"Orang yang kurang ajar kepada Nabinya umat Islam ini bukanlah dengan tanya dan jawab demikian harus diselesaikan. Menyelesaikannya hanyalah dengan ini!" Lalu disentaknya pisau belatinya, ditancapkannya ke punggung pesakitan itu, ditekannya kuat-kuat sampai tembus ke bagian muka dan ditariknya ke bawah. "Begini...", katanya dengan tenang. Semua anggota mahkamah terkejut, si pesakitan telah tersungkur meregang badan, lalu mati, darah berbuih, ususnya terburai. Ketua mahkamah hendak lari keluar. Ulama-ulama yang hadir terbingung-bingung. Lalu dengan tenangnya Abdul Qayum berkata, "Paduka tuan Hakim tidak perlu lari. Saya tidak gila, dan saya tidak akan berbuat kepada tuan seperti itu, kalau tuan tidak menghina Nabi kami seperti dia pula." Barulah polisi-polisi penjaga sadar akan dirinya. Mereka pun mendekati Abdul Qayum dan kebetulan polisi-polisi ada yang orang Islam. Abdul Qayum berkata dengan tenangnya, "Janganlah tergesa dan gugup menangkap saya, saya tidak akan lari. Tugas saya membela Nabi saya sudah selesai, inilah saya, tangkaplah dan tahanlah, dan inilah pisau belati itu." Abdul Qayum dimasukkan ke dalam tahanan, wajahnya jernih berseri selama ditahan. Satu mahkamah lagi bersidang dan Abdul Qayum dihukum mati.
Kita salinkan kisah nyata ini, bukanlah dengan maksud supaya umat Islam Indonesia mengacau keamanan. Maksud kita hanya menyerukan kepada pemeluk agama lain atau kaum yang mengejek agama supaya dapat menjaga ketenteraman kita bernegara, dengan tidak mengadakan sikap dan tingkah laku yang dapat menimbulkan cara yang diambil oleh al-Ghazali Abdul Qayum itu.
-Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar-
Megawati mengatakan sejarah bangsa harus diterangkan kembali dengan utuh kepada generasi muda. Ia mengatakan referensi sejarah tersebut tersedia di Arsip Nasional Republik Indonesia. "Datangkan sejarawan untuk menceritakan hal ini," kata Megawati.
nasional.tempo.co/read/1404068/megawati-heran-anak-muda-senang-berorientasi-pada-amerika
CAHAYA BARU
Yaitu 12 abad setelah tiadanya Nabi saw. dengan lahirnya Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab, guru besar ajaran Wahabi yang masyhur. "Kembali pada ajaran Rasul saw. yang asli", adalah dasar pengajarannya. Tauhid yang khalis, yang tidak bercampur dengan syirik sedikit juga ke sanalah semua umat harus pulang agar selamat dunia dan akhirat.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MUNAFIK
Orang munafik adalah orang yang sangat lemah. Pengalaman yang saya rasakan pada zaman perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sangatlah hebat. Sesudah agresi militer Belanda kedua, saya mendapat kesan bagaimana menderitanya jiwa orang-orang yang lemah itu. Pada waktu daun timbangan Belanda masih di atas, mereka berpihak kepada Belanda dan membusungkan dada sambil mencemooh bangsa sendiri, mencela dan membongkar segala keburukannya, lalu berkata, "Mana bisa merdeka!" Namun, setelah daun timbangan Republik naik pula, mereka bertukar haluan dan berkata, "Saya sebenarnya Republikein (1) juga! Tetapi karena perut lapar, saya terpaksa bekerja untuk Belanda. Namun, hati saya tetap ingin merdeka!"
(1) Golongan yang konsekuen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
(Buya HAMKA, Bohong Di Dunia, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
MEMPERSEKUTUKAN (MENGADAKAN TANDINGAN-TANDINGAN)
Dalam Islam, sekarang bisa juga datang keruntuhan agama seperti yang menimpa umat-umat yang dahulu. Kerusakan agama umat yang dahulu ialah karena aturan agama sudah sangat dicampuri oleh kepala-kepala agama, oleh pendeta, uskup, rabbi dan sebagainya. Pemuka-pemuka agama itu yang menentukan halal-haram, menambah-nambah agama, sehingga hilang yang asli dibungkus oleh tambahan.
BERJIWA BESAR
Aku sendiri boleh engkau maki-maki, aku tidak akan marah. Tetapi kalau agama Allah yang engkau singgung, engkau akan mendapat bagianmu yang setimpal!
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
CEMBURU KARENA AGAMA
"Sangat awaslah kalau harta bendanya tersinggung, tetapi tak ada perasaannya apabila agamanya kena musibah." Itu adalah syair warisan Sayyidina Ali, ejekan kepada orang yang telah luntur rasa ghirah agamanya.
GHIRAH
Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab, kehilangan ghirah sama dengan mati!
(Buya HAMKA, GHIRAH: Cemburu Karena Allah, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GHURABAA
Saya salinkan ke dalam bahasa kita apa yang ditulis oleh Ibnul Qayyim ini dalam Madarijus Salikin tentang ghurabaa ini. "Muslim sejati di kalangan manusia adalah asing. Mukmin di kalangan orang Islam adalah asing, ahli ilmu sejati di kalangan orang beriman adalah asing, Ahli Sunnah yang membedakannya dengan ahli dakwah nafsu dan Bid'ah di kalangan mereka adalah asing dan ahli-ahli dakwah yang membawa orang kejurusan itu dan orang yang selalu disakitkan oleh orang yang tidak senang, pun adalah sangat asing. Namun, orang-orang itu semuanya adalah Wali Allah yang sebenarnya, sebab itu mereka tidak asing. Mereka hanya asing dalam pandangan orang kebanyakan ini."
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya." (ash-Shaff: 9).
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
TIDAK MENEGUR
Kamu dan yang kamu sembah itu, baik kayu atau batu, apatah lagi sesama manusia, kalau sesama manusia itu menganjurkan supaya dirinya disembah seperti menyembah Allah. Atau dia orang, tidak menegur ketika manusia telah menuhankannya atau mendewa-dewakannya. Si penyembah dan yang disembah akan sama-sama jadi penyala api neraka Jahannam.
KEKAL DI NERAKA JAHANNAM
Ibnu Mas'ud berkata, "Orang yang diadzab kekal di Neraka Jahannam itu dimasukkan ke dalam peti dari api. Peti itu dalam peti lagi, hingga berlapis, lalu dipaku di luarnya, sehingga suatu pun tidak ada yang mendengar. Dan siapa-siapa yang telah dimasukkan ke dalam peti berlapis itu tidaklah melihat orang lain yang sama diadzab, sebab ia di dalam peti sendiri-sendiri."
"... Mereka itu daripadanya akan dijauhkan." (al-Anbiyaa': 101).
Berkata Ibnu Abbas, "Itulah orang-orang yang telah diangkat menjadi wali-wali Allah, yang mereka lalu saja di atas titian shirath secepat kilat ..."
MEMPERTAHANKAN AQIDAH
"Apakah mengira manusia bahwa mereka akan dibiarkan berkata, 'Kami telah beriman', padahal mereka masih belum diuji lagi?" (al-'Ankabuut: 2).
Si Mukmin tahu benar bahwa adat-istiadat itu bukan berasal dari Islam. Ujian pun datang! Kalau ditegur, orang pun marah. Tidak ditegur, Allah yang marah!
Kalau dia berdiam diri, tidak berjuang melawan rasa takut, dia akan terbenam dan imannya akan terancam hilang. Tetapi kalau dia berani menghadapi segala kemungkinan, belum tentu dia akan binasa. Dan kalau binasa juga, misalnya dia mati, maka matinya adalah mati syahid. Mati yang semulia-mulianya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
WIBAWA DAKWAH BUYA HAMKA
Tepat hari ini, 109 tahun silam, Hamka dilahirkan. Ia seakan hadir ditakdirkan untuk menjadi sosok berwibawa di hadapan penguasa. Bahwa berdakwah yang benar bukan menuruti selera penguasa sebagaimana bunyi gendang begitu gerak tari, dan bukan pula didasarkan pada keterampilan merias kata-kata, kecermatan menjual agama, dan seni memperkosa ayat suci dan sabda Nabi, bukan! Melainkan justru meneguhkan prinsip, menyuarakan kebenaran dan keadilan secara merdeka, serta berakhlak mulia. Kita amat sangat membutuhkan banyak sosok seperti Hamka hadir saat ini. Sosok yang berwawasan luas, merdeka dan tegas menyatakan kebenaran di hadapan penguasa, teguh memegang prinsip, berakhlak mulia, dan berwibawa. Semoga segera muncul Hamka-Hamka baru!
islampos.com/wibawa-dakwah-buya-hamka-113580
PKI, Hantu atau Nyata? - ILC tvOne
youtube.com/watch?v=GeKaIHhQn3E
GERAKAN WAHABI DI INDONESIA
Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentimen umat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
Doa Al-fatihah dan Yasin, sampaikah ke orang yang sudah meninggal? - Ustadz Abdul Somad Lc MA
youtube.com/watch?v=gMWi9M0Z6pA
BAHAYA BICARA AGAMA TANPA ILMU
1. Hal itu merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah.
Katakanlah: "... dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)" (Al-A'raf: 33)
Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: "Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi ..."
10. Berbicara agama tanpa ilmu merupakan perintah syaithan.
Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)
muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html
BINATANG TERNAK
Ada lagi orang yang telah dipengaruhi Setan dalam lain bentuk, yaitu dirayu Setan supaya tetap memegang pendirian yang salah. Karena perdayaan Setan juga, "Mereka berkata, 'Bahkan kami (hanya) mau mengikut apa yang telah terbiasa atasnya nenek moyang kami!'" Benar ataupun salah adalah nenek moyang kami. Kami akan mempertahankan pusaka mereka, yang tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan. Jawaban begini menunjukkan bahwa pikiran tidak berjalan beres lagi atau berkeras mempertahankan adat lama pusaka usang. Bukan akal lagi yang berkuasa, melainkan hawa nafsu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DUKUN
Pembacaan surah Yasin untuk orang yang telah meninggal pun tidak ada ajaran yang sah dari Nabi. Setelah nenek-moyang kita memeluk agama Islam, belumlah hilang sama sekali kepercayaan animisme itu, sehingga berkumpul-kumpullah orang di rumah orang kematian pada hari-hari yang tersebut itu, sebagai warisan zaman purbakala, cuma diganti mantra-mantra cara lama dengan membaca Al-Qur'an, terutama surah Yasin.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Kenapa Orang Komunis Masih Shalat? Ini Jawaban Buya Hamka
"Tegasnya, Tuhan bagi paham komunis adalah suatu yang ditentukan oleh perut belaka," tulis Buya Hamka.
republika.co.id/berita/q5er13430/kenapa-orang-komunis-masih-shalat-ini-jawaban-buya-hamka
Kisah 7 Kaum Muda Wahabi Tobat di Hadapan Ulama Mekkah
alif.id/read/ahmad-ginanjar/kisah-7-kaum-muda-wahabi-tobat-di-hadapan-ulama-mekkah
Ustaz A Somad, Harmonisasi Bali dan Kebangkitan Umat Bali
Gayanya mengingatkan pada dua ulama besar yang dimiliki bangsa ini: Buya Hamka dan KH Zainuddin MZ. Mirip seperti Buya, dengan keluasan ilmu, cara memandang perbedaan dan logat Melayunya yang amat kenal.
