan hidup dengan
kebendaan inilah yang
membawa banyak penyakit negara yang masih muda. Perebutan pangkat, kursi dan kemegahan, karena kehilangan tujuan hidup yang sejati,
menimbulkan bercabang-cabang dosa.
Di antaranya ialah
kehilangan malu.
Padahal Nabi Muhammad saw. bersabda:
"Malu itu adalah satu cabang dari iman." (Bukhari Muslim, al-Baihaqi Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Maka timbullah korupsi. Uang negara dibelanjakan dengan tidak ada batas, untuk kepentingan kemegahan beberapa orang.
Pencuri-pencuri kecil ditangkap polisi. Pencuri besar membuat pameran di hadapan masyarakat ramai, bagaimana megah hidupnya daripada uang bercuri.
Lebih celaka lagi apabila
perempuan telah
turut mengatur pula
tujuan-tujuan hidup itu.
Mula-mula kaum perempuan meminta hak yang lebih luas. Jangan mereka hanya ditentukan untuk ke
dapur dan
menyusukan anak saja.
Lama-lama mereka pun meminta hak yang lebih luas daripada itu. Mereka meminta pula supaya mereka pun
turut memikirkan dan
membicarakan urusan-urusan negara. Mereka
meminta supaya diberi
hak memilih dan
dipilih.
Kemudian mereka meminta lagi hak yang lebih dari itu. Mereka meminta hak pula buat turut masuk ke dalam
kantor, meminta hak pula buat
berjualan dalam toko.
Lebih jauh, mereka pun meminta hak pula supaya bebas keluar dari dalam rumahnya sebebas laki-laki. Meminta hak pula supaya hadir dalam pertemuan-pertemuan yang penting. Untuk semuanya itu tentu perlu pakaian yang bagus-bagus, minyak yang amat sangat harum, alat berhias yang sangat mewah.
Maka berlombalah ahli-ahli mode dan
ahli pakaian, dan
saudagar minyak harum dan
saudagar bedak, bekerja keras
menyediakan apa yang perlu bagi mereka. Maka seluruh kehidupan itu pun penuhlah dengan mode pakaian yang menggiurkan hati, setiap waktu setiap bertukar modenya. Dan penuhlah majelis dengan bau minyak wangi. Semuanya itu menghendaki uang banyak.
Bagaimana yang miskin? Bagaimana yang kurang mampu? Tentu menghapus bibir, dan
timbullah rasa dengki dan
iri hati pada
jiwa mereka, dan
timbullah dendam.
Maka
tidaklah ada perbedaan lagi, mana batas
hak laki-laki dan mana batas
hak perempuan.
Bahkan kadang-kadang
laki-lakilah yang perlu menjadi
khadam, dari pada
kaum yang katanya "kaum lemah" itu, padahal dengan
tikaman sudut matanya saja,
dia dapat menaklukkan sekuat-kuat laki-laki.
Contoh yang buruk diberikan oleh orang-orang yang semestinya bertanggung jawab. Perempuan-perempuan lacur di sudut-sudut gang ditangkapi, tetapi
pelacuran "kaum halus" dalam
kalangan "bapak-bapak", terpaksa didiamkan, sebab tidak ada polisi susila yang berani menjambakan tangannya ke sana. Maka
hancurlah kewajiban negara dan
kewibawaan bangsa dari dalam, laksana api memakan sekam. Hukum tidak dapat dilakukan rata.
Penjara hanya
penuh oleh
orang yang tidak pandai mempertahankan diri, baik dengan
kincir alir lidah atau dengan
sogokan uang.
Senjata yang
paling dahsyat untuk
memerangi musuh yang telah menjalar di dalam
jiwa setiap umat itu
hanyalah senjata agama.
Senjata iman kepada Allah, yang
dituruti oleh
amal saleh.
Pokok pekerjaan yang
pertama ialah
memupuk iman. Setelah itu ialah
menurutinya dengan
amal saleh.
Dimulai dari dalam
diri sendiri.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM Jilid 3, Hal. 204-220, Republika Penerbit, Cet.1, April 2018).
PEREMPUAN ITU SENDIRI ADALAH AURAT
Berlakulah menurut
patutnya seorang
perempuan yang
beriman dan
bertakwa.
Ananda menanyakan tentang
batas aurat perempuan,
"Sampai batas-batas manakah seorang perempuan muslim harus berpakaian?" Oleh karena Ananda yang bertanya tampaknya memang seorang perempuan Muslimat yang ingin mengikuti Nabi saw., ingatlah sebuah hadits yang dirawikan oleh at-Tirmidzi, "
Perempuan itu sendiri adalah
aurat. Bila ia telah keluar,
Setan terus mendekatinya. Tempat yang paling dekat untuknya dalam perlindungannya adalah
terang-terang di bawah atap rumahnya."
Oleh sebab itu kalau tidak perlu benar,
janganlah keluar. Misalnya pergi belajar.
Pergi ke Masjid tidaklah dilarang. Namun,
shalat di rumah adalah lebih
afdhal.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 164, Hal. 167-168, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MUSYRIK
Orang yang
mengakui telah
Islam pun bisa pula jadi musyrik,
mempersekutukan yang lain dengan Allah karena
hawa nafsunya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 459, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEMERANGI HAWA NAFSU
Kalau manusia
kurang hati-hati, tergelincirlah dia, sangkanya dia sanggup memerdekakan diri dari pengaruh Setan, dia percaya akan dirinya sendiri, dia akan sanggup berjuang dengan Setan atau dengan hawa, padahal dengan tidak diinsafinya dia telah terpengaruh oleh Setan, dan hawa nafsu. Bahkan kadang-kadang
dirinya sendiri telah
jadi Setan dengan
tidak disadarinya, karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan,
yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya diputarnya, didalihnya, dibajuinya dengan
baju agama.
Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap "atas nama agama", "demikian firman Allah", "demikan titah Rasul", tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa.
Padahal ayat dan hadits itu,
hanya diambilnya, menguatkan hawanya.
Bukan hawanya yang
ditaklukkannya kepada
Al-Qur'an dan hadits.
(Buya HAMKA, TASAWUF MODERN: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 141-142, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
BERTUHAN KEPADA HAWANYA SENDIRI
"Adakah engkau lihat (utusan-Ku) betapa hal orang yang bertuhan kepada hawanya sendiri ..." (al-Furqaan ayat 43).
KLIK DISINI: TENTANG JILBAB, KERUDUNG, AURAT PEREMPUAN DAN AURAT LAKI-LAKI (DALIL HUJJAH RIWAYAT YANG KUAT)
KEPADA SOEKARNO-HATTA
Bukankah telah kukatakan kepadamu:
"Apa jua pun yang engkau perbuat, engkau sadar atau tidak, Namun, agama tetap akan menjadi dasar perjuanganmu."
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. 651, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2018).
KLIK DISINI: BUYA HAMKA DAN BUNG KARNO (SEBUAH KISAH PERSAHABATAN SEJATI DI NKRI)
WAHABI
Negeri-negeri Melayu mulai merasakan
kebangkitan yang baru dari Islam karena masuknya
paham-paham yang diajarkan oleh kaum
WAHABI.
Muncul permulaan KAUM MUDA di Malaysia,
Syekh Taher Jalaluddin, Sayid Syekh al-Hadi, Syekh Muhammad al-Kalali, Sayid Abdullah Ibnu Aqil, dan
Za'ba.
Terbit majalah Islam yang membawa pembaharuan paham Islam yang mula-mula, yakni AL-IMAM (1906-1909), dan di Sumatra Barat (Minangkabau) muncul gerakan KAUM MUDA dengan majalah AL-MUNIR (1911), muncullah murid-murid
Syekh Ahmad Khatib yang baru pulang dari Mekah, 3 orang di antaranya yang sangat terkenal, yakni
Haji Abdullah Ahmad Padang,
Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, dan
Syekh Muhammad Jamil Jambek di Bukit Tinggi.
Di Jawa muncullah kebangkitan kesadaran politik yang dipelopori oleh Islam dan dipimpin oleh
Haji Samanhudi, H.O.S. Cokroaminoto, Haji Agus Salim, dan
Abdul Muis. Muncul kebangkitan pembaharuan paham agama yang dipelopori oleh
K.H. Ahmad Dahlan dengan mendirikan
Muhammadiyah, dan
Syekh Ahmad Surkati dengan mendirikan perkumpulan
al-Irsyad.
Kemudian, seluruh kebangkitan dan kesadaran Islam itu bersatu-padu dengan gerakan kebangsaan sehingga tercapai
KEMERDEKAAN INDONESIA dari penjajahan Belanda pada Tanggal
17 Agustus 1945.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 521, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
PESAN-PESAN ISLAM KH. AGUS SALIM
Maka aliran kelima ini, yang keseluruhannya
dikenal dengan sebutan
kaum Syi'ah, yaitu
aliran yang
membangkang.
Telah saya singgung bahwa
kaum Syi'ah sepanjang sejarah menjadi
penganut paham
teokrasi melalui
golongan pendeta atau
imam.
Kerajaan Ibn Saud, yang sungguh adalah
seorang Muslim yang keras dan telah mengumpulkan
kaum ulama di sekitarnya, namun
pemerintahnya tidaklah dipimpin oleh
kaum ulama.
Selanjutnya, terdapat pula beberapa madzhab lain yang masing-masing disebut madzhab kelima.
Golongan ini tidak mengakui keabsahan
keempat madzhab hukum yang ada dalam Islam, dan tidak mengakui keabsahan khalifah.
Mereka adalah
kaum Syi'ah.
Tapi, ini sama sekali suatu
perkembangan yang
terpisah dari perkembangan Islam, yang
menurut Al-Qur'an dan Hadits.
Para pemimpin
Syi'ah, masing-masing secara terpisah berhak memberikan penafsiran dari Al-Qur'an, dan kemudian
pengikut-pengikutnya dibenarkan untuk mengikutinya. Tentu saja ini sesuatu perkembangan agama dengan
sistem kependetaan. Jika
diakui oleh
para pendetanya barulah
benar.
Demikianlah mengenai
kaum Syi'ah.
(KH. AGUS SALIM, PESAN-PESAN ISLAM: KULIAH-KULIAH MUSIM SEMI 1953 DI CORNELL UNIVERSITY AMERIKA SERIKAT, Hal. 213, 245-246, Penerbit Mizan, Cet.I, Mei 2011).
SURAH AN-NUUR (CAHAYA)
"Inilah dia satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankannya), dan Kami terakan pula di dalamnya ayat-ayat nyata, supaya kamu mendapat peringatan." (an-Nuur ayat 1).
Di dalam ayat-ayat yang pertama ini
sudah jelas, bahwa surah an-Nuur ini telah diturunkan berisi
peraturan-peraturan dan
perintah yang
wajib dijalankan dalam
masyarakat Islam, dilakukan dan tidak boleh diabaikan,
mesti dijadikan peraturan yang
berjalan kuat kuasanya
atas masyarakat.
Dan di samping
peraturan-peraturan yang
mesti dijalankan itu. Surah ini pun tetap mengandung
ayat-ayat yang
terang dan
jelas, diterangkan atau dijelaskan terutama berkenaan dengan hubungan seseorang dengan Penciptanya, dalam rangka kepercayaan
Tauhid, yang menjadi pokok pangkal pendirian seorang Islam dan masyarakat Islam. Dengan keduanya ini,
peraturan yang
diwajibkan dan ayat-ayat yang jelas tumbuhnya masyarakat dengan kuat dan teguhnya
sebab segala peraturan yang berlaku bukan semata kehendak manusia, tetapi
bersumber dari Allah. Dijelaskan hal ini
supaya kita segenap pendukung masyarakat Islam ingat benar-benar pegangan hidup atau sendi empat
menegakkan masyarakat Islam itu.
Dan
ayat-ayat seperti inilah tumbuhnya cita (ideologi) yang
tak kunjung padam di dalam hati setiap Muslim hendak mengurus betapa
supaya masyarakat yang
baik dan terpuji, adil dan makmur, rambah dan ripah bisa
terbentuk.
Ini pula sebabnya maka dalam titik tolak pikiran
Islam tidak ada pemisahan di antara agama dengan masyarakat, baik masyarakat kesukuan dan kabilah ataupun kelaknya masyarakat yang telah membentuk dirinya sebagai
sebuah negara.
Allah SWT mendatangkan perintah, dan
perintah itu
wajib dilaksanakan, dijadikan kenyataan dalam masyarakat.
Allah SWT menjadi
pembentuk undang-undang (legislatif), dan manusia sejak pemegang
pemerintahan sampai
rakyat pelaksananya (eksekutif).
Apabila dia dapat berjihad (berjuang) untuk mencapai cita-cita itu, berapa pun tercapainya, si Muslim merasa mendapat pahala dari Allah SWT, bukan saja kebahagiaan dunia, bahkan pula kebahagiaan surga di akhirat. Dan kalau dia berlengah diri itu, dia merasa berdosa. Celakalah di dunia dan neraka di akhirat. Adapun, kuat lemahnya cita yang demikian dalam dirinya adalah bergantung dari kuat atau lemahnya pengertiannya atas tuntutan-tuntutan agamanya.
Ini adalah
tujuan hidup seorang Muslim: yaitu
melaksanakan kehendak hukum Allah dalam
masyarakat.
Sebab menurut Islam,
sumber hukum ialah
Allah dan Rasul, yang dinamai
Syari'. Tetapi
tidaklah dapat kita melupakan, bahwasanya keadaan adalah terbagi dua. Yaitu
tujuan (Ghayah) dan
taktik untuk mencapai tujuan (Wasilah). Kadang-kadang dia jatuh karena kesalahan taktik, yang karena hebatnya rintangan atau karena belum adanya pengalaman. Tetapi kesalahan taktik atau kegagalan haruslah dijadikannya pengajaran untuk melanjutkan lagi mencapai yang ditujunya.
"Apakah manusia menyangka, bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata, 'Kami beriman.' Padahal mereka belum diuji? Sungguh telah Kami uji orang yang sebelum mereka, maka diketahui Allah siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa pula yang hanya berbohong belaka." (al-‘Ankabuut: 2-3).
CARA PELAKSANAAN HUKUMAN
Sunnah Rasulullah adalah
sumber hukum yang
kedua.
Meskipun
pelemparan dengan
batu itu tidak tersebut dalam ayat, dia menjadi
hujjah (alasan), karena demikianlah telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Dan menjalankan hukum ini diterima dari perawi-perawi yang dapat dipercaya, yaitu Abu Bakar, Umar, Ali, Jabir bin Abdullah, Abu Said al-Khudari, Abu Hurairah, Zaid bin Khalid dan Buraidah al-Aslami. Semuanya sahabat-sahabat yang besar-besar dan ternama.
Hukuman ini pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. kepada seorang sahabat yang bernama
Ma'iz, yang datang sendiri mengakui terus terang kepada Nabi, bahwa dia telah bersalah berbuat zina. Dia sendiri yang minta dihukum. Berkali-kali Nabi saw. mencoba meringankan soal ini, sehingga beliau berkata,
"Mungkin baru engkau pegang-pegang saja," "mungkin tidak sampai engkau setubuhi," dan sebagainya, tetapi Ma'iz berkata juga terus terang, bahwa dia memang telah berzina, bahwa dia memang telah melanggar larangan Allah SWT, dan belumlah dia merasa ringan dari pukulan dan pukulan batin sebelum dia dihukum. Maka atas permintaannya sendirilah dia dirajam, sampai mati. Kejadian itu pula hal demikian pada 2 orang perempuan, seorang dari suku Bani Lukham dan seorang lagi persukuan Bani Ghamid, datang pula mengaku di hadapan Nabi, bahwa mereka telah terlanjur berzina. Seorang di antaranya sedang hamil dari perzinaan itu. Sebagaimana Ma'iz, kedua perempuan itu rupanya merasa tekanan batin yang amat sangat sebelum hukuman itu dijalankan atas diri mereka, sehingga dijalankan pula hukuman rajam itu, sampai mati. Dan terhadap kepada perempuan yang hamil itu, hukum tersebut baru dijalankan setelah anaknya lahir dan besar, lepas dari menyusu. Itu pun perempuan itu sendiri juga yang datang melaporkan diri.
Adapun perempuan dan laki-laki yang tidak
muhshan, misalnya perempuan yang tidak atau belum bersuami dan laki-laki yang tidak atau belum beristri, dilakukan hukuman seperti tersebut dalam ayat tadi, yaitu dipukul cambuk, atau dengan rotan 100 kali, di hadapan khalayak ramai kaum Muslimin.
Sejak dari syari'at
Nabi Musa, baik dalam Hukum Sepuluh (Kitab Taurat) ataupun dalam pelaksanaan hukum Taurat itu, zina telah dilarang keras dan barangsiapa yang melakukannya diancam dengan hukum rajam juga.
Dan
Nabi Isa al-Masih sendiri pun memberi peringatan keras kepada murid-muridnya agar janganlah memandang perkara enteng zina itu, sehingga beliau berpesan kalau
matamu telah
terlanjur berzina, yaitu
salah pandangmu kepada
perempuan karena syahwatmu,
lebih baik dikorek mata itu. Cuma Nabi Isa yang tidak mempunyai kekuasaan buat menjalankan hukum Taurat, yaitu rajam itu. Sebab kekuasaan ketika itu tidak ada di tangan beliau. Negeri Palestina adalah di bawah kekuasaan bangsa Romawi. Dan setelah Nabi Muhammad saw. menegakkan kekuasaan Islam di Madinah, barulah dibangkitkan hukum Taurat itu kembali. Malahan seketika terdapat
orang Yahudi dalam pemerintahan beliau di Madinah
berbuat zina, telah
disuruhnya membaca nash Kitab Taurat yang masih ada di tangan mereka, dan
Nabi menjalankan hukum Taurat itu
untuk mereka.
Di dalam ayat 2 itu dijelaskan, bahwa
hukum itu
mesti dilakukan dan
tidak boleh dikendurkan karena merasa belas kasihan atau tenggang-menenggang. Malahan di dalam susunan ayat itu didahulukan menyebut laki-laki yang berzina. Karena menghambat jangan sampai orang mengendurkan hukum karena yang akan dihukum itu ialah kaum lemah, perempuan yang patut dikasihani, dan sebagainya.
Mengapa islam sekeras itu menghukum orang yang berzina?
Diterangkanlah
kesimpulan maksud agama, yaitu untuk
memelihara lima perkara.
Pertama, memelihara agama itu sendiri. Sebab itu dihukum orang yang murtad, dihukum orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dihukum orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dan untuk memelihara dan mempertahankan agama, diperbolehkan berperang.
Kedua, memelihara jiwa raga manusia. Sebab itu dihukum
qishash barangsiapa yang membunuh sesama manusia. Dan dilarang membunuh diri sendiri. Dilarang menggugurkan kandungan. Tidak boleh orang bertindak sendiri membunuh orang yang bersalah misalnya, kalau tidak hakim yang melakukannya karena suatu keputusan hukum. Atau berbunuh-bunuhan karena berperang menegakkan agama atau membela batas-batas negara
(tsughur).
Ketiga, memelihara kehormatan. Hendaklah hubungan laki-laki dan perempuan dengan nikah. Dilarang berzina dan didera atau dirajam barangsiapa yang melakukannya. Di zaman pemerintah Khalifah keempat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah dilakukan
hukuman bakar atas orang yang
bersetubuh sejenis (liwath), yaitu laki-laki menyetubuhi laki-laki atau perempuan mengadu
faraj-nya dengan sesamanya perempuan
(musabaqah) dan pernah juga dijatuhkan
hukuman bunuh atas orang yang tertangkap
menyetubuhi binatang.
Keempat, memelihara akal. Sebab itu dihukum pukul (dera) orang yang minum minuman keras yang memabukkan, karena mabuk adalah merusak akal.
Kelima, memelihara harta benda. Dianjurkan berusaha mencari rezeki harta yang halal. Dihukum
pencuri dengan memotong tangannya,
perampok disalib atau dipotong kaki dan tangan, atau dibuang.
Dan
wibawa hukum ini
harus dijaga, tidak boleh diremehkan, tidak boleh diabaikan, tidak boleh menenggang, atau karena rasa kasihan. Dikendurkan karena tenggang-menenggang.
"Kalau mencuri Fatimah binti Muhammad, akan saya potong juga tangannya."
Mari kita perhatikan betapa pula sikap pelaksanaan hukum dera dan rajam itu dalam agama Islam. Bolehkah seorang yang disangka berbuat zina terus didera dan dirajam?
Syarat bertemu, baru hukum itu dijalankan.
1. Yang bersalah sendiri mengakui di hadapan hakim, bahwa dia berzina, sebab itu dia minta dihukum.
Ini tentu jarang terjadi. Kalau terjadi juga
hanyalah pada
orang-orang yang
derajat imannya telah
mencapai iman 3 sahabat Nabi, 1 laki-laki dan 2 perempuan seperti diriwayatkan di atas tadi.
2. Seorang perempuan bunting saja, tidak terang siapa suaminya.
3. Kesaksian dari 4 orang saksi yang melihat sendiri berbuat zina. Dan hendaklah 4 orang saksi itu orang yang dapat dipercaya kesaksiannya. Kalau misalnya hanya 3 orang yang melihat, janganlah dilaporkan kepada hakim, sebab itu belum memenuhi syarat, dan hendaklah dia menutupi berita itu, sebab dia dapat dituduh merusak nama baik orang, dan dapat pula dihukum dengan dera 80 kali, sebagaimana yang akan diterangkan nanti pada ayat berikut.
Pendeknya, kalau
zina itu
kejadian juga, karena manusia tetap manusia, kejahatan pasti juga ada di samping orang yang mendirikan yang baik, hendaklah hal itu
jangan dibicarakan, hendaklah tutup rapat. Sebab
masyarakat yang
suka membicarakan soal-soal demikian diancam juga oleh
bahaya dia
akan terjerumus ke dalam pengaruh yang dibicarakannya itu.
Sebagaimana suatu cerita yang
penulis alami di suatu negeri di zaman Revolusi dahulu. Seorang pemuda sangat fanatik melaporkan, bahwa dia telah berkali-kali melihat orang melakukan perbuatan mesum dan cabul di suatu tempat dekat stasiun kereta api di "anu". Saya nasihati supaya dia jangan ke sana juga. Tetapi dengan marah dia menjawab, bahwa pemerintah revolusioner bersalah karena tidak mengambil tindakan.
Tetapi beberapa waktu kemudian tidak lama,
kawan pemuda yang mencela-cela dan memaki-maki zina itu menemuinya di tempat yang dilaporkannya itu
dalam keadaan yang
mencurigakan dengan
seorang perempuan pelacur.
Peliharalah masyarakat itu dari penyakit.
Kalau kita pikirkan peraturan agama secara mendalam, dapatlah kita memaklumi mengapa Nabi saw. melarang keras
ber-khalwat (duduk berdua-duaan saja), laki-laki dan perempuan.
"Mereka bertiga dengan Setan satu", kata Nabi saw.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 243-250, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERATURAN TEGAS MELARANG MENGINTIP-INTIP
Bahkan cukup pun
berempat, namun
faedah melaporkannya tidak juga ada.
Lebih baik kabar-kabar demikian ditutup rapat, supaya
masyarakat jangan ketularan untuk
membicarakan perkara-perkara yang
kotor.
Maka kalau ditilik
syarat-syarat orang yang menyaksikan itu, yaitu
orang baik-baik, orang-orang bisa dipercaya,
tidaklah akan kejadian pelaporan yang demikian.
Dan meskipun peraturan ini telah ada,
Alhamdulillah di dalam
sejarah kehidupan Nabi dan
para sahabat Muhajirin dan Anshar di Madinah itu
tidaklah ada terdapat riwayat, bahwa ada
4 orang terhormat yang
pergi melaporkan, bahwa
mereka melihat orang
berzina.
Sebab orang baik-baik tidaklah akan membuang waktu untuk
mengerjakan pekerjaan
hina dan
rendah,
mengintip-intip rumah tangga orang, bahkan
ada sendiri peraturan tegas melarang mengintip-intip,
"Wahai sekalian orang yang beriman, jauhilah olehmu banyak prasangka, karena sebagian besar sangka-sangka adalah dosa, dan jangan kamu mengintip-intip, dan jangan mengumpat (gunjing) setengah terhadap yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaramu yang telah mati, niscaya kamu jijik terhadapnya. Dan takwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah pemberi tobat dan amat kasih sayang." (al-Hujuraat: 12).
Orang yang
beriman,
lantaran imannya tidaklah mempunyai kesempatan
buruk sangka, intip-mengintip kesalahan, atau
membicarakan keburukan saudaranya di balik belakangnya. Membicarakan kecelakaan orang,
samalah artinya dengan
memakan dagingnya.
PENILAIAN TERHADAP HUKUM
Ulama-ulama Islam yang hidup di
zaman modern ini, yang telah mengaji ilmu fiqih berdalam-dalam mengharap apabila
negeri-negeri Islam telah
merdeka dari
penjajahan asing, hendaklah
hukum yang
tersebut di dalam
Al-Qur'an dan hadits, ditambah dengan pertimbangan-pertimbangan
ulama-ulama Madzhab, segera dijalankan.
Potong tangan si pencuri,
rajam atau
dera yang berzina, atau yang menuduh orang berzina,
bakar orang yang ber-
liwath (melakukan semburit yaitu persetubuhan sejenis).
Tetapi sebaliknya,
orang-orang Islam yang telah mempelajari
hukum pidana Barat merasa cemas, kalau peraturan agama Islam sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an dan hadits itu dilakukan dalam negara modern, niscaya akan berlaku suatu hukum yang
terlalu kejam, tidak sesuai dengan zaman!
Terhadap kepada golongan ulama itu, dapatlah
kita tegaskan, bahwa sekalian orang yang
masih ada rasa
Islam dalam
sanubarinya, tidaklah dia akan membantah
kehendak Al-Qur'an dan hadits.
Sebab menurut Islam
sumber hukum ialah
Allah dan Rasul.
Tetapi harus diingat pula, bahwa sebelum kekuasaan Islam meratai cara berpikir, maka suasana
perjuangan kita barulah
suasana Mekah.
Atau
suasana Nabi Isa yang
menggembleng semangat orang Yahudi di kala negerinya masih dalam kekuasaan bangsa Romawi.
Dalam
tingkat pertama, pekerjaan kita terlebih dahulu ialah
memberi dakwah kepada
masyarakat tentang
betapa sebenarnya masyarakat Islam itu.
Masyarakat Islam hendaklah
masyarakat yang lebih
bersih dari
tuduh-menuduh, intip-mengintip dan
gunjing.
Sebelum hukuman qadzaf atau rajam dijalankan,
terlebih dahulu hendaklah
diusahakan menanamkan kembali cita masyarakat Islam, bukan semata-mata dari segi menjalankan hukum, tetapi
haruslah dalam
segala bidangnya.
Kalau cara berpikir umat Islam telah
dituntun oleh
kehendak Ilahi, jaranglah akan kejadian dilakukan hukum itu.
Sebab
tidak ada orang beriman yang
akan sudi 4 orang mengintip orang
berzina.
Sedang keterangan dari yang kurang dari 4 orang, terancam pula oleh hukuman dera 80 kali.
Di zaman Nabi sendiri
yang dihukum hanyalah yang
datang mengaku dan
minta dihukum.
Adapun bagi mereka yang berpegang atau hendak meniru hukum Barat, hendaklah dia insaf, bahwasanya dasar hukum Barat bukanlah dari Kristen.
Orang Barat belum pernah menghukum
korek mati siapa yang salah,
melihat perempuan dengan syahwat.
Dalam hal agama, Barat telah menerima Kristen, tetapi dalam hal
hukum mereka masih melanjutkan
hukum Romawi Kuno.
Apakah kita juga akan
melanjutkan hukum Romawi?
Datanglah masalah bagi kita sekarang, terutama setelah negeri-negeri yang lebih banyak berpenduduk Islam, terutama tanah air kita Indonesia, buat membangunkan tanah air kita kembali dalam segala bidangnya. Termasuk bidang hukum.
Tidaklah layak bagi
suatu bangsa yang
tengah membina pribadinya sendiri kalau
hanya menjadi plat/kaset yang
mengulang-ulang ucapan orang lain, yang
mengatakan, bahwa
hukum Allah dan Rasul adalah
kejam dan
tidak cocok dengan zaman,
padahal dunia di zaman sekarang tengah mencari kembali nilai-nilai hukum yang abadi.
Jangan kita hanya menjadi "Pak Turut", karena
kadang-kadang orang yang
kita turut-turuti itu telah
kembali kepada pangkalan
kebenaran dan
kita masih menuruti teorinya yang
terdahulu tadi,
karena tidak bebas menyelidiki sendiri.
Akhirnya ketinggalan kereta api.
Maka
hukum-hukum yang
tegas dalam
Al-Qur'an itu
tetaplah dalam
ketegasan dan
kemutlakannya, dan usaha kita bukanlah mengelakkan atau menukarnya, tetapi
menyediakan jiwa dan
cara berpikir masyarakat buat
menerimanya dengan
sam'an wa tha'atan (mendengar dan mematuhi).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 250-262, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HATI SANUBARINYA SEORANG MUKMIN
Selama
TAUHID masih
bertahta dalam
hati, tidaklah
seorang Mukmin akan mengerjakan
dosa, terutama
dosa besar, terutama yang
disengaja.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 203, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TOBAT NASUHA
PERTANYAAN
1. Kalau seorang pemuda
berzina dengan istri orang lain, bagaimanakah caranya menurut Al-Qur'an dan Hadits supaya terlepas dari adzab Allah, baik di dunia maupun nanti di akhirat?
2. Apakah redaksi Gema Islam terutama
Yth. Buya HAMKA bersedia menjalankan hukuman kepada diri pemuda itu
jika ia datang meminta untuk
dijatuhi hukuman itu ke Jakarta?
Sebab, keterangan-keterangan tentang
dosa zina yang tersebut dalam
Tafsir al-Azhar merangsang jiwa seorang pemuda yang telah bersalah besar itu,
sehingga ia rela dilakukan atas dirinya hukum
rajam, sebagaimana tersebut dalam ayat itu.
A. Garut.
JAWABAN
Di dalam negara kita
Republik Indonesia belum berlaku hukum bagi orang yang
berzina.
Di negeri-negeri yang 100% menjalankan hukum Al-Qur'an sebagaimana Saudi Arabia, hukum rajam juga jarang sekali dijalankan, sebab tuduhan zina bergantung kepada 4 orang saksi.
Kalaupun misalnya hukum itu berlaku di Indonesia, tidak jugalah redaksi Gema Islam, terutama Buya HAMKA, mempunyai wewenang untuk menjalankannya.
Itu adalah
hak hakim.
Jalan satu-satunya yang
masih terbuka luas untuk pemuda yang merasakan tekanan dosa adalah
tobat.
Di dalam ketentuan Islam, tobat adalah menyesali yang apa yang telah telanjur diperbuat, dan menghentikan kesalahan itu sekarang juga, mendisiplin diri agar tidak mengulanginya lagi untuk seterusnya.
Setelah itu berbuat amal ibadah sebanyak-banyaknya, untuk melanggengkan (meluruskan) jiwa kembali di jalan Allah. Cobalah lihat surah al-Furqaan ayat 68 sampai 71,
"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan ia akan kekal dengan adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan barangsiapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya." (al-Furqaan: 68-71).
Katakan kepada pemuda itu, lupakan segala yang terjadi dan
bangunlah hidup yang baru, dan
jangan mendekat-dekati lagi ke daerah yang dapat memungkinkannya terjatuh lagi.
Segala niat baik masih tersisip dalam hati, maka
pintu kesucian tetap terbuka.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 69-70, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
LEBIH BERBAHAYA DARI ORANG KAFIR
Supaya
penguasa memerintah
menegakkan keadilan, hendaklah
semuanya tunduk kepada
hukum yang
tertinggi; yaitu
hukum Allah.
Thagut ialah
segala kekuasaan yang timbul dari
ambisi manusia belaka.
Gila kekuasaan, mabuk kemegahan, lalu berbuat sewenang-wenang, menyusun undang-undang semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan. Atau,
segala peraturan yang memang sengaja diperbuat untuk
menyisihkan hukum Allah dari masyarakat.
Di dalam membicarakan
Thagut pada ayat 60 surah an-Nisaa' dijelaskan bahwa
sumber hukum Thagut adalah
Setan.
Dijelaskan lagi dalam surah ini dan juz ini bahwa
Mukmin sejati tidaklah mau mengangkat orang yang tidak percaya kepada Allah untuk menjadi pemimpinnya.
Lebih berbahaya lagi, di atas dari bahaya mengangkat
pemimpin orang yang tidak percaya kepada Allah, atau
dengan tegas disebut dalam ayat, yaitu
kafir.
Lebih berbahaya dari orang kafir ialah
orang munafik. Orang yang pada lahir disangka kawan, padahal batinnya adalah musuh yang selalu mengintai kesempatan buat meruntuhkan Islam. Pada ayat 145 dijelaskan tempatnya di akhirat esok, yaitu di
derajat yang
paling bawah sekali dalam api neraka.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 245-247, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUSUH PALING BESAR
Diterangkan tentang
setengah manusia besar omong, berani bersumpah menyebut nama Allah, padahal dia adalah
musuh paling besar.
Akan tetapi, pada ayat selanjutnya, yaitu ayat 207, diterangkan Tuhan pula bahwa
ada pula manusia yang
telah menjual habis dirinya dan
jiwanya kepada Allah semata-mata.
Mereka itu
tidak takut mati, tidak gentar menghadapi
kekuatan lawan, sebab
seluruh hidupnya telah diserahkannya kepada Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 488-491, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JAGA KEHORMATAN AGAMA
Nanti sebentar lagi, dalam ayat 145 akan
diterangkan bahwa dalam
neraka Jahannam itu tempat duduk orang
MUNAFIK terletak
di dasar yang di bawah sekali. Kalau kita pikirkan dapatlah kita maklumi bahwa jiwa orang munafik lebih rendah daripada jiwa orang kafir.
KAFIR terang menentang, sedang
MUNAFIK tak dapat menyatakan PENDIRIAN YANG TEGAS!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 493, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENYAKIT MUNAFIK
Hal yang penting untuk
diketahui bagi
membersihkan jiwa dari
penyakit yang
berbahaya, yaitu
penyakit munafik. Ayat-ayat seterusnya dalam surah ini mengupas atau
menelanjangi jiwa yang
sakit karena
munafik itu, untuk
menjadi kaca perbandingan bagi
tiap-tiap orang yang
mengakui dirinya
beriman.
"Dan akan mampus jiwa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (at-Taubah ujung ayat 55).
Kita pilih saja
mampus sebagai arti dari
mati di sini,
supaya agak berdekat maksud artinya dengan
tazhaqa itu. Sebab di dalam kalimat itu terkandung juga arti hancur, atau jatuh berserakan. Dalam bahasa daerah
Minangkabau, ada yang lebih dekat arti
tazhaqa itu, yaitu
jangkang.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 173, 185-186, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PEDOMAN PERJUANGAN MUKMIN
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah, dengan sebenar-benarnya jihad." (al-Hajj pangkal ayat 78).
"Dia telah memilih kamu."
Ini adalah ucapan
penghargaan tertinggi Allah kepada
orang yang
beriman, karena
hanya mereka yang sanggup berjihad terus-menerus, hilang atau terbilang,
menang atau
syahid.
"Dialah yang telah menamai kamu Muslimin sejak sebelum ini."
Setengah ahli tafsir mengatakan maksud ayat ialah bahwa Nabi Ibrahim itulah yang telah memberi nama Muslimin atau umat yang mengaku percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Alasannya karena tersebutlah permohonan Ibrahim dalam Surah 2, al-Baqarah, ayat 128.
Tetapi penafsiran lain menyatakan bahwa
yang menamai umat yang percaya kepada Allah yang satu dengan Muslimin ialah
Allah sendiri, di dalam kitab-kitab yang telah terdahulu dari Al-Qur'an. Ini adalah tafsir dari
Ibnu Abbas. Demikian juga kata
Mujahid, Atha, as-Suddi, adh-Dhahhak, Muqatil dan
Qatadah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 158-159, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
YANG MENOLONG ALLAH, ALLAH MENOLONGNYA
Maka kalau ada percobaan manusia hendak menukar peraturan Allah dengan peraturan manusia, atau
"mempeti-eskan" peraturan Allah lalu menggantinya dengan peraturan manusia, yang sangat berjauhan dengan kehendak Allah,
wajiblah kita
membela Allah, menolong Allah.
Untuk itu kita bersedia
membunuh dan bersedia
terbunuh.
Tidak ada artinya hidup ini kalau
kalimat Allah dan
suara Allah dan
kehendak Allah hendak
dipandang orang enteng saja atau
hendak dipermain-mainkan orang saja.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 331-332, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH AN-NISAA'
PENGANTAR JUZ 5
Sesudah seorang laki-laki kawin dengan seorang perempuan, sesudah rumah tangga berdiri dan masyarakat tumbuh dengan baiknya, datanglah perintah supaya menyerahkan amanah kepada ahlinya, dan kalau menjatuhkan suatu hukum keputusan, hendaklah dengan adil. Supaya amanah diserahkan kepada ahlinya dan keadilan ditegakkan dalam masyarakat mestilah ada kekuasaan tertinggi.
Dalam surah inilah ditegaskan bahwa kekuasaan tertinggi yang wajib ditaati. Karena itu, wajiblah taat kepada Allah dan taat kepada Rasul, kemudian itu taat kepada penguasa, artinya yang memegang pekerjaan di antara kamu
(min-kum). Dijelaskan dalam ayat ini bahwa penguasa adalah jelmaan dari kamu sendiri
(min-kum), artinya mereka bukanlah orang lain.
Supaya masyarakat teratur, hendaklah ada penguasa. Supaya
penguasa memerintah
menegakkan keadilan, hendaklah
semuanya tunduk kepada
hukum yang
tertinggi; yaitu
hukum Allah.
Kalau terjadi pertikaian paham di antara yang memegang kuasa dan rakyat yang menyerahkan kuasa, hendaklah keduanya mengembalikan atau menyelidiki,
adakah sesuai peraturan yang mereka perbuat dengan
kehendak Allah dan Rasul. Sebab itu,
undang-undang yang
tertinggi ialah
hukum Allah. Itulah sebabnya dalam Islam diadakan baiat di antara pihak yang diserahi kekuasaan dengan yang dikuasainya. Di hadapan rakyat yang menyerahkan kuasa itu yang diberi kuasa harus menerima baiat, bahwa rakyat wajib taat kepada perintahnya, dan dia pun berbaiat, bahwa
hukum yang akan ditegakkannya mesti sesuai dengan
hukum Allah. Kalau tidak, rakyat dapat melepaskan diri dari baiatnya.
Kemudian di dalam juz ini juga (sebagaimana lanjutan dari ayat-ayat yang mewajibkan taat) Allah memberi isyarat tentang keadaan
setengah manusia, yang mengaku tunduk percaya kepada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan kepada Nabi-Nabi yang sebelumnya, tetapi apabila akan mengambil hukum, mereka ambillah
hukum thagut.
Thagut ialah
segala kekuasaan yang timbul dari
ambisi manusia belaka.