Yap. Dengan penghakiman bidah, sesat, kafir: telah menghasilkan perpecahan umat yang makin mengerikan. Tak percaya? Sila jalan-jalan keliling pedesaan, pegunungan, pedalaman di sejumlah daerah di Indonesia. Dan muncullah Ustaz Abdul Somad. Gaya dakwahnya begitu jenaka, tapi amat mengena. Mendobrak doktrin-doktrin kelompok yang merasa paling nyunnah sejagat semesta. Ustaz Abdul Somad pun makin digandrungi. Ia mampu menyatukan seluruh elemen. Mampu pula mematahkan argumen kelompok penuding bidah, sesat, kafir.
republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/12/12/p0umym396-ustaz-a-somad-harmonisasi-bali-dan-kebangkitan-umat-bali
MENGHORMATI KEMERDEKAAN BERPENDAPAT
Hal ini telah diderita oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, yang dituduh kafir lantaran tidak mengakui adanya syafaat wali-wali keramat.
Di tanah air kita Indonesia ini, di masa penjajahan, kemerdekaan menyatakan pendapat dianggap berbahaya, apalagi bilamana rasa sayang dan benci (sentimen) orang awam dikobar-kobarkan pula, sehingga dengan mudah seseorang dituduh kafir atau sesat, kalau pendapatnya itu berlainan bunyinya jika dibandingkan dengan yang terbiasa dipakai.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Republika Penerbit, 2015).
TAUHID YANG SEJATI
Seluruh Alam Minangkabau menerima gerakan Wahabi dengan tidak perlu menukar mazhab, Tuanku Nan Tuo, Syaikhul Masyaikh (Guru dari sekalian Guru) cukup disiarkan tidak dengan kekerasan dan ada yang menyusun kekuatan memberantas segala Bid'ah dan Khurafat adat jahiliyah. Kalau perlu dengan Pedang!
Maka pecahlah Wahabi sama Wahabi, putih sama putih.
(Buya HAMKA, Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao, Republika Penerbit, Cet.I, 2017).
MADZHAB ASY'ARI
Madzhab yang dikatakan dekat kepada Sunnah adalah Madzhab Asy'ari. Madzhab Asy'ari dalam hal tidak mempergunakan pertimbangannya sendiri. Madzhab yang di-nya saja yang berlain sedikit. Di seluruh alam sekarang ini berdirilah sekolah-sekolah tinggi. Orang berpikir bertambah maju. Soal-soal dikupas orang dengan sistem pikiran yang teratur dan pada pihak kaum Muslimin masih ada yang bersitegang urat leher mempertahankan taklid.
Kalau taklid itu kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., itulah yang kita kehendaki!
Akan tetapi, yang dikatakan taklid oleh mereka ialah kepada golongan yang dikatakan ulama telah menafsirkan dari tafsirnya tafsir. Oleh sebab itu, yang dikatakan ulama atau kiai ialah yang sanggup mengahafal perkataan orang lain dan tidak sanggup mempergunakan pikirannya sendiri. Barangsiapa yang mencoba mempertimbangkan suatu soal dengan mencoba menggunakan pikirannya sendiri, dapatlah cap dan tuduhan Muktazilah. Kadang-kadang dipergunakan tuduhan ini untuk mencapai kemenangan politik jangka pendek. Lantaran ini, tidaklah heran jika pada masa terakhir, orang lain telah sangat maju mempelajari agama Islam dengan sistem berpikir yang bebas, yang kadang-kadang tidak menguntungkan Islam. Akan tetapi orang Islam, karena ikatan taklid kepada tukang tafsirkan tafsir dari tafsirnya tafsir, tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolak hujjah dengan hujjah sebab tidak mempunyai alat.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM, Hal. 418-423, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
BINATANG TERNAK
Islam menyerukan supaya terlepas dari waham, syak, dari ikatan was-was. Manusia diciptakan Tuhan bukan buat menjadi Pak Turut, sebab Pak Turut itu ialah binatang ternak. Islam pun memalingkan hati dari persangkaan yang berlebihan atas nenek-moyang, menyangka bahwa segala yang dari nenek-moyang itu benar semuanya, sehingga tak mau mengubah dengan yang lebih disetujui akal. Islam dengan keras mengritik orang yang berkata, "Demikian yang kami terima dari nenek-moyang kami!" Dalam Al-Qur'an perkataan yang demikian dijawab dengan kritik keras, "Bagaimana kalau nenek-moyangnya itu tidak berakal dan tidak beroleh petunjuk?"
(Buya HAMKA, TASAWUF MODERN: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 124-125, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
SURAH AL-KAAFIRUUN (ORANG-ORANG KAFIR)
Soal aqidah, di antara Tauhid mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampuradukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.
"... Orang-orang kafirlah yang membuat-buat atas nama Allah akan kedustaan. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah kepada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada Rasul.' Mereka pun menjawab, 'Cukuplah bagi kami apa-apa yang telah kami dapati atasnya bapak-bapak kami.' Apakah walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui sesuatu dan tidak dapat petunjuk?" (al-Maa'idah: 103-104).
Sumber agama, sebagai yang diserukan pada ayat ini sudah tegas sekali, yaitu peraturan dari Allah dan Rasul. Di luar itu, Bid'ah namanya. Segala perbuatan Bid'ah itu nyatalah tidak bersumber dari pengetahuan dan tidak dari petunjuk (hidayah Ilahi).
Dalam kalangan kita kaum Muslimin yang telah jauh jarak zamannya dengan Nabi, bisa saja timbul aturan yang tidak-tidak, yang tak masuk akal, tidak dari Al-Qur'an dan tidak dari Sunnah Rasul. Namun, kalau ditegur mereka marah dan bersitegang urat-leher mengatakan bahwa begitulah yang diterima dari nenek moyang. Inilah yang bernama taqlid, yaitu memikul saja, menyandang saja apa yang diterima dengan tidak memakai pikiran.
Golongan adat ini tidak semata-mata zaman sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi rasul, tetapi segala penyelewengan dari garis agama yang benar lalu dikatakan bahwa itu pun agama, termasuklah dalam jahiliyyah.
BINATANG TERNAK
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutlah apa yang diturunkan Allah!' Mereka katakan, 'Bahkan kami (hanya) mau mengikut apa yang telah terbiasa atasnya nenek moyang kami.' Bagaimana kalau keadaan nenek moyang mereka itu tidak mengerti suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk? Dan perumpamaan orang-orang yang tidak mau percaya itu ialah seumpama orang yang mengimbau kepada barang (29) yang tidak mendengar kecuali panggilan dan seruan, tuli, bisu, buta. Oleh sebab itu, tidaklah mereka berakal." (al-Baqarah: 170-171).
(29) Yakni: Binatang.
Ada lagi orang yang telah dipengaruhi Setan dalam lain bentuk, yaitu dirayu Setan supaya tetap memegang pendirian yang salah.
Karena perdayaan Setan juga, "Mereka berkata, 'Bahkan kami (hanya) mau mengikut apa yang telah terbiasa atasnya nenek moyang kami!'" Benar ataupun salah adalah nenek moyang kami. Kami akan mempertahankan pusaka mereka, yang tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan. Jawaban begini menunjukkan bahwa pikiran tidak berjalan beres lagi atau berkeras mempertahankan adat lama pusaka usang. Bukan akal lagi yang berkuasa, melainkan hawa nafsu.
Dimisalkan di sini laksana orang yang mengimbau, ialah bila gembala menggembalakan binatang-binatang ternaknya. Kerja binatang-binatang itu hanya makan, memamah biak. Sedang memakan rumput, mulutnya mengunyah, walaupun tidak sedang memakan rumput, mulutnya tetap mengunyah juga. Walaupun dia dihalau ke mana saja, tidaklah dia peduli. Yang penting baginya ialah mengunyah. Mudharat atau manfaat tidak ada dalam perhitungan mereka, sebab mereka telah terbiasa digembala orang. Walaupun sudah datang waktu buat meninggalkan tempat itu, mereka tidak akan beranjak kalau tidak dihalau. Maka, orang-orang yang menjadi Pak Turut atau yang disebut muqallid samalah dengan binatang di padang penggembalaan itu. Tidak ada kegiatan dari diri mereka sendiri. Tidak ada yang diharapkan dari pendengaran atau suara atau penglihatan mereka. Matanya tidak bersinar selain dari sinar kebodohan, sinar yang kosong dari isi. Ingatlah lembu yang telah dihalau ke pembantaian akan dipotong. Walaupun telah bergelimpangan bangkai temannya karena disembelih, tetapi yang masih tinggal sepak-menyepak dan tanduk-menanduk juga sesama mereka. Ini karena tidak mereka ketahui bahwa yang mereka hadapi adalah penyembelih mereka juga. Mereka tidak sempat berpikir bahwa giliran akan tiba juga pada mereka. Bukanlah setiap yang didengar atau diterima dari nenek moyang langsung dilulur saja. Orang yang telah sanggup berpikir tentang alam, janganlah sampai menjadi Pak Turut dalam soal-soal kepercayaan dan pendirian.
IMAN, HIJRAH DAN JIHAD
Hijrah itu habis sendirinya bila Mekah sudah dapat dibebaskan dari kekuasaan orang-orang yang mengambil keuntungan untuk diri sendiri, dengan membelokkan ajaran Allah dari aslinya.
MENUHANKAN GURU
"Telah mereka ambil guru-guru mereka dan pendeta-pendeta mereka menjadi Tuhan-Tuhan selain Allah ... Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan itu." (at-Taubah: 31).
Termasuk juga dalam rangka ini, yaitu menganggap ada kekuasaan lain di dalam menentukan ibadah selain daripada kekuasaan Allah, ialah menambah-nambah ibadah atau wirid, doa dan bacaan pada waktu-waktu tertentu yang tidak berasal dari ajaran Allah dan Rasul saw. Ibadah tidak boleh ditambah dari yang diajarkan Rasul saw. dan tidak boleh dikurangi. Menambah atau mengurangi, memaksa-maksa dan berlebih-lebihan dalam ibadah adalah ghuluw. Dan, ghuluw adalah tercela dalam syari'at. Sama pendapat (ijma) sekalian ulama mencela perbuatan itu. Inilah dia Bid'ah!
MUNAFIK
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Kemarilah, kepada apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul!' Engkau lihatlah orang-orang yang munafik itu berpaling dari engkau sebenar-benar berpaling." (an-Nisaa': 61).
Di ayat 59 sudah diserukan, jika terjadi pertikaian pikiran, pulangkanlah kepada Allah dan Rasul, niscaya perselisihan dan pertikaian pikiran itu akan habis dan akan mendapat kata sepakat. Tetapi orang yang munafik tidak mau begitu. Mereka hanya mau kembali kepada Allah dan Rasul kalau ada keuntungan untuk diri sendiri, dan kalau akan merugikan bagi diri mereka, mereka tidak mau. Mereka turut bersorak, mendabik dada mengatakan percaya kepada Allah, tetapi di saat dibawa kepada Allah, mereka enggan menurut.
GEMBIRA BUAT YANG MUNAFIK?
Meskipun munafik dan kafir sama-sama masuk neraka, namun tempat munafik adalah di alas yang di bawah sekali. Sebab karena dipandang lebih hina.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 309, Jilid 3 Hal. 55-56, Jilid 1 Hal. 309-312, Jilid 4 Hal. 55, Jilid 4 Hal. 137, Jilid 2 Hal. 350-499, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUNAFIK
Munafik adalah perangai jahat yang diberi kulit baik. Siapakah orang yang munafik? Orang munafik itu sendiri lebih tahu siapa dirinya. Yaitu orang yang hendak menipu orang lain dia memperdayakannya. Musang yang meminjam bulu ayam yang sudah dibunuhnya, lalu dipakainya untuk menipu ayam lain.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 55, Republika Penerbit, 2015).
SYIRIK
Kalau Allah SWT sudah dipersekutukan dengan yang lain, sudah mulai syirik, kita sendirilah yang telah memutuskan perhubungan dengan Dia. Tamatlah ceritanya. Tidak ada lagi perjuangan di dalam Islam. Kita sudah terhitung orang luar.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM, Hal. 419, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
SAAT KESADARAN
Allah takdirkan menimbulkan mujaddid yang pertama untuk kebangkitan yang sekarang ini. Itulah Muhammad bin Abdul Wahab di Nejed. Kebangunan Muhammad bin Abdul Wahab yang mula-mula itu adalah seumpama "bom" yang amat keras memukul kubu-kubu pertahanan Islam yang bobrok. Dia memukul sekeras-kerasnya Islam yang telah rusak. Dipandangnya kaum Muslimin di mana-mana di seluruh dunia telah sesat, telah musyrik. Kemusyrikan itu wajib dibanteras dan umat dibawa kembali kepada Tauhid yang khalis.
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 67, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
TERSINGGUNG PUNCAK BISULNYA
Kita pun harus sadar akan ada golongan yang tersinggung puncak bisulnya jika kita membuka soal agama. Kadang-kadang kita akan dituduh pemecah persatuan, dilarang membuka-buka, mengutik-utik masalah khilafiyah. Dengan segala daya upaya kita telah memilih jangan menyinggung, jangan berkhilafiyah. Tetapi oleh karena soal khilafiyah itu ternyata sangat relatif, maka kadang-kadang jika kita membanteras perbuatan yang tidak berasal dari Islam, kita pun dituduh memecah persatuan.
Berjuanglah terus, hai mubaligh, menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan. Terhadap sesama pemeluk Islam ambillah satu sikap yang paling baik. Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan. Jika engkau dihina, muliakan mereka! Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas biar sampai tersundak ke langit. Adapun kemuliaan yang sejati, hanyalah pada siapa yang lebih taqwa kepada Allah. Oleh sebab itu, di dalam orang rebut-merebut keuntungan duniawi, mari kita merebut taqwa!
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 73-79, Penerbit Galata Media, Cet. I, 2018).
KEMULIAAN
Biarkan daku berkata dan namailah saya apa pun yang kau suka namakan,
Saya adalah pemaaf dan pemurah, Cuma satu yang saya tak sanggup menjualnya, yaitu kemerdekaan hati saya sendiri, Cobalah katakan kepadaku, siapakah yang sudi menjual kemerdekaan hatinya?
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 286, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
LEBIH DARI WAHABI
Jamal Syauqi putra Irak yang senantiasa memandu jalan saya selama di Irak, seorang pemuda yang luas pengetahuannya, baik budi dan amat besar khidmatnya kepada bangsa Indonesia sambil tersenyum, ia berkata kepada saya, "Di ruangan ini (sambil menunjukkan sebuah ruangan di antara ruangan-ruangan itu bangsa Indonesia bersembahyang. Almarhum Dahlan Abdullah pun bersembahyang di sini) ruang Madzhab Syafi'i." Dengan tersenyum, saya menjawab, "Bagi saya, dalam melakukan sembahyang, keempat madzhab boleh bersama-sama. Imam asy-Syafi'i sendiri, setiba di Irak lagi, ia memakai Qunut pada waktu sembahyang Shubuh. Berlainan madzhab jangan membawa perpecahan."
"Kalau begitu, Anda berpaham Wahabi," ujarnya. "Lebih dari Wahabi, saya berpaham Muhammadi karena Nabi Muhammad melarang umatnya berpecah." Mukhtar berkata, "Tuan Hamka di Indonesia termasuk Kaum Muda. Pahamnya memang agak dekat dengan Wahabi."
(Buya HAMKA, DI TEPI SUNGAI DAJLAH, Hal. 93-94, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2019).
NASEHAT HADRATISY-SYAIKH HASYIM ASY'ARI TENTANG KHILAFIYAH
HADRATISY-SYAIKH Kiyai Haji Hasyim Asy'ari adalah neneknya Nahdlatul Ulama. Sebagaimana di Sumatera Barat, Sumatera Thawalib bersumber dari pondok, maka Nahdlatul Ulama pun bersumber dari pondok Tebuireng Jombang, tempat Kiyai Hasyim Asy'ari mendidik mengasuh dan membentuk jiwa para santri dengan pelajaran agama Islam. Perbedaan pandangan hidup beliau dengan Kiyai H.A. Dahlan adalah bahwa K.H.A. Dahlan mengemukakan faham yang "revolusionair" dan K.H. Hasyim Asy'ari menghendaki secara "evolusi". Di kala bergejolaknya pertentangan-pertentangan itu keluarlah Al-Mawaa'izh dari Kiyai H. Hasyim Asy'ari, yaitu nasehat-nasehat keagamaan yang mendalam, dijadikan peringatan bagi ummat dan disiarkan dalam Kongres Nahdlatul Ulama ke-XI di Banjarmasin 1935. Al-Mawaa'izh adalah satu testamen keagamaan yang amat penting, yang bukan berguna bagi kaum Nahdlatul Ulama saja, tetapi berguna bagi kita seluruh kaum Muslimin Indonesia. Bukan saja di zaman Hadratisy-Syaikh masih hidup, bahkan menjadi pedoman kita pun setelah beliau wafat (wafat Juli 1947).
AL-MAWAA'IZH (RANGKUMAN)
Demi Allah! Ini adalah bala-bencana yang besar! Ini adalah kerugian yang tak ada taranya!
Wahai kaum Muslimin! Taqwalah kepada Allah dan kembalilah semua kepada kitab Tuhan-mu dan beramallah menurut sunnah Nabi-mu dan ikutilah jejak salaf-mu yang saleh, supaya kamu beroleh kemenangan, sebagaimana kemenangan yang dahulu telah mereka capai. Taqwalah kepada Allah, perbaikilah hubungan di antara kamu, bantu-membantulah atas kebajikan dan taqwa, jangan berbantu-bantuan di atas dosa dan permusuhan. Semoga Tuhan Allah melimpahkan rahmat-Nya di atas kamu semuanya dan melimpahi kamu dengan ihsan anugerah-Nya. Dan janganlah kamu menyerupai orang yang berkata, "Kami dengar nasehat itu", padahal tidak didengarnya.
MUHAMMAD HASYIM ASY'ARI
Tebuireng, Jombang.
BEBERAPA PENJELASAN (OLEH HAMKA):
Ta'ashshub artinya ialah fanatik. Kalimat ini satu rumpun dengan kata 'ashabiyah, yaitu membela golongan dan partai sendiri. Maka apabila berkeras mempertahankan golongan sendiri, meskipun golongan itu berpendirian yang tiada benar, dinamailah ta'ashshub.
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 80-88, Penerbit Galata Media, Cet.I, 2018).
AL-QUR'AN: LAFAZH DAN MAKNA
Kami jelaskan sekali lagi. Kalau ada orang yang berani menafsir-nafsirkan saja Al-Qur'an yang berkenaan dengan ayat-ayat hukum yang demikian, tidak berpedoman pada Sunnah Rasul, maka tafsirnya itu telah melampaui, keluar dari garis yang ditentukan oleh syari'at. Sebab itu, tidak seyogianya, tidak masuk akal bahwa seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul berani-berani saja menafsirkan Al-Qur'an yang berkenaan dengan halal dan haram menurut kehendaknya sendiri, padahal Sunnah Nabi telah ada berkenaan dengan itu. Nabi telah meninggalkan kepada kita jalan yang lurus dan jelas, malamnya sama terang dengan siangnya dan selama-lamanya kita tidak akan tersesat dari dalam agama ini atau terpesong keluar dari dalam garisnya, selama kita masih berpegang teguh pada yang dua itu, yaitu Kitab dan Sunnah.
UMPAMA KELEDAI MEMIKUL BUKU
Keledai memikul buku-buku ini bukan saja mengenai diri orang Yahudi yang menerima Taurat. Orang Islam umat Muhammad saw. pun serupa juga dengan "keledai memikul buku-buku" yang tidak tahu atau tidak mengamalkan apa isinya. Berapa banyaknya kaum Muslimin yang fasih sangat membaca Al-Qur'an, tetapi tidak paham akan maksudnya. Atau bacaannya itu hanya sampai sebatas leher saja, tidak sampai ke lubuk hati dan jiwa. Sebab itu dengan tegaslah al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menulis dalam kitabnya, I'lamul Muwaqqi'in, bahwa ayat ini, "Walaupun dijadikan perumpamaan bagi orang Yahudi, namun makna yang terkandung di dalamnya mengenai juga bagi orang-orang yang memikul Al-Qur'an, namun mereka tidak mengamalkannya dan tidak memenuhi haknya dan tidak memelihara maksudnya dengan sepatutnya."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 26, Jilid 9 Hal. 124, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SAMPAIKAH DOA KITA YANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL?
Kesimpulannya, tidak ada nasikh dan mansukh di antara ayat 152 surah al-Baqarah dan ayat 54 surah Yasin dengan hadits Aisyah tersebut. Karena kedua ayat itu mengenai keadaan pada hari Kiamat kelak, bukan mendoakan atau bersedekah atas nama orang yang telah meninggal ketika kita masih hidup di dunia ini. Dengan begitu, jelaslah, jika kita berdoa untuk keselamatan orang yang telah meninggal agar dilapangkan kuburnya, diringankan azabnya, dijauhkan dengan kesalahannya sejauh masyriq dengan maghrib dan sebagainya. Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa sampailah orang yang telah meninggal itu segala kebajikan yang kita perbuat sebagaimana sedekah atau shalat, atau lainnya. Perselisihan sedikit hanya sekadar tentang menghadiahkan pahala. Dibiasakan orang membaca al-Fatihah itu untuk Nabi. Sampai atau tidak hadiah itu? Soalnya bukanlah sampai atau tidak. Persoalannya sekarang adalah, "Apakah Nabi berbuat ibadah seperti itu atau tidak?" Kalau tidak, niscaya kita telah menambah-nambah.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 68-69, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
KIAI DAHLAN VS. HAJI ROSUL
Sejak periode awal pembentukannya di awal Abad ke-20, perdebatan antara Jawa dan luar Jawa telah berlangsung di Muhammadiyah. Dari sisi ideologi, barangkali Muhammadiyah banyak dibentuk oleh pemikiran Haji Rosul, ayah Buya HAMKA, dari Sumatra Barat. Kiai Dahlan dan Haji Rosul itu merupakan dua sosok yang pemikiran keagamaannya sulit dipertemukan. Haji Rosul adalah ulama yang banyak mewarisi pemikiran kelompok Padri yang kaku dalam beragama. Alfian (1989) menyebut Rosul sebagai puritan sejati. Pendekatan keagamaannya keras dan tanpa ampun.
(Ahmad Najib Burhani, MUHAMMADIYAH BERKEMAJUAN: Pergeseran dari Puritanisme ke Kosmopolitanisme, Hal. 121-122, Penerbit Mizan, Cet.1, 2016).