Gila kekuasaan, mabuk kemegahan, lalu berbuat sewenang-wenang, menyusun undang-undang semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan. Atau,
segala peraturan yang memang sengaja diperbuat untuk
menyisihkan hukum Allah dari masyarakat.
Di dalam membicarakan
Thagut pada ayat 60 surah an-Nisaa' dijelaskan bahwa
sumber hukum Thagut adalah
Setan.
Orang-orang munafik selalu berusaha agar hukum kebenaran dan keadilan dari Allah terhambat, jangan berlaku dalam masyarakat. Meskipun cita-cita hidup dalam Islam ialah menyerahkan amanah kepada ahlinya dan kalau menegakkan hukum hendaklah hukum yang adil, namun dalam rentetan ayat-ayat itu telah dijelaskan bahwa
masih banyak munafik yang
tidak suka hukum Allah berlaku, malahan mereka berusaha menghambat, menghalangi.
Musuh-musuh dari
kebenaran mesti
selalu ada.
Sebab itu, hidup tidaklah terlepas daripada
berjuang (jihad). Kalau tiba waktuya,
satu-satu waktu kita diizinkan berperang menghadapi
musuh-musuh Allah yang
tidak senang berlakunya hukum Allah di dunia. Sebab itu di dalam surah ini juga, juz ini juga, terdapat ajaran bagaimana caranya melakukan shalat di waktu perang sedang berkecamuk; yang dinamai shalat
al-Khaut.
Berperang untuk tujuan apa?
Di dalam ayat 76 diterangkan bahwa
orang berperang untuk
salah satu dari
dua tujuan.
Ada orang yang
berperang karena
menegakkan jalan Allah, tetapi ada juga orang yang
berperang untuk kepentingan jalan thagut.
Yang
memimpin peperangan thagut dikatakan, ialah
Setan itu; sebab pada hakikatnya segala tipu daya yang mereka tegakkan adalah lemah belaka.
Diterangkan juga dalam ayat ini tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi karena perang; keadaan buruk yang tidak jadi tujuan, tetapi terjadi di luar kemampuan kita. Misalnya orang yang telah mengaku beriman disangka musuh, lalu dibunuh. Diterangkanlah hukum dan dendanya tentang pembunuhan tidak sengaja atau yang sengaja. Ada
qishash dan ada
diyat (ganti rugi).
Dua kali dalam surah ini dan juz ini diperingatkan tentang puncak tertinggi segala dosa (yang tidak diampuni oleh Allah) yaitu syirik.
Dijelaskan lagi dalam surah ini dan juz ini bahwa
Mukmin sejati tidaklah mau mengangkat orang yang tidak percaya kepada Allah untuk menjadi pemimpinnya.
Lebih berbahaya lagi, di atas dari bahaya mengangkat
pemimpin orang yang tidak percaya kepada Allah, atau
dengan tegas disebut dalam ayat, yaitu
kafir.
Lebih berbahaya dari orang kafir ialah
orang munafik. Orang yang pada lahir disangka kawan, padahal batinnya adalah musuh yang selalu mengintai kesempatan buat meruntuhkan Islam. Pada ayat 145 dijelaskan tempatnya di akhirat esok, yaitu di
derajat yang
paling bawah sekali dalam api neraka.
Tetapi orang yang beriman, yang
berpegang teguh dengan
tali Allah, yang
ikhlas niat perjuangannya karena Allah, itulah orang yang beserta dengan
Mukmin sejati dan
akan mendapat ganjaran yang agung di sisi Allah.
Ayat 147 sebagai akhir juz kelima menyimpulkan jaminan Allah yang berupa suatu pertanyaan,
"Apakah Allah akan bertindak mengadzab kamu, kalau kamu masih bersyukur dan beriman?" Padahal Allah adalah menyambut syukur segala amalan yang baik, dan mengetahui segala niat yang ikhlas.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 245-247, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BARU DUA KALIMAT SYAHADAT
Dalam peperangan di Khaibar, datanglah kepada Rasulullah
seorang anak gembala hitam yang sedang menggembalakan kambing. Dia melihat Rasulullah berperang mengepungi benteng orang Yahudi di Khaibar. Dia tidak mengerti mengapa orang ini berperang. Dia hanya seorang penggembala kambing, kulit hitam rambut keriting, asal usul dari budak Habsyi (Negro). Dia mau tahu apa yang menjadi sebab peperangan itu. Diberanikan dirinya, ditemuinya Rasulullah saw. dan
Rasulullah saw. yang
mulia hati dan
mulia budi menyambut budak penggembala kambing itu dengan senang hati dan
menerangkan kepadanya apa
maksud peperangan, yaitu
menegakkan agama Tauhid, percaya kepada Allah, tidak menyembah berhala, harus jujur. Orang Yahudi di Khaibar menentang ajaran itu, sejak dari Madinah sampai ke sini. Budak itu mengerti, lalu dia masuk Islam dan mengucapkan kedua kalimat syahadat, dan bersedia turut berperang. Tetapi suatu hal yang musykil bagi dia, yaitu kambing-kambing yang sedang digembalakan hendaknya kambing itu selamat terlebih dahulu pulang kepada yang empunya. Lalu Rasulullah saw. menyuruhnya menghalaukan kambing itu, biar mereka pulang sendiri kepada yang empunya, induk semang anak itu. Perintah Nabi itu dia lakukan, dihalaunya kambing-kambing itu berpuluh ekor banyaknya. Berjalan sendirilah mereka, seakan-akan ada yang menghalau mereka ke kandangnya dengan selamat. Budak itu pun masuklah ke dalam barisan Mujahidin dan turut berperang.
Baru dua kalimat syahadat saja yang diucapkannya dan belum dia shalat karena waktu belum masuk. Dia turut berperang di Khaibar dengan semangat yang berkobar. Tetapi
maksudnya tercapai, yaitu dia beroleh
syahid dalam perang itu, dia mati terbunuh.
Seketika mengumpulkan jenazah-jenazah syuhada, bertemulah jenazah anak itu dan dikuburkan bersama jenazah syuhada-syuhada yang lain.
Seluruh sahabat Rasulullah yang hadir
amat kagum dan
terharu melihat
wajah anak yang manis itu, tersungging senyum di bibirnya. Lalu bersabdalah Rasulullah saw. kepada sahabat-sahabat itu menerangkan suatu hal yang hanya beliau yang melihatnya,
"Dua orang anak bidadari dari surga datang menyambut anak itu dan menggosoki badannya yang penuh dengan darah."
Masih dalam alam barzakh sudah begitu, betapa lagi di akhirat esok.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 330, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENGKHIANAT
Orang-orang yang turut menyebarkan paham dalam masyarakat, yang akan
mengakibatkan kendornya rasa perjuangan, rasa
jihad menegakkan cita-cita Islam, bukan saja menjadi
pelopor membawa ke
jalan kafir, bahkan
itulah pengkhianat-pengkhianat yang
membawa-bawa nama
Islam untuk
menghancurkan kekuatan Islam.
Pemuda Islam sejati yang ingin Islam masih bertapak di negeri ini khususnya, dan di dunia Islam umumnya
harus awas dan
berjaga-jaga terhadap
angkatan muda yang
terpengaruh paham
sesat itu.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 145, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
KEPADA PEMUDA:
"Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!"
-HAMKA-
(Buya HAMKA, PRIBADI HEBAT, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2014).
BERPRIBADI
"Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah!" (al-Maa'idah pangkal ayat 8).
Di sini terdapat kalimat
qawwamin dari kata
qiyam, yang artinya
tegak lurus.
Marfu'ur ra'si, maufuru kamarah!
Kepala tegak, harga diri penuh!
Berjiwa besar karena hati
bertauhid.
Tidak ada tempat merundukkan diri melainkan Allah.
Sikap lemah lembut, tetapi
teguh dalam
memegang kebenaran.
Kata orang sekarang, "Berpribadi".
Bukan lemah lunglai direbah-rebahkan angin ke mana hendak dibawanya,
lemah pendirian dan
mudah ditawar. Bukan begitu orang Mukmin. Wajah yang sekurang-kurangnya lima kali sehari semalam menghadap Allah, yang tegak berdiri ketika memulai shalat, yang ruku' hanya kepada Allah dan sujud hanya kepada Allah, tidaklah mudah direbahkan oleh yang lain. Tidak termuram terhuyung-huyung karena ditimpa musibah,
tidak pula melambung
laksana balon ketika masih berisi angin ketika mendapat keuntungan,
sehabis angin mengerucut turun.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 623, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SABUNG BERJUARA, PERANG BERMALAIKAT
Malaikat telah masuk ke dalam
semangat dan
ruh mereka.
Mereka merasa
lebih kuat dari orang 1.000.
Riwayat mengatakan bahwa
tentara malaikat 1.000 orang menyatakan diri dan
sampai kelihatan oleh mata, memakai
serban hijau dan turut berperang, sebagai tersebut dalam
beberapa tafsir; tidaklah begitu kuat:
Ternyata termasuk kisah
israiliyat juga.
Dan,
kedatangan bantuan
malaikat 1.000 sebagai
peneguh semangat itu
dijelaskan benar-benar oleh ayat selanjutnya:
"Dan, tidaklah Allah menjadikan bantuan itu melainkan sebagai berita gembira supaya tenteramlah dengan dia hati kamu." (pangkal ayat 10).
Inilah bantuan semangat dari Allah, semangat yang biasa disebut dalam
pepatah nenek moyang kita bangsa
Indonesia,
"Sabung berjuara, perang bermalaikat."
"(Ingatlah) tatkala Tuhan engkau mewahyukan kepada malaikat." (pangkal ayat 12).
Yaitu
1.000 malaikat yang
tak kelihatan pada mata yang
telah dirasai adanya oleh mereka itu.
Malaikat itulah yang telah
diperintahkan oleh
Allah agar menyampaikan titah Allah kepada mereka.
"Sesungguhnya Aku adalah beserta kamu. Oleh sebab itu tetapkanlah hati orang-orang yang beriman."
Mereka pasti dibantu oleh
Allah dan sebagai
orang-orang yang
beriman mereka pun mendapat
ketetapan hati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 670-673, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
YANG PALING JAHAT
"Lantaran itu, bilamana engkau menggempur mereka di dalam peperangan, maka hancurkanlah mereka." (al-Anfaal pangkal ayat 57)
Memungkiri janji yang telah diikat adalah satu perbuatan yang
amat hina, rendah, dan
keji. Itu pun satu
kekufuran. Orang-orang
memungkiri janji sudah
dianggap sebagai
binatang yang merangkak di bumi,
tidak ada harga mereka lagi. Maka kalau mereka bertemu di medan perang, hendaklah gempur habis sampai hancur, jangan lagi diberi hati. Mereka wajib disapu bersih sehingga tidak bangkit lagi.
"Kerbau diikat dengan talinya, manusia dengan janjinya." Yang dipegang dari manusia adalah katanya.
"Sesungguhnya Allah tidaklah suka kepada orang-orang yang khianat." (al-Anfaal ujung ayat 58).
Ujung ayat ini berisi
peringatan yang
umum. Bukannya kaum kafir saja yang tidak disukai Allah karena khianat, bahkan jadi
peringatan pula
bagi kaum Muslimin sendiri. Khianat akan janji bagi Muslim adalah salah satu
tanda munafik. Sebab itu, dijelaskanlah oleh sabda Rasulullah saw. tentang nilai janji. Dirawikan al-Baihaqi di dalam
Syu'abul Iman, riwayat dari Maimun bin Mahran, berkata Rasulullah saw.,
"Tiga perkara: Muslim dan kafir sama saja padanya. Yaitu (pertama), barangsiapa yang engkau perbuat janji dengan dia, penuhilah janji itu, baik orang itu Islam atau kafir. Maka janji itu adalah janji dengan Allah. Dan (kedua), barangsiapa yang di antara engkau dengan dia ada hubungan kasih sayang (rahim), maka hendaklah engkau hubungkan; baik dia Muslim ataupun dia kafir. (Ketiga), dan barangsiapa yang meletakkan kepercayaan suatu amanah kepada engkau, maka hendaklah engkau pegang amanah itu. Baik dia Muslim ataupun kafir." (HR. al-Baihaqi).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 29-30, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAM YANG ADIL
Dari hal keadilan, ketakwaan, dan kemuliaan budi baginda
Umar bin Abdul Aziz, tidaklah perlu lagi diterangkan panjang lebar. Kisahnya panjang lebar telah banyak dikarang oleh ulama-ulama. Sungguhpun dia telah mencapai kedudukan yang semulia itu, belumlah dia kenyang daripada petunjuk ulama dan pimpinan seorang yang arif. Pada suatu hari berkirim suratlah baginda kepada ulama Tabi'in yang masyhur,
Hasan Basri. Dia bertanya kepada Hasan Basri dari hal sifat-sifat imam (raja) yang adil. Maka Hasan Basri menjawab demikian bunyinya:
"Imam yang adil ya Amirul Mukminin, laksana seorang ayah yang cinta akan anak-anaknya, diasuhnya semasa anak itu kecil, diajarnya setelah anak itu besar, dituntunnya di dalam mencari penghidupan, dikumpulkannya harta bersusah payah, untuk anaknya itu jika si ayah mati."
"Imam yang adil ya Amirul Mukminin, laksana seorang ibu yang pengasih, dikandungnya anaknya dalam perutnya dengan susah payah, diasuhnya setelah anak itu lahir. Tidak tidur matanya malam, jika anaknya bangun, dia termenung jika dilihatnya anaknya duka, disusukannya, puas disusukan digendungnya. Mukanya berseri-seri jika si anak sihat, mukanya muram jika si anak sakit."
"Imam yang adil, ya Amirul Mukminin, ialah laksana seorang yang berdiri di antara Allah dengan hamba-Nya, didengarnya Maha Tuhan dengan tenang, setelah itu diterangkannya bagaimana wajah-Nya kepada mereka. Dibimbingnya tangan umat supaya sama-sama datang ke hadrat Rabbi, memohonkan kurnia-Nya."
"Maka sekarang ya Amirul Mukminin, ingatlah dengan saksama, sebelum ajal sampai janji mendatang, sebelum hukum putus angan berhenti, janganlah paduka menghukum atas hamba Allah dengan kebodohan, jangan paduka bawa mereka ke jalan aniaya, jangan diangkat orang-orang yang takbur menjadi pegawai, memerintah orang yang lemah. Sebab mereka menjatuhkan perintah dengan sesuka hati dan semahu-mahunya saja. Kelak padukalah yang akan bertanggung jawab atas dosa mereka, dan yang bertali dengan itu, dikumpulkan dengan dosa paduka sendiri. Janganlah paduka terpedaya oleh tipuan orang-orang yang menelan nikmat untuk kesusahan paduka. Mereka makan segala yang enak-enak di dunia, supaya paduka menelan segala kesusahan di akhirat."
"Jangan paduka berbesar hati lantaran mempunyai kekuatan pada diri ini, tetapi fikirkanlah kekuatan untuk dari jiwa yang akan dicabut, pada waktu mana seluruh badan padaku diikat oleh rantai kematian, atau berdiri di hadapan Allah, dikelilingi oleh sekalian malaikat. Nabi-nabi dan rasul-rasul. Pada waktu mana seluruh wajah makhluk, menghadap kepada Yang Hidup dan Yang Kekal!"
"Adapun patik sendiri ya Amirul Mukminin, meskipun nasihat patik ini tidak sebagus nasihat-nasihat orang-orang yang lebih muda daripada patik pada zaman dahulu, namun patik amat cinta kepada tuanku dan amat ikhlas. Oleh sebab itu pandanglah isi surat patik ini, laksana ubat yang diberikan oleh seorang kecintaan kepada kecintaannya yang sakit. Meskipun agaknya pahit, moga-moga di dalam kepahitan itu ada tersimpan kesihatan dan afiat."
"Wassalamu alaika ya Amirul Mukminin, warahmatullahi wabarakatuh!"
Setengah daripada
syair yang amat disukai oleh
Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu, ialah (ertinya dalam bahasa Melayu):
Sang harimau, wahai orang yang tertipu
Adalah dalam kelupaan dan kelalaian
Malammu hanya tidur enak kerendahan
Tetapi melazimi dirimu
Engkau tertipu oleh orang yang fana
Engkau bersuka cita dengan angan-angan
Laksana seorang tidur berasa enak sesaat
Dengan mimpi yang indah
Engkau sangat terikat
Oleh barang yang engkau takuti akan hilang
Memang demikianlah binatang hidup di dalam dunia.....
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIKMAT, 32-35, PTS Publishing House Malaysia, 2016).
HUKUM
"Maka hukumlah di antara manusia dengan benar." (Shaad: 26).
Hukum yang benar ialah hukum yang adil. Di antara kebenaran dengan keadilan adalah satu hal yang memakai nama dua. Yang benar itu juga dan yang adil itu juga, kalau sudah benar pastilah dia adil. Kalau sudah adil pastilah dia benar.
"Dan janganlah engkau perturutkan hawa."
Lalu dilanjutkan bahaya yang akan mengancam jika seorang penguasa menjatuhkan suatu hukum dipengaruhi oleh hawanya,
"Niscaya dia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah."
Artinya, kalau seorang penguasa, atau dia bergelar raja, sultan, khalifah, presiden, atau yang lain tidaklah lagi menghukum dengan benar dan adil, malahan sudah hawa yang jadi hakim, putuslah harapan orang banyak akan mendapat perlindungan hukum dari yang berkuasa dan hilanglah keamanan jiwa dalam negara.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 549-550, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
NABI SYU'AIB DI NEGERI MADYAN
"Dan mohonlah ampun kepada Allah kamu." (Huud pangkal ayat 90).
Mohonlah ampun atas kesalahanmu selama ini, terutama mencari kekayaan hendak bergegas lalu
tidak diperbedakan lagi di antara yang
halal dan yang
haram. Asal mendapat keuntungan, biar
merugikan orang lain dan
mengacaukan masyarakat. Karena setiap golongan yang mencari rezeki dengan mengacaukan kebenaran, mencurangkan sukat dan timbangan, semuanya itu adalah
pokok pangkal putusnya silaturahim, menimbullah
dendam dan
dengki di hati
orang yang teraniaya. Orang yang mengeruk kekayaan itu bisa saja gembira sementara waktu, namun lama-lama jiwanya sendiri akan merosot turun karena kegelisahan dan karena melihat
sinar kebencian yang memancar dari
mata orang-orang sekelilingnya. Oleh sebab itu, Nabi Syu'aib menyerukan kaumnya, minta ampunlah kepada Allah atas dosa-dosa sebanyak itu dan
tegakkanlah kembali
kejujuran.
"Kemudian tobatlah kepada-Nya."
Meminta ampun ialah atas dosa kepada sesama manusia dan kepada diri sendiri. Adapun memohon tobat adalah kepada Allah secara langsung. Karena satu dosa menganiaya orang lain,
menganiaya sesama manusia tidaklah akan timbul kalau kepercayaan kepada Allah masih tegak. Orang
berani berbuat jahat sebab
dia tidak percaya bahwa Allah selalu melihatnya. Tobat ialah dengan kembali insaf dan sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Lalu pusatkanlah aqidah dan ibadah kepada-Nya. Ingat bahwa
segala rezeki ini adalah
anugerah-Nya. Ingatlah bahwa sekalian makhluk ini dan perhatian yang khusus kepada manusia,
semuanya ialah
sesama makhluk Allah. Bersama-sama kita manusia, anak-cucu Nabi Adam, diserahi Allah hidup bersama dalam dunia ini.
Carilah kekayaan dengan jujur, tolonglah orang yang melarat. Dan ingat pula bahwasanya sekalian rezeki yang telah dianugerahkan Allah itu, sekali waktu bisa saja dicabut-Nya. Karena dari Dia semua datang dan kepada-Nya semua akan kembali.
Apabila benar-benar telah meminta ampun dari kesalahan kepada manusia dan diri sendiri, dan benar-benar memohon ampun kepada Allah,
niscaya Allah akan membukakan pintu rezeki dengan wajar, dan Allah akan menuntun selalu bagi keselamatan dunia dan akhirat.
"Sesungguhnya, Tuhanku adalah Amat Penyayang, lagi Pencinta." (ujung ayat 90).
Dalam kisah Nabi Syu'aib dengan kaumnya orang Madyan ini, kita mendapat
ilmu yang
jelas dari
Al-Qur'an tentang dasar-dasar tempat menegakkan masyarakat ataupun negara.
Keadilan dan
kebenaran, itulah
tujuan bernegara. Kemakmuran itulah yang dikehendaki. Bagaimana pun kekayaan berlimpah-limpah pada satu golongan, terutama golongan yang menguasai negara, kalau semuanya itu dilakukan dengan
kecurangan dan
penganiayaan, korupsi, manipulasi, dan
spekulasi, tanda bahwa
ketenteraman hati kita tidak akan didapat. Segala teori ekonomi boleh saja dikemukakan orang, namun
segala teori yang mengingkari pentingnya mental agama bagi menegakkan ekonomi adalah teori yang gagal. Seorang mantan ekonom yang ternama dari zaman Nazi Hitler, Dr. Schaft, ketika sekitar Tahun 1952 datang ziarah ke Indonesia, setelah mempelajari pertumbuhan ekonomi Indonesia bagi membangun negara yang baru merdeka ini, memberikan laporannya kepada pemerintah Republik Indonesia di waktu itu bahwa faktor kesadaran beragama, tentu saja kesadaran cinta kasih yang menghubungkan di antara pribadi dan Allah, dan antara pribadi dan sesama manusia, dan antara pribadi dan seluruh alam, adalah utama dan pertama dalam pembangunan Indonesia khususnya serta dunia umumnya. Dr. Schaft ketika itu menganjurkan kerja sama yang erat di antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Agama.
Kalau advis ini timbul dari
seorang ekonom Islam, tentu akan datang
tuduhan sebentar itu juga bahwa ekonom tersebut mempunyai
ideologi yang
berbahaya, yaitu
ideologi Islam atau dongeng-dongeng Al-Qur'an yang
tidak laku lagi buat zaman modern.
Maka cita-cita kita sebagai Muslim ialah
negara yang
adil dan
makmur, yang
diridhai Allah, diliputi oleh
kasih sayang Allah dan
cinta dari Allah yang
menyelinap ke dalam rongga hati kita. Bukan
kemewahan yang
disertai oleh
kutuk Ilahi dan
kutuk segenap Malaikat serta
kutuk dari tiap orang yang beriman.
Kita mengharap sifat Allah yang Rahim yang menghasilkan Rahmat. Dan sifat Allah Wadud, yang menghasilkan Mawaddah.
BENCANA ALAM
Di sini pun menyertakan dalam pembinaan iman kita satu peringatan tentang kaum-kaum yang binasa lantaran durhaka itu, yang meninggalkan kesan dalam jiwa seorang Mukmin bahwa
bencana-bencana alam yang terjadi ialah
karena ada dosa-dosa yang
sudah sangat memuncak. Maka Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya, untuk menanamkan keinsafan bagi manusia supaya segera bertobat kepada Allah. Dalam lingkungan pandangan iman, tidaklah ada suatu bencana alam yang tidak ada hubungannya dengan dosa. Suatu bencana alam dalam pandangan iman bukanlah suatu hal yang kebetulan saja. Tidak ada yang dinamai kebetulan di dalam alam yang luas ini. Bencana-bencana alam menurut pandangan iman, harus ditanggulangi dari dua jurusan. Jurusan lahir dengan memperbaiki mana yang rusak, mencegah
banjir, memelihara
hutan jangan terbakar, memperkukuh dan membendung
tepi pantai, jangan sampai diruntuhkan ombak. Yang kedua adalah lebih penting, yaitu mendekati Allah,
jangan mempersendaguraukan tentang
soal-soal ketuhanan karena
kunci-kunci rahasia alam ini adalah
terpegang di dalam
tangan-Nya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 598-599, Hal. 603, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ALLAH BERTANGAN?
Di dalam
Al-Qur'an memang terang tersebut bahwa
Allah itu
bertangan (Lihat surah al-Fath: 10).
Bahkan Allah itu
mempunyai banyak mata (Lihat surah al-Mu'minuun, ayat 27).
Dia
BERTANGAN,
BERMATA dan
SEMAYAM, sebab
Dia sendiri yang mengatakan dan kita
WAJIB IMAN.
Kita tidak perlu menanyakan berapakah tangan itu, samakah dengan tangan makhluk.
Di antara ulama
mutaakhirin yang keras menganut paham
SALAF ini adalah
IBNU TAIMIYAH dan muridnya,
IBNUL QAYYIM pada zaman terakhir adalah
SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB dan terakhir sekali adalah
SAYYID RASYID RIDHA.
IBNU TAIMIYAH sampai
DITUDUH oleh
MUSUH-MUSUHNYA berpaham
"mujassimah" (menyifatkan Allah bertubuh) karena
kerasnya mempertahankan paham ini.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 34-35, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
BERSEMAYAM DI ATAS ARSY
Menurut pendirian dari
ABUL HASAN AL-ASY'ARI dan para pengikutnya,
turuti sajalah sebagaimana yang tersebut: Allah Yang Rahman bersemayam di atas Arsy-Nya, dengan tidak ada pembatasan dan tidak ada pertanyaan: "Betapa semayam-Nya."
Berkata
al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya,
Pembicaraan orang tentang soal ini memang banyak. Tetapi, madzhab yang baik ditempuh dalam hal ini ialah
Madzhab Salaf yang shalih, yaitu,
Imam Malik dan
al-Auzai dan
ats-Tsauri dan
al-Laits bin Sa'ad, dan
asy-Syafi'i, dan
Ahmad dan
Ishaq bin Rahawaihi,
Dan
ulama-ulama ikutan kaum Muslimin yang lain,
yang dahulu dan yang kemudian,
Yaitu,
membiarkannya sebagaimana yang tersebut itu, dengan tidak menanyai betapa dan tidak pula menyerupakan-Nya dan tidak pula menceraikan-Nya dari sifat.
Dan, segala yang cepat terkenang di dalam otak orang yang hendak menyerupakan Allah dengan yang lain, sekali-kali tidaklah sesuai dengan keadaan Allah sebab tidak ada makhluk yang menyerupai Allah.
Tidak sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dan ini pun
menjadi pedomanlah bagi kita tiap-tiap bertemu
ayat-ayat yang
seperti ini.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 534, Jilid 3 Hal. 436-438, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DERMA
Di dalam surah
al-Baqarah juga, ayat 267 dipimpinkan lagi,
jangan sampai memberikan derma apa pun kepada orang lain, yang jika misalnya engkau sendiri yang menerimanya, engkau akan memicingkan mata, hanya karena terpaksa saja.
Sekarang dijelaskanlah bahwa
kebaikan tidak akan tercapai kalau belum sanggup
mendermakan apa yang
paling dicintai.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 6, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PEMBERIAN
"... Dan janganlah kamu pilih-pilih yang buruk darinya, lalu kamu belanjakan ..." (al-Baqarah: 267).
Untuk menimbang apa yang baik-baik itu dan apa pemberian yang buruk yang tercela itu disuruh mengukur dengan sendiri kalau awak diberi orang, artinya kalau kamu sendiri yang menerima pemberian dari orang lain,
"Dan kamu pun tidaklah akan menerimanya melainkan dengan memejamkan mata kamu."
Artinya, ketika memberikan barang itu kepada orang lain, taksirlah dan ukurlah kepada diri sendiri, bagaimana perasaan kita jika engkau diberi orang barang seperti itu? Adakah kamu senang menerima atau kamu terima hanya lantaran terpaksa saja, menerima dengan memicingkan mata karena kurang senang kepada barang itu?
Perbuatan yang demikian
amat dicela, tidak cocok dan
tidak seirama dengan
jiwa orang yang
beriman.
Yang dimaksud dengan ayat ini bukan saja terhadap zakat, melainkan juga segala macam sedekah
tathawwu' yang lain-lain, hibah (pemberian), hadiah (tanda mata), derma, sokongan, bantuan, dan seumpamanya. Kalau hendak memberi, berikanlah yang baik, yang senang memakainya dan senang memberikannya, jangan dipilih-pilih mana rasanya yang tidak disukai lagi, itu yang diberikan. Mempunyai kebun jeruk, kebun manga, dan sebagainya pun demikian. Kalau hendak memberi, berikanlah yang hati sendiri senang melihat dan memakannya, supaya yang menerima senang pula dan menghargai keluhuran budi yang memberi.
Allah Maha Kaya! Ingatlah ini ketika kamu memberikan apa-apa kepada orang lain, sehingga hatinya terbuka memilih yang baik-baik untuk diberikan kepada yang patut diberi.
Akan tetapi, kalau yang kamu berikan itu yang buruk-buruk, yang kamu sendiri pun enggan menerimanya jika diberi orang, maka ketika dia menerimanya atau setelah dibawanya ke rumahnya, hatinya akan berkata tentang engkau dengan kata-kata yang
sedih hati,
"Beginilah dia kepada kita. Tahu benar dia bahwa awak miskin asal perut berisi. Barang yang tidak berguna lagi kepadanya, itulah yang diberikannya."
Selanjutnya, Allah berfirman,
"Setan mempertakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji. Sedang Allah adalah menyediakan ampunan dari-Nya dan karunia." (pangkal ayat 268).
Pangkal ayat ini mempertunjukkan perjuangan batin orang yang dianjurkan
membelanjakan harta benda pada
jalan Allah.
Setiap harta akan dibelanjakan,
Setan selalu hendak campur tangan, "
Jangan banyak-banyak, nanti habis, apa lagi yang akan tinggal di tanganmu! Berikan saja yang buruk-buruk, tentu akan diterimanya juga, dan yang baik-baik simpan untuk dirimu sendiri.
Jangan terlalu banyak memberi kalau tidak akan disebut-sebut orang,"
dan sebagainya. Bahkan mulai saja kelihatan orang membawa lis derma masuk ke pekarangan rumah awak,
Setan sudah mulai berbisik.
"Tuh, datang lagi dia, minta sokongan lagi, minta derma lagi.
Lari saja ke dalam, masuk saja ke kamar, dan suruh pelayan mengatakan kepada orang itu bahwa tuan rumah sedang sakit atau sedang keluar kota!"
Orang yang
beriman tentu lekas sadar ketika mendapat rayuan dari
Setan itu, "
Aku tidak mau memperturutkan tipu dayamu, hai Setan! Aku orang beriman, Tuhanku telah menjanjikan bahwa jika aku seorang pemurah,
Allah pun pemurah pula untuk mengampuni dosa-dosaku dan Allah akan memberiku karunia berlipat ganda."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 537-538, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAT RASULULLAH KEPADA HERACLIUS
"Dan, berkata segolongan dari Ahlul Kitab itu, 'Berimanlah kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman itu di siang hari, dan kufurlah kepadanya di waktu petang, supaya mereka kembali.'" (Aali 'Imraan ayat 72).
Tentu maksud mereka
tidak akan berhasil terhadap
orang yang
beriman.
Yang dapat diguncang-guncangkan keyakinannya ialah hanya orang yang masuk
Islam hanya
bondong air, bondong dedak, yang
belum mempunyai
iman yang
mendalam, atau yang masuk karena mengharapkan
keuntungan benda. Lantaran keuntungan benda itu belum didapatnya, dia tidak sabar, lalu lari.
Orang yang seperti ini tentu ada di segala zaman, terutama di zaman yang jauh dari Rasulullah saw.
seperti di zaman kita sekarang ini.
Banyak kali kejadian orang-orang penting masuk ke satu
partai agama karena
mengharapkan jabatan menteri atau
pangkat-pangkat yang lain. Kemudian setelah partai itu kalah dalam pemilihan umum atau
dibubarkan oleh
musuh-musuh politiknya dengan
kekerasan, orang penting itu lalu
pindah tempat dengan
tidak merasa malu. Sejak masuknya sampai keluarnya,
tidaklah dia mengenal apakah
ideologi yang
sebenarnya dari partai yang pernah dimasukinya itu.
Akan tetapi, di zaman Rasulullah saw., hal seperti ini sangat jarang kejadian,
hanya satu kali dalam seratus ribu. Atau karena
murtad-nya
Musailimah al-Kazzab (pendusta) karena dia ingin hendak jadi nabi sendiri pula.
"Katakanlah, 'Sesungguhnya, yang petunjuk ialah petunjuk Allah!'"
"Atau akan ada orang yang menempelak kamu di sisi Tuhan kamu."
Niscaya di akhirat kelak akan
ditempelak Allah karena
mendurhakai ajaran Rasul-Nya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 657-658, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUSUH PALING BESAR
"Berapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan, sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar." (al-Baqarah ujung ayat 249).
Niscaya yang berkata begini ialah yang berperang mempunyai tujuan, yaitu
percaya bahwa
kalau mereka mati di dalam
mempertahankan jalan Allah, mereka akan
menemui Allah. Bagi mereka,
ketakutan tidak ada. Bahkan
mati karena
mempertahankan keyakinan dan
IMAN adalah
mati yang
mulia.
Mereka yang karena keteguhan semangat dari golongan yang sedikit itu, yang tidak minum ketika menyeberang sungai atau minum hanya seceduk, dan mendapat kepercayaan pula dari
Raja Thalut, diberi baginda gelar kehormatan "golonganku".
Si penakut-penakut yang lain tadi pun
pulihlah semangat mereka kembali. Mereka pun
turutlah kepada suara yang
kuat iman itu buat terus tampil ke muka
berhadapan dengan musuh.
"Dan kalau bukanlah ada pertahanan Allah terhadap manusia yang sebagian mereka dengan yang sebagian, sesungguhnya telah rusaklah bumi. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia atas seluruh alam." (ujung ayat 251).
Kehidupan di dunia ini adalah pertarungan
si kuat dengan
si lemah. Kalau
si lemah tidak bertahan, dia akan hancur oleh si kuat.
Ayat ini menegaskan hal itu
dengan tepat sekali.
Maka, apabila si kuat hendak berleluasa menindas,
ditakdirkan Tuhan timbul
rasa pertahanan diri pada yang lemah.
Dalam
Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi
Tahun 1930, guru dan ayah penulis,
Dr. Syekh Abdulkarim Amrullah, mengatakan,
"Sedangkan cacing dipijakkan lagi menggeleong, kononlah manusia." (Inilah salah satu perkataan beliau yang dicatat
pemerintah penjajah yang menyebabkan
beliau dibuang dari Sumatra Barat dan
diasingkan ke Sukabumi di
Tahun 1941).
Untuk memahamkan ayat ini lebih dalam lagi, ingat dan bacalah kembali ayat 204 sampai 206 yang telah kami tafsirkan di atas tadi. Di ketiga ayat itu diterangkan tentang
setengah manusia besar omong, berani bersumpah menyebut nama Allah, padahal dia adalah
musuh paling besar. Kalau dia berkuasa, dia pun berjalan di atas bumi membawa kerusakan dan merusak-binasakan tanam-tanaman dan ternak, padahal Tuhan tidak menyukai kerusakan. Dan, kalau ditegur, merasa banggalah mereka dengan dosa sehingga
Jahanam-lah tempat orang yang seperti ini. Ini adalah
contoh dari tengah manusia yang merusak.
Akan tetapi, pada ayat selanjutnya, yaitu ayat 207,
diterangkan Tuhan pula bahwa ada pula
manusia yang
telah menjual habis dirinya dan jiwanya kepada Allah semata-mata. Maka, orang yang telah
menjual diri kepada Allah itulah
yang akan berani menghadapi tenaga-tenaga perusak tadi karena
mereka hanya mengharapkan ridha Allah semata-mata. Oleh sebab itu, betapa pun hebat kerusakan yang dibawa oleh tenaga perusak, selalu akan timbul yang menghambat, menyetop supaya berhenti.
Mereka itu
tidak takut mati, tidak gentar menghadapi kekuatan lawan, sebab
seluruh hidupnya telah diserahkannya kepada Allah. Kalaupun bandingan kekuatan adalah laksana bandingan usia
Dawud dan kegagahan perkasaan
Jalut.
"Yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Kami ceritakan dia kepada engkau dengan benar." (pangkal ayat 252).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 488-491, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JEJAK-JEJAK SETAN
"Dan janganlah kamu turut jejak-jejak Setan. Sesungguhnya, dia bagi kamu adalah musuh yang nyata." (al-Baqarah ujung ayat 208).
Niscaya
Setan, baik yang
halus maupun yang
kasar, senantiasa
berusaha hendak membelokkan perhatian orang yang beriman dari tujuan yang telah ditentukan itu. Niscaya
Setan-setan tidak merasa senang kalau
tercapai tujuan itu. Sebab itu, gangguan
Setan akan mengemukakan pula rencana-rencana lain, jejak dan pengaruh lain,
sehingga bukan sedikit negeri Islam atau orang yang
terkemuka beragama Islam tidak merasa yakin,
bahkan ada yang
menolak kebenaran kehendak Islam.
Di Indonesia ini pemerintah jajahan
Belanda, untuk
menghilangkan pengaruh hukum Islam, sengaja
menonjolkan beberapa
hukum adat. Dan,
hukum-hukum adat itu dicari-cari pada tiap-tiap daerah sehingga timbullah berbagai rona corak hukum karena perbedaan adat.
Belanda lebih suka
hukum adat yang
berpecah-belah daripada
penduduk negeri golongan terbesar (mayoritas) beragama Islam itu
bersatu hukumnya menurut agamanya, padahal hukum itu memang ada. Akan tetapi,
lucunya, di negeri
yang hukum Islam telah dijadikan hukum adat, mereka
tidak pula mau mengakui hukum itu. Seumpama di dalam negeri
Kerajaan Buton (Pulau Buton, Sulawesi) telah dijadikan
hukum adat merajam orang yang kedapatan
berzina dengan disaksikan oleh saksi menurut ketentuan Al-Qur'an dan telah pernah
dipotong tangan orang yang
mencuri. Di samping
Istana Raja Buton masih didapati batu hampar tempat orang menjalani
hukum rajam dan
potong tangan itu.
Pemerintah Belanda tidak mau mengakui
hukum adat yang demikian sebab
"katanya" melanggar perikemanusiaan yang amat dijaga dan dipertahankan oleh pemerintah Hindia Belanda!
Seakan-akan hanya mereka yang mempertahankan kemanusiaan, sedangkan rakyat jajahan tidak! Negara-negara penjajah dan
negara besar yang
berpengaruh telah
berusaha dengan
jalan pendidikan atau
propaganda memasukkan
jejak-jejak Setan ke dalam
jiwa kaum Muslimin pada
negeri-negeri Islam yang mereka jajah atau
pengaruhi agar orang Islam memakai peraturan lain untuk
mengatur pergaulan hidup mereka. Sehingga meskipun mereka
masih mengaku Islam, mereka menolak tiap-tiap cita Islam untuk
memperbaiki masyarakat.
Demikian juga dalam kehidupan pribadi sehari-hari, menyelinaplah
Setan memasukkan pengaruh, menunjukkan jalan, dan meninggalkan jejak-jejak sehingga akhirnya kelak
Islam itu
hanya tinggal menjadi nama dan sebutan, tetapi telah menempuh berbagai jalan yang bersimpang-siur di dalam menghadapi serba-serbi kehidupan.