PENGAKUAN DAN PENYESALAN
Mereka ingin berkhidmat kepada Allah SWT, meratakan jalan-Nya di muka bumi, sedangkan kamu hanya menjadi tukang cemooh. Mereka berjuang di bawah pimpinan wahyu Ilahi, karena kasih sayang kepada kamu, supaya kamu keluar dari dalam lembah kehinaan, kejahilan dan kemusyrikan. Mereka tidaklah memusuhi kamu. Padahal kamu adalah mengingkari Allah SWT, kamu hanya menuhankan hawa nafsumu dan seleramu. Kamu merasa, bahwa kamulah yang di atas, sedang para pejuang untuk Kami, kamu pencilkan dan hinakan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 234, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Ya Tuhanku, penuhilah apa yang engkau janjikan kepadaku. Ya, Tuhanku, jika binasa rombongan Ahlul Islam ini tidaklah akan ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini!" (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi).
AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK RIWAYATNYA
Rasulullah saw. pernah bersabda, "Kamu akan mengikut jejak pemeluk agama yang sebelum kamu tapak demi tapak (Yahudi-Nasrani) ..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Bertemulah apa yang dikatakan Nabi Muhammad saw. itu.
Bunyi kitab karangan manusia itulah yang mereka namakan nash!
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 48-51, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
BELIAU MURKA
Sungguhpun begitu, beliau (Haji Abdul Karim Amrullah) pernah murka besar pada Muhammadiyah, yaitu pada Tahun 1928 M. Beliau melihat yang memimpin atau yang memberi penerangan agama dalam Muhammadiyah itu umumnya di Minangkabau, khususnya di Sungai Batang, hanyalah orang-orang yang pandai bicara, tetapi tidak berilmu. Banyak ahli pidatonya, tetapi sedikit ahli ilmunya. Banyak beliau lihat perbuatan-perbuatan yang menurut keyakinan beliau, tidak berdasar pada agama. Kebanyakan pemimpinnya (baik yang laki-laki dalam Muhammadiyah maupun yang perempuan dalam Aisyiyah) hanya "taqlid" saja pada perbuatan-perbuatan yang ada di Yogyakarta.
Perempuan berpidato di hadapan kaum laki-laki menurut keyakinan beliau adalah "haram" karena dapat mendatangkan fitnah. Seluruh badan perempuan adalah aurat. Demikian pula, meskipun beliau menyetujui sembahyang ke tanah lapang, beliau tidak dapat menyetujui kaum perempuan ikut pula ke tanah lapang itu. Meskipun ada hadits menyatakan boleh bagi perempuan pergi. Namun, dengan berdasar pada perkataan Aisyah r.a., jika Nabi saw. masih hidup, tentu Nabi saw. melarang perempuan-perempuan turut pergi sembahyang ke tanah lapang, beliau berpendapat tidak boleh. Beliau sangat tidak setuju jika utusan-utusan Aisyiyah itu pergi ke salah satu rapat, yang jauh dari kampungnya, tidak ditemani oleh mahramnya.
(Buya HAMKA, AYAHKU, Hal. 217-218, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2019).
PROPAGANDA
Di dalam Abad ke-19, Kerajaan Turki menyuruh Mohammad Ali Pasya penguasa Negeri Mesir memerangi penganut paham Wahabi di Tanah Arab. Untuk ini, dibuat propaganda di seluruh dunia Islam bahwa Wahabi itu telah keluar dari garis Islam yang benar, sehingga sisa dakinya sampai sekarang masih bersarang dalam otak Golongan Tua dalam Islam.
Golongan Muda menjelma jadi Muhammadiyah pada 1912, sedangkan Golongan Tua menjelma menjadi Nahdhatul Ulama pada 1925.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 503-504, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAUHID YANG SUCI BERSIH
Menurut pandangan Ibnu Taimiyah dan Muhammad Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi).
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 94, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
DAKWAH TAUHID
Pewarisan menegakkan Keesaan Allah di atas dunia ini janganlah kiranya terputus. Dan Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa pewarisan itu sekali-kali tidak akan putus. Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya ulama (orang-orang yang berilmu) adalah penerima waris dari nabi-nabi. Dan nabi-nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan dirham, yang mereka wariskan ialah ilmu pengetahuan." (HR. Abu Dawud).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 453, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PUSAT TAUHID
Pada 29 Syawal 1206 H (1792 M), wafatlah guru besar pencipta paham pembaharuan Islam, Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab pada usia 95 tahun. Matanya telah buta karena amat tuanya dan terlalu banyak membaca pada waktu mudanya. Banyak kitab-kitabnya tentang Tauhid yang banyak dicetak di Bombay, Mesir dan Mekah. Ia sempat menyaksikan perkembangan dari pahamnya dan mengalami perubahan Kota Dar'iyah dari desa kecil menjadi pusat Tauhid di tengah-tengah padang pasir. Ia meninggalkan beberapa orang anak, di antaranya 18 anak laki-laki setelah berdiam di Dar'iyah selama 46 tahun. Keturunannya disebut keturunan al-Syaikh.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 290, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENYEMBAH SETAN
"Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu, wahai Anak Adam supaya kamu jangan menyembah Setan. Sesungguhnya dia bagi kamu adalah musuh yang nyata. Dan bahwa hendaklah kamu menyembah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus ... Pada hari ini Kami tutup atas mulut-mulut mereka dan Kami buat bercakap tangan-tangan mereka dan naik saksi kaki-kaki mereka atas apa yang mereka usahakan." (Yaasiin: 60-65).
Akibat dari orang yang menukar persembahan itu, dari menyembah Allah lalu mereka tukar dengan menyembah Setan.
Dari menempuh jalan lurus, shirathal mustaqim, mereka tempuh jalan berbelok-belok tidak menentu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 442, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JANJI ILAHI DAN PENGHARAPAN
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang sudi berbuat baik, bahwa sesungguhnya mereka akan diberi warisan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang telah pernah diberikan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum mereka dan akan dikukuh teguhkan kedudukan agama mereka yang telah disukai oleh Allah untuk mereka. Pun akan ditukar Allah sesudah mereka merasa takut, menjadi aman sentosa. Ialah karena mereka menyembah Aku dan tidak mempersekutukan Aku dengan yang lain. Tetapi barangsiapa yang ingkar sesudah itu, merekalah orang-orang yang jahat." (an-Nuur: 55).
Ayat 55 surah an-Nuur inilah pegangan Nabi Muhammad saw. bersama sekalian pengikutnya dari Muhajirin dan Anshar, selama 10 tahun di Madinah. Ayat inilah bekal Abu Bakar menundukkan kaum murtad, pegangan Umar bin Khaththab meruntuhkan dua kerajaan besar, yaitu Persia dan Rum. Kekuasaan pasti diserahkan ke tangan kita dan agama kita pasti tegak dengan teguhnya dan keamanan pasti tercapai.
Perjuangan menegakkan cita Islam, mencapai tujuan menjadi penerima waris di atas bumi, bukanlah kepunyaan satu generasi, dan jumlahnya bukanlah sekarang, melainkan menghendaki tenaga sambung-bersambung. Ayat inilah sumber inspirasi buat bangkit.
Di ayat 56 itu sudah jelas, cita-cita untuk menyambut warisan, melaksanakan kehendak Ilahi di atas dunia ini.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 323, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MENGHADAPI HARI KIAMAT
"Beri peringatanlah mereka tentang hari yang telah dekat itu! Seketika semua hati itu akan mendesak ke kerongkongan dari menahan perasaan, tidak ada bagi orang yang zalim seorang teman setia dan tidak pula seorang pemberi syafaat yang akan dituruti kehendaknya." (al-Mu'min: 18).
Orang-orang yang telah berlaku zalim, artinya orang yang telah menempuh jalan yang salah di kala hidupnya, menempuh jalan gelap yang bukan dituntunkan oleh Rasul, melainkan menuruti jalan gelap yang ditunjukkan oleh Setan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 90, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Tidaklah ada seorang jua pun nabi yang diutus Allah kepada umatnya sebelum aku, melainkan ada baginya di kalangan umatnya itu hawari-hawari dan sahabat-sahabat yang memegang teguh sunnahnya dan melaksanakan perintahnya. Kemudian, muncullah (sesudah mereka) keturunan-keturunan yang berkata, tetapi tidak mengerjakannya dan memperbuat apa yang tidak diperintahkan. Maka, barangsiapa yang menentang mereka dengan tangannya, itulah dia orang yang beriman. Barangsiapa yang menentang mereka dengan lidahnya, itulah orang yang beriman. Dan barangsiapa yang menentang mereka dengan hatinya, itulah dia orang yang beriman. Di belakang itu tidak ada yang patut disebut iman lagi, walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim).
MERASA MENDAPAT PETUNJUK
"Satu golongan diberi-Nya petunjuk dan satu golongan (lagi) tertimpalah atas mereka kesesatan. Sesungguhnya, mereka telah mengambil Setan-setan jadi pemimpin-pemimpin selain Allah dan mereka mengira bahwa mereka adalah mendapat petunjuk." (al-A'raaf: 30).
Demikianlah halusnya bujukan Setan-setan itu sehingga di dalam kesesatan itu mereka merasa mendapat petunjuk. Yang salah mereka sangka benar, yang bengkok mereka sangka lurus. Yang batil mereka sangka hak, sehingga kerapkali kejadian bahwa orang yang betul-betul hendak menegakkan kebenaran mendapat keaniayaan daripada orang yang mempertahankan barang yang salah. Kebanyakan orang yang tersesat dalam kepercayaan dan amalan, menyangka mereka mendapat petunjuk. Mereka akan mempertahankan pendirian yang salah, seperti Fir'aun mempertahankan kekuasaannya di hadapan Musa, dan Abu Jahal mempertahankan berhalanya di hadapan Muhammad saw. Sebab, semuanya menyangka bahwa mereka di pihak yang benar. Sehingga orang yang benar-benar berdiri mempertahankan petunjuk dan hidayah Ilahi selalu mesti menghadapi perjuangan yang sengit, kadang-kadang dibayar dengan nyawa sendiri, barulah kebenaran sejati dapat tegak berhadapan dengan kebenaran saduran.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 401, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERANG BADAR
Menurut riwayat Ibnul Ishaq, Abu Jahal sebagai pimpinan tertinggi kaum Quraisy di Perang Badar itu telah berdoa, "Ya Allah! Aku tidak tahu, siapa yang sebenarnya di antara kami yang telah memutuskan silaturahim. Berikanlah keputusan Engkau besok!" Menurut as-Suddi, pemuka-pemuka Quraisy sebelum pergi ke Badar telah berlutut di hadapan Ka'bah dan menyeru Allah, "Ya Allah, tolonglah mana yang lebih mulia di antara kedua tentara ini, mana yang lebih baik di antara dua golongan, dan mana yang lebih tinggi di antara dua kabilah."
Dan, ini pun bukan saja peringatan kepada Quraisy yang telah kalah. Dia adalah mengenai juga kepada pejuang Islam sendiri bahwa mereka akan tetap menang menghadapi musuhnya, berapa pun banyaknya, asal mereka tetap beriman. Dan, Allah akan meninggalkan mereka, jika mereka berjuang tidak karena iman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 681-682, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
GERAKAN WAHABI DI INDONESIA
Wahabi dijadikan kembali sebagai alat, untuk menekan semangat kesadaran Islam oleh beberapa golongan tertentu, yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar.
Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentimen umat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 215, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2017).
KAUM MUDA DAN WAHABI
Mufti Johor telah mengenal saya sebagai Kaum Muda dan Wahabi dari Indonesia.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 70, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
DASAR ORANG MUSYRIK
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, memberikan keterangan, engkau ketahui pada wajah-wajah orang-orang yang kafir itu keingkaran. Hampir saja mereka menyerbu orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka ..." (al-Hajj: 72).
Yang lebih disayangkan lagi ialah kesalahan penilaian mereka tentang arti wali Allah.
Mereka pergi ke kuburan orang yang mereka anggap di masa hidupnya jadi wali, lalu dia memohon apa-apa di situ. Padahal ayat-ayat itu menyuruh orang bertauhid, mereka lakukan sebaliknya, jadi musyrik. Kalau ditegur dia marah, hingga mau dia menyerang orang yang menegurnya itu, seperti tersebut pada ayat 72 di atas tadi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 156, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JANGAN MEMOHONKAN AMPUN UNTUK MUSYRIKIN
"Tidaklah ada bagi Nabi dan orang-orang yang beriman bahwa memohonkan ampun untuk orang-orang yang musyrik, meskipun adalah mereka itu kaum kerabat yang terdekat, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang itu ahli neraka. Dan tidaklah permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya, melainkan karena suatu janji yang telah dijanjikan kepadanya. Tetapi tatkala telah jelas baginya bahwa dia itu musuh bagi Allah, berlepas dirilah dia darinya. Sesungguhnya Ibrahim itu seorang yang penghiba lagi penyabar." (at-Taubah: 113-114).
Tiada Dia bersekutu dalam keadaan-Nya dengan yang lain. Demikian juga tentang mengatur syari'at agama, tidak ada peraturan lain, melainkan dari Dia.
Allah telah menegaskan bahwa sekalian dosa dapat diampuni-Nya, kecuali dosa syirik, mempersekutukan yang lain dengan Allah. Kalau dosa syirik tidak terampun, teranglah orang musyrik itu ahli neraka.
Ketika menafsirkan ayat 74 dari surah al-An'aam pada Juz 7 telah pula kita temui hadits-hadits tentang Rasulullah saw. yang sangat cinta kepada ibu kandungnya Aminah bahwa beliau meminta izin kepada Allah menziarahi kuburan ibu beliau itu, maka Allah telah memberi izin. Tetapi setelah Rasul saw. memohon izin hendak memintakan ampun untuk ibunya itu, Allah tidaklah memberinya izin.
MADZHAB YANG BENAR DARI AHLI SUNNAH WAL JAMAAH (ASWAJA)
AYAH BUNDA RASULULLAH SAW.
Seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah saw., "Di mana ayahku, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Di neraka!" Setelah orang yang bertanya itu berdiri hendak pergi, dia dipanggil oleh Rasulullah saw. dan beliau bersabda, "Sesungguhnya bapakku dan bapak engkau di neraka!" (HR. Muslim). Lalu ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah-nya, "Di sini jelas bahwa barangsiapa yang meninggal dalam keadaan kafir maka masuk nerakalah dia dan tidaklah bermanfaat baginya karena kerabat (kekeluargaan). Dan di dalam hadits ini pun dapat dipahamkan bahwa orang yang mati dalam zaman fitrah dalam keadaan apa yang dipegang oleh orang Arab, menyembah berhala, dia pun masuk neraka. Dan ini tidaklah patut diambil keberatan yang mengatakan bahwa belum sampai kepada mereka dakwah karena kepada mereka sudahlah sampai dakwah Ibrahim dan Nabi-nabi yang lain. Dan Nabi saw. mengatakan ayahku dan ayahmu dalam neraka, ialah untuk menunjukkan pergaulan yang baik dan pengobat hati yang bertanya karena sama-sama dalam menderita sedih." Demikian syarah (komentar) Imam Nawawi.
"Memohon izin aku kepada Tuhanku hendak memintakan ampun untuk ibu, tetapi tidak diberi izin kepadaku. Lalu aku mohon izin hendak menziarahi kuburnya lalu aku diberi izin." (HR. Muslim).
Malahan dalam hadits yang lain diterangkan bahwa beliau sampai menangis di kubur itu dan memberi anjuran umatnya supaya ziarah ke kubur untuk mengingat mati.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 300-304, Jilid 3 Hal. 190-191, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TIDAKKAH ADA ULAMA DI SINI?
"Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah pernah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami terangkan dianya kepada manusia di dalam Kitab, mereka itu akan dilaknat oleh Allah dan mereka pun akan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat." (al-Baqarah: 159).
Orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan itu adalah orang yang tidak jujur, orang-orang yang curang, yang telah melakukan korupsi atas kebenaran karena mempertahankan golongan sendiri. Orang yang semacam itu pantaslah mendapat laknat Allah dan laknat manusia. Kecurangan terhadap ayat suci di dalam kitab-kitab Allah, hanya semata-mata untuk mempertahankan kedudukan, adalah satu kejahatan yang patut dilaknat.
Apabila orang-orang yang dianggap ahli tentang agama tentang Al-Qur'an dan Hadits telah bersikap pula menyembunyikan kebenaran, misalnya karena segan kepada orang yang berkuasa atau takut pengaruh akan hilang terhadap pengikut-pengikut mereka, kutuk yang terkandung dalam ayat ini pun akan menimpa mereka.
Kalau mereka telah menyembunyikan pula ilmu dan pengetahuan, keterangan-keterangan dan petunjuk, kutuk laknat Allah-lah yang akan menimpa dirinya. Manusia pun mengutuk pulalah sehingga kadang-kadang jika terdapat banyak maksiat di satu negeri, bertanyalah orang, "Tidakkah ada ulama di sini?"
"Kekal mereka di dalamnya, tidak akan diringankan adzab atas mereka dan tidaklah mereka akan dipedulikan." (al-Baqarah: 162).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 294-296, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HUJJAH YANG KEKAL
"Maka jikalau adalah suatu kitab bacaan yang (dapat) digeserkan dengan dia gunung-gunung atau dibelah dengan dia bumi, atau dipercakapkan dia dengan orang mati (maka Al-Qur'an inilah). Bahkan kepunyaan Allah-lah semua hal. Apakah tidak mengerti orang yang beriman, bahwa kalau Allah menghendaki, niscaya akan diberi-Nya petunjuk manusia semuanya. Dan senantiasalah mereka yang tidak mau percaya ditimpa adzab lantaran perbuatan mereka, atau mengena dekat dari kampung mereka, sehingga datanglah kepada mereka janji Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah memungkiri janji." (ar-Ra'd: 31).
Maka menulislah Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sesungguhnya tidaklah ada satu alasan (hujjah) atau mukjizat yang lebih besar pengaruhnya dan memesona akal dan jiwa melebihi Al-Qur'an, yang kalau kiranya dia diturunkan Allah ke puncak sebuah gunung, akan engkau lihatlah gunung itu tunduk berkeping-keping karena takutnya kepada Allah. Dan tersebutlah dengan nyata dalam sebuah hadits yang shahih bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah ada seorang nabi pun, melainkan telah didatangkan kepadanya hal yang menimbulkan iman dalam hati manusia. Tetapi yang didatangkan kepadaku ialah wahyu dari Allah. Maka saya mengharapkan bahwa sayalah yang akan lebih banyak pengikut di hari Kiamat." Artinya (kata Ibnu Katsir selanjutnya) bahwasanya mukjizat tiap-tiap nabi habis sendiri dengan matinya nabi itu, namun Al-Qur'an ini adalah hujjah yang kekal sampai akhir zaman, yang tidak pernah akan habis keajaibannya, tidak dijadikan banyak-banyak bantahan, tidak kenyang-kenyang ulama dalam merenungnya, dia adalah kesungguhan, bukan main-main. Barangsiapa yang meninggalkan Al-Qur'an karena takut kepada orang yang berkuasa, akan berhadapanlah dia dengan Allah, dan barangsiapa yang mengharapkan petunjuk kepada yang selain dia akan disesatkan oleh Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 72, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
NAJD
Sejak munculnya cahaya Islam 1000 tahun sebelumnya boleh dikatakan bahwa di tanah Arab sendiri sedikit sekali Islam meninggalkan jejak. Kebesaran Islam telah dikecap nikmatnya oleh negeri-negeri dan umat lain. Damsyik dan Baghdad telah merasakan nikmat itu. Pahlawan-pahlawan Islam yang banyak telah berpindah dibawa kewajiban suci mengembangkan Islam ke negeri-negeri yang baru dibuka, seperti Mesir, Syam, Kufah, Basrah, Wasith. Bahkan, ada sahabat yang wafat di Qairuan, Afrika, dan ada yang berkubur di Konstantinopel. Oleh sebab itu, Tanah Arab menjadi sepi lahir dan batin. Pemikiran-pemikiran besar tidak tumbuh lagi di sana. Hanya Kota Mekah dan Madinah yang masih dapat memelihara kebesarannya karena disana tempat beribadah. Adapun negeri-negeri yang lain kian lama kian muram. Kehidupan tidak ada perubahan (statis). Kemajuan ilmu pengetahuan tidak ada sama sekali. Orang-orang telah amat jauh dari hakikat ajaran Islam. Mereka menjadi penyembah kuburan, penyembah keramat dan budak azimat serta tangkal. Dari empat Imam madzhab besar, hanya seorang yang muncul di Madinah, yaitu Imam Malik ibnu Anas. Demikianlah halnya yang terjadi selama 1000 tahun.
Barulah muncul cahaya baru di tengah-tengah padang pasir itu pada Tahun 1116 H (1704 M), yaitu 12 abad setelah tiadanya Nabi saw. dengan lahirnya Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab, guru besar ajaran Wahabi yang masyhur. "Kembali pada ajaran Rasul saw. yang asli", adalah dasar pengajarannya. Tauhid yang khalis, yang tidak bercampur dengan syirik sedikit juga ke sanalah semua umat harus pulang agar selamat dunia dan akhirat. Perbaharui kembali keimanan dan bangkitkan semangat baru adalah sari ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab. Ajaran ini muncul setelah ia mengembara terlebih dahulu keluar dari negerinya, belajar agama di Kota Damsyik, dan sangat dipegangnya ajaran Ibnu Taimiyyah, murid dari Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab dan lain-lain. Semua adalah ulama-ulama Madzhab Hambali.
MUHAMMAD IBNU SA'UD
Pelajaran yang hangat ini termakan oleh sang Kepala Kabilah Inzah dan Atub yang amat disegani bernama Muhammad ibnu Sa'ud. Setelah ajaran itu masuk dalam batinnya, demi dilihatnya keadaan umat di sekeliling negerinya yang telah tenggelam dalam kemusyrikan, ia berjanji akan menjadi pembela paham itu dengan pedang dan nyawanya.
Sebuah paham agama yang besar (orang sekarang menyebutnya sebuah ideologi) tidak akan bertumbuh kalau tidak ada kekuasaan. Sebaliknya, suatu kekuasaan tidak bisa kekal kalau tidak mempunyai ideologi yang kokoh. Begitulah tiap pendiri negara yang besar di dunia sejak dahulu, kini dan nanti. Kebesaran Islam yang mengagumkan bukankah karena ideologi yang diterima Muhammad saw. dari Allah, yaitu "Tidak ada Tuhan selain Allah?"