Kadang-kadang timbul perpecahan di antara Muslimin, masing-masing
mendakwakan dirinya yang benar, kawan yang lain kawan salah belaka. Setan pun
memasukkan rasa
permusuhan kepada
masing-masing pihak sehingga
sukar dipertemukan. Maka,
terjuallah diri mereka
kepada Setan, bukan lagi menjual diri kepada Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 395-396, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
THAGHUT
Orang yang
KAFIR itu,
pemimpinnya ialah
THAGHUT, yaitu
SEGALA kekuasaan yang
bersifat MERAMPAS HAK ALLAH, yang
tidak menghargai nilai
hukum Ilahi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 656, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Mereka telah
BERANI membekukan HUKUM ALLAH. Tidak mereka insafi
bahwa itulah yang membawa selisih dan
sengketa.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 350, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEDUA GOLONGAN
"Dan Allah sangat pedih siksaan-Nya." (Aali 'Imraan ujung ayat 11).
Ayat-ayat seperti ini
menginsafkan manusia dari ketakaburannya.
Mentang-mentang kaya raya atau
banyak anak keturunan yang akan dibanggakan, janganlah sampai
lupa daratan. Sedangkan
di dunia, hanyalah manusia yang
berutang budi dan yang
lemah hati yang
dapat dipengaruhi.
Kayalah engkau, tetapi
aku tidaklah akan meminta kepada engkau.
Banyak pun anak engkau, orang-orang yang terpandang dalam masyarakat, berjabatan, bertitel segala macam, tetapi
aku bukan budak engkau.
"Yang satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain adalah kafir."
Nabi saw. Dan, umatnya disuruh memperhatikan perbandingan di antara
kedua golongan itu apabila mereka berhadapan.
"Mereka (yang berperang karena Allah) melihat kepada mereka (yang kafir) dengan penglihatan mata dua kali sebanyak mereka."
Jumlah yang kafir itu dua kali ganda banyaknya, lengkap dengan harta dan benda, ramai dengan anak dan keturunan, sedang bilangan yang
beriman dan
berjuang pada
jalan Allah itu hanya sedikit, kurang harta,
tidak ada yang akan dibanggakan selain dari
IMAN kepada Allah.
"Padahal Allah menyokong dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki."
Hal ini telah kejadian ketika Peperangan Badar.
Umat yang
berjuang pada
jalan Allah menghadapi umat yang kafir tiga kali lipat lebih banyak dari mereka. Allah menyokong dan memberikan kemenangan kepada yang
berjuang pada
jalan Allah sebab
yang mereka perjuangkan bukan harta dan bukan anak,
melainkan keyakinan kepada Allah.
Lantaran ada sesuatu yang diperjuangkan, semangat pun bertambah dan
tidak takut menghadapi maut. Padahal
orang yang terikat oleh
kebanggaan harta dan anak
takut menghadapinya.
"Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah suatu ibarat bagi orang yang mempunyai pikiran." (ujung ayat 13).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 585, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HAKIKAT ISLAM
Apabila orang telah melampaui batasnya, manusia hendak
MENGAMBIL HAK TUHAN, perpecahan itu pulalah
yang akan terjadi.
Siapa yang tidak insaf, mereka pun menyerah diri kepada THAGHUT dan SETAN.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 599-601, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERANGAI UMUM DARI ORANG-ORANG MUNAFIK
"Dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, tiba-tiba mereka pun kecewa." (at-Taubah ujung ayat 58).
Tersebut di dalam sebuah hadits yang dirawikan
Bukhari dan
an-Nasa'i dan dalam
beberapa tafsir yang
terpandang, dari riwayat Abu Said al-Khudri, satu kali saat Rasulullah saw. membagi-bagi sedekah, dan seorang bernama
Dzul Khuwaisharah dari
Bani Tamim, datang kepada Rasulullah saw. sambil mengomel,
"Engkau hendaklah adil ya Rasulullah saw.!"
Tercengang Nabi saw. mendengar perkataannya itu sampai beliau berkata,
"Wailaka! Celaka engkau, kalau aku tidak berlaku adil, siapa lagi yang akan berlaku adil?"
Umar bin Khaththab yang hadir dalam majelis itu, lantaran marahnya mendengar perkataan orang itu, sampai berkata,
"Biarkan aku potong lehernya, ya Rasulullah!"
Tetapi
kemarahan Umar itu dapat
ditenangkan oleh Nabi saw. Beliau berkata,
"Biarkanlah dia! Karena orang ini pun mempunyai kawan-kawan yang lain, yang kamu tidak akan senang melihat mereka. Shalat dia bersama, shalat mereka, puasa dia bersama puasa mereka, tetapi mereka telah terlepas dari dalam agama laksana terlepasnya anak panah dari busurnya."
Kata Abu Said al-Khudri, pada waktu kejadian itulah
ayat ini turun.
Satu potong kecil barang pun Rasulullah saw. tidak ada mengambil untuk dirinya. Meskipun berhak beliau mengambil seperlima,
seperlima itu pun beliau berikan habis.
Ayat ini adalah mengenai
perangai umum dari
orang-orang munafik.
Iman kepada
Allah dan Rasul adalah
puncak dari segala kekayaan.
"Dan mereka berkata, 'Cukuplah bagi kami Allah! Allah akan mengurniai kami dengan anugerah-Nya, dan Rasul-Nya pun!'"
Inilah ucapan yang
sangat mulia dan menunjukkan
mutu iman yang
tinggi dari
seorang Mukmin. Banyak atau sedikit, kaya ataupun miskin, semuanya perkara kecil. Cukup Allah bagi kami.
Allah akan selalu menjamin rejeki kami, kami tidak akan canggung dan kecewa kalau sedang kekurangan. Meskipun kurang di hari ini, besok atau lusa akan dapat lagi.
Rezeki tidak tentu di mana pintunya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 187-188, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KALIMAT SYAHADAT itu adalah kalimat yang baik. Sejak dari urat sampai dahan ranting, daun, pucuk, dan buah, hanya akan merasai satu rasa saja, tidak kacau.
Kalimat yang
mulia ini
tidak untuk permainan orang-orang MUNAFIK.
"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir', padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.'" (al-Baqarah: 8-9).
Mereka bersumpah kadang-kadang, aku ini adalah seorang Islam sejati. Aku ini sedia berjuang untuk Islam, aku mau berkorban mati-matian!
Bilakah mereka berkata demikian?
Ialah ketika tampak olehnya
keuntungan yang
diharapkan.
Padahal, perjuangan dalam Islam, keuntungan kebendaan, dan pangkat kemegahan adalah nomor dua!
Nomor satu ialah
kepahitan dan
penderitaan.
Itulah sebabnya jika berjumpa kesulitan,
cepat sekali mereka "lari" meninggalkan perjuangan.
-Tulisan ini dinukil dari Ceramah Allahuyarham Prof. Dr. HAMKA, yang pernah disampaikan di TVRI sekitar Tahun 1975, yaitu siri ceramah yang bertemakan, "Iman dan Pembangunan".
(Buya HAMKA, Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh, Hal. 34-42, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
UMPAMA KELEDAI MEMIKUL BUKU
Sebab itu dengan tegaslah
al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menulis dalam kitabnya,
I'Iamul Muwaqqi'in, bahwa ayat ini,
"Walaupun dijadikan perumpamaan bagi orang Yahudi, namun makna yang terkandung di dalamnya mengenai juga bagi orang-orang yang memikul Al-Qur'an, namun mereka tidak mengamalkannya dan tidak memenuhi haknya dan tidak memelihara maksudnya dengan sepatutnya."
"Maka cita-citakanlah mati, jika kamu orang-orang yang benar." (ujung ayat 6).
Kalau benar kamu wali-wali Allah, cobalah
citakan mati!
Nabi pun pernah mengatakan bahwa
kamu akan
mengikuti jejak mereka setapak demi setapak.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 124-127, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Orang yang diikat oleh benda PASTI menjadi MUSYRIK.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 43, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JIHAD YANG BESAR
"Maka janganlah kamu turuti kehendak orang-orang yang kafir-kafir itu dan perangilah mereka dengan Al-Qur'an ini, dengan jihad yang bersungguh sungguh." (al-Furqaan ayat 52).
Al-Qur'an wahyu Ilahi.
Kalamullah, untuk seluruh dunia. Berjuanglah engkau dengan semangat yang besar menegakkan Al-Qur'an itu selama hayatmu dikandung badan, dan jika pun datang waktunya panggilan-Ku, engkau mati namun suara Al-Qur'an itu akan terus membahana di atas permukaan bumi.
Maka amatlah berkesan ayat 52 ini, wahyu kepada Muhammad saw., tetapi besar kesannya atas jiwa kita sebagai penyambut waris Muhammad. Kita pun mempunyai tugas melanjutkan jihad dengan Al-Qur'an ini, jihad yang besar. Jihad yang tidak mengenal lelah. Apabila kita renungkan dengan saksama, sadarlah kita akan nilai hidup kita dan
mission sacre (tugas suci) kita sebagai Muslim dalam alam ini.
Sebagaimana kata seorang penyair,
Tegaklah memperjuangkan keyakinanmu dalam hidup ini, karena hidup itu ialah keyakinan dan perjuangan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 384, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KLIK DISINI: TENTANG PEMBERANTASAN LCBT (LINGKARAN CHURAFAT BID'AH TAHAYUL) TERKUTUK
POLITIK YANG PALSU DAN JAHAT, LCBT (LINGKARAN CHURAFAT BID'AH TAHAYUL) TERKUTUK
MENDUSTAI DIRI SENDIRI
"Mereka itulah orang-orang yang mengutuk Allah akan mereka. Dan barangsiapa dikutuk oleh Allah, maka sekali-kali tidaklah akan engkau dapati pembantu baginya." (an-Nisaa' ayat 52).
Tidak akan ada yang membantu dan membela mereka dalam dusta curang yang demikian itu sebab
mereka telah berhadapan dengan Allah. Mempertahankan pendirian dengan cara demikian, tidak lain daripada pertahanan yang kotor.
Hanya ingin kemenangan sementara sehingga
tidak memerhatikan lagi kebenaran itu sendiri
untuk masa yang lama.
Di dalam ayat ini kita bertemu
3 kesalahan umat keturunan kitab karena memegang hanya sebagian dari isi kitab.
Pertama, mencampur-aduk kebenaran agama dengan
kesesatan, atau jibti. Sehingga dibangsakan kepada agama, hal-hal yang sama sekali ditolak oleh agama sehingga timbul
BID'AH, KHURAFAT, TAHAYUL, dongeng-dongeng yang menunjukkan kebodohan atau
menipu orang bodoh.
Kedua, menuhankan manusia, sampai memberikan kepadanya pemujaan yang
mendekati pemujaan kepada Allah. Begitu mereka perbuat
kepada ulama-ulama dan
pimpinan mereka.
Ketiga, berani
memutar-balik kebenaran karena
mengharapkan kemenangan pengaruh dan
politik.
WAJIBLAH kita memeriksa, mengoreksi masyarakat kita kaum Muslimin karena jarak masa kita dengan Nabi pun sudah jauh,
apakah agaknya telah memindah PENYAKIT orang yang menerima sebagian dari kitab
ini kepada kita? Kalau sudah,
hukum yang akan diterima tentulah sama juga,
yaitu,
KUTUK ALLAH!
Ajaran asli Nabi Musa sama dengan ajaran asli Nabi Muhammad. Orang Yahudi di belakang Nabi Musa mengubah-ubah.
Apakah kita telah MENGUBAH-UBAH pula sepeninggal Nabi Muhammad? Jika bertemu ayat begini, dengan girang kita menafsirkan bahwa
ayat ini bukanlah menuju kita, hanya menuju Yahudi!
La haula wala quwwata illa billah!
Adakah
jibti pada kita? Adakah kita memuja
thagut? Adakah kita
memutar-balik kebenaran karena
mengharapkan kemenangan sementara?
Berkali pula terlukis dalam perjuangan umat Islam bahwa
mereka menyokong suatu politik yang palsu dan
jahat. Ketika ditanyakan orang dapatkah disatukan ajaran Islam dengan Komunis? Ada pemuka Islam yang menjawab,
"Dapat!" Ketika ditanyakan orang pula kepada satu golongan umat Islam,
"Bagaimana hukumnya kalau ada orang Islam yang menentang Nasakom (Percobaan Soekarno menyatukan Nasional, dengan Agama dengan Komunis)?" Ada kalangan Islam sendiri yang menjawab,
"Orang Islam yang menentang Nasakom adalah Kontra Revolusi!" Apakah sebabnya mereka sampai hati berbuat demikian? Jawabnya mudah saja. Telah padam cahaya hati sanubarinya yang bersih oleh hawa nafsu akan kekuasaan. Sebagaimana padamnya rasa hati
Ka'ab bin Asyraf orang
Yahudi itu, yang dasar agamanya tetap
tauhid. Sehingga
saking takutnya kekuasaannya akan hilang dan bencinya akan kemajuan Nabi Muhammad, maulah dia mengatakan bahwa
musyrik Mekah lebih baik daripada ajaran Muhammad.
"Padahal cukuplah Jahannam jadi pembakar." (ujung ayat 55).
Jalan yang benar hanya satu. Jalan yang salah
bersimpang-siur. Menolak kebenaran, tidak lain, hanyalah mempersulit diri sendiri. Di ujung ayat yang lampau telah dikatakan Allah,
barangsiapa yang
membelok daripada
jalan yang lurus,
Jahannam atau
neraka, itulah akan tempatnya.
Tidak lain.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 325-328, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KUTUK LAKNAT ALLAH DAN MALAIKAT SERTA MANUSIA
Apabila orang-orang yang dianggap ahli tentang
agama tentang
AL-QUR'AN dan
HADITS telah
bersikap pula MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN, misalnya karena
segan kepada orang yang berkuasa atau
takut pengaruh akan hilang terhadap pengikut-pengikut mereka, kutuk yang terkandung dalam ayat ini pun
akan menimpa mereka.
Manusia pun
mengutuk pulalah sehingga kadang-kadang jika terdapat banyak maksiat di satu negeri,
bertanyalah orang,
"Tidakkah ada ulama di sini?"
Maka,
laknat Allah dan
Malaikat serta
manusia itu akan
didapatnya terus-menerus.
"Kekal mereka di dalamnya." (pangkal ayat 162).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 294-297, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DOSA SUATU MASYARAKAT
"Dan dibuat Allah suatu perumpamaan, suatu negeri yang aman sentosa datang kepadanya rezekinya dengan luas dari tiap-tiap tempat. Maka mereka pun kufur akan nikmat Allah lantaran itu Allah rasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, lantaran apa yang telah mereka usahakan." (an-Nahl ayat 112).
Orang jadi ketakutan selalu, takut dirampok, takut garong dan
takut serangan dari luar. Yang kuat menganiaya yang lemah sehingga
tempat berlindung tak ada lagi.
Maka terlepas daripada sebab turun ayat, dapatlah kita mengambil
kesimpulan bahwa ayat ini adalah
undang-undang yang tetap dari Allah, bahwasanya
dosa suatu masyarakat dari satu negeri bisa
menyebabkan datangnya
KUTUK ALLAH kepada
negeri itu.
Mungkin dalam negeri itu ada juga
orang baik-baik, namun mereka telah terbawa rendang dan
menjadi korban dari
kesalahan orang-orang yang
berbuat durjana.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 225-226, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENDIRIAN YANG TEGAS
Tentang kebenaran wahyu Ilahi itu tidak usah diragukan lagi. Kebenaran asli dari Dia dan keadilan pun dari Dia.
Tidak ada hakim lain dan
hukum lain yang dapat melebihi itu. Undang-undang kebenaran dan keadilan yang diwahyukan Allah adalah
untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk mempertahankan kekuasaan Allah.
Sebaliknya, undang-undang ciptaan manusia, kebenaran dan keadilan yang dikarang manusia dengan susunan kata yang dihias ialah untuk kepentingan mempertahankan kedudukan golongan yang berkuasa. Undang-undang manusia dapat saja berubah kalau zaman telah berubah, sedang
Syari'at Ilahi tidak dapat diubah oleh manusia. Oleh sebab itu, datanglah penegasan lagi,
"Sekali-kali tidak ada pengganti dari kalimat-kalimat-Nya." Salah satu arti dari kalimat ialah perkataan atau firman. Kalimat Allah ialah firman Allah. Firman Allah tidak dapat diganti dengan perkataan lain. Sebab, ucapan yang lain adalah ucapan makhluk, sedang pengetahuan dan pengalaman makhluk adalah terbatas. Kalimat Ilahi adalah
MUTLAK untuk
segala tempat dan
segala zaman.
Di dalam menegakkan pendirian ini, sejak dari langkah pertama sudah
mesti berterang-terang, tidak boleh bersembunyi. Kaum musyrikin di Mekah mungkin bersedia bekerja sama dengan Islam, asal beberapa usul mereka diterima. Segala usul pun boleh dipertimbangkan
KECUALI SATU, yaitu bahwa ada peraturan lain selain dari peraturan Allah yang akan dijalankan. Atau ada hukum lain pengganti hukum Allah, dan mencari
hakim selain Hakim Allah.
Zaman feodalisme akan pindah ke dalam zaman borjuis, orang memujikan kemerdekaan pribadi (liberalisme) dan selalu menganjurkan kemerdekaan berusaha, kemerdekaan atas hak milik. Namun, kemudian setelah zaman feodal berganti dengan zaman borjuis, dan ternyata timbul kapitalisme, lalu timbul yang kaya terlalu kaya dan yang miskin terlalu miskin. Dicela dan dimaki orang lagi liberalisme yang dahulunya dipuja-puja itu.
Demikian juga dalam susunan pemerintahan. Satu waktu orang merasa tertekan karena tidak ada demokrasi dan yang ada hanya diktator, kekuasaan orang-seorang. Akhirnya orang pun berontak melawan kekuasaan orang-seorang itu, lalu diktator jatuh. Setelah diktator jatuh, timbullah demokrasi. Satu waktu orang pun merasa kecewa dengan
demokrasi sebab kemerdekaan memilih dan dipilih
hanya untuk orang yang kaya, tuan tanah, dan ahli-ahli pidato demagogi penipu. Akhirnya, orang mengutuki demokrasi lagi dan ingin datangnya seorang pemimpin yang kuat, yang bisa mengatasi keadaan. Akhirnya demokrasi dikurbankan dan kekuasaan diserahkan lagi ke tangan orang-seorang.
Berbelit-belit, berbolak-balik bagai menghasta kain sarung.
Sedangkan suatu masyarakat yang ideal, yang merupakan cita-cita yang tinggi hanya tetap satu,
yaitu bilamana manusia menyerahkan kekuasaan tertinggi kepada Allah dan taat kepada ketentuan Allah itu. Sebab, jika Allah mencipta dan menurunkan sesuatu peraturan,
bukannya untuk kepentingan Allah atau untuk menjaga kekuasaan Allah,
melainkan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
Jika pejuang Muslim membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan
paham akan artinya, tidak dapat tidak, ayat ini pasti memengaruhi sikap jiwanya.
Ayat-ayat ini tegas benar menyatakan bahwa Rasulullah saw.
harus menyatakan terus terang bahwa dia
tidak akan menerima hakim lain selain Allah. Tidak menerima peraturan lain selain peraturan Allah.
Ini mengenai seluruh segi kehidupan.
Oleh karena itu, dengan sendirinya
sudah terang pula kalau
sekiranya kaum jahiliyyah tidak menyukai peraturan Allah.
Pada
zaman modern sekarang ini,
pejuang-pejuang Islam yang ingin mengikuti
SUNNAH Nabi, yang
bercita-cita hendak
menegakkan peraturan Allah di dalam alam ini kebanyakan
dibenci oleh golongan yang tidak mengenal peraturan Allah itu.
Di dalam negeri-negeri Islam sendiri, pejuang Islam dibenci dan
menderita berbagai penderitaan jika dia mengemukakan keyakinan hidup, menjelaskan
bahwa dia bercita-cita supaya di negerinya, peraturan dan
undang-undang negeri HARUS diambil daripada peraturan dan
undang-undang Allah.
"Dan tidaklah ada mereka selain dari berdusta." (al-An'aam ujung ayat 116).
Dan, lebih tepat lagi kalau dipakai ungkapan yang lebih tegas, "Dan tidaklah ada mereka selain omong kosong."
Segala teori yang tidak berdasar atas kepercayaan kepada Allah adalah
teori omong kosong, atau
kedustaan dan
kebohongan yang diatur rapi.
Yang kita kemukakan di sini ialah
teori-teori manusia mengenai
urusan kemasyarakatan atau
pemerintahan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 252-255, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JIWA MUNAFIK
Lalu dia
membela diri, mengemukakan berbagai alasan mengapa
dia selama ini berdiam diri.
Bahwa
berdiam dirinya itu
adalah suatu
siasat.
"Orang-orang pengecut memandang bahwa dia pengecut itu adalah suatu pendapat juga. Memang demikianlah tabiat dari jiwa yang rendah."
Pendirian hanya sekadar
mementingkan diri sendiri atau
keuntungan benda yang nyata.
Lebih dari itu tidak!
Allah SWT telah
menjelaskan intinya, siapa sebenarnya orang itu,
"Orang-orang itu tidaklah beriman."
Orang yang
berjuang berjihad dalam
jalan Allah SWT memasang
pedoman dalam jiwanya sendiri, pedoman
iman.
Adapun orang yang
tidak ada hakikat
iman, tidaklah ada yang akan diperjuangkannya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 163, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEMECAH BELAH AGAMA PADA ZAMAN MODERN
Segala yang kita urai paparkan sebelumnya, adalah hasil penyelidikan atas buah pikiran ahli-ahli tafsir yang telah terdahulu. Namun, pada zaman modern ini timbul lagi keadaan-keadaan baru yang membawa pecah-belahnya kekuatan Islam, secara baru pula. Orang bukan lagi berpecah-belah pada madzhab di dalam agama atau firqah-firqah yang terkenal, yang menimbulkan nama
Mu'tazilah, Khawarij, Syi'ah, Murji'ah dan sebagainya, yang telah tersebut namanya dalam sejarah perkembangan pikiran Islam.
Karena meskipun timbul madzhab dan firqah dalam Islam, perselisihan hanya terjadi dalam suasana sesama sendiri, dalam melakukan taat kepada Allah.
Misalnya di antara
ketaatan memegang yang tertulis, yaitu
Madzhab Salaf dan
kebebasan memakai pikiran, yaitu
Mu'tazilah.
Banyak terdapat aliran filsafat, baik mengenai urusan kenegaraan, ekonomi, maupun kemasyarakatan. Terdapat berbagai paham dan ajaran dengan berbagai nama. Seumpama sosialisme, komunisme, liberalisme, pragmatisme, demokrasi dan sebagainya. Orang-orang yang masih mengakui beragama Islam tetapi tidak mengkaji sedalam-dalamnya ajaran Islam sendiri, lalu meminjam atau mempertahankan ideologi-ideologi yang lain itu dan meninggalkan
Syari'at Islam sendiri.
Mereka mengambil sosialisme sebagai dasar negara mereka karena dunia sekarang katanya sedang diliputi oleh paham sosialisme. Bahkan ada di antara peniru itu yang berkata bahwa ajaran Islam tidak sesuai lagi dengan zaman. Ajaran Islam hanya sesuai dengan masyarakat Arab, tidak cocok dengan masyarakat kita. Padahal sosialisme yang mereka ambil alih dari ajaran orang lain terpaksa juga terkadang mereka sesuaikan dengan iklim negeri mereka sendiri. Dengan sendirinya, mereka berpecah-belah dari agama Islam dan pindah demikian saja pada ajaran lain. Padahal ajaran lain itu hanya buatan manusia yang bisa berubah karena perubahan ruang dan perubahan waktu.
Ada pula yang mengakui bahwa beberapa ajaran dari ideologi lain itu sesuai dengan Islam. Karena ajaran itu sesuai dengan Islam, mereka tinggalkan Islam itu sendiri dan mereka pilih ajaran lain itu. Padahal kalau mereka berpikir sehat, kalau memang ajaran lain itu ada sebahagian yang sesuai dengan Islam, mengapa tidak Islam saja mereka pertahankan dan lengkapi mana yang kurang dari segi pelaksanaan? Itulah sebabnya, kerapkali terdapat orang Islam yang taat mengerjakan shalat lima waktu, padahal mereka mempertahankan nasionalisme yang sempit. Itu pula sebabnya, ada ulama yang berpidato di muka umum dengan mengemukakan beberapa ayat dan hadits Nabi untuk membela sosialisme atau komunisme.
Islam adalah satu ajaran yang datang dari langit, mengandung Syari'at, ibadah, muamalah (kemasyarakatan) dan kenegaraan. Semua datang dari satu sumber, yaitu tauhid, kepercayaan kepada Allah. Ia tidak boleh dipreteli, misalnya dijalankan shalatnya saja, tetapi kenegaraannya diambil dari ajaran lain. Dituruti aturan nikah kawinnya saja, padahal ajaran ekonominya dikesampingkan.
Jika ada keyakinan bahwa ada ajaran lain untuk
mengatur masyarakat yang
lebih baik dari Islam,
kafir-lah orangnya,
walaupun dia masih
shalat.
Bahaya yang
menimpa Islam sekarang ialah bahwa
penganutnya sendiri meninggalkan ajarannya, lalu
memakai ajaran lain.
Mencela dan
mengatakan Islam tidak sesuai dengan
zaman modern, tetapi
orang-orang itu masih juga
mengakui dirinya orang Islam.
Mereka berpecah-belah dari agamanya dan
membentuk kelompok sendiri di dalam
mengekor kepada paham lain.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 357-358, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
RIBA. Kalau kamu telah mengaku termasuk orang beriman,
tinggalkan pekerjaan itu sama sekali. Itulah tanda beriman sebab cinta kepada harta telah kamu ganti dengan cinta kepada Allah.
"Akan tetapi, jika tidak kamu kerjakan begitu." (pangkal ayat 279). Artinya,
kamu telah
mengaku beriman, padahal
makan riba masih
diteruskan juga,
"Maka terimalah pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya."
Inilah suatu
peringatan yang
amat keras, yang dalam
bahasa kita zaman sekarang bisa disebut
ultimatum dari
Allah. Menurut penyelidikan kami,
tidak terdapat dosa lain yang mendapat
peringatan sekeras ancaman terhadap meneruskan
riba ini.
Ancaman yang demikian sudahlah patut sebab riba adalah suatu kejahatan yang meruntuh sama sekali hakikat dan tujuan Islam dan iman. Dia menghancur-leburkan
ukhuwah yang telah ditanamkan sesama orang beriman dan sesama manusia. Riba benar-benar pemerasan manusia atas manusia. Segelintir manusia hidup menggoyang-goyang kaki, dari tahun ke tahun menerima kekayaan yang limpah-melimpah, padahal dia tidak bekerja dan berusaha, sedangkan yang menerima piutang memeras keringat mencarikan tambahan kekayaan buat orang lain, sedangkan dia sendiri kadang-kadang hanya lepas makan saja; dia menjadi budak selama dalam berutang itu. Yang empunya uang hanya terima bersih saja, tidak mau tahu dari mana keuntungan yang berlipat ganda terkulai itu dia dapat.
Kalau sudah ada manusia yang hidup dengan cara begini, percumalah rasanya menegakkan ibadah dengan
jamaah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 554, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAUHID SEBAGAI PEGANGAN HIDUP
Pada ayat-ayat yang telah lalu itu telah diberikan penjelasan dasar
Tauhid sebagai pegangan hidup, yaitu
Tauhid Uluhiyah dan
Tauhid Rububiyah.
"Seperti itu pulalah telah mendustakan orang-orang yang sebelum mereka."
Artinya, suara-suara yang seperti ini bukan sekarang saja, bahkan orang-orang dahulu, umat nabi-nabi yang dahulu pun pernah, jika mereka terdesak dalam perbuatannya yang karut, mereka melepaskan diri dengan menyandarkannya pada takdir.
"Kalau bukan kehendak Tuhan, tidaklah kami akan begini."
Maka datanglah sambungan ayat lagi,
"Adakah pada kamu suatu ilmu yang bisa kamu keluarkan kepada Kami?"
Adakah pada kamu satu ilmu bahwasanya kamu sudah ditentukan akan sengsara? Sebab itu kamu tidak usah berikhtiar lagi? Kamu sudah ditentukan memang untuk jadi musyrik, sebab itu tidak perlu lagi mendengarkan ajaran Rasul tentang tauhid? Tidak ada! Ilmu itu tidak ada. Tidak pernah Allah memberi tahu nasib seseorang akan malang, nasib seseorang akan tetap menjadi kafir. Yang terang dan tegas diberitahukan Allah dengan perantaraan rasul-rasul-Nya, hanyalah bahwa seseorang diperintah percaya kepada Allah, diperintah mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Diperintah beriman dan beramal, berusaha. Berulang-ulang para rasul datang membawakan petunjuk Allah, menjelaskan ini adalah hak dan itu adalah batil. Mengancam masuk neraka siapa yang menyeleweng dari jalan yang benar, diberi kabar gembira dengan surga barangsiapa yang menuju jalan lurus yang digariskan Allah. Dan segala perintah atau larangan Tuhan sesuai dengan akal budi murni. Setiap orang ingin kepada yang baik dan setiap orang tidak suka kepada yang buruk dan barangsiapa yang berusaha, diberi hasil oleh Allah, dan kalau tidak berhasil tanda ada sebab tersembunyi yang menghalanginya, yang harus diselidiki.
Kamu sembah berhala, kamu buat pantang, tabu, pamali, dan sebagainya, bikinan khayal kamu sendiri. Kadang-kadang
hati kecil kamu sendiri mengakui bahwa
perbuatan itu
bodoh atau
goblok? Kalau dalam hatimu ada kemauan, niscaya kamu bisa membuang segala kepercayaan yang karut itu,
hawa nafsumu-lah yang bertahan, lalu kamu ambil
takdir untuk
tempat bersembunyi.
"Penyakit" ini
menular kepada
umat Islam sendiri, umat yang mengaku dirinya umat Muhammad saw. pada
zaman kemunduran sehingga
Sayyid Jamaluddin al-Afghani menulis sebuah rencana di dalam surah kabar
al-Urwatul Wutsqaa di Paris 90 Tahun yang lalu tentang
al-Qadha dan
al-Qadar. Bahwa kepercayaan pada takdir adalah rukun (tiang) keenam dalam aqidah dan imannya seorang Muslim. Jika iman bertambah tinggi mutunya sehingga menimbulkan Ruh atau semangat dan menimbulkan nur atau cahaya, pastilah kepercayaan pada takdir jadi pendorong buat berani menempuh hidup. Kata beliau, salah satu sebab kemenangan Islam dan ajaran Islam membanjiri dunia dalam masa seperempat Abad saja, lain tidak ialah karena kepercayaan kepada takdir.
Pejuang-pejuang, mujahidin yang
menyerbu ke medan perang, meruntuhkan parit-parit pertahanan musuh yang teguh sehingga menaklukkan Semenanjung Iberia di Barat dan Sungai Indus di Timur adalah karena
mujahidin itu
percaya pada
takdir bahwa
kalau tidak mati kata Allah, tidaklah akan mati, walaupun dalam penyerbuan itu
pedang musuh telah
berkilatan sekeliling leher. Sebaliknya, setelah iman menurun, mundur, redup, dan kemudian padam sehingga Islam hanya tinggal nama, datanglah penyakit
Jabariyyah (nasibku yang malang adalah takdir Allah). Dan
"kalau tidak atas kehendak Allah, tidaklah nasibku akan begini!". Dan sebagainya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 313-315, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ORANG-ORANG YANG ZALIM
"Maka, janganlah engkau jadi dari orang-orang yang bodoh." (ujung ayat 35).
Kaum Musyrikin itu merasa bahwa
pendirian merekalah yang benar. Oleh karena itu, mereka pertahankan mati-matian.
Padahal kebenaran yang dibawa Rasulullah yang benar, sebab dia datang dari wahyu, datang dari Allah. Kalau di sana mengatakan merekalah yang benar, padahal hakikat yang benar terletak di sini karena dia datang dari wahyu,
sudah pasti ada perjuangan. Sampai yang benar itulah yang menang. Itulah
ketentuan dari
kalimat Allah yang
satu kekuatan pun tidak dapat mengubahnya.
Berkata
Ahmad Syauqi, ahli syair Mesir yang terkenal:
Teguhlah pada pendapatmu di dalam hidup ini dan berjuanglah!
Karena sesungguhnya hidup itu ialah aqidah dan perjuangan.
Ayat ini wahyu kepada Rasulullah saw. niscaya beliau mengetahui akan hal itu.
Akan tetapi, tujuan sebenarnya ialah
kepada umat Muhammad sendiri bahwa
agamanya akan
selalu hidup di tengah-tengah
api perjuangan. Baru
keluar apinya Islam itu, setelah dia disangai, disalai, dan ditanak
di tengah-tengah perjuangan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 137-138, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan sesungguhnya Kami tahu, bahwa engkau, sempit dadamu lantaran apa yang mereka percakapkan." (ayat 97).
Dituduh gila, tukang sihir, tukang tenung;
dikatakan akan putus keturunan
(abtar), karena tidak beranak laki-laki. Diriwayatkan penyebar kabar bohong dan lain-lain.
Sebagai manusia pastilah
Rasul kadang-kadang merasa sempit dada, artinya merasa sakit hati, iba hati, karena serangan-serangan yang demikian terhadap dirinya.
Malahan dalam
beberapa ayat telah kita ketahui,
pernah terlintas dalam ingatan beliau,
lebih baik mati saja, lompati tebing curam. Semuanya tidaklah dianggap sebagai kesalahan dari beliau,
karena rasa-rasa yang demikian termasuk
"jibillat" manusia. Yang
pasti ada pada
setiap manusia yang
berperasaan. Rasa sedih kehilangan yang dicintai, rasa iba hati karena diejek dan diolok-olok, rasa marah karena dihinakan,
semuanya itu
termasuk perangai asli manusia, yang tidak bisa dikikis dan tidak dapat dihilangkan.
Cuma akal budi manusia disuruh mengendalikan dirinya, sehingga rasa-rasa yang demikian
jangan sampai mendorongnya akan bersikap yang salah. Maka perasaan hati luka, atau dada sempit lantaran celaan dan hinaan orang-orang yang mempercakapkannya itu telah diketahui oleh Allah, dan Allah tetap melindunginya. Dan untuk menguatkan jiwa menghadapi perjuangan, Allah ingatkan kepada beliau,
"Maka bertasbihlah, dengan memuji Allah engkau, dan jadilah engkau dari orang-orang yang bersujud." (ayat 98).
Bertasbih memuji Allah, dan sujud kepada-Nya.
Dekati Allah terus. Asalkan engkau tetap membuat hubungan yang rapat dengan Ilahi,
tidak suatu pun di dunia ini yang
akan dapat menggoncangkan engkau dan
mengganggu engkau.
Demikianlah wahyu Allah kepada Rasul-Nya, yang akan
menjadi pegangan dan
pedoman di dalam
menghadapi kewajiban menegakkan titah Ilahi di muka
orang-orang yang ingkar dan
tidak percaya.
Pedoman dan
pegangan yang
diberikan Allah kepada Rasul-Nya ini pulalah yang
selalu patut
menjadi pegangan kita umat Muhammad saw. yang
tetap tidak pernah padam cita-citanya menegakkan agama Allah dalam dunia ini.
Sampai datang
keyakinan yang
sejati, yaitu
mati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 156-158, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
RAKYAT DAN ULIL AMRI
Agama Islam mewajibkan rakyat taat kepada Ulil Amri, yaitu orang yang memegang pemerintahan dari mereka. Ayatnya berbunyi,
"Wahai orang-orang yang percaya, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan taatlah kepada Ulil Amri dari kamu." (an-Nisaa': 59).
Taatlah kepada Allah SWT yang telah mengatur hidupmu di dunia dan akhirat, taatlah kepada Rasulullah saw. yang membawa peraturan itu, dan taat pulalah kepada Ulil Amri mereka tidak menjabat khalifah karena meskipun negeri berkhalifah sebagaimana dahulu maka amir-amir dan raja-raja yang memerintah wajib juga diikuti perintahnya selama dia berdiri diatas pemerintahan yang sah.
Kalau semata-mata pertikaian di dalam
perkara furu' syari'at, misalnya
rakyat menganut paham "
KAUM MUDA" dan raja menganut paham "
KAUM TUA"
belumlah boleh rakyat itu
memaklumkan bughat, tidak mengakui kerajaan atau kekuasaan itu.
Cuma
dua perkara yang akan engkau dapat di dunia ini, wahai muridku.
Pertama, nama yang mulia,
kedua, keridhaan Allah SWT. Jika engkau berpegang teguh itu, terpeliharalah engkau dari bahaya yang datang dari tempat lain. Namun, kalau kepada yang lain engkau berlindung, engkau tak akan dapat mempertahankan diri, dan seorang pun tidak ada yang sanggup membelamu. Engkau tidak akan memperbaiki rakyatmu jika engkau sendiri fasiq. Engkau tidak dapat menunjukkan jalan jika engkau sendiri sesat.
Orang yang hendak memperbaiki orang lain, hendaklah sanggup memperbaiki dirinya lebih dahulu. Tidaklah orang mengharuskan orang lain, jika dirinya sendiri belum rusak. Oleh sebab itu, jika engkau hendak memperbaiki rakyatmu, perbaikilah dulu dirimu sendiri.
Apabila engkau hendak menghabiskan aib orang lain, bersihkanlah dahulu dirimu. Sekali-kali jangan engkau sangka bahwa lantaran engkau telah mengeluarkan suara tidak diikuti dengan kelakuan dan pekerjaan. Itu tidak sempurna jika kita tidak dituruti dengan perbuatan dan terus terang sejak dari dalam batin kemudian keluar.
Ingatlah bahwa manusia mempunyai tabiat bermacam-macam, ada yang baik dan ada yang buruk.
Musuh yang
paling besar adalah
akhlakmu yang
buruk itu, kawanmu yang setia ialah perangaimu yang mulia.
Oleh sebab itu, hendaklah senantiasa pertemukan akhlak jahat dengan yang baik. Jika marah,
lawan dengan
sabar.
Kebodohan dilawan dengan
ilmu.
Kelupaan lawan dengan
ingat-mengingati atau
waspada.
Ketahuilah bahwasanya manusia amat perlu kepada Ulil Amri. Oleh karena itu, Ulil Amri hendaklah bekerja dengan baik. Binasa manusia jika Ulil Amri-nya jahat.
Pemerintah dengan rakyat laksana kepala bagi seluruh anggota, tidak kekal lagi anggota yang tidak berkepala. Wali perlu memperbaiki rakyat, rakyat perlu memperbaiki wali, kekuatan yang sepihak bergantung kepada pihak yang lain, jika yang satu lemah, maka yang lain pun akan lemah pula.
Kesempatan kembali kepada
jalan Allah SWT ada pada kita semuanya. Jalannya masih terentang, baik untuk orang
santri dan
kiai, maupun untuk
orang elit dan
priyai.
Oleh sebab itu, hendaklah ditimbulkan dalam diri
minat ilmu agama yang meliputi
syari'at ibadah
dan sebagainya.
Habiskan permusuhan dan
dinding tebal yang
selama ini membentang di antara
golongan berpangkat dengan
golongan miskin. Seruan terhadap golongan di zaman yang sudah-sudah sepi sekali karena
bertahun-tahun lamanya
ulama-ulama Islam diajar pengecut dan
pengambil muka, padahal kesia-siaan ini telah
merugikan masyarakat dan
negeri.