Sehingga muncullah niat besar pada orang yang senama dengan Nabi Muhammad saw., yaitu Muhammad ibnu Sa'ud hendak mendirikan kekuasaan untuk menerapkan ajaran gurunya yang senama pula dengan Nabi Muhammad saw., yaitu Muhammad ibnu Abdul Wahab. Maksud itu disampaikannya pada gurunya bahwa ia hendak menegakkan kekuasaan untuk menerapkan ajaran gurunya yang diberi nama Madzhab Salaf. Anjuran itu diterima baik oleh gurunya. Pedang dan Al-Qur'an, yakni pedang dalam tangan Amir Muhammad ibnu Sa'ud dan Al-Qur'an dalam tangan Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab. Mulailah Muhammad ibnu Sa'ud menyiarkan ajaran itu, membongkar Syirik dan Bid'ah di kalangan kabilah yang dipimpinnya dalam kota kecil Dar'iyah. Tunduklah semua pada ajaran itu dengan sendirinya pula, kuatlah kedudukannya sebagai kepala (amir). Kemudian, disusunnya satu angkatan kecil dengan tombak dan bedil si tenggar, berbaris dua-dua pergi ke desa-desa berkeliling menyampaikan ajaran itu dan menegakkan kekuasaan. Di sana pula, duduk Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab menerima taubat dan memberikan nasihat-nasihatnya kepada amir dalam hal hukum agama. Pada Tahun 1159 H ditaklukkannyalah negeri Ukainah lalu Huraimalah. Namun, ketika sampai angkatannya di Riyadh, yang dikepalai oleh Daham ibnu Dawas, terjadilah perlawanan. Karena ia kurang sehat, putranya (Abdul Aziz) yang memimpin penyerbuan ke Riyadh. Kuat juga pertahanan Riyadh sehingga setelah 2 tahun baru Riyadh dapat dikalahkan. Sementara mengepung Riyadh, dikirimnya pula satu angkatan untuk mengalahkan negeri-negeri yang lain. Akhirnya, Riyadh jatuh ke tangannya dan Daham ibnu Dawas menyingkirkan diri ke negeri lain. Kebangkitan di Najd ini cepat tersiar ke seluruh pelosok. Amir-amir di tiap dusun, desa, negeri yang selama ini berkuasa sendiri merasa cemas. Dengan pimpinan dari seorang amir di antara amir-amir yang ada di Tanah Yaman yang bernama Hasan ibnu Haibatullah mereka mencoba menyerang gerakan baru itu langsung ke pusatnya, Dar'iyah yang dalam beberapa tahun saja sudah menjadi kota yang ramai. Di antara yang menyerang itu ikut pula Daham ibnu Dawas hingga Riyadh pun dapat direbutnya kembali.
Dengan mati-matian dan keimanan yang teguh atas kebenaran pendiriannya Muhammad dan putranya mempertahankan kekuasaannya hingga Hasan ibnu Haibatullah terpaksa mundur ke negerinya dan Daham ibnu Dawas tidak dapat bertahan lagi, ia menyingkir ke negeri al-Ahsaa. Kemudian, masuklah Muhammad ke Kota Riyadh pada Tahun 1185 H (1772 M). Kian lama kian besarlah lawan yang dihadapi, dan kian lama kian luaslah daerah kekuasaannya yang berbenturan dengan Bani Khalid yang menguasai al-Ahsaa dan dengan Bani al-Makrami yang menguasai Najran al-Yaman.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 288-290, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
FIQIH BUKANLAH SUMBER HUKUM DALAM ISLAM
Sumber yang diakui oleh sekalian Madzhab dalam Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah (Hadits).
Dimasukkan juga oleh sebagian madzhab, yaitu ijma' dan qiyas.
IJMA'
Sumber hukum Islam resmi ketiga, menurut sebagian besar ahli fiqih adalah ijma'. Arti yang populer adalah persamaan pendapat ulama dalam satu masalah, di dalam satu zaman. Ini pun boleh dijadikan sumber hukum resmi. Dalam peraturan ijma' itu pun dikatakan, meskipun hanya 1 orang yang membantah, dengan sendirinya ijma' itu gugur, dan tidak boleh lagi dijadikan hujjah atau hukum resmi!
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 222-223, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
SURAH AL-FURQAAN
PENDAHULUAN
Surah-surah yang diturunkan di Madinah kita mendapat kenyataan suatu masyarakat yang telah teratur, suatu cita-cita yang telah menjadi kenyataan dan peraturan-peraturan yang timbul karena tumbuhnya masyarakat itu. Tetapi dengan surah-surah yang diturunkan di Mekah kita melihat perjuangan sengit di antara kebenaran dengan kebatilan, kekuatan cita-cita dan hebatnya rintangan. Tujuan tunggal yang tidak mengenal putus asa berhadapan dengan kekerasan hati pihak lawan mempertahankan yang lama.
Oleh sebab itu sebagai Muslim tidaklah kita akan sampai ke suasana Madinah sebelum melalui suasana Mekah.
Surah al-Furqaan adalah suatu di antara surah Mekah, di ayat yang pertama sekali sudah terpancang nama surah ini, al-Furqaan artinya pemisah di antara yang hak dan yang batil, yang benar dan yang salah.
Jahiliyyah dengan Islamiyah, Syirik dengan Tauhid.
Membaca surah al-Furqaan dengan penuh minat memberi kita bekal untuk hidup, obat yang nyaris patah hati, kegembiraan meneruskan perjuangan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 341-342, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"TIDAK DIMENGERTI OLEH HAMKA"
Madzhab Hambali di antara madzhab yang empat dari kalangan Sunni, adalah madzhab yang paling berusaha sekeras-kerasnya agar amal ibadahnya persis menurut Sunnah Nabi saw. Oleh sebab Madzhab Hambali terang mempertahankan Sunnah. Teranglah bahwa apa yang ditulis oleh Parlindungan ini betul-betul hal-hal yang tidak dikuasainya! Adapun keterangan lain seperti perampokan Tentara Wahabi di Masjid Rasulullah, yang hasil rampokan itu untuk hidup mewah dengan wanita-wanita Islam Madzhab Syafi'i rampasan, tidaklah akan saya sanggah sekeras di atas tadi, karena kalau perkataan demikian saya sanggah pula, berpuluh banyaknya soal-soal merampok wanita, merampas wanita, memperkosa wanita menjadi perhiasan dari kitab Tuanku Rao, hingga mengomentarinya adalah termasuk sesuatu yang jijik!
(Buya HAMKA, Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao, Hal. 80, Republika Penerbit, Cet.I, Mei 2017).
WAHABI
Negeri-negeri Melayu mulai merasakan kebangkitan yang baru dari Islam karena masuknya paham-paham yang diajarkan oleh kaum Wahabi.
Muncul permulaan KAUM MUDA di Malaysia, Syekh Taher Jalaluddin, Sayid Syekh al-Hadi, Syekh Muhammad al-Kalali, Sayid Abdullah Ibnu Aqil, dan Za'ba. Terbit majalah Islam yang membawa pembaharuan paham Islam yang mula-mula, yakni AL-IMAM (1906-1909), dan di Sumatra Barat (Minangkabau) muncul gerakan KAUM MUDA dengan majalah AL-MUNIR (1911), muncullah murid-murid Syekh Ahmad Khatib yang baru pulang dari Mekah, 3 orang di antaranya yang sangat terkenal, yakni Haji Abdullah Ahmad Padang, Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, dan Syekh Muhammad Jamil Jambek di Bukit Tinggi. Di Jawa muncullah kebangkitan kesadaran politik yang dipelopori oleh Islam dan dipimpin oleh Haji Samanhudi, H.O.S. Cokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Muncul kebangkitan pembaharuan paham agama yang dipelopori oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah, dan Syekh Ahmad Surkati dengan mendirikan perkumpulan al-Irsyad.
Kemudian, seluruh kebangkitan dan kesadaran Islam itu bersatu-padu dengan gerakan kebangsaan sehingga tercapai Kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda pada Tanggal 17 Agustus 1945.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 521, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
AKAN BALIK DIMARAHI ORANG
Di negeri kita ini banyak jahiliyyah ditimbulkan atau dibangkit-bangkitkan oleh penguasa sendiri, dijadikan tradisi yang menyerupai ibadah, dan orang yang menegurnya sebab tidak berasal dari agama, akan balik dimarahi orang. Inilah akibatnya orang tidak senang kalau Syari'at Islam yang berasal dari Allah dan Rasul dijalankan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 56-57, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JANGAN MENGORAK BUHUL
"... Dan janganlah menimbulkan benci padamu penghalangan suatu kaum. Bahwa mereka pernah mengambat kamu daripada Masjidil Haram ..." (al-Maa'idah: 2).
Ayat ini sebagaimana diketahui diturunkan ketika Haji Wada'. Kaum Muslimin naik Haji mengiringkan Rasul beramai-ramai. Maka jangan mereka mengingat akan kesalahan orang-orang Mekah itu, yang dahulu pernah menghambat mereka di Hudaibiyah, sehingga tidak jadi naik umrah tahun itu. Janganlah mereka berdendam kepada orang-orang itu, sebab pada hakikatnya mereka pun sudah takluk, bahkan syukurilah karena sekarang keadaan sudah aman.
Tetapi meskipun sebab nuzul demikian itu, menjadi peringatanlah seterusnya kepada kaum Muslimin, agar meskipun mereka hanya diganggu orang di negeri Mekah itu, pandai-pandailah menahan hati, jangan bertengkar, jangan memperbesar perkara-perkara yang kecil. Hendaklah tiap-tiap orang yang datang tidak membawa dendam. Apatah lagi yang menunggu di sana, hendaklah memelihara keamanan orang yang berhaji. Kadang-kadang bertemu dalam sejarah betapa aniaya yang dilakukan oleh penguasa-penguasa Mekah itu kepada orang-orang haji, seumpamanya penyamunan dan pembegalan orang-orang Arab di antara Mekah dan Madinah, cukai dan biaya yang berat dikenakan oleh amir-amir dan raja-raja di Mekah sendiri kepada orang-orang haji, sebagai di zaman syarif-syarif dahulu.
Barulah tercapai keamanan setelah kekuasaan diambil oleh kaum Saudi. Moga-moga demikian hendaknya seterusnya sehingga kehendak Allah atas keamanan manusia di Tanah Haram itu terjamin.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 589, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENGANTAR PENERBIT. Kenang-Kenangan Hidup sungguhlah istimewa, ditulis dan dikisahkan langsung oleh seorang HAMKA. Meskipun beliau sudah tiada, nama dan pemikirannya tetap panjang umur dan abadi hingga saat ini.
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. vi, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2018).
PUNCAK PEPAYA PATAH
Di Tebing Tinggi, Tuan Syekh Baringin, seorang syekh tarekat Naqsabandiyah, telah membisikkan kepada muridnya bahwa tidak lama lagi Jepang mesti jatuh. Indonesia pasti merdeka! Beliau pun menyatakan kebenciannya kepada pemimpin-pemimpin "boneka" Jepang, termasuk Haji HAMKA kepala Kaum Muda dan Wahabi terkutuk.
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. 388, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2018).
ZAMAN PANCAROBA
"A'Arabi Anta ya Syab?" (Apa engkau orang Arab, hai orang muda?).
"La, ana Jawi." (Tidak, saya orang Jawa).
"La, la, anta 'Arabi, lisanak fasih!" (Tidak, tidak! Tentu engkau orang Arab, lidahmu petah!).
"La, Wallah, ana Jawi!" (Tidak! Demi Allah, saya orang Jawa!).
Orang sangat ramai naik haji pada tahun itu. Dari seluruh Kepulauan Indonesia tidak kurang dari 64.000 orang. Memang, sebab setahun dahulu dari itu dua pemimpin besar Indonesia, Tjokroaminoto dan K.H. Mas Mansur, telah menziarahi Mekah, menghadiri Muktamar Islam yang diadakan oleh Ibnu Saud. Negeri Hijaz baru saja jatuh di bawah kekuasaannya.
Berita jatuhnya tanah Hijaz di tangan Ibnu Saud dan kenaikan harga getah menyebabkan orang ramai naik haji. Sudah bertahun-tahun masa berlalu belum juga pernah orang naik haji seramai itu. Banyak pula pemuka-pemuka Muhammadiyah dan Syarikat Islam yang naik haji.
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. 76-78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2018).
-Indonesia pada zaman dahulu, lebih populer dengan sebutan "Jawi".
SEJARAH RIAU
Pendapat kita tentang masuknya agama Islam ke tanah air kita ini tidak lagi semata-mata menurut kepada apa yang ditentukan oleh kaum Orientalis Barat, melainkan mulai ada penghargaan terhadap pendapat dari pihak kita sendiri, sehingga tidak ganjil lagi didengar telinga jika dikatakan di Abad Pertama Islam, agama ini telah masuk ke negeri ini dan sudah ada orang yang berani mengatakan misalnya:
"Menurut Snouck Hourgronye dan Schrieke, Islam masuk ke Indonesia dalam Abad ke-13, tetapi menurut hasil penyelidikan HAMKA di Abad Hijriyah Pertama sudah mulai masuk."
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 140-141, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
BUYA HAMKA SOSOK TELADAN: Pengawal Akidah Umat
kemenag.go.id/home/artikel/12724
IKUTLAH APA YANG DITURUNKAN ALLAH!
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutlah apa yang diturunkan Allah!' Mereka katakan, 'Bahkan kami (hanya) mau mengikut apa yang telah terbiasa atasnya nenek moyang kami.' Bagaimana kalau keadaan nenek moyang mereka itu tidak mengerti suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?" (al-Baqarah: 170).
SUDAH TEGAS SEKALI
"... Marilah kepada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada Rasul ..." (al-Maa'idah: 104).
Sumber agama, sebagai yang diserukan pada ayat ini sudah tegas sekali, yaitu peraturan dari Allah dan Rasul.
Di luar itu, BID'AH namanya.
TEGUHKAN PRIBADIMU
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu! Tidaklah akan membahayakan bagi kamu orang yang telah tersesat, apabila kamu telah mendapat petunjuk." (al-Maa'idah pangkal ayat 105).
Karena kalau petunjuk Allah telah memenuhi jiwa, kita tidak akan ditimpa rasa takut berhadapan dengan siapa pun yang sesat dari jalan Allah.
Hendaklah terlebih dahulu tiap-tiap Mukmin itu menjaga dirinya sendiri, memupuk imannya, memperdalam pengetahuannya tentang agamanya, belajar dan berguru, dan bertanya kepada yang pandai supaya mengetahui mana-mana perintah Allah dan Rasul, yang dilarang, mana yang Sunnah, dan mana yang Bid'ah.
Sehingga tidak ada tempat takut lagi, selain Allah.
Dan mulailah amar ma'ruf nahi munkar.
Bertawakal kepada Allah, walau apa pun yang akan terjadi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 55-61, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SORAKAN SAMBUTAN



TIDAK ADA TEMPATNYA TAKUT MELAINKAN ALLAH SWT
"Janganlah kamu menyangka, bahwa orang-orang yang kafir itu akan dapat menguasai keadaan di muka bumi ini. Dan tempat diam mereka ialah Neraka. Sungguh amat buruklah akhir-akhir kesudahan mereka." (an-Nuur: 57).
"Akan datang zaman itu, seorang perempuan berjalan kaki sendirian dari Hirak (dekat Iraq) menuju Mekah, tidak ada tempatnya takut melainkan Allah." (Hadits).
Kemudian pada
ayat 57 diobatlah keraguan hati orang yang beriman, jika dia terpesona oleh kekuasaan, kemegahan, dan keangkuhan orang yang kafir di atas bumi ini. Betapapun gagah perkasanya orang yang kafir itu, namun mereka tidaklah dapat menguasai seluruh persoalan karena kekafiran itu tidaklah akan terluput dari adzab siksa di atas bumi ini juga. Tangannya yang mencencang, maka bahunya jua yang akan memikul.
Hukum itu
berlaku buat
semua orang, karena
kebenaran itu
terang dan
lurus jalannya, sedang
kebatilan itu
gelap dan
bengkok-bengkok. Akal yang sehat dan pikiran yang benar dapatlah merasai adanya hukum keadilan, yaitu
yang bungkuk dimakan sarung, yang curang masuk jurang.
Makna
kafir ialah
menampik dan
menolak, tidak mau menerima kebenaran,
ingkar akan
ajakan menuju
jalan yang
lurus.
Oleh sebab itu, janganlah ayat ini dipandangkan semata-mata kepada orang kafir kitabi. Sebab ada juga
umat Islam sendiri, menerima pusaka agama dari ayah-bundanya, tetapi
hukum agama yang
dituntunkan oleh
Rasul itu
diadakannya saringan. Maka yang
sesuai dengan
hawa nafsunya diikutnya dan
mana yang tidak atau
yang berat ditinggalkannya.
Untuk memahami ayat ini perhatikanlah sejarah umat beragama sejak wahyu diturunkan Allah SWT.
Seluruh
Anbiya' dan
Mursalin membawa satu pokok perintah, yaitu mempercayai satu Tuhan dan mencintai sesama manusia. Datang umat Yahudi dengan bangga mengatakan, bahwa merekalah "Bangsa yang dipilih Allah" dan istimewa di atas dunia ini. Lalu mengumpul harta sebanyak-banyaknya, hingga tak tahu halal dan haram.
Bunyi kitab Taurat dipegang teguhnya, isi dan inti sarinya tidak dipedulikannya. Maka datang Nabi Isa menyadarkan mereka kembali, supaya kembali ke pokok ajaran yang asli tadi. Beliau katakan, bahwa mengumpulkan harta tidaklah akan masuk ke dalam surga, sebelum orang dapat memasukkan unta ke dalam liang jarum.
Kemudian Nabi Isa pun wafat. Maka datang pula umat di belakangnya yang karena sangat cintanya kepada Nabi Isa, dikatakannya, bahwa Nabi Isa itu anak Tuhan, dan Tuhan itu adalah tiga, tetapi ialah satu. Dan pendeta-pendeta mempergunakan pengaruhnya yang besar, sehingga dia merasa berkuasa buat mengusir kucil orang dari dalam agama atau mengampuni dosa orang.
Maka datanglah Nabi Muhammad saw. memberi peringatan supaya orang benar-benar mempergunakan akal. Tuhan Tiga-Satu, Satu-Tiga, adalah kepercayaan yang tidak masuk akal. Dan Isa al-Masih sendiri pun tidak disuruh mengajarkan demikian. Dan pendeta-pendeta itu bukanlah Tuhan.
Sekarang dalam kalangan umat Muhammad saw. sendiri pun tidak kurang terdapat
penyakit yang terdapat pada
umat yang terdahulu itu. Ada yang berkata, bahwa umat yang paling tinggi di dunia ini hanyalah umat Islam, meskipun
mereka tidak mengamalkan ajaran Islam dan
tidak pernah menuruti langkah Rasul. Dan ada pula
kaum sufi yang mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw. itu adalah penjelma Allah SWT
(Ibraza Haqiqatihil Muhammadiyah), malahan marah kalau
ditegur kepercayaannya yang sesat itu. Bahkan ada pula
ulama-ulama Islam yang berkata kepada muridnya,
asal suka membayar azimat (jimat) yang diberikannya,
niscaya akan
terlepas dari
adzab api neraka,
"Akan kamu ikuti jejak umat yang terdahulu dari kamu, jejak terompah di atas jejak terompah."
Oleh sebab itu sebagai
kesimpulan dari ketiga ayat ini,
ayat 55-57 adalah
sebagai berikut.
1.
Cita-cita menjadi Khalifah Allah di atas bumi ini, artinya
memegang tampuk pemerintahan di atasnya, pasti berhasil, asal kamu masih tetap beriman dan beramal saleh. Yang cita-cita itu pasti tercapai, yaitu agamamu tegak tidak ada gangguan dan keamanan timbul, segala kekacauan hilang. Sebab semuanya itu didapat dengan teguh percaya kepada Allah SWT. Tetapi
siapa yang
menyeleweng, terhitunglah dia
orang yang
fasik mendurhaka.
2. Untuk memelihara hasil yang telah didapat dan untuk mengejar cita yang belum dicapai hendaklah perteguh pribadi dengan shalat dan suburkan masyarakat dengan zakat dan
tegakkan disiplin dengan
taat kepada
Rasul.
3.
Orang yang
membantah atau
menampik atau
menolak kebenaran Ilahi, walaupun siapa,
walaupun dia
mengakui dirinya orang Islam, tidaklah akan luput dari akibat kedurhakaan itu di bumi ini.
Tempatnya ialah
Neraka. Neraka dunia karena kegelisahan hidup, sehingga mungkin menyebabkan gila, atau cemas, takut, cemburu kepada orang, benci dan dendam. Dan Neraka akhirat yang lebih dahsyat lagi.
Maka akhir kesudahan dari
orang yang
keluar dari
garis kebenaran adalah buruk sekali, atau
tragis sekali.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 325-327, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAUHID adalah
puncak tertinggi dari
kecerdasan manusia.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 141, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DALIL
"Katakanlah! Tunjukkanlah kemari alasan kamu!" (al-Anbiyaa': 24).
Di sini kita diberi suatu
petunjuk bahwa di dalam
menegakkan suatu
kepercayaan hendaklah ada alasan atau
dalil yang akan dijadikan pegangan.
TAUHID ULUHIYAH DAN TAUHID RUBUBIYAH
Isi atau
inti,
pokok atau
pangkal agama, ialah
dua ini.
Kedatangan wahyu Allah yang dibawa oleh Rasul saw. mengajarkan
Tauhid Uluhiyah dan
Rububiyah, bukan saja menunjukkan pokok aqidah,
bahkan kebenaran dalam
segala cabangnya: Mengenai
akhlak, pemerintahan, peraturan hidup.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 23, Jilid 4 Hal. 411, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BENCANA ALAM (KARENA ADA DOSA-DOSA YANG SUDAH SANGAT MEMUNCAK)
Bahwa
bencana-bencana alam yang
terjadi ialah
karena ada dosa-dosa yang sudah sangat memuncak. Maka Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya, untuk menanamkan keinsafan bagi
manusia supaya
segera bertobat kepada Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 603, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
LCBT (LINGKARAN CHURAFAT BID'AH TAHAYUL) TERKUTUK
MENDUSTAI DIRI SENDIRI
"Mereka itulah orang-orang yang mengutuk Allah akan mereka. Dan barangsiapa dikutuk oleh Allah, maka sekali-kali tidaklah akan engkau dapati pembantu baginya." (an-Nisaa' ayat 52).
Pertama, mencampur-aduk kebenaran agama dengan kesesatan, atau jibti. Sehingga dibangsakan kepada agama,
hal-hal yang
sama sekali ditolak oleh
agama sehingga timbul
Bid'ah, Khurafat, Tahayul.
Kedua,
menuhankan manusia, sampai memberikan kepadanya pemujaan yang mendekati pemujaan kepada Allah.
Begitu mereka perbuat kepada
ulama-ulama dan pimpinan
mereka.
Ketiga,
berani memutar-balik kebenaran karena mengharapkan kemenangan pengaruh dan politik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 325, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAUHID YANG SEJATI
Tidak pernah ada Mazhab Hambali di Minangkabau, hanya ada penganut
Mazhab Syafi'i yang terpengaruh oleh semangat ajaran
Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.
Yaitu
kembali kepada ajaran
Tauhid yang
sejati.
Dilanjutkan terus sampai kini.
(Buya HAMKA, Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao, Hal. 140, Republika Penerbit, Cet.I, Mei 2017).