(Buya HAMKA, Akhlaqul Karimah, Hal. 191-200, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Desember 2017).
Mufti Johor telah mengenal saya sebagai
KAUM MUDA dan
WAHABI dari Indonesia.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 70, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Tiap-tiap orang yang beriman itu adalah dia Islam, tetapi
tidaklah tiap-tiap orang
Islam itu
beriman."
(Syeikhul Islam IBNU TAIMIYAH).
WAJIB IMAN: ALLAH SWT BERSEMAYAM DI ATAS ARSY, TURUN KE LANGIT DUNIA, BERTANGAN, MEMPUNYAI BANYAK MATA.
BAB AQIDAH KLIK DISINI: (Aqidah
Abul Hasan al-Asy'ari dan
para pengikutnya,
Imam Malik, al-Auzai, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa'ad, asy-Syafi'i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaihi, dan
ulama-ulama ikutan kaum Muslimin yang lain,
yang dahulu dan yang kemudian).
Untuk menjelaskan
betapa besar kesalahan mengikuti hukum Allah dengan
separuh-separuh itu, sampai orangnya
dicap munafik, datanglah lanjutan
penjelasan Allah tentang
kedudukan Rasul-Nya.
"Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun, melainkan supaya ditaati, dengan izin Allah." (pangkal ayat 64).
Kedatangan Rasul bukanlah semata buat dipuja-puja, padahal pimpinannya tidak dituruti. Orang yang mengakui Rasul, tetapi ajarannya tidak diikut adalah munafik. Sekalian Rasul, bukan Muhammad saja, bahkan sejak pimpinan agama diturunkan Allah, semua diutus Allah adalah buat dipatuhi. Barangsiapa yang mengelak-elak atau separuh-separuh keluarlah dia dari lingkungan aturan Allah. Di ujung diberi ikatnya, yaitu dengan izin Allah. Diberi "ikat" dengan kata "izin Allah" supaya jelas bahwa yang ditaati bukanlah zat dari Rasul, dengan tidak bersyarat. Rasul ditaati sebab dia menjalankan perintah Allah. Sebab itu menaati syari'at yang dipimpinkan Rasul, berarti menaati Allah. Karena itu diizinkan taat kepada Rasul. Mendurhakai Rasul artinya mendurhakai Allah. Sebab Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan perintah Allah.
Penjunjungan tinggi Allah atas Rasul-Nya ini dikuatkan Allah pula dengan firman selanjutnya,
"Maka sungguh tidak, demi Allah engkau! Tidaklah mereka itu beriman, sehingga mereka bertahkim kepada engkau pada hal-hal yang berselisih di antara mereka." (pangkal ayat 65).
Itulah tanda mengakui pimpinan Rasul. Karena di antara umat sesama umat sewaktu-waktu akan terjadi perselisihan pendapat, perbedaan kepentingan, perlainan pikiran. Kadang-kadang karena bermaksud baik, tetapi jalan pikiran berbeda. Sebab cara memandang dan menilai soal tidak sama, kadang-kadang karena nafsu. Padahal Allah memberi kebebasan pikiran dan menganjurkan ijtihad sehingga timbul berbagai aliran atau madzhab. Masing-masing menyangka bahwa pihak merekalah yang benar. Atau masing-masing mencari manakah yang lebih benar. Hal ini bisa membawa bahaya yang berlarut-larut, meretakkan kesatuan umat bahkan membuat pecah, kalau tidak ada yang suka bertahkim, meminta keputusan hukum kepada Rasul. Sebab Rasulullah yang telah ditentukan Allah buat ditaati, buat penyambung kehendak yang diwahyukan Allah kepada umat manusia. Sebab itu asal ada selisih, lekaslah bertahkim kepada Rasul. Kalau tidak mau begitu,tandanya tidak beriman. Allah berfirman bahwa orang yang tidak mau memutuskan perselisihannya kepada Rasul, tidaklah orang yang beriman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 354-355, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEGALA MACAM ISME KECUALI ISLAM
Sukarno tidak keberatan berangkul-rangkulan dengan Komunis, asal Islam jangan tampil ke muka.
Pejuang-pejuang di
Konstituante adalah
saksi yang nyata tentang
sekularisme yang berarti memencilkan Islam.
Seketika
Front Islam memperjuangkan agar ditambahkan pada
UUD kalimat
Piagam Jakarta,
"Dengan
kewajiban menjalankan
Syari'at Islam bagi pemeluknya sebagai ayat B dari negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa."
Oleh karena itu, seluruh ideologi, golongan, dan partai, mulai dari PKI, PNI, PSI hingga Partindo dan Murba serta IPKI bersatu menolaknya.
Artinya, segala ideologi boleh berkembang dan boleh dicobakan.
Hanya satu yang disoroti dan
selalu dipandang berbahaya yaitu
ideologi Islam yang
jantan dan
konsekuen hendak
menegakkan Sunnah Nabi saw.
Kalian boleh menyebut Islam, tetapi jangan Islam yang diajarkan Rasul, jangan
DAULAH ISLAMIYAH, jangan
SYARI'AT ISLAM!
Kalian juga boleh duduk dalam pemerintah asal Islam kalian simpan, jangan diperjuangkan.
Hendak harta kami beri harta, hendak pangkat kami beri pangkat, tetapi kekuasaan tidak ada di tangan kalian.
(Buya HAMKA, Ghirah: Cemburu Karena Allah, Hal. 56-57, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GEMBIRA BUAT YANG MUNAFIK?
Setelah merdeka, mereka pula yang menjadi penghalang besar kalau
peraturan Islam akan
dijalankan dalam
masyarakat kaum Muslimin; Mereka merasa kalau mereka konsekuen
mempertahankan iman dan
berjuang menegakkan kehendak Allah, mereka akan
terpencil atau akan
diisolasi orang. Mereka bertanya, apa yang akan kita dapat, kalau kita tidak bertolak angsur sedikit juga dengan orang kafir?
Apa yang dapat diberikan oleh orang yang beriman itu kepada kita? Lantaran itu
mereka terimalah segala tawaran yang menggelora dan
mempesonakan dari pihak kafir,
walaupun agamanya tergadai. Dia
mendapat kemuliaan
Saraab (fatamorgana) dan
agamanya tertindas.
Bertambah lama bertambah kaburlah penilaian mereka terhadap kemuliaan pemberian Allah. Yaitu
kemuliaan hidup, harga diri dan
gengsi di sisi Allah dan
di sisi umat yang sadar, karena
dibawa hanyut oleh
arus kemegahan dan
kemuliaan di sisi yang
palsu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 493, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Masyumi sesudah
tiga kali memegang
Perdana Menteri dan
dua kali menjadi
Wakil Perdana Menteri, akhirnya
dibubarkan oleh
Presiden Soekarno. (3)
(3) Strategi catur yang dimainkan
Soekarno dalam
sejarah politik Indonesia dinamai
"Kabinet Kaki Empat", yaitu koalisi empat partai besar:
Masyumi, PNI, PKI, dan
Nahdhatul Ulama. Soekarno pun tahu bahwa
mustahil Masyumi akan
mau kerjasama dengan
Komunis. Dengan
ajakan yang
mustahil inilah,
Soekarno mulai mempermain caturnya,
menyisihkan Masyumi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 591, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Penulis tafsir ini telah mengalami sesuatu yang pahit ketika
ditahan dan
diperiksa polisi
secara aniaya. Pada waktu negara Indonesia ini telah mulai meninggalkan nilai-nilai keadilan, sebab kepala negara telah dipengaruhi paham tidak bertuhan (Komunis). Ketika mulai
diperiksa tidak berhenti-henti hampir sebulan lamanya, didatangkanlah
berbagai tuduhan yang
dibuat-buat oleh polisi itu sendiri
untuk menjerumuskan penulis tafsir al-Azhar ini.
Ketika diberikan jawaban-jawaban yang jujur; mereka tolaklah dengan
kata-kata kasar tidak berbudi,
"Saudara bohong!"
Dituduh berbohong bagi penulis, jauh lebih sakit ketimbang dipukul atau ditembak.
Itulah satu di antara sebab-sebab
penulis agak
tuli keluar
dari tahanan.
Kita yang orang biasa, yang di dalam diri telah tumbuh dengan baik rasa kejujuran dan
pertanggungjawaban di hadapan Allah, tuduhan berbohong lagi sakit,
apalagi bagi seorang rasul.
Apalagi bagi Muhammad Rasulullah saw.
Inilah yang diobati oleh Allah, Jangan engkau berduka cita!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 136, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI
AGAMA DAN NEGARA
Agama Islam tidaklah tegak jika dia dijauhkan dari masyarakat.
Pemeluknya dicap oleh Allah SWT sebagai
orang yang
zalim (aniaya),
kafir (tiada percaya sungguh) dan
fasik (durjana),
kalau sebagai orang Islam dia
tidak bercita-cita supaya
hukum Allah berjalan
dalam masyarakat.
Sebab itu, dengan sendirinya (karena perintah agamanya) adalah seorang Islam mempunyai cita-cita perjuangan bernegara.
Tidaklah sempurna Islamnya itu kalau undang-undang dan perikehidupannya tidak diatur dengan aturan yang didasarkan kepada
peraturan dasar
dari Allah SWT.
Jadi adalah "masyarakat Islam" suatu
cita-cita yang
setinggi-tingginya dalam
hati tiap-tiap orang Islam yang
memahamkan agamanya.
"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (an-Nisaa': 65).
"... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ..." (al-Hasyr: 7).
"... Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim." (al-Maa'idah: 44).
Dan dua lagi ayat yang berdekat-dekatan,
"... Maka mereka itulah orang-orang fasik." (al-Maa'idah: 47).
"... Maka mereka itulah orang-orang zalim." (al-Maa'idah: 45).
Jelas dan
nyata jalan ini,
tidak ada jalan untuk
ragu.
*****
Pada suatu hari
kawanku bangsa Indonesia yang telah memahami ajaran
Karl Marx dan telah menjadi
seorang Marxis yang
utuh dan
kuat, bertukar pikiran
dari hati ke hati, yang
tiada ditumbuhi hawa nafsu, hanya dalam
rasa cinta akan
kebenaran.
Setelah 3 kali kami bertemu,
terloncatlah dari mulutnya di hadapan beberapa teman lain,
"Kalau begitu yang Islam, biarlah saya diakui sebagai seorang Islam. Saya mau menjadi Islam!"
Kawan yang lain tertawa, tetapi dia berkata sungguh-sungguh dan akhirnya saya pun menjawab dengan sungguh-sungguh pula,
"Saya percaya apa yang dikatakan Bung Fulan itu! Islam sebetulnya ada dalam hati tiap-tiap kita! Terlebih-lebih kita bangsa Indonesia! Dalam bakat dasar jiwa telah berlapis-lapis perasaan demikian karena warisan jiwa nenek moyang!"
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 138-143, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
I
SLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI
AGAMA DAN NEGARA
Kita telah berjuang mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, lima tahun lamanya. Siang dan malam tiada berhenti-henti, menyerang dan menangkis. Tiga kali kita telah diuji dengan ujian yang maha hebat masuknya tentara sekutu, perang kolonial pertama dan perang kolonial kedua.
Mari kita cari lagi, di mana
sumber telaga kekuatan pertahanan semesta (people defence) itu.
Sekali lagi Tuan harus mengaku!
Di surau! Di pesantren!
Dengan tidak mengingat apakah dia mungkin diangkat orang menjadi menteri, atau menjadi jenderal,
kiai-kiai telah
mengerahkan muridnya, menempuh
sabilillah, menyusun diri menjadi
hizbullah (tentara Allah SWT), berjalan pada
sabilillah (jalan Allah SWT),
mengejar syahid!
Hidup dengan
kemerdekaan dan
mati dalam
syahid, hanya
berpedoman pada
ridha Allah SWT!
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 117-118, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
Dunia dan moralnya ini sekarang amat bobrok. Kepada bangsa-bangsa yang memandang dirinya "cabang atas" di zaman sekarang harus disumbatkan
kebenaran ayat kitab suci ini,
kalau perlu dengan bambu runcing, seperti yang
dilakukan bangsa Indonesia kepada
Belanda.
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 236, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
PANGGILAN BERSATU
"Cabang atas" kehilangan pribadi Islam, karena
terpesona oleh
pribadi Barat!
Sifat laki-laki tulen pun telah
hilang, karena
lama "dibetinakan" oleh
penjajahan.
Tak tergetar hatinya jika
undang-undang dan
hukum agamanya disisihkan dan
diganti dengan
undang-undang Barat, yang berpokok pangkal dari undang-undang
Romawi dan
Yunani.
Ulamanya kehilangan gairah, sehingga
tidak tersinggung perasaannya buat
berjuang menegakkan agama di tengah
masyarakat yang telah
sesat!
Sebagaimana sabda Nabi,
"Akan datang kepadamu suatu zaman, datang musuh bertubi-tubi dari segala pihak laksana bubuk memakai kayu." Seorang sahabat bertanya, "Apakah lantaran sedikit bilangan kami pada waktu itu, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Bahkan bilanganmu laksana buih di lautan, tetapi telah hilang hebat kebesaranmu, karena kamu ditimpa dua penyakit. Pertama, cinta kemewahan dunia; Kedua, takut menghadapi maut."
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 130-131, Penerbit Galata Media, Cet. I, Januari 2018).
POKOK IDEOLOGI
"Dan sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (al-Mu'minuun: 52).
Kalau begitu agama Islam adalah agama kesatuan. Agama-agama yang dinamai Yahudi atau Nasrani (dalam kepercayaan Islam) adalah riwayat yang sambung-bersambung yang isinya pun Islam juga.
Namun, karena pemeluk agama-agama itu tidak mengingat perubahan-perubahan zaman dan tempat, mereka tetap berpegang kepada yang lama, memandang "asing" kelanjutan itu, tetapi keyakinan kita atas kemajuan berpikiran manusia, memberi kita harapan bahwa mau tidak mau akan tercapai juga kesatuan agama dalam kebenaran.
Islam adalah agama kesatuan. Menyatukan ibadah dengan pergaulan hidup, menyatukan kepercayaan dengan pergaulan hidup, menyatukan ruh dengan benda, menyatukan pokok-pokok ekonomi dengan pokok-pokok moral, menyatukan dunia dengan akhirat, menyatukan bumi dengan langit.
Dari pandangan kesatuan besar itulah asal mula segala undang-undang dan hukumnya. Perintah-Nya dan larangan-Nya. Tujuannya dan batasnya. Dari sanalah dia memandang politik negara dan siasat ekonomi, pembagian keuntungan dan pencatuan, hak dan kewajiban.
Singkatnya kepada pokok yang besar itulah menyusu segala dahan, cabang dan ranting, bunga dan buah.
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 189, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
Inilah
peringatan kepada
penolak-penolak kebenaran itu. Kebenaran adalah besar dengan sendirinya. Dia
tidak dapat diikat oleh
masa, oleh
ruang, dan
waktu.
Dia laksana air yang mengalir; dia akan mengalir terus. Bertemu dengan bukit, bukanlah bukit itu didakinya, tetapi dikepungnya. Bertemu dengan lubang, dia pun berduyun-duyun menimbun lubang itu sampai rata, maka yang datang kemudian mengalir terus pula kepada tujuannya.
Mana yang menghalangi jalannya akan hancur sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 52, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH AL-FURQAAN
PENDAHULUAN
Sebagai Muslim
tidaklah kita akan sampai ke
suasana Madinah sebelum melalui
suasana Mekah.
Surah al-Furqaan adalah suatu di antara surah Mekah, di ayat yang pertama sekali sudah terpancang nama surah ini, al-Furqaan artinya pemisah di antara yang hak dan yang batil,
Yang
BENAR dan yang
SALAH.
JAHILIYYAH dengan
ISLAMIYAH,
SYIRIK dengan
TAUHID.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 341, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Supaya Dia tetapkan kebenaran dan Dia hapuskan kebatilan." (pangkal ayat 8).
Yaitu, supaya
MENANGLAH ISLAM atas kufur;
Menang
TAUHID atas
SYIRIK.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 668, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEGALA PENYELEWENGAN dari
garis agama yang benar lalu
dikatakan bahwa itu pun agama, termasuklah dalam
JAHILIYYAH.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 56, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TEGAKKANLAH WAJAH KEPADA AGAMA
"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan." (ujung ayat 31).
Sampai sekarang masih banyak terdapat
orang Islam, mengerjakan
shalat lima waktu, mengucap
dua kalimat syahadat, namun
mereka masih
MUSYRIK.
Mereka masih memohonkan barang sesuatu keinginan kepada Allah SWT dengan
perantaraan manusia,
bahkan dengan
perantaraan tulang-tulang dalam kubur.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 63, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Bahkan ada yang
lebih jahat lagi, yaitu mereka persekutukan yang lain dengan Allah; Kalau orang
musyrik dahulu kala itu berkata bahwa yang menolongnya ialah
al-Laata, al-Uzza, dan
Manaata. Dan sampai sekarang ini dalam
kalangan orang Islam yang tauhid dalam jiwanya telah berkacau dengan
syirik ada yang mengatakan bahwa yang menolongnya ialah
keramat anu atau
wali di
kuburan anu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 14, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Maka dapatlah
disimpulkan bahwa
memuja kubur dengan
segala hiasannya itu, di antaranya
menghadiahkan pahala membaca Al-Qur'an kepada beliau yang terkubur, adalah termasuk dalam
rentetan pekerjaan
syirik belaka." (Buya HAMKA).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 509, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BAPAK REVOLUSI ISLAM
Disediakannya segenap hidupnya untuk membangkitkan seluruh alam Islam supaya serentak pula menentang pemerintahan sendiri yang bersifat zalim sebab kezaliman raja kepada rakyat itulah yang memudahkan datangnya penjajahan asing.
Di tiap-tiap negeri yang telah ditinggalkannya terbit api.
Di India timbul berontak, di Mesir berontak pula Arabi Pasha. Di Persia rajanya sendiri dibunuh orang, yang membunuh itu ialah suruhan pemimpin itu sendiri.
Pemimpin itu ialah
Sayyid Jamaluddin al-Afghani.
Lantaran bahayanya yang amat besar pada pandangan Inggris, ia pun diasingkan ke Eropa.
Dikelilinginya negeri-negeri besar di Eropa, menyalakan kebesaran Islam.
Sehabisnya terjadi revolusi Irabi Pasha di Mesir, muridnya, Syekh Muhammad Abduh yang terbuang ke Suriah, dipanggilnya ke Eropa supaya sama-sama mengeluarkan surat kabar
al-Urwatul Wutsqa yang masyhur di Paris.
Surat kabar itu hanya dapat diterbitkan 8 nomor saja sebab dilarang masuk ke negeri-negeri yang di bawah kuasa Inggris.
Dia dipandang Inggris sebagai musuh nomor satu!
Meskipun hanya 8 nomor, tetapi pengaruh surat kabar itu sangat besar membangunkan dunia Islam sehingga rasa putus asa menghadapi kekuasaan Barat, kian lama kian hilang. Apalagi artikel-artikel yang tertulis di dalamnya penuh bersemangat terutama artikel
Alya'su (putus asa),
Aljubun (pengecut),
Al-amal (cita-cita).
Betapa tidak, bukankah ianya, buah pena 2 orang pujangga besar? Kabarnya konon menurut keterangan
Sayyid Rasyid Ridha, artikel itu adalah buah pikiran
Jamaluddin al-Afghani dan
ditulis oleh
Syekh Muhammad Abduh!
Pikiran yang tinggi oleh pena yang tinggi!
Boleh dikatakan bahwa Jamaluddin al-Afghani adalah mujaddid Islam yang sebesar-besarnya yang ditimbulkan Allah SWT untuk membangunkan kaum Muslimin dari segi percaya kepada kekuatan diri sendiri dan mengorbankan semangat pertentangan kepada keserakahan bangsa Barat.
Beliau ingatkan bahwa
api kebencian Barat kepada
Islam pada
Perang Salib belumlah pudar.
Penjajahan sejak zaman Portugis
sampai kini adalah
sambungan dari
Perang Salib.
Kaum Muslimin, raja-rajanya, ulama-ulamanya, pemimpin-pemimpinnya harus sadar dan bangun!
Namun, ia dipanggil oleh
Sultan Abdul Hamid supaya tinggal di dekat dia, di
Turki.
Setelah masuk
di Turki, ditawan dan
dimasukkan ke dalam "sangkar emas" diberi istana indah dan diintip tiap-tiap siang dan malam gerak-geriknya,
akhirnya mati dengan cara amat menyedihkan.
Setelah matinya,
surat-suratnya disita atas perintah Sultan takut
ancaman kerajaan-kerajaan Barat atas dirinya kalau
"singa" ini
tidak dikurung!
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 73-75, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
Bangunlah wahai Kaum Muslimin dari tidur nyenyakmu,
Bersatulah menentang penjajahan yang telah menghancurkan sisa-sisa kekuatan yang ada padamu,
Tegak dan lawanlah raja-rajamu sendiri yang menjadi penghalang dari kebangkitanmu.
Bebaskanlah jiwamu daripada
KHURAFAT, SYIRIK dan
BID'AH yang telah
menyebabkan kamu hancur!
-Jamaluddin Al-Afghani.
(Buya HAMKA, Ayahku, 137, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
XII. Muhammad Saw. Orang Besar yang Telah Mengeluarkan Manusia dari Kejatuhan
Di dalam Islam telah datang
Muhammad bin Abdul Wahhab dan
Sayid Jamaluddin al-Afghany.
Pemikir dan
pejuang yang
menyeru orang
supaya kembali kepada
jalan yang telah
dibawa oleh Nabi Muhammad juga.
Tidaklah cukup kitab untuk
memaparkan jasa masing-masing dari
pejuang itu.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 377-378, Republika Penerbit, 2015).
PERINGATAN TENTANG KAUM 'AD!
"Sesungguhnya telah Kami teguhkan kedudukan mereka pada barang yang tidak Kami teguhkan kamu padanya." (pangkal ayat 26).
"Kedudukan mereka diteguhkan."
Baik karena
bagusnya edaran
ekonomi atau karena
tingginya mutu pembangunan, sehingga terkenallah mereka dengan berbagai keahlian membangun rumah-rumah yang indah sebagai tempat tinggal.
Ayat ini menjelaskan bahwasanya
kaum 'Ad itu telah mencapai
kecerdasan yang
tinggi sekali.
Ada tiga unsur yang berbeda sebutan bersatu hakikat, yaitu
keindahan, keadilan, dan
kebenaran.
Orang yang kesannya telah sampai akan merasakan bahwa indah, adil, dan benar adalah sifat belaka daripada satu Zat, yaitu Yang Maha Kuasa: itulah Allah!
Ini tidak dipahami oleh
kaum 'Ad.
Memang mereka merasakan ada kekuasaan Maha Tinggi, Maha Kuasa Mutlak, tetapi sayangnya mereka beranggapan bahwa dia itu adalah banyak, menjadi tuhan-tuhan.
"Mengapa tidak menolong kepada mereka apa yang mereka ambil selain dari Allah itu menjadi tuhan-tuhan untuk mendekatkan mereka?" (pangkal ayat 28).
Siang malam mereka tunggang-tungging memuja, membakar kemenyan, bersimpuh-simpuh meletakkan segala kepercayaannya dan pengharapannya kepada yang selain Allah itu.
Sekarang mereka telah kena murka dari Allah Ta'aala sendiri, telah dihancurkan, dihanyutkan, dibinasakan dengan badai dan berbagai adzab siksaan.
Mana dia yang kamu sembah selain Allah itu? Mana dia? Mengapa dia tidak datang menolong dan membela? Mereka membisu?
"Bahkan mereka telah menyesatkan mereka!"
Berhala-berhala dan segala macam yang mereka sembah selain Allah itu telah diam dalam seribu bahasa karena mereka tidak mempunyai kuasa apa-apa, bahkan yang menyembah dan memuja mereka itulah yang lebih berkuasa, yang lebih bisa bergerak.
"Begitulah kebohongan mereka dan apa yang mereka karang-karangkan itu." (ujung ayat 28).
Begitulah dalam ayat-ayat ini dijelaskan sebab-sebab datangnya adzab dan siksa sehingga sampai hancur, hanya tinggal bekasnya, hanya tinggal rumah-rumah yang telah kosong dan orangnya habis disapu siksaan.
Sebab utama dan semuanya ini ialah karena lupanya manusia akan kondisi dirinya, akan kelemahannya, akan masanya yang sangat terbatas di dunia.
Yang tidak benar, yang khayal itulah yang mereka percayai.
Takhayul dan
khurafat, pikiran kacau mereka berebut memegang, tetapi kebenaran sejati mereka singkirkan.
Maka datanglah kebinasaan dan bila kebinasaan datang, tidaklah dapat diperbaiki lagi.
Cuma orang yang datang di belakanglah yang
mestinya tidak menempuh jalan yang salah itu lagi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 310-312, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Penulis
Ibnu Katsir dalam tafsirnya,
"Yang dimaksud dengan ini ialah membangkitkan kesadaran dalam jiwa agar kalau hendak mencari kemuliaan carilah kemuliaan yang di sisi Allah dan menghadapkan segenap perhatian kepada ibadah pengabdian kepada Allah, dan masuk dalam barisan hamba-hamba Allah yang beriman. Karena dalam barisan itulah akan tercapai kemenangan abadi pada hidup di dunia ini dan pada hari berdirinya kesaksian kelak!"
Berkata
al-Hakim,
"Ayat ini menunjukkan atas wajibnya mencari pimpinan dan teman dari orang-orang yang beriman, dan dilarang memberikan pimpinan kepada orang kafir."
"
Berteman dengan
orang kafir tidaklah terlarang.
Bahkan orang
kafir, sebagai Ahlul Kitab yang berlindung di bawah kekuasaan pemerintahan Islam,
wajib dijamin keamanannya. Tetapi
menyerahkan pimpinan, terutama dalam hal yang akibatnya akan menyinggung agama, itulah yang
wajib dipantangkan." (Buya HAMKA).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 492, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
AL-QUR'AN: LAFAZH DAN MAKNA
Al-Qur'an ialah
lafazh dan
maknanya. Al-Qur'an ialah yang bahasa Arab itu. Dan, kalau ia diterjemahkan, nama
terjemahan itu tetap terjemahan,
bukan Al-Qur'an.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 23, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEPENTINGAN DAKWAH
Hadits pertama menjelaskan bahwa lemahnya dakwah akan membawa malapetaka besar, yang kalau malapetaka itu datang, sudah sulit membendungnya.
Pada hadits kedua dijelaskan lagi buat menyuruh atau berdakwah untuk menyadarkan raja atau penguasa, atau kepala negara, pemegang tampuk kekuasaan, mencegah dan membendung kezalimannya, dan berani menuntut keadilan dan kebenaran, adalah jihad yang sangat afdhal.
Hadits yang ketiga meletakkan kewajiban menegur dengan tangan sebagai kewajiban tingkat pertama. Menegur dengan lidah sebagai kewajiban tingkat kedua. Dan menegur dengan hati adalah yang paling bawah dan disebut sebagai iman yang paling lemah.
Hadits keempat memperkuat hadits ketiga ini, bahwa di belakang menegur dengan hati (iman lemah) itu tidak ada lagi yang patut sebagai iman, walaupun sebesar biji sawi.
Di sini kita diberi tuntunan bahwa jika kita merasakan umat dakwah itu sedang lemah, janganlah dia menyatakan setuju dengan kezaliman itu; jangan buka mulut. Tunjukkan bahwa engkau tidak suka dengan sikapmu yang diam; tutup mulut! Karena kalau tidak tutup mulut, kalau hendak bercakap juga, akhirnya akan terperosok kepada menyetujui perbuatan zalim, karena tenggang-menenggang atau karena takut. Akhirnya berlawanan dengan hati sanubari sendiri. Maka, timbullah sikap
munafik.
Dari
hadits ketiga dan
keempat ini kita melihat lagi betapa besarnya tugas yang terpikul di atas pundak umat dakwah itu.
Pertama sekali, dia
wajib berusaha
merebut kedudukan yang memungkinkan dengan tangan dia dapat menegakkan yang ma'ruf dan memerangi yang mungkar. Artinya ialah
kekuasaan. Kalau itu tidak tercapai, hendaklah lidahnya kuat mengatakan, yaitu kewibawaan; sehingga walaupun tidak atau
belum dapat menguasai negara, tetapi lidahnya dan ucapannya didengar orang. Kalau keduanya belum tercapai, lebih baik diam, bahkan tolak kemungkaran itu dengan hati, tutup mulut, sampai kekuatan membuka mulut atau mengangkatkan tinju tercapai. Sebab itu, berdiam diri bukan berarti berhenti. Sebab, berhenti artinya mati.
Inilah
beberapa tuntunan tegas dari
hadits tentang
dakwah.
Selama kesadaran dakwah masih ada, selama itu pula kemenangan dan kejayaan akan dapat dipelihara dan akan dapat dicapai kembali kalau dahulu telah pernah terlepas dari tangan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 20-23, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GARA-GARA KAUM MUNAFIK
"Yang demikian itu ialah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian mereka kafir." (pangkal ayat 3).
Maka datanglah
peringatan Allah,
"Mereka itu adalah musuh."
Bagaimanapun senyumnya,
bagaimanapun gagahnya,
bagaimanapun manis mulutnya,
yang terang ialah bahwa
mereka musuh dalam selimut, yang
lebih berbahaya daripada
musuh yang datang dari luar.
"Allah mencelakakan mereka!"
Tegasnya, sebagaimana ditafsirkan oleh
Ibnu Isa ialah bahwa
mereka akan
dikutuk, dilaknat oleh
Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 150-151, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik."
Yaitu orang-orang yang tidak mau percaya, tetapi berpura-pura percaya. Orang-orang yang "telunjuk lurus, kelingking berkait",
berlainan ucapan mulutnya dengan kenyataan perbuatannya, dan disebut juga
musuh dalam selimut.
Pada hakikatnya kalimat, "Perangilah orang-orang kafir" bukanlah dimaksudkan semata-mata berperang yang bisa diartikan orang pada umumnya, yaitu mempergunakan senjata dengan kekerasan. Sebab pokok kata yang diartikan ialah jihad. Dan arti jihad yang lebih dekat ialah kerja keras dengan segala kesungguhan. Atau berjuanglah! Atau lawanlah, tentanglah, desaklah orang-orang kafir itu. Yaitu dengan melakukan segala macam usaha, dengan harta, dengan tenaga, dengan lisan, dengan tulisan.
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa menghadapi orang-orang kafir itu bukan saja dengan pedang, tetapi juga dengan pelajaran yang baik, dengan dakwah, pelajaran yang baik, juga dengan doa, dan seruan.
"Dan bersikap keraslah terhadap mereka."
Ahli-ahli tafsir menafsirkan bahwa seruan jihad adalah lebih umum daripada seruan bersikap keras. Memerangi kekafiran tidak selalu mesti secara keras, kadang-kadang musuh dapat ditundukkan dengan sikap lemah lembut, atau dengan hujjah (alasan) yang tepat.
Tetapi
sikap keras hendaklah dilakukan kepada
orang-orang munafik. Mereka
tidak boleh diberi hati!
"Tempat pulang mereka ialah Jahannam."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 225, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERANG KHANDAQ
"Dan meminta izin sebagian dari mereka kepada Nabi. Mereka berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami telanjang."
Artinya rumah-rumah kami tidak ada yang menjaga, anak-anak dan istri tidak ada yang menunggui mereka, takut kalau-kalau dirampok atau didatangi orang yang tidak disenangi. Hanya kami sajalah yang akan dapat memelihara dan menjaga keamanan rumah tangga kami itu.
Alasan yang mereka kemukakan itu hanyalah dicari-cari belaka. Ujung ayat telah
membuka rahasia yang sebenarnya,
"Dan bukanlah rumah-rumah itu telanjang."
Rumah tangga itu aman dan sentosa. Tidak ada orang dalam kota Madinah yang akan sampai sejahat itu, mengganggu rumah tangga seseorang yang tengah turut mempertahankan kota mereka dari serbuan musuh.
"Tidak ada kehendak mereka selain dari lari." (ujung ayat 13).
Mereka ingin
lari dari perjuangan karena
iman lemah atau
tidak ada sama sekali.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 159, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUKUMAN KEPADA BANI QURAIZHAH
Ali bin Abi Thalib pemangku bendera atau petaka perang berseru,
"Seluruh brigade iman, marilah maju. Saya sendiri ingin hendak merasakan apa yang pernah dirasakan oleh pamanku Hamzah bin Abdul Muthalib, mati hancur badan saya, atau saya kuasai benteng ini seluruhnya. Maju!"
Maka berlompatanlah
brigade iman itu, di dalamnya termasuk pahlawan besar
Zubair bin Awwam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 184, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Di dalam satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri, ada tersebut bahwasanya di dalam surga itu ada
100 derajat (tingkat) yang telah disediakan Allah untuk orang-orang yang berjihad pada jalan Allah. Jarak di antara
satu tingkat dengan yang lain,
sejauh jarak langit dan bumi.
Dalam Perang Uhud, ada diriwayatkan bahwa seorang pemuda melalui malam pertama perkawinan. Pagi-pagi sebelum dia mandi janabat, terdengar olehnya di halaman tentara Islam telah berangkat. Lalu dilekatkan celananya, disandangnya alat senjata dan dia kejarnya angkatan perang itu, lalu pergi bersama-sama berjuang dan dia mati syahid dalam perjuangan itu. Di waktu itu Allah tidak menyuruh periksa lagi mengapa dia belum mandi janabat; dosanya telah diampuni!
Dalam peperangan penaklukkan benteng Yahudi di Khaibar, seorang budak hitam pengembala telah masuk Islam pagi-pagi dan turut berjuang tengah hari. Sebelum dia sempat mengerjakan shalat Zhuhur dia telah mencapai syahidnya. Tidak sempat mengerjakan shalat Zhuhur. Hal kecil-kecil telah habis apabila orang telah membuktikan imannya dengan kesanggupan jihadnya, apatah lagi kalau nyawa yang telah dia berikan.
Dalam satu hadits yang
shahih Rasulullah pernah mengatakan bahwasanya segala dosa di antara seorang hamba dan Tuhannya, telah diampuni Allah apabila hamba itu telah syahid pada jalan Allah,
kecuali hanya utangnya kepada manusialah yang
tidak dibebaskan oleh Allah, sebab itu adalah sangkut-pautnya dengan manusia.
Maka seorang yang beriman, apabila dibacanya ayat ini, diketahuinya bahwa Allah Pengampun dan Penyayang telah memberi ampun dan kasih sayang pula kepada orang itu. Mengapa pula dia akan keberatan meniru sifat Allah, yaitu
memberi ampun dan
menyayangi, memberi maaf dan
melepaskannya dari utang?
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 410-411, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAN BELUM! ISLAM YA!
"Jika adalah kamu semuanya benar-benar jujur." (ujung ayat 17).
"Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Pengampun."
Atas
kelancangan mulut
mengakui diri telah
beriman.
Barangsiapa yang
berani mati karena
memperjuangkan nilai
suatu pendirian, barulah berarti hidup yang dia jalani.
Orang yang seperti ini sudah
boleh menyebut bahwa
dia beriman!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 433-435, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IBRAHIM MENGHANCURKAN BERHALA
"Dan demi Allah." (pangkal ayat 57).
Nabi Ibrahim telah mulai perkataannya dengan sumpah. Tandanya beliau berkata bersungguh-sungguh, bukan bermain-main.
"Kami mendengar seorang anak muda yang menyebut-nyebut mereka, kata orang namanya Ibrahim." (ujung ayat 60).
Dari kedua ayat ini, ayat 60 dan 61 kita mendapat
beberapa pelajaran.
Pertama ialah tentang keadaan Nabi Ibrahim waktu menghancurkan berhala, yaitu dia masih terhitung
anak muda!
Yang berani mengerjakan pekerjaan nekad begitu memang hanya anak muda.
Kita melihat di dalam
Al-Qur'an beberapa kali cerita tentang
pekerjaan penting dikerjakan oleh anak muda.
Yang menyembunyikan diri ke dalam gua, dalam surah al-Kahf, ialah
beberapa orang anak muda, karena keyakinan terhadap Allah yaitu berpegang kepada
tauhid amat berlawan dengan kepercayaan kaumnya yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Di dalam surah al-Kahf,
pemuda-pemuda itu 2 kali mendapat pujian. Pertama di ayat 10, kedua di ayat 13.
Demikian pentingnya darah muda, sehingga
Ibnu Abbas pernah berkata,
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidak pula diberi Allah ilmu, melainkan di waktu muda."
Lalu beliau baca ayat 60 surah al-Anbiyaa' ini sebagai alasan.
Nabi Musa pun membawa anak muda bernama
Yusya' menjadi temannya pergi mencari
Nabi Khidhir (disebut dalam surah al-Kahf ayat 60), yang disebut
fatahu, ialah karena dididik akan jadi pengganti beliau nanti. Di zaman sekarang, dinamai
kader.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 46-49, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Tidaklah ada yang berbantah-bantahan tentang ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir." (pangkal ayat 4).
Yang dimaksud dengan
berbantah-bantahan atau membantah ayat-ayat Allah ialah orang yang menanggapi ayat Allah dengan
cara batil, dengan
tidak jujur, semata-mata hanya hendak menolak kebenaran, atau
menyalahartikan dan
menyelewengkan maksudnya.
"Maka janganlah membuat silau engkau bersimpang-siur mereka di dalam negeri-negeri." (ujung ayat 4).
Sudah dijelaskan bahwasanya
orang yang mencari saja
pasal-pasal yang
akan dibantah dari ayat-ayat Allah
tidak lain adalah
orang kafir. Kalau tidak ada sikap kufur tidaklah mereka akan berani bersikap begitu tidak sopan.
Biasanya orang-orang itu kaya, berkuasa atau
merasa diri pintar. Ini banyak kita alami dalam kita mempertahankan agama kita yang kita cintai ini; Ayat 4 ini telah menegaskan bahwa orang-orang pembantah ayat-ayat Allah ini tidak lain adalah orang-orang kafir.
Orang yang beriman sejati jangan sampai terpesona.
"Bahwasanya mereka adalah penghuni neraka." (ujung ayat 6).
Maka,
jihad menegakkan agama Allah itu tidaklah akan berhenti karena masih akan banyak di tiap pergantian masa, orang kafir yang membantahnya. Tetapi
tantangan dan
bantahan itu jualah yang
menambah ujian imannya
orang yang
beriman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 75-78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUSA DAN FIR'AUN
Kamu sendiri yang terlebih dahulu
harus bersedia menumpahkan usaha,
ikhtiar, darah, dan
air mata untuk itu.
Inilah pokok nasihat dari
Musa untuk menghilangkan
keluhan dan
putus asa kaumnya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 506, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ADAM DAN ISTRINYA KENA PERDAYAAN IBLIS
"Maka me-waswas-kan Setan kepadanya." (pangkal ayat 120).
Kata
waswas kita salinkan dalam aslinya, karena kalimat itu pun telah terpakai dalam bahasa Indonesia, berkat pengaruh Islam.
Misalnya,
"Waswas hatiku melepaskan anakku belayar!", maksudnya ada suara
keengganan dalam hatinya yang tidak terkatakan.
Maka menyelinaplah
Iblis ke dalam hati Adam,
memasukkan waswas, atau suara-suara yang dapat
menimbulkan ragu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 619, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DUA ORANG MEMOHON PENYELESAIAN PERKARA
Maka tersebutlah dalam sejarah bahwa seorang Khalifah Bani Umayah, yang bernama
al-Walid bin Abdul Malik, bertanya kepada ulama besar
Abu Zar'ah,
"Apakah seorang khalifah akan dihisab juga di hari Kiamat? Engkau telah banyak membaca kitab orang dulu-dulu, dan Al-Qur'an pun telah engkau selidik. Bagaimana katanya di sana?"
Abu Zar'ah menyambut,
"Ya Amirul Mu'minin, bolehkah aku bercakap?"
"Boleh. Bebas. Katakanlah terus-terang, engkau aman." Jawab
Amirul Mu'minin.
Lalu berkata
Abu Zar'ah,
"Ya Amirul Mu'minin, andakah yang lebih mulia di sisi Allah atau Nabi Dawud? Nabi Dawud berkumpul padanya nubuwwat dan khilafat, namun dia diwajibkan oleh Allah menghukum kepada manusia dengan benar dan jangan memperturutkan hawa, dan diancam bahwa orang yang memperturutkan hawanya ialah orang yang lupa akan hari perhitungan."
Khalifah terdiam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 11-12, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BOHONG DI DUNIA
Berusahalah menghindarkan diri dari dusta. Sebab dengan menghindari berbuat dusta, jiwa bisa maju. Kelemahan diri sendiri dapat ditolong oleh orang lain, asal kita jujur menunjukkan siapa diri kita. Hidup kita bukanlah rahasia, tidak sukar untuk orang lain mempelajarinya.
"Sekali dusta, tetap dusta."
Dusta adalah pintu menuju bahaya yang amat besar. Orang-orang pendusta tidak dapat dibawa serta menuju suatu cita-cita yang mulia. Orang-orang pendusta akan lari apabila bertemu bahaya di dalam menghadapi perjalanan hidup yang sukar. Di manakah di dalam kehidupan ini yang tidak menghadapi kesukaran?
Orang-orang pendusta adalah
pengecut, mengelak karena
takut bahaya. Padahal mengelak dari bahaya merupakan bahaya yang teramat besar.
Orang-orang yang
berdusta akan mendapat gelar yang
sangat hina, yaitu
di dalam Islam disebut
munafik.
Siapakah orang-orang munafik itu?
Menurut Rasulullah saw., ada
3 ciri orang munafik. Apabila ada pada diri seseorang, ia
terkategori seorang
munafik meskipun dia
shalat,
puasa, dan meskipun dia
mengaku seorang Muslim. Rasulullah saw. bersabda,
"Orang-orang
munafik adalah apabila berkata ia
berdusta, apabila berjanji ia
mengingkari, dan apabila diberi amanah maka ia
berkhianat." (HR. al-Bukhari).
Di dalam Al-Qur'an ditegaskan karakter orang munafik, yaitu jika hendak mendirikan shalat dia malas, jika mengerjakan suatu pekerjaan hanya karena ingin dipuji orang (riya), dan mereka jarang mengingat Allah, hanya sedikit sekali. Hal tersebut terdapat dalam firman Allah SWT,
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya' (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (an-Nisaa': 23).
Apabila bertemu dengan orang beriman, dia mengaku beriman. Namun, apabila mereka bersama dengan Setan-setannya, mereka berkata, "Kami bersama Tuan-tuan, kami hanya main-main saja."
Bukankah orang-orang seperti ini sanggup menjual cita-cita dan kesucian pendiriannya lalu menjualnya dengan harga murah. Padahal apakah yang lebih mahal daripada cita-cita? Apa yang berharga dari seorang manusia kalau bukan pendiriannya?
Dia hanya mengikuti ke mana angin bertiup. Di mana dia akan mendapat
keuntungan, di situ ia ada. Bukan mencari kemanfaatan hidup, melainkan
keuntungan materi semata.
Bicaranya sembarangan, gembar-gembor sana-sini, tetapi isinya kosong. Banyak mengkritik, tetapi tidak boleh memperbaiki.
Soraknya setinggi langit, tetapi amal perbuatannya kosong. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, tetapi yang kesalahan besar tidak menjadi perhatiannya.
Nabi Muhammad saw. telah mendirikan pemerintahan Islam di Madinah. Baginda sanggup menghadapi kaum musyrikin Quraisy dan kaum Yahudi di Madinah. Namun, 'pening kepala' beliau ketika berhadapan dengan si munafik. Dia mengaku beriman, tetapi dia mudah berkhianat.
Jika Nabi saw. berjuang dan mendapat kekalahan (sebab memang kadang perjuangan itu pasang naik-pasang turun) di mana-mana dia menebar kata-kata, "Sejak dahulu saya memang tidak setuju, tetapi karena perkataannya tidak diikuti, beginilah jadinya".
Namun, bagaimana jika menang?
Wah! Dia yang terlebih dulu bersorak, dia yang paling banyak berjuang, berkorban, dia yang berjuang habis-habisan! Mati-matian. Akan tetapi, apabila ada retak sedikit, dia berusaha supaya yang retak itu jadi pecah. Dia hanya mencari-cari kesalahan. Pada kesalahan itulah dia akan berpijak.
Semua penyakit hati merasuk ke dalam jiwanya. Awalnya ia cuma sekali berdusta, lalu jadi munafik, pembohong, tukang fitnah, pendengki, penjual rahasia negara, perusak persatuan, serta suka memecah-belah.
Nabi kerapkali termenung memikirkan orang-orang seperti ini. Apakah yang perlu dilakukan kepada mereka? Dibunuh? Namun, mereka adalah kawan, mereka ada di kiri-kanan kita. Sahabat Umar pernah mengacungkan pedangnya dan minta izin kepada Rasul saw. untuk memenggal leher orang seperti ini. Akan tetapi, beliau melarang. "Jangan, dia kawan kita!", ujar Nabi saw.
Kita perdalam sedikit lagi! Dari mana datangnya orang-orang seperti ini? Sulit, tetapi mudah mencari orangnya. Memang percuma membunuhnya. Dia muncul pada saat kritis, pada saat ujian.
Jika Tuan bertanya, di mana "sarangnya"?
Mari kita jawab! Carilah dalam diri kita sendiri.
Insting (naluri) kebinatangan kita, keinginan hendak hidup, hendak berkuasa, hendak memiliki, takut mati, dan lain-lain yang ada dalam jiwa kita. Semuanya itu akan memungkinkan kita jadi munafik.
Itulah guna kecerdasan akal, ilmu pengetahuan di otak, dan
agama yang benar untuk
meneguhkan pendirian, untuk
menguatkan karakter yang sehat, dan
pribadi yang berpotensi. Itulah
alat-alat untuk
mencegah kita menjadi
munafik.
Kita telah melalui perjuangan untuk mencapai
kemerdekaan. Bukankah kita
bertemu dengan "peristiwa" munafik itu
berpuluh,
beratus,
bahkan beribu kali?
(Buya HAMKA, Bohong Di Dunia, Hal. 45-49, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
MANUSIA BANYAK BANTAHAN
"Dan mereka ambil ayat-ayat-Ku dan ancaman yang diancamkan itu menjadi olok-olok." (ujung ayat 56).
Demikianlah yang selalu dialami oleh tiap-tiap rasul yang menegakkan kebenaran, atau orang-orang yang mengikuti jalan rasul bercita membela kebenaran dan keadilan.
Musuh-musuh kebenaran itu tidak dapat membantahkan kebenaran dengan kebenaran pula. Karena jiwanya memang kosong dan mereka sombong dengan mengandalkan kekuatan yang ada pada diri mereka, maka
seruan kebenaran dan
ancaman Allah mereka olok-olokkan.
Mengolok-olok, mengejek, memandang enteng, mencemooh, dan
mengancam akan bertindak melakukan kekerasan kepada
penyeru kebenaran itu kalau dia telah terdesak dan tak dapat bertahan lagi,
itulah alat-alat yang dipakai orang-orang yang tidak mau percaya, atau
orang-orang yang
kafir itu
di setiap masa.
Digambarkanlah pada ayat ini
betapa hebat bertahan kaum musyrikin seketika Nabi saw. mengembangkan syari'at dan
seruan Ilahi. Padahal akhirnya mereka kalah juga, dan
kebenaran juga yang menang.
Namun
ayat-ayat seperti ini selalu terasa jadi hidup apabila orang yang telah menyediakan diri
menjadi penerima waris nabi-nabi, penyeru kepada
kebenaran menyampaikan kembali seruan itu kepada manusia di masa kelalaiannya.
Di masa orang memakai nama Islam tetapi orang
telah meninggalkan petunjuknya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 400-402, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
AL-QUR'AN
"Maha Suci Tuhan kita! Sesungguhnya perjanjian Tuhan kita akan dipenuhi." (ayat 108).
Demikianlah sikap orang-orang yang telah berpengetahuan dan
berperasaan halus terhadap Al-Qur'an.
Jauh bedanya dengan
orang-orang kafir yang
kasar perasaan itu.
"Dan meniaraplah mereka dengan muka mereka dalam keadaan menangis; dan bertambah-tambah mereka khusyuk." (ayat 109).
Sampai 2 kali disebutkan
orang-orang berpengetahuan, yang
amat terharu mendengar Al-Qur'an dibaca,
sampai menangis. Terlebih dahulu telah dijelaskan, yaitu agar dibaca oleh Nabi dengan bertenang. Bacaan yang tenang dan timbul dari hati khusyuk itu berpengaruh ke telinga dan
ke hati yang mendengar.
Al-Qur'an artinya bacaan. Tuahnya terletak dicaranya membaca. Bukan saja Nabi yang membaca Al-Qur'an, lantas orang-orang berilmulah tersungkur sujud sampai menangis mendengarkan. Nabi saw. pernah pula menangis mendengar Abdullah bin Mas'ud membaca Al-Qur'an.
Agama adalah gabungan di antara akal dan perasaan, di antara pikir dan
athifah di antara rasio dan
gevoel. Al-Qur'an telah menggabungkan di antara keduanya.
Itu sebabnya,
orang tua-tua kita sejak dahulu kala amat mementingkan mengajarkan membaca Al-Qur'an kepada anak-anak, dari masa kecil.
Kalau sudah mulai ada bibit dalam dadanya kurang suka kepada bahasa Al-Qur'an,
pasti bahwa pendidikan yang diterimanya di waktu kecil ialah dari
orang lain yang tidak menyukai Islam.
Memanglah penting bimbingan membaca Al-Qur'an itu bagi kanak-kanak sementara lidah mereka masih lunak.
Besar pengaruhnya menanamkan benih iman dalam hati mereka.
Bagaimanapun keadaan hidup yang akan ditempuhnya kelak setelah dewasa, namun tempatnya kembali, tempatnya tobat telah ditanamkan dalam dirinya sejak dia masih kecil.
Baik di gubuk, atau di dangau sawah, atau di istana.
Tersungkur sujud, keluar air mata, bila ada orang yang tahu dan yang ada perasaan halus
mendengar Al-Qur'an.
Apatah lagi jika
tahu pula
arti yang
terkandung di dalamnya.
Di dalam ayat 109 dikatakan,
"Meniaraplah mereka dalam keadaan menangis."
Sebab itu
bacalah Al-Qur'an dengan
suara merdu, sayu, dan
rindu. Hiasi dia dengan suaramu.
Sehingga
Imam Ghazali di dalam
Ihya' Ulumuddin menyatakan bahwa setengah daripada
adab sopan santun membaca Al-Qur'an ialah dengan
berurai air mata.
Bersabda Nabi saw.,
"Bacalah Al-Qur'an dan menangislah. Kalau tidak juga menangis, bikin diri menangis." (HR. Ibnu Majah).
Dan
Imam Syafi'i menyatakan sunnatlah sujud
tilawah apabila membaca sampai di ayat ini.
Ibnu Abbas menjelaskan pula,
"Jangan terburu sujud, menangislah dahulu. Kalau air mata tak berair karena tangis mata tak ada, menangislah hati. Untuk menimbulkan tangis, sedihkanlah hati. Dan untuk menimbulkan sedih, ingatlah ancaman yang ada di dalamnya, ingat janji-janji yang telah engkau ikat dengan Allah, dan ingat pula kelalaian dan ketafsiran sia-siamu dalam hidup, membuang waktu percuma. Dan kalau sudah sampai demikian tidak juga timbul duka cita dan sedih, sehingga hati tak tergerak dan mata pun tak berair, lebih tangisilah dirimu. Sebab perasaanmu itu benarlah yang telah kasar. Itulah musibah dan bencana yang paling besar yang telah menimpa dirimu."
Demikian
Imam Ghazali menulis di dalam kitab
Ihya-nya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 346-347, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PANGGILAN ALLAH UNTUK HIDUP
"Wahai orang-orang yang beriman! Sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila kamu telah dipanggil-Nya kepada apa yang menghidupkan kamu." (pangkal ayat 24).
Oleh sebab itu, ayat ini memberikan ketegasan, kalau kamu mau hidup bernilai dan berarti, sambutlah seruan Allah dan Rasul. Kalau ini telah kamu sambut, berartilah hidupmu di dunia ini dan berarti sampai di akhirat kelak. Kalau tidak kamu sambut, kosonglah hidupmu, sebab hidupmu itu tidak mempunyai inti cita.
Sahabat Rasulullah saw.,
Urwah bin Zubair, adik dari Abdullah bin Zubair, menurut riwayat dari Ibnul Ishaq, menyatakan tafsir dari ayat seruan untuk yang menghidupkan kamu itu ialah seruan tampil ke medan perang, berjihad mempertahankan dan menegakkan agama Allah. Karena orang yang berani berperanglah yang dijamin nilai hidupnya. Yang takut berperang akan mati dalam ketakutan. Dengan peperangan suatu umat akan dimuliakan sesudah mereka hina di masa lampau. Dengan berperang mereka akan dikuatkan sesudah lemah, musuh pun berpikir dan menimbang-nimbang dahulu sebelum melakukan penyerbuannya.
Jihad itu dinamai juga hidup.
Karena apabila musuh sudah lemah, terjaminlah hidup umat yang gagah menghadapi maut itu; dan apabila orang tewas di medan jihad, pastilah dia mendapat hidup yang kekal di sisi Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 686-687, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Maka, pancunglah di atas kuduk dan pukullah daripada mereka tiap-tiap ujung jari mereka." (ujung ayat 12).
Kalau memancung atau menghantam lawan, hendaklah yang tepat memotong leher mereka, biar putus. Atau pancung ujung jari mereka sehingga tangan mereka tidak dapat lagi memegang pedang. Dalam bahasa kita yang populer dikatakan, "Gasak terus!"
Bunyi wahyu yang seperti ini dapatlah dipahamkan, bahwasanya apabila telah menghadapi tuhuk perang, hendaklah gagah berani. Hantam! Jika membunuh musuh jangan tanggung-tanggung, hendaklah latih diri bagaimana memukul yang tepat. Jika mengayunkan pedang, hendaklah ditaksir agar tepat putus leher musuh itu atau rembah tangannya, sehingga terlepas pedang dari tangan itu.
Sebab di dalam menyerang itupun tersimpan siasat bertahan. Akan tetapi, diingatkan kembali dengan ayat seterusnya, bahwa perang Islam itu mempunyai tujuan yang pasti. Terutama di dalam Peperangan Badar sebagai perang besar yang pertama dalam sejarah pertumbuhan Islam. Berperang bukan semata-mata karena hendak membunuh.
"Yang demikian ialah karena mereka telah melanggar Allah dan Rasul-Nya." (pangkal ayat 13).
Hantam mereka! Sebab mereka itu adalah musuh Allah! Dan musuh Rasul! Dan mereka akan terus melanggar atau memerangi Allah dan Rasul, kalau mereka tidak diperangi dengan gagah perkasa. Akan tetapi, berkali-kali mereka hendak membunuh Rasul Allah semasa masih di Mekah. Telah mereka tindas tiap-tiap orang yang menyatakan iman kepada Rasul. Bahkan akhirnya telah terpaksa Rasul hijrah ke Madinah bersama Muhajirin, karena paling akhir mereka telah memutuskan hendak membunuh Rasul dengan membagi-bagi darahnya kepada seluruh kabilah Quraisy, supaya tidak berani lagi keluarga terdekat Rasul Allah, yaitu Bani Hasyim menuntut darahnya. Dan, setelah pindah ke Madinah, tidak pula mereka berhenti mengatur siap-siapan hendak menghancurkan Islam yang baru tumbuh di Madinah itu. Sebab itu, Perangan Badar ini adalah hukuman yang setimpal buat mereka.
"Dan barangsiapa yang melawan Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Allah, adalah sangat pedih siksaan-Nya." (ujung ayat 13).
Sangat pedih siksaan-Nya terhadap orang-orang yang tetap mempertahankan
syirik itu, yang bukan saja tidak mau diajak kepada
tauhid, bahkan memeranginya dan menyakiti dan mengusir orang yang berusaha menegakkan agama Allah di dunia ini. Dengan peperangan ini, mereka akan merasai betapa pedihnya siksa Allah kepada mereka.
"Begitulah, maka rasakanlah olehmu itu." (pangkal ayat 14).
Wahai kaum yang tidak mau menerima kebenaran. Rasakanlah siksaan Allah yang pedih itu, dengan kedatangan tentara Allah, yang berperang karena menegakkan cita-cita yang suci.
...
Maju terus menghadap Allah, tak perlu bawa apa-apa.
Selain takwa dan amal untuk akhirat.
Dan, sabar pada jalan Allah di dalam jihad.
Perbekalan dunia hanya barang yang akan habis.
Hanya takwa, kebajikan dan kecerdikan...!
Pemuda itu bertempur, dan ... dia pun syahid.
Itulah satu contoh semangat Muslim pada waktu itu. 300 orang yang bersedia mati, untuk memberikan leher dan darah bagi menggalang agama Allah. Semangat yang setinggi ini tiada tertangkis oleh Musyrikin lagi. Musyrikin mendapat kekalahan besar oleh serbuan yang hebat itu. 70 orang mereka tewas dan 70 orang pula yang tertawan. Di antara yang 70 orang itu adalah orang-orang penting, pemuka dan seperti yang dikatakan Rasulullah, "Buah hati negeri Mekah." Sedang dari pihak Muslimin mencapai syahidnya 14 orang!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 673, 675, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GARA-GARA KAUM MUNAFIK
"Aku bersaksi (atau mengakui dengan sesungguh hati) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah; dan aku bersaksi (atau mengakui dengan sesungguh hati) bahwa Nabi Muhammad benar-benar utusan Allah."
Sekarang
orang-orang munafik telah mengakui dengan mengucapkan
nasyhadu!
"Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya engkau memanglah Rasul-Nya."
Mereka mengaku atau tidak mengaku, namun Muhammad memang Rasulullah.
Tegasnya, adalah bahwa
pengakuan dari
orang munafik tidak ada artinya.
"Sesungguhnya mereka itu, amat jahatlah apa yang mereka perbuat." (ujung ayat 2).
Itulah
kejahatan yang
berlapis-lapis. Lapis pertama bersumpah buat membela diri, tegasnya, sumpah dijadikan perisai untuk memelihara diri dari pembuktian orang atas kepalsuan mereka. Mereka mengakui bahwa diri mereka "orang dalam", bahwa mereka "orang Islam" juga, tetapi tiap-tiap langkah untuk menuju hidup yang sesuai Islam itu, mereka halangi terus. Orang lain mereka halangi, mereka hambat-hambat dan mereka sendiri pun tidak mau tahu dan tidak mau menyelidiki kebenaran Islam itu. Sikap yang demikian adalah suatu kejahatan jiwa, karena jauh dari kejujuran, bahkan curang dari awal sampai akhir.
Apa sebab sampai seperti itu kejahatan perbuatan mereka?
"Yang demikian itu ialah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian mereka kafir." (pangkal ayat 3).
Hal seperti ini mudah saja terjadi, kalau orang tidak hati-hati menjaga perimbangan dengan hawa nafsunya dengan
ajaran agama yang
murni.
Misalnya tentang
berjuang, berjihad menegakkan ajaran Allah.
Semua orang jika mendengar riwayat orang yang berani berkorban, berani mati di medan perjuangan karena menegakkan cita-cita yang mulia, semua orang memujinya dan menyatakan kagum atas perbuatannya. Dan jika tewas dia tewas mencapai
syahid karena perjuangan itu, semua orang memuji. Tetapi jika hal itu tiba-tiba terjadi pula dan mesti dihadapi, tidaklah semua orang yang memuji akan sudi menuruti langkah itu. Akan ada yang takut. Orang yang takut ini berangsur-angsur mengundurkan diri. Lama-lama
iman yang tadinya mulai tumbuh
karena ketakutan tidaklah dipelihara lagi, dan lama-lama berlarut kembali menjadi
kafir.
Ada juga yang menyatakan iman karena mengharapkan keuntungan. Kemudian setelah nyata bahwa dia tidak mendapat apa-apa, dia pun mundur. Dalam
perjuangan agama yang sejati harta benda dan jiwa raga si Mukmin yang diminta, bukan masyarakat itu yang mesti memuji-muji dan mengangkat-angkatnya. Kemudian setelah nyata bahwa dia tidak dipuji, tidak diangkat-angkat, dia pun kembali
kafir.
Maka datanglah
peringatan Allah,
"Mereka itu adalah musuh."
Bagaimanapun senyumnya, bagaimanapun gagahnya, bagaimanapun manis mulutnya,
yang terang ialah bahwa
mereka musuh dalam selimut, yang
lebih berbahaya daripada musuh yang datang dari luar.
"Maka awaslah terhadap mereka."
Sebab
orang-orang munafik itu
karena pengecutnya, tidaklah mereka akan menantang berhadapan, melainkan
melempar batu sembunyi tangan. Kalau mereka menyatakan setuju, tanda
ada udang di balik batu yang mereka inginkan.
Segala sesuatu mereka ukur dengan
keuntungan benda yang akan mereka dapat.
"Allah mencelakakan mereka!"
Tegasnya, sebagaimana ditafsirkan oleh
Ibnu Isa ialah bahwa mereka akan
dikutuk, dilaknat oleh
Allah.
"Bagaimanakah mereka dipalingkan?" (ujung ayat 4).
Qatadah menafsirkan,
"Terpaling daripada jalan yang benar."
Hasan al-Bishri menafsirkan,
"Terpaling dari yang terang kepada yang gelap."
Artinya lagi,
"Bagaimana mereka sampai begitu tersesat ke dalam jalan yang salah, padahal jalan sejelas itu?"
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 148-151, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMPERIALISME JIWA DAN KAPITALISME
"Dan orang-orang yang menumpuk-numpuk emas dan perak dan tidak mereka belanjakan pada jalan Allah, maka beri ingatlah mereka dengan adzab yang pedih." (ujung ayat 34).
Maka datanglah lanjutan ayat menyatakan bahwa barangsiapa yang mengumpul-ngumpul dan menumpuk-numpuk harta, walaupun dia guru Yahudi, walaupun dia pendeta Nasrani, dan walaupun dia ulama Islam, dan walaupun siapa saja; mengumpul emas dan perak, yaitu dirham dan dinar sebagai uang, atau nilai daripada uang. Dan, tidak dibelanjakannya pada jalan Allah, maka adzab siksa yang yang akan mereka terima dari Allah.
Maka terhadap kepada ayat ini, kita telah memperoleh
dua aliran pendapat
Salafus Shalih.
Pertama, pendapat
Umar dan anaknya,
Abdullah bin Umar yang
dituruti oleh golongan sahabat yang terbanyak, yaitu boleh mengumpul kekayaan asal dari sumber yang halal, walaupun sampai sebesar Bukit Uhud, asal zakatnya dikeluarkan. Dan zakat ini dicampuri dan diawasi, bahkan kalau perlu diatur pemungutannya oleh kekuasaan negara.
Sedang pendapat
Abu Dzar, selebih dari keperluan diri tidak boleh mengumpul harta. Lebih dari keperluan diri tidak boleh disimpan, melainkan dikeluarkan untuk keperluan jalan Allah.
Akan tetapi
dasar berpikir dari
kedua pendapat itu,
hanya satu, tidak dua dan
tidak bersimpangan.
Yaitu
ketaatan kepada Allah dan
berjihad pada
jalan Allah dengan
harta benda dan
jiwa.
Bukan berdasar pada paham kebendaan (materialisme), yang meninggalkan nilai-nilai kepercayaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'aala.
Dan menjadi bukti hidupnya ruh ijtihad di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah saw.
Oleh sebab itu, kita dapat melihat dalam sejarah betapa perbandingan hidup di antara orang yang kaya raya dan orang yang tidak mempunyai apa-apa itu.
Yang kaya raya ialah seperti
Abdurrahman bin Auf yang dikenal betapa giatnya mengeluarkan zakat dan belanja-belanja keperluan jalan Allah yang lain sehingga orang menikmati kekayaan yang didapatnya itu.
Dan, bertemu
Abu Dzar yang tidak suka mempunyai, tidak pandai berniaga, tetapi menolak hadiah, sebab merasa dia tidak perlu menerima hadiah itu, yang dengan segera memberikannya kepada yang memerlukan di saat itu juga, tidak sedirham pun ada tinggal di tangannya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 149-154, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PEDOMAN BERJUANG
Peringatan Allah ini jadi
pegangan teguh bagi Nabi saw. Bahwa
rezeki yang
diberikan Allah dengan
halal, walaupun sepiring makanan pagi dan sepiring makanan petang, cukuplah
asal
berkah, asal
halal.
Beliau adalah
penakluk dunia; seluruh Tanah Jazirah Arab itu telah tunduk dan takluk kepada beliau.
Tentang
Rasulullah saw. tidak terpesona oleh
perhiasan dunia itu, tersebutlah di dalam sebuah hadits yang
shahih riwayat Bukhari, bahwa pada suatu hari
Umar bin Khaththab masuk menemui Rasulullah saw. di waktu itu beliau sedang mengucil dari istri-istri beliau. Didapat oleh Umar beliau sedang berbaring di atas sebuah hamparan pasir tidak beralas. Di dalam rumah tidak ada terdapat apa-apa barang yang patut disebut perhiasan, kecuali sebuah tempat air tergantung yang telah lapuk pula.
Maka
tidak tertahanlah air mata Umar titik berderai melihat keadaan itu.
Maka bertanya Rasulullah kepadanya,
"Apa yang menyebabkan engkau menangis, hai Umar?"
Lalu Umar menjawab,
"Ya Rasulullah! Tuan tahu bagaimana hidup Kisra (di Iran, Persia) dan Kaisar (di Romawi), padahal engkau adalah orang yang telah dipilih Allah di antara makhluknya."
Maka bersabdalah beliau saw.,
"Apakah engkau ragu, hai Umar bin Khaththab? Orang-orang itulah ialah suatu kaum yang dicepatkan Allah mengecap kesenangan di dunia ini."
Dalam hadits yang lain tercatat,
"Aku Nabi, ya Umar bin Khaththab, bukan Kisra dan bukan Kaisar."
Sebab itu
beliau saw. adalah orang yang paling
tidak terikat hatinya kepada
dunia ini,
padahal
beliau sanggup kalau mau. Kalau dia
mendapat kekayaan, segeralah dinafkahkannya dengan berbagai-bagai jalan untuk kepentingan hamba-hamba Allah, dan
tidak ada yang beliau simpan untuk dirinya sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 629-630, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, 'Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.' Dan, Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta." (al-Munaafiquun: 1).
"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka ...." (an-Nisaa': 145).
Mengucapkan dua kalimat syahadat adalah permulaan dan akibat-akibat lain, baik kepercayaan ataupun amal dan usaha. Dua kalimat syahadat adalah pintu, yang apabila telah dilalui kita akan masuk ke dalam satu lapangan luas dari kemudian batin dan pegangan hidup. Dua kalimat syahadat seakan-akan "surat kontrak" yang dengan mengucapkannya kita telah menjual diri kita, bukan kepada orang lain, tetapi kepada Allah yang telah kita akui sebagai Tuhan kita.
Jadi, semata-mata mengucapkan kalimat tauhid, mengakui Allah Maha Esa, padahal hati sanubarinya masih tetap mempersekutukan-Nya dengan yang lain, tidaklah ada nilai harga kalimat itu.
Mulut mengakui padahal
amal tidak menuruti, tidaklah ada harganya.
Cobalah pikirkan baik-baik, apakah harganya kalimat tauhid itu?
Apabila seseorang telah mengucapkan, telah bersyahadat dengan kalimat tauhid, maka baginya pantang menundukkan mukanya kepada yang selain Allah. Kening ini diangkat terus melihat dunia dalam kesamarataannya, dan ia hanya sujud semata-mata kepada Allah.
Ia tidak percaya kepada
tuhan-tuhan palsu. Tuhan bukan batu, bukan kayu, dan patung. Bahkan segala perkara dan segala barang yang akan mengendurkan hubungan dengan Allah, baik
pangkat, kebesaran, kemewahan, kekayaan dan
lain-lain, semuanya itu adalah
tuhan palsu belaka.
Tauhid sejati tidaklah ada tempat takut, tempat mengharap, tempat segan melainkan Allah. Tidak tempat mengadukan penderitaan melainkan Allah. Tidak ada sesuatu tempat menggantungkan cinta melainkan kepada Allah.
Banyaklah orang yang hancur lebur, robek, dan putus hubungannya dengan Allah oleh karena maksiat. Hawa nafsu membawa mereka kian lama kian jauh dari Allah, sehingga kian takutlah ia menyebut Allah atau lupa sama sekali.
Cobalah timbang dengan halus, apakah perbedaan mereka dengan umat dahulu kala yang dinamakan kaum jahiliyyah itu?
Perbedaan itu ialah orang yang dinamakan
jahiliyyah paham arti tauhid, tetapi
tidak mau mengucapkannya, dan
Orang jahiliyyah sekarang pandai mengucapkan tauhid, tetapi
tidak paham apa maksud dan
isinya. Inilah yang dinamakan orang pada
zaman ini dengan
"jahiliyyah modern".
Kalimat syahadat itu adalah kalimat yang baik. Sejak dari urat sampai dahan ranting, daun, pucuk, dan buah, hanya akan merasai satu rasa saja, tidak kacau.
Kalimat yang
mulia ini
tidak untuk permainan
orang-orang munafik.
Dan kalau yang ditanamkan itu adalah pohon yang busuk dari benih yang tidak jelas, akhirnya akan tumbang juga.
"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (Ibraahiim: 26).
Sebab itu kita akan berjumpa orang yang mengaku percaya kepada Allah dengan mulutnya padahal kepercayaan itu tidak ada padanya,
"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir', padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." (al-Baqarah: 8-9).
Mereka bersumpah kadang-kadang,
aku ini adalah seorang Islam sejati. Aku ini sedia berjuang untuk Islam,
aku mau berkorban mati-matian!
Bilakah mereka berkata demikian?
Ialah ketika tampak olehnya
keuntungan yang
diharapkan.
Padahal, perjuangan dalam Islam, keuntungan kebendaan, dan pangkat kemegahan adalah nomor dua!
Nomor satu ialah
kepahitan dan
penderitaan.
Itulah sebabnya jika berjumpa kesulitan,
cepat sekali mereka "lari" meninggalkan perjuangan.
Sebab yang mereka cari tidah lekas berjumpa! Buat apa lama-lama?
"Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; tetapi mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Sekiranya mereka memperoleh tempat perlindungan, gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi (lari) ke sana dengan secepat-cepatnya." (at-Taubah: 56-57).
Disebut mereka itu kaum "pecah", artinya tidaklah ia masuk golongan sana atau golongan sini,
mereka adalah
penambal-nambal belaka. Jiwanya sangat lemah.
Bukti kelemahan jiwanya ialah
keras soraknya, lebih keras daripada sorak orang tempatnya menumpangkan diri, kalau dilihatnya ada keuntungan.
Namun kalau "pasaran" tempatnya menumpang itu sepi, hilanglah ia,
tidak kelihatan batang hidungnya lagi.
Keterangan Allah yang penuh dengan ilmu jiwa tentang sifat munafik ini, yang menggambarkan segi-segi kelemahan manusia,
sekali-kali tidaklah akan kita pergunakan buat memukul orang lain. Lebih baik
kita gunakan untuk mengoreksi jiwa kita sendiri. Sebab kita pun berjiwa pula.
Sebagai seorang Muslim kita kenal
Umar bin Khaththab.
Umat Muhammad saw. yang "nomor dua".
Khalifah Rasulullah yang nomor dua dan umat Islam yang mula-mula beroleh gelar
"Amirul Mukminin".
Sayyidina Umar yang
begitu tinggi imannya dan
begitu murni perjuangannya, bila
membaca atau
dibacakan orang kepadanya
ayat-ayat yang
berkenaan dengan
kemunafikan ini
termenung dan
mengukur dengan dirinya sendiri.
Seorang sahabat Nabi saw. yang lain,
Hudzaifah bin al-Yaman, banyak pengetahuannya tentang hal munafik, sebab banyak diajarkan Nabi kepadanya maka selalulah Umar bertanya kepada Hudzaifah,
Adakah agaknya padaku penyakit nifak (munafik)?
Alhasil bahwasanya yang dikehendaki sebagai seorang Muslim bukanlah semata-mata mengucapkan syahadat dengan lidah.
Syahadat mempunyai akibat karena syahadat itu dimulakan dari hati, keluar dari lidah; dan diikuti oleh perbuatan. Mengerjakan suruhan, menghentikan larangan; taat dan patuh!
Taat dan patuh yang mutlak!
Islam mempunyai hukum yang wajib dijunjung tinggi, peraturan, dan undang-undang.
Baik mengenai
ibadah khusus,
kemasyarakatan, mengenai
akhlak, atau mengenai
kenegaraan!
Kita wajib berusaha dalam hidup kita,
Supaya sesuailah ucapan syahadat kita dengan
keseluruhan perbuatan kita!
-Tulisan ini dinukil dari Ceramah Allahuyarham Prof. Dr. HAMKA, yang pernah disampaikan di TVRI sekitar Tahun 1975, yaitu siri ceramah yang bertemakan, "Iman dan Pembangunan".
(Buya HAMKA, Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh, Hal. 34-42, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
TOBAT NASUHA
HMI telah bermuktamar pada akhir bulan September di Solo, dan telah berlangsung dengan selamat serta sukses.
Salah satu keputusannya yang
patut menjadi
contoh bagi
seluruh kaum Muslimin di Indonesia, bahkan di dunia, ialah pengakuan mereka akan kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa Orde Lama berkuasa, di zaman Komunis masih sangat menguasai pimpinan negara.
Di waktu itu,
seorang dari pejuang Islam, Kasman Singodimejo, S.H.,
telah
difitnah dan dihadapkan ke pengadilan
subversif di Bogor.
Disertai agitasi dan demonstrasi yang hebat,
PKI dengan
segala tingkah lakunya yang
kurang ajar mencoba memengaruhi hakim menuntut supaya
Kasman dijatuhi hukuman yang berat, sekurang-kurangnya 10 Tahun.
Di saat seperti itulah
HMI membuat suatu kesalahan yang amat besar.
HMI turut menuntut agar
Kasman dihukum.
HMI telah menuduh
Kasman (salah seorang dari biang yang memupuknya) bahwa ia telah berbuat suatu kejahatan.
HMI saat itu telah melakukan perbuatan yang sangat jahat, yaitu berkhianat. Bukan berkhianat kepada
Kasman sebab sebagai seorang pejuang ia akan menahankan derita pedih itu dengan tabah. Derita oleh kenakalan anaknya sendiri. Lebih dari itu,
HMI pada masa itu telah mengkhianati jiwanya sendiri, hati nuraninya sendiri. Ia mesti merasa bahwa perbuatannya itu salah besar. Sebagai mahasiswa Islam, mereka akan merasakan bahwa perbuatan mereka terhadap
Kasman adalah laksana pengkhianatan Brutus terhadap Julius Caesar,
"Waduh, engkau pun turut Brutus?"
Sekarang,
setelah terjadi
perisitiwa Gestapu/PKI dan tumbangnya rezim
Soekarno, keadaan telah sangat berubah.
Kasman telah naik banding sehingga hukumannya 8 Tahun dikurangi menjadi 2 Tahun lebih, dan itu pun karena oleh
Kasman diadakan kasasi sebab hukuman dua setengah Tahun itu pun dipandangnya tidak adil sebab ia tidak bersalah.
Hari-hari berikutnya tuntutan keadilan dan demokrasi semakin lantang, dan
HMI merasa mendapat tekanan dosa yang besar. Mereka merasa bahwa jika mereka turut meneriakkan keadilan dan demokrasi beratlah rasanya lidah diangkat. Sebab, pernah berbuat kepalsuan karena didorong oleh tekanan pada saat itu.
Pada Kongres
HMI ke-XIII yang bersejarah di Solo itulah
HMI secara jantan mengakui kesalahannya dan melakukan evaluasi atas perbuatannya mengutuk
Kasman. Itu merupakan satu kesalahan besar. Mereka juga mengakui kesalahan karena ikut-ikutan mengutuk adik mereka sendiri,
Pelajar Islam Indonesia (PII), yang anti komunis dan menolak demokrasi terpimpin
Soekarno.
Setelah mereka akui kesalahan itu dengan keputusan Kongres, mereka merasa telah terlepas dari tekanan yang berat, yang mengimpit pundak mereka selama itu. Dengan sebab itu, mereka pun telah berani mengangkat muka kembali.
Dengan sikap ini,
HMI telah merasai (meresapkan) intisari ajaran Islam, yaitu tobat yang selalu dianjurkan oleh
Allah dan
Rasul-Nya. Dengan sebab itu, dapatlah mereka mengangkat muka. Dapatlah mereka berlantang suara mengatakan bahwa mereka pun adalah salah satu pembina yang penting dalam menegakkan Orde Baru. Orang yang tobat dari dosanya dengan tobat nasuha, diterima Tuhan tobatnya, dan ia kembali tegak sebagai manusia yang telah selesai membersihkan diri.
Kita kagum dan hormat atas sikap yang diambil oleh
HMI ini. Inilah
sikap Muslim sejati. Sikap yang memang patut dilakukan oleh angkatan muda Islam, yang memberikan
suri teladan bagi
pejuang Islam yang lain.
Tepat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.,
"Tiap-tiap anak Adam tidaklah sunyi dari salah. Dan, yang sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang segera bertobat."
Sekarang, teringatlah kita kepada pejuang-pejuang Islam, golongan-golongan kaum Muslim yang pernah berbuat kesalahan sejarah, yang hati sanubari mereka pun akan merasakan bahwa perbuatan mereka itu adalah khianat. Khianat kepada jiwa sendiri, kepada
mabda' (pendirian yang telah dibangun).
Teringat kita kepada perkumpulan yang kita hormati, yaitu Muhammadiyah. Karena takut akan dipandang "kontra revolusi" maka pimpinannya telah menganugerahkan gelar "anggota setia" kepada
Presiden Soekarno. Padahal, Muhammadiyah sendiri tahu siapa yang patut disebut anggota setia.
Pada Tahun 1954, Muhammadiyah pernah mengeluarkan anjuran yang sangat penting kepada anggotanya, supaya melatih diri menjadi orang-orang yang kuat beribadah, takwa kepada Allah, menjauhi dosa besar, mengurangi dosa kecil.
Mengadakan latihan batin juga dianjurkan agar memperbanyak puasa pada hari Senin dan Kamis. Memperbanyak shalat
nawafil, setia menjunjung tinggi perintah-perintah agama dan menghentikan larangannya. Sebab, dalam pandangan Muhammadiyah, anggota setia itu bukanlah yang banyak memberi sumbangan. Sumbangan dana bisa diberikan oleh donatur. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang lama, pusaka
Kiai H.A. Dahlan, disebutkan satu di antara tujuan Muhammdiyah ialah
"memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya."
Beratus anggota setia Muhammadiyah, bahkan beribu di seluruh Indonesia ini yang hidup dan matinya untuk perjuangan Islam dalam gerakan Muhammadiyah, tetapi tidak biasa disebut bahwa mereka anggota setia. Ada perempuan-perempuan tua yang imannya benar-benar
"imanul 'ajaiz" terdengar bakiak (sandal) kayunya meninggalkan rumahnya menuju mushalla di Kauman Yogyakarta, yang duduk istighfar sejak waktu sahur.
Telah bertahun mereka tekun. Ada angku datuk tua di Simabur dan di Muara Taweh, ada keluarga kecil sejak dari nenek lalu ke cucu di dekat Rappang, mereka taat beribadah, ber-
i'tikaf di masjid, puasa Senin-Kamis mengikuti tuntunan Muhammadiyah. Ada yang mewakafkan tanahnya buat sekolah Muhammadiyah dan mushalla di Pandan dan Gelapung, Maninjau. Ada satu kiai yang namanya tidak terdengar keluar, tetapi tekun dalam pondoknya di Maskemambang atau di Kuraitaji.
Itu semuanya anggota-anggota setia yang menyebabkan
jika Muhammadiyah telah masuk ke dalam satu negeri, ia tidak akan dapat dibongkar lagi.
Saya tidak akan berbicara tentang pribadi
Bung Karno, tetapi seorang Muhammadiyah yang benar-benar telah mengenal perjuangan Muhammadiyah akan sependapat dengan saya bahwa gelar "anggota setia" yang diberikan kepada diri
Bung Karno adalah berlawanan dengan jiwa orang-orang yang memberikan sendiri.
Kemudian, ia diberi gelar "pengayom agung", dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipilih melalui Muktamar dilantik di istana Bogor. Ada orang-orang yang benar-benar dipandang sebagai "Imam" oleh kalangan Muhammadiyah se-Indonesia, yang diputuskan Kongres untuk menjadi Penasihat, yaitu
Abuya A.R. St. Mansur dicoret namanya dari Penasihat.
Kiai H. Fakih Usman yang diakui sebagai
"baqiyatu salafis-shalihin" sesudah wafatnya
Ki Bagus Hadikusumo dan
K.H. Mansur, "dinaikkan" ke bawah, dari anggota Pimpinan Pusat "jatuh ke atas" menjadi Penasihat, padahal dalam struktur organisasi Muhammadiyah tidak ada jabatan pengayom agung. Semuanya ini terjadi tidak lama sesudah Kongres di Bandung berlangsung.
Kemudian, oleh Universitas Muhammadiyah,
Soekarno diberi gelar
Doctor Honoris Causa dalam
ilmu tauhid.
Sampai profesor dan sarjana perempuan yang kita banggakan,
Ny. Bararah Baried menjadi promotor.
Namun, di saat itu juga
Allah menunjukkan bahwa
Dia tidak ridha atas perbuatan itu.
Sebab dalam promosinya,
Bung Karno sendiri menganjurkan supaya orang
ziarah ke
kubur ibu atau bapaknya,
meminta supaya ibu atau bapaknya itu
menyampaikan permohonannya kepada Allah agar Allah memberikan pertolongan kepada yang meminta.
Padahal, itulah yang oleh kalangan Muhammadiyah
diberantas selama 54 Tahun sampai sekarang ini.
Itulah yang dikatakan
"At-Tawassul wal Wasilah" yang dikarang oleh
al-Imam Ibnu Taimiyyah.
Buku
"At-Tawassul wal Wasilah" ini adalah salah satu
buku pegangan kaum
mubaligh dan
ulama Muhammadiyah.
Inilah program pertama Muhammadiyah sejak ia berdiri, yaitu
memberantas kemusyrikan.
Ini pulalah sebab terpenting ulama-ulama Sumatera Barat seperti almarhum
Syekh M. Jamil Jambek dan
Syekh Dr. Abdulkarim Amrullah menjadi penyokong Muhammadiyah.
Sebab, sama pendirian
memberantas permohonan melalui
orang yang
telah mati dikubur.
Oleh karena itu,
Doctor Honoris Causa tentang
ilmu tauhid yang dianugerahkan kepada
Bung Karno telah
dibatalkan oleh Bung Karno sendiri dalam pidatonya itu.
Muhammadiyah yang
kami cintai.
Yang sebagian besar dari kami telah mengorbankan segenap usia muda untuknya, kadang-kadang pergi jauh meninggalkan kampung halaman karena hendak menyebarkan pahamnya, kadang-kadang kena fitnah dan derita, tetapi rela karena merasa berjuang untuk menyebarkan cita-cita Muhammadiyah.
Muhammadiyah? Maukah mengambil teladan dari putranya sendiri,
Himpunan Mahasiswa Islam, yaitu mengakui bahwa ketiga perbuatan itu salah besar? Lalu, tobat kepada Allah. Sebab, telah mengabaikan prinsip yang diperjuangkan selama ini hanya semata-mata karena menjaga supaya jangan dituduh "kontra revolusi"?
Kesalahan ini tidak dapat dipertahankan dan tak perlu kita membela diri dan mengatakan semuanya ini tidak salah.
Pimpinan Pusat di kala itu sudah terlalu tenggelam dalam
lautan ketakutan sehingga lupa
prinsip yang
telah berpuluh tahun diperjuangkan.
Sehingga, kita
lupa mengambil
contoh dari
para ulama-ulama yang
jadi ikutan kita.
Lupa kepada
Imam Ahmad bin Hanbal yang sudi menderita masuk penjara 30 bulan karena mempertahankan prinsip pendirian beliau bahwa Al-Qur'an bukanlah makhluk, melainkan tetap
Kalam Allah.
Lupa kita kepada
Ibnu Taimiyah, yang selama ini jadi ikutan, yang karena tidak mau mengubah keyakinan sampai meringkuk dalam penjara bertahun-tahun, sampai akhir hayatnya.
Kita hendak mempertahankan hidup organisasi Muhammadiyah walaupun untuk itu,
"Jiwa utama Muhammadiyah" sendiri telah
mati.
Kita telah mempertahankan
bangkai.
Syukurlah di akhir-akhir ini anak-anak kita sendiri, cucu kita, anak
IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan
IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) dan
ISBM (Ikatan Seni Budaya Muhammadiyah) serta
Nasyiatul Aisyiyah dengan
tegas di muka umum meminta agar Muhammadiyah
mencabut segala gelar-gelar yang pernah diberikan pada
Soekarno, yang
tidak pada tempatnya itu.
Anak-anak kita itu agaknya mendengar bahwa beberapa lama setelah terlepas
Ahmad bin Hanbal dari ujian itu maka ulama-ulama lain yang pernah mengakui pendirian al-Ma'mun yang dipaksakan itu (karena takut) maka ahli-ahli hadits memandang bahwa hadits-hadits yang dirawikan oleh ulama-ulama yang tunduk kepada kezaliman al-Ma'mun itu tidak
tsiqat. Sebab, mereka plin-plan saat ditanya oleh Qadhi Ibnu Abi Dawud.
Oleh karena itu, di sini kita anjurkan agar Pimpinan Pusat Muhammadiyah mencontoh anak dan cucunya di muka umum, sekurangnya di muka satu Majelis Tanwir bahwa mereka telah berbuat salah, dan tobatlah kepada Allah. Dengan demikian, Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan merasa lepas dari tekanan jiwa sendiri, dan mulut tidak berat lagi menyebut Orde Baru.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 155-160, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Pendidikan yang dia maksudkan ialah supaya
pemimpin dan
calon-calon pemimpin benar-benar
dididik atau
mendidik diri, dilatih atau
melatih diri agar
benar-benar hidup secara Islam.
Mendidik diri menerima dan
menjalankan secara mutlak bunyi
ayat dan bunyi
hadits Rasulullah saw.
Darwis Thaib percaya, kalau
satu waktu kelak partai ini
dikejar-kejar pula dan pemimpin-pemimpinnya
dihina, disiksa dan
dibuang, ataupun
dibunuh, mana
yang batinnya tidak kuat, niscaya akan
lari tunggang-langgang pula.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 219, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENGARUH DAN AL-GHAZWUL FIKRI; "
Inilah ia sekularisme, Saudara-Saudara, yaitu mencari
sumber keuntungan
walau dari mana pun datangnya, tidak mengkaji dari sumber halal atau haram. Halal atau haram itu hanya ada dari agama. Sebab itu,
agama harus sangat dijauhkan dari negara. Barangsiapa yang menganjurkan
amar ma'ruf nahi munkar adalah
gerpol, dan
sebentar lagi boleh juga
dicap anti-Pancasila." (Buya HAMKA).
(Buya HAMKA, Ghirah: Cemburu Karena Allah, Hal. 66, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Sudahkah saya mengerti, dan sudahkah saya benar-benar menjadi orang Islam?"
LAHIRNYA PANCASILA DI INDONESIA
Lahirnya Negara Republik Indonesia yang berjuang melepaskan diri dari penjajahan Belanda adalah dari kesadaran setiap golongan yang dipelopori oleh dua tokoh nasional yang besar di abad ini,
Sukarno dan
Mohammad Hatta.
Beliau-beliau pun berpaham bahwa
sesungguhnya negara dan
bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari agamanya.
Itulah sebabnya maka dirumuskan dalam Pancasila bahwa yang menjadi Sila Pertama adalah
KETUHANAN YANG MAHA ESA.
Dalam negara ini segala agama boleh berkembang menurut kegiatan dan keaktifan masing-masing.
Sukarno pernah mengatakan bahwa negara ini adalah wadah atau pinggan yang boleh diisi menurut kemampuan yang sanggup mengisi.
Mohammad Hatta pernah mengatakan bahwa
Ummat Islam sebagai
golongan yang terbesar dalam Negara Republik Indonesia
harus bergiat memperhebat, memperdalam, dan
memperluas ajaran Islam itu pada masyarakat. Apabila pengaruh Islam bertambah besar,
demikian menurut Hatta, corak negara itu tidak akan lain daripada Islam.
Beliau belum setuju menuliskan dalam hukum dasar dengan agama Islam sebagai agama resmi dari Republik Indonesia,
kalau sekiranya pikiran Islam belum dikenal oleh masyarakat, terutama oleh yang memperjuangkannya sendiri.
Adapun dalam praktiknya di Indonesia seperti di negeri-negeri Islam yang lain, terdapatlah pemisahan urusan kenegaraan dengan urusan kemasjidan, tetapi semuanya dalam rangka kenegaraan.
Nyatanya di Indonesia ada kementerian yang khusus mengurus urusan keagamaan yang di Indonesia dinamai Departemen Agama. Tentu saja urusan administrasinya dipisahkan dari Departemen Luar Negeri, Departemen Pengajaran dan lain-lain.
Sungguhpun demikian golongan yang memperjuangkan agama Islam, telah
berjuang di
Konstituante untuk minta lebih dari itu, yaitu supaya
hukum syariat Islam berjalan dalam kalangan ummat Islam sendiri.
Tetapi perjuangan itu belum berhasil.
Belum berhasilnya perjuangan ini memperteguh keyakinan kita
termasuk penulis buku ini bahwasanya yang telah didapat sekarang itu
tidaklah lebih dari keadaan yang sebenarnya.
Dengan meninggalnya
H.O.S. Tjokroaminoto pada Tahun 1934, maka pimpinan atau
Leadership Nasionalisme Indonesia tidaklah lagi terpegang di tangan
"Fikrah Islamiyah" (cita-cita atau Ideologi Islam), melainkan sudah
jatuh ke tangan pimpinan Nasional yang berpikir
sekuler, meskipun mereka orang Islam juga.
Oleh sebab itu
jelaslah perjuangan belum selesai hingga hari ini.
Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui dalam masa sekian tahun
menjadilah pelajaran yang baik dan berharga untuk melanjutkan perjalanan menuju cita-cita yaitu bahwa negara dan tanah air yang diduduki oleh sebagian besar umat Islam menjadilah negara yang berjiwa Islam
laksana tubuh dengan nyawa atau laksana kuku dengan daging.
Tercapai atau tidaknya cita-cita itu sangatlah bergantung kepada pertanyaan kita kepada diri sendiri,
"Sudahkah saya mengerti, dan sudahkah saya benar-benar menjadi orang Islam?"
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 341-343, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
INGIN PUJIAN ATAS USAHA ORANG LAIN;
"Sekali-kali janganlah engkau sangka orang-orang yang bergembira dengan yang mereka lakukan dan senang sekali bila dipuji dalam hal yang tidak pernah mereka kerjakan." (pangkal ayat 188). Di ayat ini, bertemulah
2 perangai manusia yang
amat rendah atau
suatu kerendahan budi dan
menunjukkan jiwa yang
kerdil. Yaitu perangai orang yang
munafik dan
pengecut, tidak berani bertanggung jawab.
Pertama, ialah orang yang gembira dengan yang telah mereka lakukan.
Kedua, ialah orang pengecut yang berbuat suatu kepengecutan, lalu memuji sikapnya yang pengecut itu, atau
orang yang bodoh bangga dengan kebodohannya. Seumpama seorang yang memang jiwanya kerdil melihat
seorang pejuang telah
menjadi korban keyakinannya, atau orang itu
dibuang atau
dipenjarakan atau
tewas di
medan jihad. Maka,
si pengecut ini membanggakan diri dan gembira sebab dia telah memilih satu
perbuatan yang katanya benar, yaitu
tidak turut berjuang, sehingga
dia tidak jadi korban. Sebagai pepatah syair Arab,
Si pengecut berpendapat bahwa pengecut itu adalah satu perhitungan yang tepat. Itulah dia perangai nafsu yang hina.
Ketika terjadi perjuangan kemerdekaan menentang penjajahan, ada seorang pejuang yang ditangkap Belanda, lalu dihukum dan dimasukkan ke penjara. Maka, berkatalah orang sekampungnya,
"Lebih baik bodoh semacam kita ini saja. Selamat awak dari bahaya."
Yang kedua, ialah orang yang senang sekali dipuji dalam hal yang tidak pernah dia kerjakan sendiri. Seumpama seorang pengecut yang ikut menurutkan seorang pemburu harimau. Setelah kedengaran raungan harimau di hutan lebat, pemburu tadi bersiap menanti sambil mengikang bedilnya. Akan tetapi, si pengecut tadi telah
"terbang" memanjat pohon kayu yang tinggi dengan sangat ketakutan. Bedil pun meletus, harimau itu tersungkur jatuh. Karena tepat kena pada kepalanya. Setelah harimau mati, datanglah pemotret mengambil gambar kejadian bersejarah itu. Pemburu yang mahir itu tegak ke pinggir menggosok-gosok bedilnya yang telah berhasil menewaskan raja hutan yang besar dan ganas itu, sedang si pengecut tadi, dengan tidak tahu malu, berjalan cepat-cepat dengan tidak menanti undangan menuju bangkai binatang itu dan meletakkan kakinya di atas kepala bangkai harimau itu. Sehingga yang kelihatan dalam gambar, ialah yang menginjak bangkai itu dengan kakinya, sedang yang menewaskannya hanya tegak di tepi menggosok-gosok bedil.
Di sini teringatlah kita akan perkataan
Qatadah, imam
Tabi'in yang besar (yang telah kita salinkan di atas tadi) yaitu bahwasanya ayat ini bukanlah semata-mata mengenai munafik Madinah sebagai hadits Abu Said al-Khudri yang dirawikan oleh
Bukhari dan
Muslim tadi, atau
munafik Yahudi sebagai yang dirawikan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas itu,
malahan sangat sesuai bagi
umat Muhammad yang
disebut "ulama", yang ingin sangat akan pujian, padahal pekerjaan
mereka hanyalah mengeluarkan fatwa guna
menyenangkan hati orang-orang yang berkuasa. Dan untuk itu dia beroleh bintang-bintang penghias dada.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 148-151, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JAGA KEHORMATAN AGAMA
"Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang yang munafik dan orang-orang yang kafir di dalam Jahannam." (ujung ayat 140).
Nanti sebentar lagi, dalam
ayat 145 akan diterangkan bahwa dalam
neraka Jahannam itu tempat duduk
orang munafik terletak
di dasar yang
di bawah sekali. Kalau kita pikirkan dapatlah kita maklumi bahwa
jiwa orang munafik lebih rendah daripada
jiwa orang kafir. Kafir terang menentang, sedang
munafik tak dapat
menyatakan pendirian yang
tegas!
"Hal keadaan mereka terombang-ambing di antara yang demikian itu." (pangkal ayat 143).
Mereka terombang-ambing
di antara kafir dan Islam, karena pendirian yang tiada tetap, atau karena jiwa yang berpecah belah. Sebagian
ditawan dunia, sebagian lagi ingin juga hendak Islam, tetapi ditahan oleh
hawa nafsu.
"Tidak kepada mereka itu dan tidak kepada mereka ini."
Tidak masuk ke dalam
golongan orang
Mukmin betul-betul, sebab masih berat terlepas dari maksiat, atau merasa kalau jadi Mukmin dia jadi terikat dengan suruhan dan larangan. Jadi kafir benar pun tidak;
bahkan mau dia
memukul orang kalau
dia dikatakan kafir!
Alangkah banyaknya orang seperti itu di zaman kita. Islamnya hanya pada
merk luar saja, namun hidupnya menolak Islam. Kadang-kadang
dia mendabik dada mengatakan dia
tetap beragama Islam, padahal dia takut akan terikat
hawa nafsunya kalau dia mengerjakan agama. Sebab itu maka agamanya
hanya menilik ke mana angin yang keras. Pucuk aru di puncak bukit.
Akhirnya
Allah memberikan kepastian tentang
hari depan orang seperti ini,
"Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, sekali-kali tidaklah akan engkau dapat untuk mereka suatu jalan pun." (ujung ayat 143).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 491-498, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan sekali-kali tidaklah Allah akan memberikan satu jalan pun untuk orang-orang yang kafir, terhadap orang-orang yang beriman." (ujung ayat 141).
Artinya, apabila orang-orang yang beriman betul-betul berjuang karena dorongan imannya, demi tidaklah ada satu jalan terluang bagi orang kafir untuk menghambat langkahnya, dia akan jalan terus, segala kesulitan akan dapat diatasinya.
Orang-orang kafir ataupun
munafik akan
berganti-ganti datang, dengan rencana barunya. Gagal rencana pertama, mereka tukar dengan rencana kedua. Gagal yang kedua, mereka tukar dengan rencana ketiga,
dan seterusnya.
Namun
Mukmin jalan terus. Bila
tewas atau
syahid seorang, datanglah pula gantinya
sepuluh lagi, dan
seratus lagi. Akhirnya kebenaran jualah yang menang. Dan segala rintangan perintang, hambatan penghambat, hanya
menjadi tambahan bukti saja atas benarnya masalah yang
diperjuangkan oleh
orang yang
beriman itu.
Allah memberi jaminan yang
tegas kepada orang-orang beriman, bahwa
selama mereka masih
teguh iman kepada Allah, maka Allah sekali-kali tidak akan membuka jalan untuk orang kafir akan mengalahkan orang yang beriman. Supaya kita jangan sampai tenggelam dalam angan-angan,
janganlah sampai kita
salah memahamkan ayat ini.
Mentang-mentang sudah
mengaku beriman, padahal
tidak berusaha dan
tidak bersiap, kita menyangka kafir tidak akan mendapat jalan mengalahkan kita. Barulah jaminan Allah itu berlaku, dan kita terpelihara dari serbuan musuh, baik mengenai negeri kita maupun mengenai
aqidah kita, kalau kita selalu siap dan waspada dan mengetahui serta
mengamalkan ajaran Islam sejati dalam kehidupan kita. Kalau benteng iman kita telah kosong dan tinggal kerosong saja,
janganlah heran jika pihak
kafir terbuka jalan buat
menyerang kita.
Dua kali kekalahan perang di zaman Rasul. Pertama dalam Peperangan Uhud karena ada tentara Islam yang melanggar disiplin dan sejak bermula perang telah ada yang munafik. Setelah disiplin ditegakkan kembali, kekalahan dapat dibendung. Kekalahan yang kedua ialah dalam Peperangan Hunain. Kesalahan terbesar ialah karena bangga dengan banyak bilangan. Padahal bilangan banyak itu adalah karena tamabahan orang-orang yang turut berbondong-bondong pergi berperang, padahal belum berpengalaman. Dan kebanyakan mereka mengharapkan mendapat harta rampasan. Di kedua peperangan itu Rasulullah saw. tetap bertahan dengan gagah berani dan tidak kehilangan akal (panik) sehingga kekalahan dapat dibendung dan kemenangan dapat dicapai.
Oleh sebab itu, janji Allah yang tersebut dalam ayat ini, bahwa Allah sekali-kali tidak akan membuka jalan bagi kaum kafir buat mengalahkan kaum yang beriman, ialah apabila kaum yang beriman itu memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Allah.
Mari setiap kita yang telah
berjanji dengan Allah dan
dengan diri sendiri, akan
melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad saw. di dalam dunia ini
memerhatikan benar-benar tuntunan ayat ini. Segala jalan yang diatur oleh musuh-musuh kita akan digagalkan Allah, asal kita selalu belajar dari pengalaman-pengalaman orang yang terdahulu dari kita, baik di waktu kita sendiri beroleh kemenangan, maupun di waktu musuh-musuh itu sendiri sekali-sekali diberi Allah bagian dan kesempatan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 495-496, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Masyarakat dan
lebih tegas lagi negara, berhak bahwa berkewajiban menjadi pelindung atau pembela yang lemah. Inilah yang dirumuskan oleh
Sayyidina Abu Bakar ketika beliau mula-mula menyambut jabatannya ketika diangkat menjadi khalifah Rasulullah. Beliau berkata,
"Barangsiapa yang lemah di antara kamu, akan aku bela dan akan aku ambilkan haknya dari yang kuat. Sebaliknya, barangsiapa yang merasa kuat di antara kamu, akan aku ambilkan daripadanya hak siapa yang lemah."
Oleh karena itu, seorang Muslim yang menyadari agamanya atau menyadari
Al-Qur'an sebagai pegangan hidupnya, menyadari pula
Sunnah Rasulullah, sejarah Rasulullah dan perjuangan
Khulafaur Rasyidin, tidak dapat tidak, dia mesti sampai pada kesimpulan bahwasanya segala perintah Allah dan larangan-Nya, segala anjuran Nabi dan cegahannya,
tidak akan dapat berlaku, tidak dijamin bisa berjalan
kalau tidak ada pemerintahan Islam.
Tegasnya, pemerintahan yang di sana
berlaku Syari'at Islam.
Adalah suatu hal yang
ganjil kalau berdiri satu
masyarakat Islam, yang
Syari'at Islam melarang seseorang membunuh sesama manusia lalu
orang yang membunuh itu
dihukum menurut hukum yang
bukan dari Islam.
Karena telah
beratus-ratus tahun negeri-negeri Islam dijajah oleh bangsa-bangsa yang
bukan beragama Islam maka telah
beratus-ratus tahun pula
pendidikan penjajahan itu
membentuk jalan pikiran. Dalam pendidikan penjajahan itu, tidak ada larangan shalat atau naik haji,
tetapi yang mula-mula diatur terlebih dahulu ialah
merampas dan
menghapuskan segala
bekas-bekas hukum yang masih berbau Islam. Sampai akhirnya setelah penjajah pergi,
orang-orang yang menerima pendidikan dari penjajah menghalangi sekeras-kerasnya kalau hukum Islam akan berlaku.
Oleh sebab itu, jika mereka mencapai kemerdekaan politik, bukanlah mereka bermaksud agar merdeka,
menegakkan hukumnya yang
berdasar Islam, melainkan agar merdeka dan bebas menuruti dan
melaksanakan segala ajaran yang ditinggalkan oleh bekas penjajah itu. Supaya
mereka diberi kebebasan dan kemerdekaan
meneruskan dan
melanjutkan segala yang dipusakakan oleh penjajah itu kepadanya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 342, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GEMBIRA BUAT YANG MUNAFIK?
"Gembirakanlah orang-orang yang munafik itu, bahwa untuk mereka adalah adzab siksaan yang pedih." (ayat 138).
Gembirakanlah, atau berilah kabar suka kepada
orang munafik itu. Dipakai kalimat
Basysyir, yang berarti kabar gembira., Disuruh Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira itu kepada
si munafik adalah sebagai suatu
ejekan karena
mereka menempuh jalan yang salah dalam kehidupan mereka.
Karena tidak ada imannya kepada Allah, kepercayaannya kepada orang yang beriman pun tidak ada. Mereka terpukau dan terpesona oleh orang-orang yang kafir. Oleh sebab itu, lanjutan ayat menjelaskan lagi siapa dia orang munafik yang diberi kabar gembira dengan siksaan Jahannam itu,
"(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir jadi pemimpin-pemimpin." (pangkal ayat 139).
Mereka mengambil pimpinan dari kaum kafir. Mereka memandang bahwa segala yang datang dari kafir itu segala baik dan yang datang dari Islam segala buruk, namun mereka masih mengaku beragama Islam.
Di zaman jajahan orang seperti ini merasa diri mulia bila dia berdekat dengan orang kafir dan pemerintahan kafir.
Orang ini pulalah yang
menjadi penghalang kemerdekaan.
Setelah merdeka, mereka pula yang
menjadi penghalang besar kalau
peraturan Islam akan
dijalankan dalam
masyarakat kaum Muslimin.
Padahal kemudian ternyata bahwa kemuliaan yang mereka cari itu tidak bertemu. Yang bertemu hanyalah kehinaan.
Kehinaan karena jiwa yang tidak mempunyai tempat berpegang.
Jiwa mereka sampai demikian terbalik, karena penilaian atas sesuatu tidaklah lagi mencari isi, melainkan mencari kulit.
Mereka menyangka bahwa yang dikatakan kemuliaan itu ialah rumah yang mewah, kendaraan yang bagus, kekayaan harta benda yang melimpah-limpah, dan pangkat atau kedudukan yang tinggi di sisi orang-orang yang membenci agama mereka.
Mereka merasa kalau mereka konsekuen mempertahankan iman dan
berjuang menegakkan kehendak Allah, mereka akan
terpencil atau akan
diisolasi orang.
Mereka bertanya, apa yang akan kita dapat, kalau kita tidak bertolak angsur sedikit juga dengan orang kafir? Apa yang dapat diberikan oleh orang yang beriman itu kepada kita?
Lantaran itu mereka terimalah segala
tawaran yang
menggelora dan
mempesonakan dari pihak kafir, walaupun
agamanya tergadai. Dia mendapat kemuliaan
Saraab (fatamorgana) dan
agamanya tertindas. Bertambah lama bertambah kaburlah penilaian mereka terhadap kemuliaan pemberian Allah. Yaitu
kemuliaan hidup, harga diri dan
gengsi di sisi
Allah dan di sisi
umat yang sadar, karena dibawa
hanyut oleh arus
kemegahan dan
kemuliaan di sisi yang
palsu.
Penulis
Ibnu Katsir dalam tafsirnya,
"Yang dimaksud dengan ini ialah membangkitkan kesadaran dalam jiwa agar kalau hendak mencari kemuliaan carilah kemuliaan yang di sisi Allah dan menghadapkan segenap perhatian kepada ibadah pengabdian kepada Allah, dan masuk dalam barisan hamba-hamba Allah yang beriman. Karena dalam barisan itulah akan tercapai kemenangan abadi pada hidup di dunia ini dan pada hari berdirinya kesaksian kelak!"
Berkata
al-Hakim,
"Ayat ini menunjukkan atas wajibnya mencari pimpinan dan teman dari orang-orang yang beriman, dan dilarang memberikan pimpinan kepada orang kafir."
Berteman dengan orang kafir tidaklah terlarang.
Bahkan orang kafir, sebagai Ahlul Kitab yang berlindung di bawah kekuasaan pemerintahan Islam,
wajib dijamin keamanannya.
Tetapi
menyerahkan pimpinan, terutama dalam hal yang akibatnya akan menyinggung agama, itulah yang
wajib dipantangkan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 490-492, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENGAKUAN DAN PENYESALAN
"Benamlah kamu di dalam neraka itu, tak usah lagi berbicara dengan Daku." (ayat 108).
"Sesungguhnya ada segolongan hamba-Ku berkata, Ya Tuhan kami, kami ini telah beriman maka ampunilah kami dan beri rahmatlah kami. Karena Engkau adalah sebaik-baik pemberi karunia." (ayat 109).
Padahal di waktu dahulu itu telah ada hamba-Ku yang sudi menerima kebenaran ajaran yang disampaikan oleh Utusan-Ku atas nama-Ku. Mereka telah mengakui, bahwa mereka beriman dan percaya kepada segala ajaran yang dibawa itu. Mereka pun memohon ampun dan karunia kepada-Ku.
Tidak ada lagi tujuan lain dalam hidup mereka melainkan kepada-Ku.
"Namun kamu jadikan orang-orang itu menjadi olok-olokkan sehingga lupa kamu mengingat Aku, dan kamu hanya gelak-gelak tertawa." (ayat 110).
Orang-orang itu kamu jadikan olok-olok, mereka kamu ketawakan, kamu ejek. Kamu duduk bersama-sama membicarakan mereka, sehingga karena memandang hina sesamamu manusia, kamu telah lupa sama sekali kepada-Ku.
Orang yang taat beribadah, kamu ejek, kamu katakan dia sekarang telah jadi
"pendeta". Orang tekun shalat, kamu ejek, kamu katakan,
"telah memesan tempat dan sekarang dalam surga".
Mereka memegang teguh perintah-Ku, kamu hinakan pula dan kamu katakan mengganggu perasaanmu.
Ada orang memberimu nasihat yang baik, kamu tuduh dia menyindir kamu.
Seruan yang jujur kamu olokkan dan kalau bersungguh-sungguh kamu musuhi.
Mereka ingin berkhidmat kepada Allah SWT, meratakan jalan-Nya di muka bumi, sedangkan
kamu hanya menjadi tukang cemooh.
Mereka berjuang di bawah pimpinan wahyu Ilahi, karena kasih sayang kepada kamu, supaya kamu keluar dari dalam lembah kehinaan, kejahilan dan kemusyrikan.
Mereka tidaklah memusuhi kamu. Padahal
kamu adalah
mengingkari Allah SWT kamu hanya
menuhankan hawa nafsumu dan
seleramu.
Kamu merasa, bahwa kamulah yang di atas, sedang
para pejuang untuk Kami, kamu pencilkan dan hinakan.
"Pada hari ini Kami beri anugerahlah mereka itu oleh karena kesabaran mereka. Sesungguhnya, merekalah sekarang yang menang." (ayat 111).
Ayat-ayat ini, seperti
juga ayat-ayat yang terdahulu, berlandaskan kepada kecongkakan orang Quraisy. Tetapi
ayat ini "muda" selalu dan
"baru" selalu.
Setiap orang yang berjuang menegakkan kebenaran Allah SWT di tengah-tengah keingkaran manusia, dapatlah mengambil
obat penawar dari
ayat ini.
Dia akan menjadi buah mulut orang, olok-olok dan buah tertawaan, karena dia masih juga
"tidak malu" mengangkat mulut membuka kebenaran, padahal
dia termasuk golongan "Dhu'afaak", golongan lemah yang tidak masuk hitungan.
Ayat ini menjadi obat penawar kata saya, karena ini pun
diderita oleh
pejuang-pejuang yang terdahulu, oleh
Bilal dan
Shuhaib dan
sahabat miskin yang lain.
Nilai sesuatu ditentukan oleh harta orang dan kedudukannya (posisinya). Betapapun benar yang engkau katakan, yang akan dinilai orang bukanlah isi perkataan itu, melainkan berapa uangmu dalam bank, naik sepeda dan becakkah engkau, atau naik Mercedez. Orang biasakah engkau atau orang berpangkat.
Maka
setiap orang yang
berjuang menegakkan kebenaran haruslah meneladani sikap
Nabi dan
para sahabatnya yang
berkedudukan rendah di mata orang yang
digelimangi keduniaan itu.
Pejuang-pejuang pembela kebenaran tidaklah pernah merasa kecewa atau kecil hati, atau "minderwaardigheid-complex" karena cemooh orang.
Iman yang kuat tidaklah dapat dihinggapi oleh penyakit rasa rendah diri menghadapi makhluk.
Karena apa yang berjalan di atas tanah pada hakikatnya hanya tanah jua, tidak lebih dari kita.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 233-235, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAN MUNAFIK
"Dan setengah daripada manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah." (pangkal ayat 10).
Inilah semacam manusia lagi. Sejalan dengan yang di atas tadi juga, ringan saja mulutnya mengatakan bahwa dia beriman kepada Allah.
"Tetapi apabila dia disakiti pada jalan Allah",
Yaitu sebagai akibat daripada apa yang dia katakan itu. Sebab telah diberi penjelasan sejak semula, bahwa orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tidaklah akan terlepas daripada ujian. Maka setelah ujian datang,
"Dijadikannyalah fitnah manusia sebagai siksaan Allah."
Artinya, baru saja dapat ujian atau rintangan sedikit saja dari sesama manusia, mereka sudah ribut. Mereka sudah ketakutan. Mereka sudah mengomel dan mengeluh. Mereka mengatakan bahwa mereka masuk Islam itu hanya tertipu saja. Dikatakan masuk Islam akan dibela oleh Allah. Sekarang bahaya sudah menimpa, namun nasibnya tidak ada yang memedulikan.
"Dan sesungguhnya jika datang pertolongan dari Tuhan engkau."
Sudah terang bahwa berjihad dalam Islam itu pasti berhadapan dengan kesulitan. Namun karena teguh imannya orang yang Mukmin, mereka dapat mengatasi kesulitan itu, kesukaran bertukar dengan kemudahan, kegoncangan bergilir jadi keamanan dan keuntungan pun datanglah. Pada waktu itu,
"Pasti mereka akan berkata, "Sesungguhnya kami adalah beserta kamu."
Setelah jelas keuntungan datang, kemenangan tiba dengan gilang-gemilang, mereka itu yang mengatakan fitnah manusia yang kecil itu sama saja dengan adzab Allah, lalu mereka mengundurkan diri. Sekarang setelah nyata kemenangan dicapai oleh perjuangan Islam, dengan tidak segan-segan mereka tampil ke muka mengatakan, bahwa mereka ada dalam barisan orang Islam juga. Mereka meskipun diam-diam, namun hati mereka tetap dalam Islam. Untuk orang-orang seperti ini Allah memberi pernyataan di ujung ayat,
"Bukankah Allah lebih mengetahui dengan apa yang ada dalam dada seluruh manusia?" (ujung ayat 10).
Itulah
Thufaily-thufaily perjuangan yang mau enaknya saja. Berjuang tidak mau ikut. Dia takut kena percikan, tetapi ingin mendapat hasil juga. Inilah benalu-benalu yang ingin menumpang hidup. Namun kalau dibiarkan mereka berpengaruh, semua kekayaan akan mereka hisap habis. Tetapi kalau bahaya mengancam kembali, orang-orang seperti ini jualah yang lari lebih dahulu.
"Dan sesungguhnya Allah pun mengetahui akan orang-orang yang beriman." (pangkal ayat 11).
Allah tahu iman yang sejati, yang mau menelan manis dan pahit, sudi berkorban murah dan mahal. Tahan menderita karena mempertahankan keyakinan. Tidak berkocak bagaimanapun besar gempa. Tidak mundur walau bagaimana ancaman. Tidak menjual pendirian karena bujukan harta dan kemuliaan yang palsu.
"Dan Dia pun sangat mengetahui akan orang-orang yang munafik." (ujung ayat 11).
Yaitu orang yang soraknya keras mengajak maju. Tetapi setelah datang waktu untuk maju, dia yang mundur lebih dahulu. Orang yang mulutnya penuh dengan kata-kata berapi-api, tetapi tulang-belulangnya lunak laksana air. Mudah berubah pendirian karena bujukan pangkat, atau harta dan kedudukan. Sangat arif dan nyalang matanya, nyaring telinganya jika mendengar ada keuntungan untuk dirinya, dan acuh tidak acuh kalau ancaman besar mengancam agamanya.
Sejak semula Allah telah lebih tahu mana yang beras dan mana yang gabah (mentah), dan bagaimanapun loyang disepuh menyerupai emas, namun tidak lama kemudian sepuhan itu akan hilang dan loyangnya jua yang kelihatan. Kemudahan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan, ketahanan berjuang dan kelemahan, semuanya itu jadi ujian untuk menentukan iman sejati dan perbedaannya dengan munafik.
Meskipun surah al-'Ankabuut ini diturunkan di Mekah, dan di Mekah belum tampak orang munafik, dan sesudah sampai di Madinah baru terdapat orang munafik, namun sejak dari zaman Mekah ini rupanya sudah diperingatkan oleh Allah, tentang bahaya munafik, supaya kaum yang telah mengaku beriman jangan bertemu dengan penyakit benalu iman yang amat berbahaya itu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 653-654, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Demi perjuangan politik Islam,
Masyumi mesti
membentuk kader dan memberikan pendidikan kehidupan
marhamisme itu.
Pendidikan yang dia maksudkan ialah supaya
pemimpin dan
calon-calon pemimpin benar-benar
dididik atau
mendidik diri, dilatih atau
melatih diri agar
benar-benar hidup secara Islam.
Mendidik diri menerima dan
menjalankan secara mutlak bunyi
ayat dan bunyi
hadits Rasulullah saw.
Darwis Thaib percaya, kalau
satu waktu kelak partai ini
dikejar-kejar pula dan pemimpin-pemimpinnya
dihina, disiksa dan
dibuang, ataupun
dibunuh, mana
yang batinnya tidak kuat, niscaya akan
lari tunggang-langgang pula.
Setelah perang berhenti dan sampai kepada
penyerahan kedaulatan, terbukalah segala hubungan. Jalan ke Jawa telah terbuka. Tetapi
Masyumi telah masuk ke dalam lapangan praktis politik yang hebat.
Bergolak menegakkan cita-cita di tengah hebatnya pukulan lawan-lawan.
Apa yang dikira-kirakan oleh Darwis Thaib ketika di Jalan Lurus Bukittinggi yang ketika itu ada yang menertawakan atau menyangka "katai-katai" orang sakit yang tengah mengigau, benar-benar terjadi;
Masyumi sesudah 3 kali memegang Perdana Menteri dan 2 kali menjadi Wakil Perdana Menteri, akhirnya
dibubarkan oleh
Presiden Soekarno. (10)
(10) Strategi catur yang dimainkan Soekarno dalam sejarah politik Indonesia dinamai "Kabinet Kaki Empat", yaitu koalisi empat partai besar: Masyumi, PNI, PKI, dan Nahdhatul Ulama. Soekarno pun tahu bahwa
mustahil Masyumi akan
mau kerjasama dengan
Komunis. Dengan ajakan yang mustahil inilah, Soekarno mulai mempermain caturnya, menyisihkan Masyumi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 219-221, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Kalau kita masih ragu, menyangka ada jalan lain
selain jalan Muhammad saw. yang kita anggap benar,
batal-lah Islam kita.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 121, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
AYAHKU
GERAK ILHAM
Pada akhir bulan November 1940, saya masih sempat menziarahi beliau di Sungai Batang.
Wajah beliau kelihatan
muram. Dalam
beberapa tabligh dia
berfatwa dengan
hati sedih.
"Sejak mudaku saya memberikan fatwa kepada tuan-tuan, sampai uban telah tumbuh di kepalaku. Namun tuan-tuan masih juga liar dari agama. Pemuda-pemuda masih banyak yang melalaikan agama. Perempuan telah banyak pula kembali mendurhakai suaminya. Adat jahiliyah masih ditimbul-timbulkan. Kalau saya tidak ada lagi di negeri ini, barulah nanti tuan-tuan tahu siapa sebenarnya saya ini ..."
Dan waktu itulah
beliau berpesan kepada
Muhammadiyah, dengan
perantaraan saya, yang mesti saya sampaikan sendiri kepada
K.H. Mas Mansur:
"Agar Muhammadiyah tetap menegakkan Al-Qur'an dan Hadits. Jika Muhammadiyah masih tetap menegakkan itu, saya akan tetap membela sampai mati. Tetapi jika Muhammadiyah telah mempergunakan ra'yi sendiri dalam hal agama, mulalah saya akan menjadi lawannya pula sampai mati."
(Buya HAMKA, Ayahku, 288-289, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
Kisah Persahabatan Haji Rasul dengan Kyai Ahmad Dahlan
historia.id/modern/kisah-persahabatan-haji-rasul-dengan-kyai-ahmad-dahlan
Harus ditanamkan pula
dalam hati kita bahwa
meskipun bilangan kita banyak, mayoritas, kita
menjadi kecil tidak berdaya sebab
lebih banyak golongan
umat Islam yang
tidak mengerti akan
hakikat agamanya.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 74, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MEMPERTAHANKAN AQIDAH
"Apakah mengira manusia bahwa mereka akan dibiarkan berkata, "Kami telah beriman", padahal mereka masih belum diuji lagi?" (al-'Ankabuut: 2).
Kadang-kadang adat istiadat
jahiliyyah yang
masih dipegang teguh.
Si Mukmin tahu benar bahwa adat istiadat itu
bukan berasal dari Islam.
Ujian pun datang!
Kalau ditegur,
orang pun marah.
Tidak ditegur,
Allah yang marah!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 652-653, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JIWA MUNAFIK
Demikianlah ketika bahaya masih ada
mereka pengecut, menjauh dan berdiam diri, takut mendekat dan
serba-serbi ketakutan. Mereka biarkan orang yang mengatasi bahaya itu berjuang setengah mati. Dan kalau bahaya telah terlepas, barulah mereka membuka mulut mengata-ngatai orang yang telah pergi, mencela yang bekerja keras.
Lalu
dia membela diri, mengemukakan berbagai alasan mengapa dia selama ini berdiam diri.
Bahwa
berdiam dirinya itu
adalah suatu siasat.
"Orang-orang pengecut memandang bahwa dia pengecut itu adalah suatu pendapat juga. Memang demikianlah tabiat dari jiwa yang rendah."
Dalam ayat dijelaskan juga sebabnya.
Yaitu karena mereka bakhil, enggan berbuat baik.
Pendirian hanya
sekadar mementingkan diri sendiri atau
keuntungan benda yang nyata.
Lebih dari itu tidak!
Dia tidak mau susah-susah.
Dia tidak mempunyai cita-cita yang tinggi dalam hidup.
Tidak mempunyai keberanian moral.
Allah SWT telah
menjelaskan intinya, siapa sebenarnya orang itu,
"Orang-orang itu tidaklah beriman."
Pokok hidup ialah iman, percaya kepada Allah SWT. Sebagaimana tersebut di ayat 17 di atas tadi, bahwa kalau Allah SWT menghendaki akan menjatuhkan bencana, tidak ada orang yang sanggup menghambat, dan kalau Dia hendak menurunkan rahmat, tidak pula ada yang sanggup menghalangi.
Orang yang
berjuang berjihad dalam
jalan Allah SWT memasang pedoman dalam jiwanya sendiri,
pedoman iman.
Adapun orang
yang tidak ada hakikat iman,
tidaklah ada yang akan
diperjuangkannya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 163, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
THAGUT
Tentang arti
thagut telah banyak kita uraikan sebelum ini, dari rumpun kata
thughyan, yaitu
kesewenang-wenangan, nafsu angkara murka, ambisi, gila kekuasaan, sehingga kadang-kadang telah
mengambil hak Allah.
Sebab itu
diperintahkanlah orang yang
beriman memerangi thagut.
Sebab sumber
ilham thagut bukan dari Allah, melainkan
dari Setan.
Dalam
pergumulan pendirian benar dan
pendirian yang salah, yang lebih kekal ialah yang lebih sesuai dengan irama hidup manusia.
Batil bisa
menang sebentar, namun
dia akan sirna sebagaimana
sirnanya embun pagi apabila
Matahari telah naik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 366-367, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BUKAN ULAMA YAHUDI
PERHATIKANLAH SEKALI LAGI!
Ayat ini berupa pertanyaan,
"Apakah dengan hukum secara jahiliyah yang mereka ingini?"
Berupa pertanyaan yang disebut tanya bantahan
(istifham inkari).
Artinya bahwa isi ayat mengandung keheranan mengapa mereka
mengakui diri beragama
Islam, mengikuti Nabi Muhammad saw., padahal
mereka masih
menghendaki hukum jahiliyyah?
Tidakkah ini terlalu?
Apakah ini masuk akal?
Apalah artinya jadi orang
Islam, kalau shalat menurut Allah
tetapi hukumnya bergantung kepada
jahiliyyah?
Allah! Allah!
Teringat kita kepada penafsiran
Hudzaifah bin al-Yaman dan
Ibnu Abbas di atas tadi.
Apakah segala yang manis-manis hanya khusus buat kita dan
yang pahit-pahit buat Ahlul Kitab. Buat
Bani Israil?
Bukankah
dengan teguran ayat ini pun kadang-kadang bertemu pada
kita kaum Muslimin sendiri?
Kembali pada
hukum jahiliyyah, bila
kehendak Al-Qur'an berlawanan dengan
hawa nafsu?
Di sinilah
terasa beratnya memikul tugas menjadi
ulama dalam
Islam.
Yakni
di samping memperdalam pengetahuan tentang
hakikat hukum, memperluas ijtihad, hendaklah pula
ulama kita meniru meneladani
ulama pelopor zaman dahulu itu, sebagai
Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi'i, dan
Ahmad bin Hambal, dan
lain-lain,
Yaitu
keteguhan pribadi dan
kekuatan iman, sehingga di dalam
menegakkan hukum mereka itu
tidak dapat dipengaruhi oleh
harta benda, dan
tidak sampai mereka
mengubah-ubah makna dan
maksud ayat,
Karena tenggang-menenggang atau ketakutan; walaupun untuk itu
diri-diri beliau kerap kali
menderita.
Itulah ulama Islam,
bukan ulama Yahudi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 713, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MENDIRIKAN SEBUAH MASJID
Dari cerita yang agak panjang ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa suatu perbuatan yang kelihatan
sepintas lalu kelihatan baik, belum tentu memang baik kalau yang terkandung ketika mulai mendirikannya ialah
maksud yang jahat.
Segala propaganda melalui media massa dan segala macam alat telekomunikasi
zaman modern bisa saja dipergunakan untuk menyatakan bahwa maksud melaksanakan sesuatu adalah baik,
padahal jahat.
Maka,
orang-orang yang
tidak langsung memohonkan petunjuk (hidayah) dari
Allah dan tuntunan Rasul, akan bernasib sebagai "baling-baling di atas bukit", condong dibawa angin ke mana yang keras. Padahal, kemelaratan, kehancuran dan "tanah longsor" masuk nerakalah yang akan ditemui di belakang hari. Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu dengan niat yang baik dan mintalah petunjuk selalu dari Tuhan.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 55, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"
Biar hangus perut lantaran lapar, daripada
makan harta yang
haram." (Buya HAMKA).
Artinya,
lebih baik makan api daripada
makan harta haram sebab
api dunia belum apa-apa jika dibandingkan dengan
api Neraka.
Setan akan bersedia menjadi
pokrol, mengajarkan bermacam jawaban membela diri karena berbuat jahat.
Keinginan
Setan ialah bahwa engkau jatuh, jiwamu menjadi kasar, dan
makanan yang
masuk perutmu penambah darah dagingmu, dari yang
tidak halal dan
tidak baik.
Dengan demikian,
rusaklah hidupmu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 308, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KARENA CARI MAKAN
Setelah menerangkan
bahaya ikut-ikutan, datanglah seruan Allah kepada seluruh manusia agar mengatur makanan,
"Wahai, manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi ini barang yang halal lagi baik dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah Setan." (pangkal ayat 168).
Penting sekali peringatan ini dan ada
hubungannya dengan
ayat yang
sebelumnya.
Kecurangan-kecurangan, penipuan dan mengelabui mata yang bodoh, banyak ataupun sedikit, adalah
hubungannya dengan
perut asal berisi.
Berapa perbuatan yang curang terjadi di atas dunia ini oleh karena
mempertahankan syahwat perut.
Maka, apabila manusia telah mengatur makan minumnya, mencari dari sumber yang halal, bukan dari penipuan, bukan dari apa yang di zaman modern ini dinamai
korupsi, jiwa akan terpelihara dari kekasarannya.
Dalam ayat ini tersebut yang
halal lagi baik.
Makanan yang halal ialah lawan dari yang haram; yang haram telah pula disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu yang tidak disembelih, daging Babi, darah, dan yang disembelih untuk berhala.
Kalau tidak ada pantang yang demikian, halal dia dimakan.
Akan tetapi, hendaklah pula yang
baik meskipun halal.
Batas-batas yang baik itu tentu dapat
dipertimbangkan oleh
manusia.
Misalnya daging Lembu yang sudah disembelih lalu
dimakan saja
mentah-mentah. Meskipun halal, tetapi tidaklah baik.
Atau kepunyaan orang lain yang diambil dengan tipu daya halus atau paksaan atau karena segan-menyegan. Karena
segan, diberikan orang juga, padahal
hatinya merasa
tertekan.
Atau
bergabung keduanya, yaitu
tidak halal dan
tidak baik, yaitu harta dicuri atau seumpamanya.
Ada juga
umpama yang lain dari harta yang tidak baik, yaitu menjual
azimat kepada murid, ditulis di sana ayat-ayat, katanya untuk tangkal penyakit dan kalau dipakai akan terlepas dari marabahaya. Murid tadi membelinya atau bersedekah pembayar harga; meskipun tidak najis, itu adalah penghasilan yang tidak baik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 307, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KHUSYU ORANG MUNAFIK
Di antara
sahabat Rasulullah saw. itu yang berdoa,
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari khusyu'nya orang munafik."
Lalu ada yang bertanya,
"Bagaimana pula khusyu orang munafik?"
Sahabat Rasulullah itu menjawab:
"Kelihatan badannya seperti khusyu, padahal hatinya jauh dari khusyu."
Di segala zaman akan
ada orang munafik.
Sebab itu
seluruh ayat-ayat yang
mengenai orang munafik, dan khusus surah yang bernama
"al-Munaafiquun" ini seyogianya menambah
waspada kita tentang
iman kita.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 147, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BUKAN POLITIK YANG DIIMAN-IMANKAN
Iman yang menimbulkan politik,
bukan politik yang
diiman-imankan.
Dari masjid menuju parlemen,
bukan dari parlemen
mencari suara ke dalam masjid.
Dan sesudah pemilihan umum
tidak ke masjid-masjid lagi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 432, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Kata Buya HAMKA:
Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja.
humas.riau.go.id/berita/2017/04/ustadz-bachtiar-nashir-berislamlah-dengan-totalitas-sampai-mati
KEBOHONGAN HIDUP
"Dan setengah dari manusia adalah yang menjual dirinya karena mengharapkan keridhaan Allah." (pangkal ayat 207).
Orang yang telah menjual diri kepada Allah
tidaklah banyak cakap manis mulut.
Menilik bunyi ayat ini dapatlah
disimpulkan bahwa menjadi
seorang Muslim yang artinya,
menyerahkan diri sebulat-bulatnya, seluruhnya kepada Allah,
Seorang Muslim harus aktif!
Pelihara syari'at dan
perjuangkan dia agar
tegak.
Menyeru kepada
kebajikan, menentang kebatilan dan
kezaliman walaupun untuk itu dia
mati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 389-391, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Akan digandakan bagi mereka adzab."
Mengapa
dilipatgandakan?
Sebab
kesalahan mereka pun
berlipat ganda.
Berbuat dosa atas nama Allah,
menghambat jalan Allah, membuat jalan Allah itu jadi bengkok.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 539, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KADER-KADER NABI MUHAMMAD SAW.
Mengapa
orang-orang lemah yang lebih dulu menyambut seruan Nabi? Seperti juga di zaman dahulu, orang-orang lemah juga lebih dahulu menyambut seruan Nabi Nuh a.s.?
Sebab,
merekalah yang
menderita.
Sebab,
merekalah yang
diperbudak, ditindas, dihina selama ini sehingga mereka nyaris kehilangan pegangan dan nyaris putus asa.
Orang kaya, orang mewah adalah
orang yang telah merasa kokoh kedudukannya dengan
kemewahan hartanya.
Camkanlah pokok
ajaran ini, yaitu
Allah-lah
Yang Maha Kuasa, dan
manusia sama di hadapan-Nya.
Untuk itu
kita bersedia menerima
segala macam penderitaan, bahkan
mati sekalipun.
Kadang-kadang
sesama manusia mencoba
menindas kita lagi.
Apabila
pokok ajaran ini
kita sadari kembali,
kita pun akan
bangkit.
Banyak
di zaman modern ini orang yang
merasa fobia kepada ajaran ini.
Yang fobia pada ajaran ini tidak lain adalah orang-orang yang marah dan murka,
mengapa kita tidak mau menjadi budaknya.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 43-44, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Dan, di dalam negara yang penduduknya sebagian besar umat Islam dan ada pula pemeluk agama yang lain, agar terhadap golongan yang besar Muslim itu dibiarkan berlaku hukum Syari'at Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 394, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUKUM SYARI'AT ISLAM
KESIMPULAN
Berkata
al-Hafizh Ibnu Katsir mengenai ayat-ayat ini,
"Ayat ini adalah satu penegasan bahwa Allah tidak mau menerima kalau ada orang yang mengaku beriman kepada perintah yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada rasul-rasul yang dahulu, padahal ketika akan mengambil keputusan suatu hukum dalam hal yang mereka perbantahkan, mereka ambil hukum di luar dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya."
Berkata pula
ahli-ahli tafsir yang lain,
"Ayat ini memberikan petunjuk bahwa menerima keputusan hukum dari Allah adalah wajib dan wajib pula ridha menerima syari'at-Nya. Ayat ini menunjukkan pula dengan pasti bahwa orang Islam tidak dibolehkan menerima hukum selain dari Syari'at Islam."
Berkata setengah
ahli fiqih,
"Apabila dua orang berperkara, lalu yang seorang ridha menerima hukum ketentuan Syari'at Allah, yang seorang enggan menerima hukum itu, lalu dia suka menerima hukum dari hakim-hakim yang mengingkari peraturan Allah, yang enggan itu kafirlah!"
Lantaran itu, dengan ayat ini kita mendapat pengajaran bahwasanya percaya kepada hukum Allah dan Rasul
janganlah separuh-separuh.
Jangan pula dalam ibadah menurut perintah Allah, tetapi di dalam
urusan yang lain meniru peraturan yang
bukan bersumber dari Allah.
Segi menegakkan
pemerintahan pun demikian pula.
Oleh karena pengaruh penjajahan beratus-ratus tahun dan karena bangsa-bangsa yang menjajah telah
menyingkirkan dengan secara teratur segala hukum yang bersumber Allah
yang dahulu berlaku dalam negeri-negeri Islam.
Tumbuhlah golongan orang yang
mengakui beragama Islam dan beribadah, tetapi
tidak yakin lagi akan
Syari'at Islam.
Merekalah yang keras menantang tiap gagasan hendak
meletakkan dasar hukum Syari'at Islam di dalam negeri yang penduduknya terbanyak orang Islam.
Bahkan ada yang berkata,
"Saya ini orang Islam, tetapi saya tidak mau kalau dalam negara ini diperlakukan Syari'at Islam. Bahkan saya tidak mau, walaupun hukum Syari'at Islam hanya akan dijalankan untuk rakyat yang beragama Islam saja."
Daripada menerima hukum Syari'at Islam mereka lebih suka menyalin kitab hukum pusaka penjajah atau menyalin hukum negara-negara Barat yang lain.
Sedangkan orang yang kasar sikapnya kepada anak yatim dan tidak ada rasa iba kasihan kepada fakir miskin, lagi dikatakan mendustakan agama.
Sedangkan orang yang shalat karena hanya mengambil muka kepada masyarakat (riya), lagi dikatakan akan merasakan siksaan neraka wailun,
Apatah lagi orang yang
shalat menyembah Allah,
tetapi menolak hukum-hukum Allah!
Di ayat 65 akan kita baca
penegasan Allah, dengan sumpah bahwa
orang yang tidak mau menerima Tahkim dari
Allah dan Rasul-Nya,
Tidaklah termasuk
orang yang beriman,
"Walau shallaa, walau shaama!"
Walaupun dia
Shalat, walaupun dia
Puasa.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 352-353, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENDIRIAN YANG TEGAS
Sudah terang pula kalau sekiranya
kaum jahiliyyah tidak menyukai peraturan Allah.
Pada
zaman modern sekarang ini,
pejuang-pejuang Islam yang ingin mengikuti
Sunnah Nabi, yang
bercita-cita hendak
menegakkan peraturan Allah di dalam alam ini kebanyakan
dibenci oleh golongan yang
tidak mengenal peraturan Allah itu.
Di dalam negeri-negeri Islam sendiri,
pejuang Islam dibenci dan
menderita berbagai
penderitaan jika dia
mengemukakan keyakinan hidup, menjelaskan
bahwa dia bercita-cita supaya di negerinya, peraturan dan undang-undang negeri
harus diambil daripada
peraturan dan
undang-undang Allah.
Ayat yang selanjutnya memberikan
ketegasan lagi sehingga
kebimbangan pejuang Islam itu
dihilangkan,
"Dan, jika engkau ikut kebanyakan orang yang di bumi ini, niscaya akan mereka sesatkan engkau daripada jalan Allah." (pangkal ayat 116).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 253, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
AYAHKU
"
Kalian ulama-ulama muda haruslah berhati-hati. Dalam masalah-masalah yang mengenai
ushalli dan
talkin atau
qunut, kalian boleh
berkeruk arang (bahasa Minangkabau, ertinya berbesar mulut). Tetapi yang berkenaan dengan
fatwa terhadap susunan masyarakat kalian mesti hati-hati. Sebab banyak, malahan
sebahagian besar hukum agama itu berkaitan dengan
kekuasaan." (Haji Rasul).
Sekian kira-kira perkataan beliau.
Ketika membicarakan kekuasaan itu di mata beliau terbayang perasaan lain, yang kita sendiri maklum, rasa tidak puas kerana kekuasaan itu tidak ada dalam kaum Muslimin.
(Indonesia belum Merdeka, -pen).
(Buya HAMKA, Ayahku, 182, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
PESAN BELIAU KEPADA MUHAMMADIYAH
Tetaplah menegakkan agama Islam!
Berpeganglah teguh dengan
Al-Qur'an dan Sunnah!
Selama Muhammadiyah masih berpegang dengan keduanya; selama itu pula ayah akan menjadi pembelanya.
Tetapi kalau sekiranya Muhammadiyah telah mensia-siakan itu, dan hanya mengemukakan pendapat manusia, ayah akan melawan Muhammadiyah, biar sampai bercerai bangkai burukku ini dengan nyawaku!
Sampaikan pesanku ini kepada
K.H. Mas Mansur sendiri.
Demikian kata beliau!
"Insya Allah, Ananda sampaikan!"
Dan saya sampaikan....
Muhammadiyah dibawanya ke Minangkabau;
beliau tidaklah sampai tahu benar, bahawa menjalarnya Muhammadiyah yang didirikan oleh
K.H.A. Dahlan, sahabatnya itu, akan
membawa hasil begini jadinya
setelah beliau wafat.
Beliau tidak sempat melihat beberapa orang
di antara muridnya duduk dalam
Parlimen Republik Indonesia, tidak sempat melihat
beberapa orang di antara muridnya duduk dalam
Konstituante: memperjuangkan dengan
gigih agar
Islam menjadi
Dasar dari
Negara ini.
Jelaslah bahawa
ayahku seorang besar Islam, walaupun aku ini hanya akan membanggakan sejarahnya sahaja, sebab
sejarahku kelak
orang lainlah yang akan menilai.
(Buya HAMKA, Ayahku, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
HAMKA: Hilang Belum Berganti
HAMKA lebih dikenal di
Malaysia, Brunei, Singapura, dan
Dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri.
Karya-karya beliau masih menjadi
rujukan utama hingga saat ini.
hidayatullah.com/artikel/opini/read/2010/01/29/3145/hamka-hilang-belum-berganti.html
PERBEDAAN PANDANGAN HUKUM ANTARA ISA DAN MUHAMMAD
Untuk menjadi
perbandingan, ingin kita mengemukakan satu contoh yang terjadi di
zaman Nabi Muhammad saw. berkenaan dengan hukum
rajam berzina, yang hampir serupa dengan kejadian di
zaman Nabi Isa a.s. tersebut.
Hanya
bedanya, di
zaman Nabi Isa a.s., seorang perempuan yang berzina
tertangkap basah lalu dihadapkan ke hadapan beliau
oleh orang lain.
Namun, di
zaman Nabi Muhammad saw. perempuan
yang bersangkutan datang sendiri menghadap Rasulullah mengaku dengan terus terang bahwa ia telah berzina, lalu meminta dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah saw. supaya dirinya dirajam. Dalam peristiwa yang lain lagi, ada seorang laki-laki bernama Ma'iz
datang dengan kehendak sendiri menghadap Nabi memohon supaya ia dirajam karena ia sudah berzina.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 5, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
QISHASH
"Dan untuk kamu dalam hal qishash itu ada kehidupan, wahai orang-orang yang mempunyai pikiran dalam." (pangkal ayat 179).
Artinya, dengan adanya hukum
qishash, nyawa bayar nyawa, sebagai hukum tingkat pertama,
terjaminlah kehidupan
masyarakat.
Orang yang
akan membunuh berpikir terlebih dahulu sebab
dia pun akan dibunuh.
Lantaran itu, hiduplah orang dengan
aman dan
damai, dan dapatlah dibendung kekacauan dalam masyarakat karena yang kuat berlantas angan kepada yang lemah.
Akan tetapi, kalau si pembunuh
hanya dihukum misalnya
15 Tahun dan apabila datang hari besar mungkin pula
hukumannya dipotong, orang-orang yang
telah rusak akhlaknya akan
merasa mudah saja membunuh sesama manusia.
Ada penjahat yang
bahkan lebih senang masuk-keluar penjara, ada yang memberi gelar bahwa penjara itu
"hotel prodeo" atau pondokan gratis, dan sebagainya.
Sungguh pun demikian, selalu juga ada terdengar ahli-ahli ilmu masyarakat yang meminta supaya hukum bunuh itu ditiadakan.
Akan tetapi, apa yang dikatakan Al-Qur'an adalah lebih tepat. Lebih baik dipegang pangkal kata, yaitu
utang nyawa bayar nyawa. Adapun membunuh dengan tidak sengaja ataupun dengan sebab-sebab lain, itu dapatlah diserahkan kepada penyelidikan polisi, jaksa, atau hakim sehingga menjatuhkan hukum dapat dengan seadil-adilnya.
Namun,
meniadakan hukum bunuh sama sekali adalah suatu
teori yang
terlalu cayah (lengah, tidak awas, tidak teliti).
Sebab,
ahli-ahli penyakit jiwa manusia telah
membuktikan memang ada kejahatan jiwa yang
hanya dengan hukuman matilah baru dapat
dibereskan.
Apalagi orang yang
telah membunuh, menjadi
amat rusak jiwanya, sehingga bila
bertengkar sedikit saja, mudah saja dia mencabut belati dan hendak
membunuh lagi.
Maka, di akhir ayat dinyatakan kunci yang sebenarnya,
"Supaya kamu semua menjadi orang-orang yang bertakwa." (ujung ayat 179).
Dengan ujung ayat tersebut,
jelaslah bahwa
maksud masyarakat beriman ialah
menegakkan keamanan, memelihara perdamaian, dan
mempertahankan hidup.
Kalau ada yang
dihukum bunuh, itu adalah
untuk menjaga keamanan hidup masyarakat seluruhnya.
Oleh sebab itu, keselamatan hidup bukanlah bergantung pada adanya undang-undang saja.
Keamanan hidup orang dan masyarakat lebih
terjamin apabila
tiap-tiap pribadi mempunyai
kesadaran beragama, yaitu
takwa.
Sehingga, bukan undang-undang yang mencegah mereka jahat, melainkan
takutnya pada
hukum Tuhan.
Itulah
"takwa".
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 335-336, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Terkait
metodologi penafsirannya,
Tafsir Al-Azhar mengambil
sumber secara berturut-turut dari
Al-Qur'an, Assunnah, aqwal (perkataan) para sahabat Nabi,
aqwal tabi'in, kitab-kitab
tafsir muktabar.
insists.id/dari-warisan-untuk-masa-depan-seminar-sehari-butir-butir-pemikiran-buya-hamka
MENAFSIRKAN AL-QUR'AN
Baik golongan
Ibnu Taimiyah maupun golongan
Imam Ghazali atau jalan lapang yang diberikan oleh
al-Qisthallani, pendapat mereka sama bahwa menafsirkan Al-Qur'an menurut
hawa nafsu sendiri atau mengambil satu-satu ayat untuk menguatkan satu pendirian yang telah ditentukan terlebih dahulu adalah
terlarang (haram);
Penafsiran seperti ini adalah
tafsiran yang
curang.
Yang
kedua ialah segera saja, dengan
tidak menyelidiki terlebih dahulu, menafsirkan Al-Qur'an, karena memahamkan
zahir maksud ayat, dengan tidak terlebih dahulu memperhatikan pendapat dan penafsiran orang yang dahulu. Dan, tidak memperhatikan
'uruf (kebiasaan) yang telah berlaku terhadap pemakaian tiap-tiap kata
(lafazh) dalam Al-Qur'an itu. Dan, tidak mengetahui
uslub (gaya) bahasa dan jalan susunan.
Hal yang semacam inilah yang dinamai
berani-berani saja memakai
pendapat sendiri (ra'yi) dengan
tidak memakai dasar.
Inilah yang dinamai
tahajjum atau
ceroboh dan bekerja dengan
serampangan.
Pendeknya, betapapun keahlian kita memahami arti dari tiap-tiap kalimat Al-Qur'an kalau kita hendak
jujur beragama,
tidak dapat tidak, kita mesti
memperhatikan bagaimana pendapat ulama-ulama yang terdahulu, terutama
Sunnah Rasul, pendapat sahabat-sahabat Rasulullah, dan
Tabi'in, serta
ulama ikutan kita.
Itulah yang dinamakan riwayah,
terutama berkenaan dengan ayat-ayat yang mengenai
hukum-hukum.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 36, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Jujurlah, walaupun kejujuran itu akan membunuhmu."
Sekian fatwa
Sayidina Umar bin Khaththab.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 387, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Kita berpeganglah kepada pokok pendirian ulama
ushul fiqh yang terkenal,
"Yang menjadi perhatian adalah umum tujuan kata, bukan khusus sebab terjadinya."
Dalam
segala agama dan segala masa
ada saja orang yang
amat pintar, sampai dapat disebut sarjana dalam
hukum-hukum agama. Akan tetapi, karena
ilmunya itu
tidak diikat oleh
iman, mudah saja baginya
memutar-mutar atau
menyembunyikan maksud ayat atau suruhan atau larangan untuk menenggang kemauan orang yang diseganinya atau untuk memperkuat pengaruh.
Padahal,
berapa pun terjual agama itu, selama masih di dunia ini juga, tetaplah sedikit harga itu. Sebab, segala macam yang bernama benda,
walaupun bumi seisinya, tidaklah dapat mengganti
kerugian iman yang telah
kosong dari dalam hati.
Isi perut orang yang
menyembunyikan kebenaran itu ialah
api neraka yang
akan membakar dirinya sendiri.
Kalau
dalam hati sanubarinya masih ada
sisa-sisa iman, dia akan
menyesal terus-menerus karena
kejahatan perbuatannya.
Dan, kalau perasaan itu
sudah tidak ada lagi karena memang
telah digantinya dengan
kebendaan emas-perak atau pangkat,
namanya telah pupus dari daftar hamba Allah yang setia memegang amanah.
Dengan tidak disadarinya, dia
telah jauh dari
garis yang
ditempuh oleh
Rasul dan
orang-orang ikhlas.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 317-318, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
ETIKA RAKYAT DAN PEMIMPIN
Ketahuilah bahwa salah satu dari sifat manusia pasti terdapat pada dirimu.
Pertama, orang
alim yang sudi menambah ilmunya dari orang
alim yang lain sehingga bertambahlah jua keutamaannya.
Kedua, jahil yang merasa diri serba kecukupan sehingga pendapatnya tidak ada harganya.
Tidak ada manusia yang sunyi dari aib dan tidak ada pula manusia yang segala perbuatannya salah.
Tidak ada halangan kalau engkau mengambil pertolongan dari orang di dalam sesuatu perkara yang diketahuinya, walaupun di dalam perkara yang lain ada celanya.
Mendapat
teman yang jahat amatlah berbahaya,
tetapi lebih berbahaya lagi jika kehilangan teman yang jujur.
Dua sifat itu harus engkau perhatikan betul di dalam
memegang kendali negeri.
Pertama, pandai mempersatukan paham dan pendapat orang banyak.
Kedua, teguh menjalankan pekerjaan.
(Buya HAMKA, Akhlaqul Karimah, Hal. 207, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Desember 2017).
"Mengangkat sebuah kitab suci Al-Qur'an, yaitu
tradisi yang diwarisi dari Belanda dan diteruskan oleh pemerintah kita, dan
sekali-kali tidak ada
dari Nabi Muhammad saw. ataupun
dari para sahabatnya." (Buya HAMKA).
Mereka telah
bersumpah dengan
mengangkat Al-Qur'an, namun yang
curang ada juga.
Telah
mengucap "Demi Allah", namun yang
korupsi masih ada.
Karena
semata sumpah tidaklah akan dapat mengubah pribadi yang
kosong dari
iman.
Setiap pegawai diangkat,
disumpah "Demi Allah" itu
sudah hilang wibawa kalimatnya.
Atau
Demi Allah telah
dijadikan tameng belaka dari
pribadi yang
bobrok.
Ayat 54 mengatakan dengan tegas,
"Tak usah bersumpah, laksanakan saja perintah. Itulah yang lebih baik." (pangkal ayat 54).
Karena
Allah Maha Tahu apa jua
yang kamu kerjakan.
Maka
seorang Mukmin tidaklah banyak sumpah,
Karena
dia jujur dan percaya kepada dirinya,
Yang
ya tetap
ya, yang
tidak tetap
tidak.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 320-321, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan mereka ikuti tiap-tiap setan yang selalu jahat." (ujung ayat 3).
Padahal
jalan selain dari jalan Allah adalah
jalan jahil, bukan jalan ilmu.
Jalan sesat, bukan jalan lurus.
"Dan memimpinnya kepada adzab neraka." (ujung ayat 4).
Artinya,
kesesatan itu
tidaklah hanya di
dunia ini saja, malahan
akan terus ke dalam
neraka yang memang disediakan oleh Allah SWT bagi
orang-orang yang mengikuti jalan
setan dan
iblis.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 99-100, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MEMBELA KEBENARAN DAN KEADILAN
Di dalam ayat ini
tegas Allah menyatakan bahwasanya di dalam umat-umat dan bangsa-bangsa yang telah dijadikan dan diciptakan oleh Allah,
Dia pun memilih suatu umat yang telah
menyediakan diri menegakkan kebenaran dan keadilan.
Dengan
sabda-sabda Nabi ini teranglah bahwa
membela kebenaran dan menegakkan keadilan adalah
sifat dari
umat Muhammad yang sejati.
Menjadi
umat Muhammad padahal
tidak berani menegakkan kebenaran dan keadilan, artinya telah
menghilangkan tugas yang diistimewakan buat mereka.
Sampai Hari Kiamat mereka wajib tegak
membela kebenaran dan keadilan.
Kalau itu tidak ada lagi,
tidak pula ada artinya lagi mereka
menyebut diri umat Muhammad.
Orang yang mencoba menggagalkan dan merintangi
sudah pasti ada sampai Hari Kiamat.
Oleh sebab itu, kalau
Muslimin bergerak lalu
mengeluh menerima halangan dan rintangan, itulah
orang yang tidak tahu akan hakikat dirinya.
Agama ini tidak akan hidup kalau tidak atas jihad.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 611-613, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Nasihat Rasulullah saw. agar kita banyak berpikir dan banyak merenung jauh, lebih banyak menangis daripada tertawa, terlukis pula dalam sabda beliau yang lain, demikian bunyinya,
"Kalau kamu ketahuilah apa yang aku ketahui, niscaya akan sedikit kamu tertawa, dan akan banyak kamu menangis. Sebab kemunafikan akan terlihat nyata, amanah akan hilang sirna, rahmat akan tercabut. Orang yang dipercaya akan mendapat tuduhan dan orang yang tidak dapat dipercayai akan memikul kepercayaan. Unta tua hitam akan terpaut di hadapanmu, dan fitnah-fitnah akan datang laksana malam gelap-gulita." (HR. Bukhari dan Muslim dan ahli-ahli hadits yang lain).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 234, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BEBAS DARI RASA TAKUT
Apabila jiwa telah mencapai martabat
Tauhid Uluhiyah itu, ia tidak mengenal takut pada apa-apa lagi karena insting atau naluri ketakutan yang ada dalam jiwa sudah dijuruskan kepada
Yang Maha Esa.
Sebaliknya, orang yang menyembah berhala, mempertuhan yang lain, baik benda maupun sesama manusia, rasa takut itu selalu bersarang dalam kalbunya, selalu merasa ragu.
Perhatikanlah orang-orang yang mempersekutukan yang lain dengan Allah itu alangkah pengecutnya.
Mereka menyembah-nyembah memohon pangkat kepada sesama manusia yang berkuasa, jadi raja atau jadi presiden, dia pergi menyembah-nyembah dan menjilat-jilat.
Dia takut beliau akan murka, dia takut pangkatnya akan diturunkan, dia takut dia akan diberhentikan dengan tidak hormat, dia takut anak-anaknya tidak akan makan.
Lantaran itu, kian lama dia kian menyembah kepada manusia yang diberhalakannya itu.
Maka, seluruh hidupnya dipenuhi oleh rasa takut.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 202-203, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HARTA BENDA DAN BAHAGIA
KEKAYAAN
Apakah hakikat kekayaan, dan apa hakikat kemiskinan?
Setelah payah hukama mencari apakah arti kekayaan yang sebenarnya, mereka telah mendapat keputusan, yaitu:
"Orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya".
Jadi, jangka turun naik kekayaan dan kemiskinan, ialah hajat dan keperluan.
Siapa yang paling sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya dan siapa yang amat banyak keperluan itulah orang yang miskin.
Raja-raja adalah orang yang paling miskin, karena keperluannya sangat banyak.
Di dunia diikat oleh bermacam-macam aturan dan keperluan, dan
di akhirat akan dibuka pula perkaranya yang besar-besar, sebagaimana yang diterangkan oleh
Sayidina Abu Bakar yang telah kita salinkan dahulu daripada ini.
Miliuner banyak yang miskin?
Pokok segala yang tersebut itu, pergantungannya ialah diri sendiri,
Kalau orang hendak kaya, cukupkanlah apa yang ada, jangan bernafsu hendak melengong kepada kepunyaan orang lain, hadapkan saja muka di dalam taat kepada Allah, tenteramkan jiwa di dalam menghadapi alhayat.
Kalau hendak miskin, ingatlah segala yang teringat, kenanglah segala yang belum ada, hendaki ini dan itu. Hendaki ke rumah yang lebih cantik, karena yang sekarang walaupun bagaimana cantiknya, belum juga cukup rasanya, sebab belum secantik rumah si anu,
Padahal rumah kita sendiri, sudah titik air liur orang lain melihatnya.
Kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada, sudi menerima walaupun berlipat-ganda beratus-ribu miliun, sebab dia nikmat Tuhan.
Dan tidak pula kecewa jika jumlahnya berkurang, sebab dia datang dari sana dan akan kembali ke sana.
Jika kekayaan melimpah kepada diri, walau bagaimana banyaknya, kita teringat bahwa gunanya ialah untuk menyokong amal dan ibadah, iman, dan untuk membina keteguhan hati menyembah Tuhan.
Harta tidak dicintai karena dia harta. Harta hanya dicintai sebab dia pemberian Tuhan. Dipergunakan kepada yang berfaedah.
Kekayaan majazi, menurut kebiasaan aturan hidup di zaman sekarang ini, ialah menumpahkan cinta kepada harta benda semata-mata, yang menyebabkan buta dari pertimbangan, sehingga hilang cinta kepada yang lain, kepada bangsa dan tanah air, agama, Tuhan, bahkan Tuhan itu tidak dipercayai lagi.
Hilang cinta kepada segala yang patut dicintai, bahkan kadang-kadang diri sendiri sudah lupa mencintainya. Sebab telah tertumpah kepada harta.
Orang kaya begini, dua bahaya mengancamnya.
Pertama, penyakit bakhil,
kedua, penyakit boros dan royal, sombong dan takabur, lupa bahwa manusia senantiasa diancam bahaya ngeri.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 229-231, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
TIDAK INSAF KE MANA KITA PERGI SESUDAH MATI
Orang takut mati karena dia tidak tahu ke mana akan pergi sesudah mati, dan tidak tahu bahwa jiwa itu kekal. Tidak tahu pula kaifiat dan keadaan hari kemudian.
Orang yang demikian, pada hakikatnya bukanlah takut mati, tetapi tidak tahu barang yang mesti diketahui.
Yang menimbulkan takut, ialah kebodohan.
Kebodohan yang menimbulkan takut orang yang bodoh, bagi para cerdik pandai mendorongnya menghabiskan umurnya menuntut ilmu.
Para cerdik pandai tidak peduli kepayahan jasmani untuk menuntut kemuliaan rohani.
Mereka lebih suka bertanggang, tidak tidur sampai larut malam karena memikir hikmah.
Mereka berkeyakinan bahwa kesenangan sejati di dalam kehidupan ialah terlepas dari kebodohan, terlepas dari kebingungan di dalam menilik rahasia alam.
Kepayahan yang larut menimpa jiwa.
Obatnya ialah mempelajari ilmu, itulah kelezatan sejati dan kesenangan abadi.
Oleh sebab itu kewajiban si akil menuntut ilmu yang hakiki, yang dengan ilmu itu dapat menyelidiki bagaimanakah keadaan insan sesudah matinya.
Seorang sahabat Nabi saw. bernama Haritsah berkata kepada Nabi,
"Oh, Rasulullah, seakan-akan hamba lihat Arasy Tuhan terbentang nyata di mataku. Seakan-akan hamba lihat ahli surga itu hidup di dalamnya bersuka-cita, berziarah-ziarahan. Dan seakan-akan hamba lihat pula ahli neraka menerima siksanya, melaknati yang satu kepada yang lain."
Ilmu yang sebagaimana didapat oleh Haritsah ini didapatkan dengan menyelidiki hakikat diri sendiri, dan menyelidiki hubungannya dengan badan kasar, bagaimana khasiat dan pengaruh jiwa, apa yang disukainya dan apa pantangannya.
Hadapkan ke mana tujuan kesucian dan hindarkan dari kerendahan yang menghalangi kesempurnaannya.
Karena kehendak rohani yang suci amat berlain dengan kehendak ikatan badan yang kasar.
Oleh karena itulah, Islam menyuruh kita berpikir, menyelidiki dan merenungi, disuruhnya bangun tengah malam, waktu gelap membawa kesunyian, di waktu cahaya yang lahir gelap dan cahaya batin terang, maka dari alam gaib akan menyorotlah cahaya abadi kepada jiwa yang gaib itu.
Disuruhnya memperhatikan keadaan alam bagaimana unta terjadinya, bagaimana langit terbentang, keadaan bukit di bumi, dan keadaan bumi terhampar.
Buat para budiman, segala harta benda, kekayaan dan lain-lain itu, mereka pergunakan sekadar yang perlu.
Datanglah kalau mau datang, akan mereka terima.
Pergilah kalau mau pergi, akan mereka lepas.
Mereka tidak hidup berlebih-lebihan.
Sebab semuanya mengajar manusia loba dan tamak.
Bilamana manusia telah sampai kepada suatu tingkat, dia hendak meningkat kepada yang lebih tinggi pula.
Yang membatas hanyalah kubur juga.
Ini harus dibatasi dengan kesadaran.
Mati yang sebenarnya ialah jika manusia diikat dunia, harta benda dan kekayaan, menjaga dan memeliharakan barang palsu, yang tidak ada harganya untuk dijunjung, yang kerap meninggalkan kita lebih dahulu, atau kita tinggalkan lebih dahulu.
Kematian Iradat
Mematikan kemauan dari dunia yang tidak berguna, ambil yang perlu saja, matikan syahwat dari kehendak yang di luar batas, matikan nafsu kelobaan dan tamak, matikan memburu harta sehingga melupakan kesucian. Lalu dijuruskan iradat itu kepada hidup yang lebih tinggi.
Kematian Tabiat
Bilamana jiwa telah meninggalkan badan. Para Hukama membuat pepatah:
"Matilah Sebelum Mati".
Kehidupan Iradat
Menghidupkan jiwa untuk mencari makanan dan minuman sekadar perlu, pakaian dan kediaman sekadar perlu.
Kehidupan Tabiat
Ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan, di dalam ilmu pengetahuan, di dalam menyelidiki hakikat alam yang jadi peta dari hakikat kebesaran Tuhan.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata,
"Siapa yang mematikan dirinya di dunia berarti menghidupkannya di akhirat".
Raghib Ashfahani berkata,
"Manusia dan kemanusiaan itu bukanlah sebagai kebanyakan persangkaan orang, yaitu hidupnya cara hidup binatang dan matinya cara kematian binatang pula. Berpikir di dalam makhluk itu hanya pada manusia saja. Kehidupan manusia adalah sebagai yang dinyatakan di dalam Al-Qur'an:
"Untuk memberi ingat kepada orang yang hidup." Mati manusia lain dari mati binatang. Mati manusia ialah mati syahwatnya, mati amarahnya, semua terikat oleh kehendak agama."
Sebab itu, dengan sendirinya sudah dapat dipahami, bahwa mati itu ialah kesempurnaan hidup.
Dengan kematian manusia sampai kepada puncak ketinggiannya.
Siapa saja yang tahu bahwa segala isi alam ini tersusun menurut undang-undangnya, dan undang-undang itu mempunyai jenis dan fasal (sifat); siapa yang paham bahwa kehidupan itu harus ditempuh jenis manusia, dan sifatnya ialah berpikir dan mati, maka akan paham pulalah dia bahwa mati wajib ditempuhnya, untuk menyempurnakan sifatnya. Karena tiap-tiap yang telah tersusun dari suatu benda, akhirnya dia akan surut kepada benda itu juga.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 195-199, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
Oleh seorang
ahli Hikmah:
"Alangkah celakanya orang kaya! Badannya tak pernah senang, istirahat tak memuaskan, siang malam berhati bimbang, takut harta susut. Raja-raja selalu mengintip, musuh-musuh selalu mengawasi, dan waris senantiasa memohonkan lekas mati."
Sesungguhnya mengharapkan harta lebih daripada mestinya, itulah
pangkal kerusakan budi manusia, itulah pangkal bertambah merajalela kemungkaran dan kejahatan; itulah yang menambah pengetahuan orang untuk memperhalus
ilmu tipu muslihat, ilmu penjajah, ilmu menaklukkan, ilmu menjual si bodoh.
Pandai sekali
nenek moyang kita memilih perkataan "Sudagar" bagi orang yang pintar berjual beli, sebab "su" artinya seribu, dan "dagar" artinya tipu. Sebagaimana "su-dara" artinya seribu cinta.
Kecintaan kepada harta sehingga sampai
menyembah harta, telah
menimbulkan agama sendiri, di luar dari agama Islam dan Kristen, di luar dari agama Brahmana dan Budha, yaitu agama yang diwahyukan oleh harta itu sendiri, mana yang halal kata harta,
walaupun haram kata agama, diikut orang juga wahyu harta, larangan harta itu juga yang dihentikan orang.
Terbaliklah aturan masyarakat lantaran harta, puji dan sanjung bisa dibeli dengan harta.
Orang junjung tinggi seorang berharta lantaran hartanya, meskipun dia seorang pencuri halus, laksana tikus mencuri daging tumit orang yang tidur nyenyak tengah malam. Dihembusnya supaya dingin, kemudian digigitnya, setelah terasa pedih oleh orang yang tidur itu, digosoknya dengan lidahnya dan dihembusnya pula, sehingga hilang pedih karena dihembus. Setelah orang yang kena gigit itu bangun pagi-pagi, dan dicobakannya menginjakkan kakinya ke tanah, barulah dia tahu bahwa dia kecurian.
Di balik itu,
orang yang kaya budi, miskin uang, tidak ada harganya dalam masyarakat.
Wahai, celakanya masyarakat hari ini; anak kecil pun telah tahu memilih kuda-kuda dan kereta-kereta kecil yang bercat air-emas.
Tiap-tiap surat kabar ke luar, penuh dengan pujian kepada orang kaya. Hingga dalam masjid dan di dalam gereja, tempat orang berharta disisihkan juga, walaupun di sana sedang duduk menghadap Tuhan.
Perempuan-perempuan lebih suka memilih laki-laki yang menang lotre atau dapat warisan banyak. Walaupun sekolahnya tidak tamat, daripada laki-laki yang pelajarannya cukup, tetapi gaji kecil.
Orang lebih menghormati harta daripada menghormati manusia, manusia itu akan ikut dihormati pula kalau harta ada di rumahnya, dan kalau harta itu pindah ke rumah orang lain, maka si penyimpan harta yang bermula tadi, tidak dihormati lagi.
Dunia kalau menghadapi seorang manusia, walaupun rupanya buruk, dipindahkannya kecantikkan orang lain kepada orang yang dihadapinya itu. Dan kalau dunia membelakangi orang pula, dicabutnya keindahan yang ada pada dirinya.
Perebutan harta benda di dunia sekarang ini, yang bagi orang seorang menimbulkan loba dan bagi bangsa menimbulkan semangat kapitalisme, inilah pangkal huru-hara dunia sekarang ini.
Inilah pangkal penjajahan, perampasan ekonomi. Dan ini pulalah yang menimbulkan pertentangan kelas, di antara yang punya dengan yang tak punya.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 242-244, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
SEDERHANA MENCARI PANGKAT
Sering terjadi, kritik keras dilancarkan pada seseorang yang berhasil menduduki suatu jabatan tinggi. Dia dituduh bodoh, koruptor, nepotisme, yaitu memberikan kedudukan dan posisi penting kepada sanak famili dan konco-konconya.
Akibat kerasnya kritik, terkadang pejabat itu memenuhi tuntutan dengan
memberikan pula jabatan-jabatan tertentu pada golongan oposisi.
Hanya saja setelah beroleh kedudukan, tukang kritik itu ternyata tak mau berbuat apa-apa,
bahkan dia juga berbuat sama dengan orang yang dikritiknya, korupsi, bodoh dan lain-lain;
Rupanya kritikannya lantaran rasa dengki belaka,
seperti seekor serigala yang menyalak keras; keras karena tak mampu memanjat buah anggur yang tinggi atau karena tidak dapat kesempatan.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 233, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
Banyak sekali orang menegakkan kehormatan diri di atas tengkorak orang lain, menyiramnya dengan darah supaya subur, tidak enggan menerima uang suap dengan senyum dan korupsi.
Pada lahirnya dilihat terhormat, lantaran kayanya, hartanya, gajinya, pakaiannya, darah turunannya,
padahal seorang penjahat.
Berapa banyak orang yang berbudi tidak cukup makan, orang penganiaya naik.
Berapa banyaknya orang yang berhias dadanya dengan bintang-bintang kadang-kadang bintang itu dikejarnya dengan menjual saudaranya.
Kita kembali kepada orang yang mengatakan, hidup itu cukup dengan menjaga diri sendiri saja, tidak usah dipertalikan dengan kepercayaan adanya Tuhan.
Demikianlah setengah gambar pembelaan kehormatan yang nampak oleh mata, yang terdengar oleh telinga yang disaksikan dengan pengalaman.
Kalau demikian tidaklah cukup peraturan hidup, kalau hanya bergantung kepada pembelaan kehormatan saja.
Kalau hati sunyi dari dua kepercayaan ini, yaitu adanya
Allah dan adanya
Hari Pembalasan pada kehidupan yang akhir, datanglah
Setan, bergeloralah
syahwat, melompatlah
nafsu dari rantainya, laksana Anjing di pautan melompati tangan yang memegang tulang.
Terbukalah jalan kepada
kerendahan budi, baik bagi diri sendiri, maupun bagi pergaulan hidup.
Tertutup pintu menuju keutamaan.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 98, 101, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
"Niscaya akan diadzab mereka oleh Allah, adzab yang pedih di dunia dan di akhirat."
Adzab di dunia ialah mereka telah terhitung "runcing tanduk"; tidak lagi akan dibawa sehilir semudik oleh orang-orang beriman. Hidup mereka pun akan melarat karena tersisih. Sebab agama itu ialah pergaulan, bukan pemencilan.
Adzab akhirat, tentu saja api neraka yang bernyala-nyala.
"Dan tidak ada untuk mereka di dalam bumi ini, dari seorang pelindung pun."
Yang akan melindungi sehingga kehidupan mereka tetap terjamin dan tidak terganggu, sebagaimana banyak terjadi pada kaum koruptor yang tidak dapat ditangkap oleh pihak penguasa, karena ada orang yang berpangkat tinggi yang akan melindunginya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 222, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH AL-MUTHAFFIFIIN
(ORANG-ORANG YANG CURANG)
Pada ayat yang pertama dikatakanlah
wailun bagi mereka; artinya celakalah mereka!
Merekalah pangkal bala merusak pasaran dan merusak amanah.
Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa keuntungan yang didapat dengan cara demikian bukanlah keuntungan yang terpuji, karena dia merugikan orang lain.
Wailun, celakalah dia!
Sebab kecurangan yang demikian akan membawa budi pekertinya sendiri menjadi kasar.
Tidak merasa tergetar hatinya memberikan rezeki yang didapatnya dengan curang itu sebagai
belanja anak dan istrinya, lalu mereka makan dan minum.
Itulah suatu kecelakaan atau
wailun.
Kerap kali juga
wailun itu diartikan neraka!
Memang, orang-orang yang berlaku curang itu membuat neraka dalam dunia ini, karena mereka merusak pasaran.
Kecurangan niaga seperti ini adalah termasuk perbuatan
korupsi juga.
Maka datanglah teguran Allah berupa pertanyaan,
"Apakah tidak menyangka orang-orang itu bahwa mereka akan dibangkitkan?" (ayat 4).
Apakah tidak terkenang dalam hati mereka bahwa kekayaan yang didapat dengan jalan curang dan merugikan orang lain itu tidaklah akan kekal?
Bahwa ia akan tertumpuk menjadi 'uang panas' yang membawa bencana?
Dan kalau dia mati, sedikit pun harta itu tidak akan dapat menolong dia?
Dan pada
harta yang demikian
tidak ada keberkahan sedikit pun?
Malahan mereka akan dibangkitkan sesudah mati, untuk mempertanggungjawabkan segala kecurangan itu.
"(Untuk menghadap) Tuhan sarwa sekalian alam." (ujung ayat 6).
Alangkah kecilnya kamu pada hari itu, padahal semasa di dunia engkau berbangga dengan kekayaan yang engkau dapat dengan jalan kecurangan itu.
Di Hari Kiamat terbukalah rahasia, bahwasanya
kedudukan engkau di hadapan
Mahkamah Ilahi, tidaklah lebih dan tidak kurang dari
kedudukan pencuri atau
maling,
Yang
semasa hidupmu di dunia dapat
engkau selubungi dengan
berbagai dalih.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 151, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEMULIAAN
Orang yang berjasa tidak boleh gamang dan kecewa jika di masa hidupnya dilupakan orang.
Orang tidak boleh menyesal jika tinggal di sebuah gubuk yang buruk.
Tidak boleh kecewa jika makan minumnya dan pakaiannya tidak semewah orang lain.
Sebab kelak buah tangannya akan menjadi modal kemajuan angkatan yang akan datang.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 280, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH
Ayat-ayat yang
muhkam disebut sebagai ibu dari Kitab.
Ibu Kitab artinya menjadi
sumber hukum, yang
tidak bisa diartikan lain lagi.
Kalau ilmu telah
rasikh, tidaklah berbahaya lagi.
Yang berbahaya ialah orang yang setengah-setengah berilmu.
Sebagai pepatah orang Minang,
"kepalang tukang, binasa kayu; kepalang cerdik, binasa negeri; kepalang alim, binasa agama".
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 579-582, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KAIDAH USHUL FIQIH
Meskipun terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat, namun yang kita jadikan pedoman ialah isinya. Karena tersebut di dalam kaidah ushul fiqih:
"Yang dipandang adalah umum maksud perkataan, bukanlah sebab yang khusus."
Artinya, yang dipandang ialah maksud dan tujuan perkataan, bukanlah tentang sebab turunnya ayat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 719, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
AL-QUR'AN: LAFAZH DAN MAKNA
Penafsiran pertama hendaklah diambil dari sumber
Sunnah Rasulullah saw., kedua dari penafsiran
sahabat-sahabat Rasulullah saw., dan ketiga dari penafsiran
tabi'in.
PENDEKNYA yang
berkenaan dengan
hukum, kita
tidak boleh menambah
tafsir lain. Sebab, tafsiran yang lain
bisa membawa
bid'ah dalam agama.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 32, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUKUM PIDANA ISLAM (HUDUD).
Bertemulah sebuah batu picak (pipih) tempat membasuh kaki ketika akan naik ke dalam surau di satu desa sunyi di Terengganu.
Setelah di tilik-tilik, rupanya batu landasan pencuci kaki itu ada tulisan.
Diperhatikan dengan saksama, tulisan itu adalah huruf Arab, cuma saja tidak ada titik pada huruf yang mestinya bertitik.
Diperhatikan pula dengan saksama, ternyata bahwa bahasa yang ditulis dengan huruf Arab itu ialah bahasa Melayu.
Lalu dimintalah para ahli dari universitas di London sendiri mengadakan penyelidikan kepada batu itu, sampai batu itu digambar, difoto dan dikonferensikan oleh ahli-ahli.
Ternyata bahwa memang huruf itu huruf Arab dan bahasa yang dituliskan dengan huruf Arab itu ialah bahasa Melayu.
Dan satu hal yang amat penting bertemu dalam batu itu ialah zaman batu itu ditulis. Batu itu telah sumbing, ada bagian yang terlepas karena berlama masa.
Bertemulah Tahun Hijrah 702. Tetapi ujung kalimat dua itu ada yang pecah. Sehingga tidak dapat ditetapkan apakah 702 saja, atau 721, 723, 724 sampai 729 atau 712, atau 728.
Meskipun demikian, batu itu telah dapat menjadi saksi yang nyata bahwa pada awal Abad ke-8 Hijriyah telah ada kekuasaan Islam yang besar di Tanah Melayu, khususnya di Terengganu.
Sebab yang dituliskan pada batu itu ialah beberapa peraturan Hukum Pidana Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 265, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Teranglah dari fakta sejarah bahwa telah datang Utusan dari Tanah Arab ke Pulau Jawa sekitar Tahun 675 M (Abad ke-1 H).
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 507, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut jejak-jejak setan; sesungguhnya, dia bagi kamu adalah musuh yang nyata." (al-Baqarah: 208).
Maka, dapatlah kita tafsirkan ayat ini bahwasanya kalau kita telah mengakui beriman dan telah menerima Islam sebagai agama, hendaklah seluruh isi Al-Qur'an dan tuntunan Nabi diakui dan diikuti.
Semuanya diakui kebenarannya dengan mutlak.
Meskipun misalnya belum dikerjakan semuanya,
Sekali-kali jangan dibantah!
Sekali-kali janganlah diakui ada satu peraturan lain yang lebih baik dari Peraturan Islam.
"Janganlah kamu meninggal, melainkan adalah hendaknya kamu Muslim sejati." (Aali 'Imraan: 102).
Ada seorang Kyai membolehkan seorang perempuan yang sedang haid masuk Masjid, padahal Al-Qur'an melarangnya.
Kyai itu menghalalkan karena katanya, di zaman sekarang sudah ada celana perempuan yang khusus untuk haid sehingga darah tidak akan menetes lagi ke bawah.
Kyai itu mempergunakan akalnya untuk membuka pintu yang ditutup Allah sebab kebetulan ada beberapa ibu, Nyonya-nyonya Menteri yang ingin masuk Masjid Baitur Rahim di Istana Merdeka, Jakarta.
Maka, untuk menunjukkan bahwa dia adalah "Kyai progresif", dikeluarkannya Fatwa itu.
Padahal, kalau akalnya masih murni, belum dipengaruhi oleh keinginan dapat julukan "progresif", dia tidak akan sampai hati meringankan larangan Al-Qur'an yang senyata itu.
Kita pun mengakui dan melihat bahwa tidak ada orang Islam zaman sekarang yang 100% dapat menjadi orang Islam,
Akan ada yang masih kekurangan.
Dan tidak pula ada satu negeri Islam yang disana hukum Islam telah berjalan 100%
Akan tetapi, belum adanya itu bukanlah menunjukkan bahwa Islam boleh kita pegang separuh-separuh.
Kita selalu wajib berusaha mencapai puncak kesempurnaan hidup menurut kemauan Islam, sampai kita mencapai
husnul khatimah.
Kita mengakui bahwa kita manusia mempunyai banyak kelemahan sehingga hasil cita-cita yang bulat tidaklah dapat dicapai sekaligus.
Dia kadang-kadang menghendaki tenaga, turunan demi turunan.
Namun, dengan adanya tujuan cita-cita, jelaslah apa yang diperjuangkan.
Jangan hanya merasa puas dengan apa yang telah dicapai.
Dan, di dalam negara yang penduduknya sebagian besar umat Islam dan ada pula pemeluk agama yang lain, agar terhadap golongan yang besar Muslim itu dibiarkan berlaku hukum
Syari'at Islam.
Di Indonesia ini pemerintah jajahan Belanda, untuk menghilangkan pengaruh hukum Islam, sengaja menonjolkan beberapa hukum adat.
Dan, hukum-hukum adat itu dicari-cari pada tiap-tiap daerah sehingga timbullah berbagai rona corak hukum karena perbedaan adat.
Belanda lebih suka hukum adat yang berpecah belah daripada penduduk negeri golongan terbesar (mayoritas) beragama Islam itu bersatu hukumnya menurut agamanya, padahal hukum itu memang ada.
Akan tetapi, lucunya, di negeri yang hukum Islam telah dijadikan hukum adat, mereka tidak pula mau mengakui hukum itu.
Seumpama di dalam negeri
Kerajaan Buton (Pulau Buton, Sulawesi) telah dijadikan hukum adat merajam orang yang kedapatan berzina dengan disaksikan oleh saksi menurut ketentuan Al-Qur'an dan
telah pernah dipotong tangan orang yang mencuri.
Di samping Istana Raja Buton masih didapati batu hampar tempat orang menjalani hukum rajam dan potong tangan itu.
Pemerintah Belanda tidak mau mengakui hukum adat yang demikian
sebab "katanya" melanggar perikemanusiaan yang amat dijaga dan dipertahankan oleh Pemerintah Hindia Belanda!
Seakan-akan hanya mereka yang mempertahankan kemanusiaan, sedangkan rakyat jajahan tidak!
Negara-negara penjajah dan negara besar yang berpengaruh telah berusaha dengan jalan pendidikan atau propaganda memasukkan jejak-jejak setan ke dalam jiwa kaum Muslimin pada negeri-negeri Islam yang mereka jajah atau pengaruhi agar orang Islam memakai peraturan lain untuk mengatur pergaulan hidup mereka.
Sehingga meskipun mereka masih mengaku Islam, mereka menolak tiap-tiap cita Islam untuk memperbaiki masyarakat.
Kadang-kadang timbul perpecahan di antara Muslimin, masing-masing mendakwakan dirinya yang benar, kawan yang lain kawan salah belaka.
Setan pun memasukkan rasa permusuhan kepada masing-masing pihak sehingga sukar dipertemukan.
Maka, terjuallah diri mereka kepada setan, bukan lagi menjual diri kepada Allah.
Di ayat inilah ditunjukkan akibat menuruti jejak setan-setan.
Sebab,
jalan Allah hanya satu dan kitab pedoman pun hanya satu, yaitu Al-Qur'an, dan
pimpinan hanya satu, yaitu Muhammad saw.
Setan selalu merayu di pinggir jalan itu, menggamit-gamit supaya tinggalkan itu, turuti dia.
Teladan dari Sunnah Rasul sudah terbentang nyata,
ijtihad dianjurkan, tetapi dalam rangka memelihara jalan itu dan kembali kepada itu.
Kalau tidak awas, diri pun jatuh tergelincir masuk lubang kebinasaan, Allah Maha Gagah, balasan-Nya amat pedih.
Dari daulat kebesaran Islam bisa jatuh ke dalam kehinaan kufur. Dari umat terjajah di bawah pengaruh setan.
Kekuatan hilang, tenaganya habis.
Kutukan Allah Maha Gagah, balasan-Nya amat pedih. Dari daulat kebesaran adil; umat yang lengah kalau tidak diberi hukum, bukanlah itu satu kebijaksanaan.
Akan tetapi, kalau umat itu insaf dan bangun, dan kembali maka Allah pun bijaksana pula buat memulangkan kembali kemuliaan mereka yang telah dicabut.
Tidak pun dapat pada generasi sekarang, niscaya generasi yang akan menurutinya.
Kemudian, datanglah ancaman dan pengecaman Allah atas yang lalai,
"Tiadalah yang mereka tunggu kecuali bahwa datang kepada mereka itu (siksa) Allah di dalam gumpalan awan bersama Malaikat. Padahal, perkara telah diputuskan dan kepada Allah akan kembali segala perkara." (ayat 210).
Lantaran itu, mereka jadikanlah yang batil menjadi ganti yang hak.
Ini karena telah mereka persekutukan yang lain dengan Allah.
Mereka telah menghabiskan tenaga buat memuja benda dan alam dalam berbagai bentuknya, padahal alam itu adalah makhluk belaka.
Kalau di zaman purbakala benar-benar orang mendirikan patung dan berhala buat disembah, dan mereka melupakan Allah karena mementingkan diri.
Tergelincir yang kedua ialah karena menurutkan purbasangka belaka.
Mereka tidak mau mempelajari hakikat dan agama yang dipeluknya sehingga apa yang dikerjakannya hanyalah turut-turutan, sehingga hakikat agama hilang dalam selimut dan selubung dari
bid'ah dan
khurafat.
Mereka telah tekun beramal, padahal yang diamalkannya itu tidak ada dalam Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 392-397, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEDERHANA KEPERLUAN HIDUP
Kerapkali orang miskin mencoba hendak hidup seperti orang kaya. Gaji kecil, belanjanya lebih besar dari gajinya. Pendapatannya rendah, borosnya lebih tinggi dari modalnya. Tentu habis. Sedangkan "laut ditimba lagi kering".
Itulah yang menyebabkan banyak penggelapan, korupsi, menghabiskan uang negara.
Sebab belanja seorang pegawai lebih tinggi dari pendapatannya.
Orang-orang yang terperosok hidup mewah yang palsu seperti sekarang ini pernah menerangkan bagaimana sulitnya pergaulan orang kecil dengan orang besar-besar.
Seorang yang bergaji kecil bernafsu memelihara nama dan martabat (gengsi) walaupun gaji kecil, lalu memakai pakaian yang sedikit mahal, kadang-kadang harganya sampai separuh gaji sebulan. Dia ingin menerima kedatangan tetamu orang besar-besar, yang datang ke rumah. Untuk itu dia menyediakan makanan dan minuman yang mahal, kalau tidak tentu menanggung malu. Kalau pindah majikannya ke tempat lain, harus menunjukkan setianya dengan melelang barang-barang majikan itu. Ketika terjadi dinner (makan malam) atau resepsi di rumah orang besar-besar, dia berlagak, sanggup pula meminum minuman seperti orang Eropa.
Keadaan itu semua memaksa mengeluarkan tenaga lebih dari kesanggupan diri.
Tidaklah heran, jika banyak orang besar-besar yang berutang kepada tukang peternakan uang. Ada juga yang sampai habis harta pusaka nenek moyang tergadai, karena hendak memenuhi kehendak hidup mewah.
Di kampung-kampung, orang berebut mencari pangkat menjadi kepala desa.
Di kota-kota orang bersaing mencari popularitas.
Supaya dipilih menjadi anggota perwakilan rakyat.
Padahal kebanyakan yang didapat di sana hanya pangkat, dan karena menuruti nafsu hidup mewah, perlulah ongkos atau gaji yang didapat ditambah dengan yang lain.
Inilah pangkalnya mencurangkan membuat orang tak segan-segan menggadaikan harta pusaka, menggelapkan uang negara dan korupsi.
Penyakit ini ada di zaman penjajahan.
Tetapi di zaman merdeka rupanya masih hebat.
Karena sisa jiwa rendah masih belum hilang.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 190-191, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
Disini jelas dalam kata seruan pertama, bahwa bagi orang yang beriman sudah ada satu konsekuensi sendiri karena imannya. Kalau dia mengaku beriman pemimpin atau menyerahkan pimpinannya kepada Yahudi atau Nasrani, atau menyerahkan kepada mereka rahasia yang tidak patut mereka ketahui, sebab dengan demikian bukanlah penyelesaian yang akan didapat, melainkan bertambah kusut.
Maka hal yang penting menjadi perhatian kita disini ialah bahwa disebutkan nama golongan mereka, yaitu Yahudi dan Nasrani.
Tidak disebutkan nama kehormatan lain yang kita pakai untuk mereka, yaitu Ahlul Kitab.
Dan kalau diri dilepaskan dari ta'ashub (fanatik) golongan, kitab-kitab yang terdahulu itu tidaklah berlawanan dengan Al-Qur'an.
Tetapi setelah mereka itu menonjolkan golongan, dengan menamai diri Yahudi dan Nasrani, maka Islam (Penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Esa) sudah ditinggalkan, dan dipertahankan golongan, dan pendirian yang mereka pilih telah salah.
Maksud ayat ini dalam dan jauh.
Artinya jika pun orang Yahudi dan Nasrani itu yang kamu hubungi atau kamu angkat menjadi pemimpinmu, meskipun beberapa orang saja, ingatlah kamu bahwa sebagian yang berdekat dengan kamu itu akan menghubungi kawannya yang lain, yang tidak kelihatan menonjol ke muka. Sehingga yang mereka kerjakan di atas itu pada hakikatnya ialah tidak turut dengan kamu.
Dalam kepercayaan sangatlah bertentangan di antara Yahudi dengan Nasrani; Yahudi menuduh Maryam berzina dan Isa al-Masih anak Tuhan, dan juga Allah sendiri yang menjelma jadi insan.
Sejak masa Isa al-Masih hidup, orang Yahudi memusuhi Nasrani, dan kalau Nasrani telah kuat kedudukannya, mereka pun membalaskan permusuhan itu pula dengan kejam sebagaimana selalu tersebut dalam riwayat lama dan riwayat zaman baru.
Tetapi apabila mereka hendak menghadapi Islam, yang keduanya sangat membencinya, maka yang setengah mereka akan memimpin setengah yang lain.
Dalam gelanggang internasional pun begitu pula. Pada Tahun 1964 Paus Paulus VI, sebagai Kepala Tertinggi dari Gereja Katolik mengeluarkan ampunan umum bagi agama Yahudi.
Mereka dibebaskan dari dosa yang selama ini dituduhkan kepada mereka, yaitu karena usaha merekalah Nabi Isa al-Masih ditangkap oleh Penguasa Romawi dan diserahkan kepada orang Yahudi, lalu disalib (menurut kepercayaan mereka).
Ampun apakah ini, sehingga pegangan kepercayaan 2.000 Tahun dapat diubah demikian saja?
Tidak lain, adalah Ampunan Politik.
Tenaga Yahudi yang kaya-raya dengan uang harus bersatu-padu dengan Kristen di dalam menghadapi bahaya Islam.
Dan tiba-tiba datanglah gagasan dari Gereja Katolik agar kekuasaan atas Tanah Suci kaum Muslimin, wilayah turun-temurun selama 1.300 Tahun lebih dari bangsa Arab supaya diserahkan kepada satu Badan Internasional.
Tegasnya, kepada PBB sedang yang berkuasa penuh dalam PBB itu adalah negara-negara Kristen. (Perancis Katolik, Amerika Protestan, Inggris Anglicant), dan Rusia (Komunis).
Mungkin di zaman Rasulullah sendiri yang demikian belum tampak, sebab di kota Madinah hanya masyarakat Yahudi yang terbesar di antara kedua agama itu, dan masyarakat Nasrani ada di Syam (Utara) dan Najran-Yaman (Selatan).
Yaitu dalam perkembangan selanjutnya, kedua agama yang sangat bermusuhan itu dapat bersatu-padu di dalam menghadapi dan memusuhi Islam.
Sampai berdiri negara Israel di tanah orang Islam dengan bantuan bangsa-bangsa pemeluk Kristen lebih dekat kepada Islam, sebab Islam membantah keras kepercayaan Yahudi bahwa Nabi Isa anak di luar nikah, dan memang lahir dengan Maha Kekuasaan Allah dari seorang anak dara yang suci.
Sedangkan Islam membantah keras kalau Nabi Isa itu dikatakan Tuhan. Islam mereka musuhi karena tidak mengakui Isa itu Allah, dan Yahudi mereka rangkul jadi teman, meskipun mereka mengatakan Isa anak zina!
Barangsiapa yang mengangkat pemeluk agama lain itu jadi pemimpin tidaklah berarti bahwa mereka mengalih agama.
Agama Islam kadang-kadang masih mereka kerjakan, tetapi hakikat Islam telah hilang dari jiwa mereka.
Saking tertariknya dan tergadainya jiwa mereka kepada bangsa yang memimpinnya tidaklah mereka keberatan lagi menjual agama dan bangsanya dengan harga murah.
Orang seperti ini banyak terdapat dalam sejarah.
Negerinya hancur, agamanya terdesak dan buat itu dia diberi balas jasa, yaitu bintang!
Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Sahabat Rasulullah saw., yaitu mereka telah jadi Yahudi, dan disini telah jadi Nasrani, padahal mereka tidak sadar.
Maka orang yang telah mengambil Yahudi atau Nasrani menjadi pemimpinnya itu nyatalah sudah zalim. Sudah aniaya. Sebagaimana kita maklum kata-kata zalim itu berasal dari zhulm, artinya gelap.
Mereka telah memilih jalan hidup yang gelap, sehingga terang dicabut Allah dari dalam jiwa mereka.
Mereka itu bisa senang pada lahir, kaya dalam benda, tetapi umat mereka jadi melarat karena kezaliman mereka.
Lantaran itu selamanya tidak akan terjadi kedamaian. Sebab umat Islam yang memegang teguh tauhid, selama-lamanya akan menyimpan dendam dalam hati, sampai mereka mendapat kemerdekaan kembali.
Dan orang yang jiwanya dipimpin oleh Yahudi dan Nasrani itu akan tetap menjadi kudis dan borok di hadapan mata mereka.
Seumpama sekarang ini, negeri-negeri umat Islam telah merdeka. Kita akan berhubungan dalam soal-soal ekonomi, kita tidak akan mengisolasi diri. Bahkan di dalam surah Al-Hujuraat ayat 13, dengan tegas Allah berfirman,
Demikian juga tidak ada larangan berbaik-baik dengan tetangga yang memeluk agama lain.
Rasulullah saw. memberikan contoh pula dalam hal ini. Beliau pernah menggadaikan Perisainya kepada tetangganya yang Yahudi buat pembeli gandum. Beliau pernah menyembelih Kambing untuk makanan sendiri, lalu khadamnya disuruhnya segera menghantarkan sebagian daging kambing itu ke rumah tetangganya Yahudi itu.
Inilah kalimat yang sangat tepat.
Bahwasanya yang mau menjadikan Yahudi dan Nasrani menjadi pimpinan, tidak lain daripada orang yang di dalam hatinya telah ada penyakit.
Penyakit, terutama yang pertama ialah munafik.
Yang kedua ialah agamanya itu hanya sekadar nama sebutan belaka, sebab kebetulan mereka keturunan orang Islam.
Bagi mereka sama saja, apakah pimpinan itu Islam atau Yahudi atau Nasrani, asal ada jaminan hidup.
Bahkan sampai kepada zaman kita telah merdeka sekarang ini, masih belum sembuh benar penyakit itu.
Orang yang lantaran di dalam jiwa telah ada penyakit, oleh karena kelemahannya dan pendirian yang tiada tetap, di waktu melihat musuh masih kuat, tidak merasa yakin akan kemenangan Islam; sebab itu mereka menyeberang ke pihak sana.
Kemudian ternyatalah bahwa Islam itu lebih kuat dari apa yang mereka sangka bermula.
Lantaran itu menyesallah mereka, hidup sudah serba-salah dan langkah sudah telanjur.
Bertanya orang Mukmin kepada sesamanya Mukmin, inikah orangnya yang tempo hari telah bersumpah mati-matian, bahwa mereka sungguh-sungguh beriman pula, sudi sehidup-semati mempertahankan iman dengan saudaranya Mukmin yang lain, tetapi sekarang karena kelemahan hati, mereka tidak tahan, lalu berpihak atau mengambil Yahudi atau Nasrani jadi pimpinan.
Orang-orang seperti inilah, yang terdapat di segala zaman, menjadi orang yang terombang-ambing karena dalam jiwa ada penyakit.
Dari sebab iman yang tidak tahan, lalu berpihak atau mengambil Yahudi atau Nasrani jadi pimpinan.
Orang-orang seperti inilah, yang terdapat di segala zaman, menjadi orang yang tidak tahan uji.
Ditinggalkannya barisan iman karena dia belum yakin akan kekuatannya. Malahan kadang-kadang mereka turut menghalangi perkembangan Islam.
Sungguh sikap mereka mendatangkan heran dalam hati orang yang beriman sehingga menjadi buah pertanyaan di antara sesama Mukmin.
Amal yang mereka usahakan selama ini sudah gugur, sudah percuma, tidak ada artinya lagi.
Karena di saat yang penting mereka meninggalkan pimpinan Rasul dan mengambil pimpinan Yahudi dan Nasrani.
Peringatan ini dibayangkan di zaman Rasulullah, namun dia akan menjadi peringatan terus-menerus, selama Islam masih ada di dunia ini dan masih akan terus berjuang menegakkan iman dan tauhid.
Partai Allah itulah yang akan menang akhir kelaknya. Menang di dalam diri pribadi menghadapi perdayaan setan iblis, hawa nafsu.
Tadi di atas diterangkan bahwa orang yang beriman tidaklah akan mengambil Yahudi atau Nasrani jadi pemimpinnya.
Di ayat yang sekarang ini dijelaskan lagi, bahwa yang memimpin umat Islam itu ialah Allah, sesudah itu Rasul, sebab Rasul menjalankan perintah Allah. Sesudah itu orang yang beriman,
Yaitu Partai yang akan menang ialah yang menjadikan Allah, dan Rasul, dan orang-orang yang beriman jadi pemimpinnya.
Mafhum Mukhalafah, yaitu sebaliknya dari ayat ini, satu partai umat Islam yang bukan Allah dan Rasul pemimpinnya, dan bukan pemimpin yang Mukmin pemimpinnya, tidaklah akan menang, malahan akan kalah.
Kalau pandangan kita atas hidup hanya ditujukan kepada kebendaan, memang yang menang ialah pengambil muka dan oportunis, yang sudi menjual iman dan agama dengan harta yang sedikit.
Tetapi kalau pandangan kita dipusatkan kepada pimpinan yang benar, dan salahnya yang salah, maka yang bertahan kepada pimpinan Allah dan Rasul dan orang-orang yang beriman itulah yang menang. Mereka tetap menang menghadapi segala perdayaan dan bujuk-cumbu dunia, walaupun untuk itu mereka menderita.
Kehidupan orang semacam itu dipandang sebagai kehidupan yang ideal. Semua orang yang berakal budi ingin hendak hidup sebagaimana demikian, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya dan menurutinya. Itu saja pun sudah bukti dari kemenangan.
Oleh sebab itu, maka orang-seorang atau golongan atau partai yang hendak memperjuangkan Islam, sekali-kali janganlah menukar jalan pikirannya dengan jalan pikiran yang bukan Islam.
Sebab shalat itu bisa juga diartikan berdoa. Bahkan disini ditekankan, hendaklah dia ruku', hendaklah dia shalat menurut contoh Nabi Muhammad dengan lengkap syarat dan rukunnya, ruku' dan sujudnya.
Demikianlah konsekuensinya kalau Islam yang hendak diperjuangkan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 703-730, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).