PEMBUNUHAN BESAR-BESARAN TERHADAP KELUARGA RAJA PAGARRUYUNG
Sumber berita bahwa
kaum Padri membunuhi keluarga Raja Pagarruyung ini adalah dari
orang Belanda.
(Buya HAMKA, Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao, Hal. 343, Republika Penerbit, Cet.I, Mei 2017).
MUFTI KERAJAAN ACEH
GAGAH PERKASA MEMPERTAHANKAN SUNNAH
Syekh Nuruddin ar-Raniri karena
sikapnya yang
gagah perkasa mempertahankan Sunnah atau
Madzhab Salaf, yang disebut dalam istilah
Orientalis Barat
Orthodox karena ketegasan dan kekerasan sikapnya itu, di zaman
Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin, diangkatlah beliau menjadi
Mufti Kerajaan Aceh.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 240, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
IBU-BAPAK NABI SAW.
Rasa cinta kepada Rasulullah saw. dan kepada neneknya Ibrahim,
menyebabkan orang
"tidak sampai hati" akan menyebut bahwa
ibu-bapak Nabi saw. atau ibu-bapak Ibrahim tidak Islam atau
kafir atau
masuk neraka.
Ulama-ulama Salaf walaupun yang
berpegang teguh pada hadits-hadits yang
shahih itu sendiri,
tidaklah kurang hormat mereka kepada Rasul dalam hal yang
berkenaan dengan
ibu-bapak dan
keluarga beliau.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 190-191, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KLIK DISINI: UNTOLD STORY BUYA HAMKA DAN MAULID NABI SAW.
Apabila kita teguh berbenteng dengan
IMAN, kita akan jadi
Hizbullah, golongan Allah dan apabila kita
terpedaya oleh
Setan kita
PASTI jadi
anggota Hizbusy-Syaitan. Na'udzubillah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 349, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BER-KHILAFIYAH TENTANG PERINTAH ALLAH
"Orang-orang yang mempertengkarkan pada ayat-ayat Allah tidak dengan alasan yang sampai kepada mereka, amat besarlah dosanya di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mencap hati tiap-tiap orang yang sombong lagi angkuh." (al-Mu'min: 35).
Artinya kalau datang ayat-ayat Allah
bukanlah mereka musyawarah bagaimana supaya dapat diamalkan, melainkan
jadi buah pertengkaran dan
perdebatan.
Umumnya mereka sangat ahli memperdebatkan dan bertengkar, ber-khilafiyah tentang perintah Allah,
bukan buat diamalkan, melainkan buat mencari jalan keluar. Sebab itu
Allah mengutuk dan
orang yang
beriman pun
bosan dengan mereka.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 100, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
NERAKA BALASAN ORANG KAFIR
"Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah; Neraka untuk mereka di dalamnya negeri yang kekal; sebagai ganjaran oleh karena mereka telah mengingkari ayat-ayat Kami." (Fushshilat: 28).
Orang-orang seperti ini sudah diberi cap yang sangat jelek, yaitu "musuh-musuh Allah".
Kebenaran datang
dari Allah. Kebenaran
itulah yang mereka tolak, mereka dustakan, mereka bantah. Balasan itu tidak lain: Neraka.
"Untuk mereka di dalamnya negeri yang kekal." Artinya,
neraka itulah
negeri yang kekal untuk mereka, tidaklah mereka akan berpisah dari sana lagi
selama-lamanya.
Memang di segala zaman terlalu banyak manusia yang
hanya mengiyakan saja percakapan orang lain dengan
tidak usul periksa. Padahal dia diberi
mata untuk melihat sendiri,
telinga untuk mendengar dan
hati untuk berpikir dan memahamkan.
Tidak mempunyai keberanian buat
menyelidiki sendiri dengan
alat yang
telah diberikan Allah kepadanya. Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan mereka menjawab,
"Si Anu mengatakan begitu, saya pun menurut saja. Si Fulan mengatakan begini, saya pun percaya!"
Maka setelah nyata bahwa dia dihukum juga,
Jahannam juga yang akan jadi
tempatnya dimohonkannya kepada Allah supaya
kedua macam penipu, pembujuk dan perayu itu yang
rayuan dan
tipuannya telah
menyebabkan mereka tersesat supaya segera dipertemukan dengan dia.
"Supaya kami letakkan keduanya di bawah injakan telapak kaki kami." Biar mereka kami injak-injak karena
mereka itu adalah
orang jahat yang
telah membawa kami ke
tempat yang
sengsara buat
selama-lamanya.
Itulah ucapan penyesalan yang sangat gemas, luapan dari rasa marah dan kecewa dan jengkel. Dibayangkan yang akan kejadian itu di dalam wahyu Allah kepada Rasul-Nya agar
diperintahkan kepada
orang yang
beriman agar mereka
jangan menempuh jalan yang
sangat goblok itu.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 162-163, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Pendiri dan Ketua Majelis Ulama -Mufti- Indonesia: Buya HAMKA
mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html
KAUM MUDA DAN WAHABI
Mufti Johor telah mengenal saya sebagai
Kaum Muda dan
Wahabi dari Indonesia.
LARANGAN Mufti Johor, meskipun sebuah negeri kecil,
sebesar satu kecamatan atau kurang, dapat kita
jadikan pula perbandingan bahwa memaksakan suatu paham agama dengan kekuasaan, payahlah akan berhasil,
MALAHAN ITULAH YANG AKAN MEMECAHKAN PERSATUAN.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 70, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENGUBAH SYARI'AT (KEDUSTAAN ATAS NAMA ALLAH)
"Katakanlah: 'Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan sesuatu kedustaan atas nama Allah tidaklah mereka akan menang.'" (Yuunus: 69).
Menambah-nambah syari'at dari apa yang
telah tergaris dengan
nyata dari Allah, atau
menguranginya dan
lain sebagainya.
Seumpama berbagai macam gerakan
Tasawuf yang mengatakan kalau kita sudah yakin, kita tidak perlu beribadah lagi, atau pun mewajibkan membaca-baca bacaan sebagai
wirid, padahal tidak ada keterangan daripada Al-Qur'an atau Hadits.
"Kemudian itu akan Kami rasakan kepada mereka adzab yang sangat sekali, dari sebab apa yang telah mereka kufurkan itu." (ujung ayat 70).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 468-469, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
NABI MENYERU KEPADA JALAN YANG LURUS
"Sesungguhnya engkau mengajak mereka kepada jalan yang lurus." (al-Mu'minuun ayat 73).
Sebab itu di dalam menegakkan jalan yang lurus tidaklah diadakan tolak-angsur.
"Supaya Dia kukuhkan kebenaran dan Dia hancur-leburkan kebatilan walaupun orang yang durjana tidak menyukainya." (al-Anfaal: 8).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 214-215, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SERULAH SEKUTU-SEKUTU KAMI ITU
Kemudian dengan lebih berani lagi, Nabi saw. disuruh mengatakan,
"Serulah sekutu-sekutu Kami itu." (al-A'raaf: 195).
Cara kita sekarang, pasanglah dupa, bakarlah kemenyan, ratib tegaklah memanggil segala barang pujaan itu, wahai berhala anu, hantu pemburu anu, wahai nan di bigak nan di bigau, wahai wali keramat di Luar Batang dan segala tempat atau kubur yang dikeramatkan, wahai arwah kyai anu di kampung anu, habib fulan di kampung fulan, tolonglah kami, perkenankan doa kami.
"Kemudian itu cobakanlah tipu dayamu kepada-Ku." (al-A'raaf: 195).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 637, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERINGATAN YANG TEGAS
Pada Tahun kedelapan Hijrah, kota Mekah dikepung dan ditaklukkan dan Muslimin mencapai kemenangannya dan kedaulatan berhala habis dimusnahkan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 329, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BUYA HAMKA SOSOK TELADAN: Pengawal Akidah Umat
kemenag.go.id/home/artikel/12724
INTI TAUHID
"Tidak ada kewajiban bagi Rasul, melainkan menyampaikan." (al-Maa'idah pangkal ayat 99).
Rasul sekali-kali tidak membuat jalan sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 47, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TEGASNYA, JALAN YANG LURUS HANYA SATU
Yaitu yang digariskan oleh Allah.
Dengan petunjuk Allah, Nabi Muhammad saw. telah menempuh jalan Allah yang satu dan lurus itu.
Asal jalan Muhammad itu yang kamu turuti maka itulah jalan Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 340-341, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
THAGHUT
"Tidakkah engkau lihat kepada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman dengan apa yang telah diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau, padahal mereka meminta hukum kepada thagut sedang mereka sudah diperintah supaya jangan percaya kepadanya! Dan inginlah Setan hendak menyesatkan mereka, sesat yang sejauh-jauhnya." (an-Nisaa': 60).
Mengaku dirinya Islam.
Tetapi ganjil sekali sikap orang itu.
Padahal sudah nyata bahwa Allah memerintahkan bahwa peraturan Thagut tidak boleh diikut.
Tetapi orang yang munafik tidak mau begitu.
Mereka hanya mau kembali kepada Allah dan Rasul kalau ada keuntungan untuk diri sendiri dan kalau akan merugikan bagi diri mereka, mereka tidak mau.
Mereka turut bersorak, mendabik dada mengatakan percaya kepada Allah, tetapi di saat dibawa kepada Allah, mereka enggan menurut.
Mereka telah berani membekukan hukum Allah.
Tidak mereka insafi bahwa itulah yang membawa selisih dan sengketa.
Bahwasanya peraturan Allah hendaklah ditaati 100%, jangan dicampur-aduk dengan hukum Thagut yang membawa kesesatan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 349-355, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUNAFIK
Lantaran itu tinggallah penghuni bumi terhadapnya tiga macam pula:
1. Muslim dan Mukmin.
2. Kafir yang berdamai dengan dia dan mereka dijamin.
3. Yang takut kepadanya, tetapi selalu dalam suasana perang.
Terhadap kaum munafik, Rasulullah saw. disuruh menerima saja yang lahir dari mereka. Adapun isi batinnya, serahkan kepada Allah saja. Mereka ini diperangi dengan ilmu dan hujjah. Dan, terhadap mereka sikap harus tegas (halal tetap halal, haram tetap haram) dan keras menegakkan hukum. Selalu adakan seruan kepada mereka, sehingga sampai ke dalam jiwa mereka. Tetapi kalau mereka mati, dilarang menshalatkan mereka dan tidak boleh berdiri ke dekat kubur mereka. Katakan terus terang kepada yang munafik itu, meskipun Rasulullah saw. memohonkan ampun buat mereka atau tidak dimintakan ampun, namun Allah takkan memberi ampun mereka. Demikianlah sikap Rasulullah saw. terhadap musuh-musuhnya, dari kalangan kuffar (orang-orang kafir) ataupun terhadap yang munafik!
Sekian cukilan dari keterangan Ibnul Qayyim mengenai ayat-ayat yang tengah kita tafsirkan dan kita perbincangkan ini.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 79, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MENGHORMATI KEMERDEKAAN BERPENDAPAT
Kerapkali benar agama itu diambil menjadi perkakas untuk menentang pendapat yang baru dan kemerdekaan bersuara, baik di Barat dan di Timur.
Galilei seketika mula-mula menyatakan pendapat bahwasanya bumi itu bulat, seluruh gereja di Eropa mengafirkan dan memutuskan pendapatnya itu sesat lagi menyesatkan. Dia diancam kalau tidak mencabut pendapatnya itu, dia akan dihukum murtad dari agama. Dia hanya menjawab, "Ya, meskipun tuan-tuan hukumkan saya murtad dari agama, lantaran perbuatan tuan-tuan itu, bumi ini tidaklah akan berubah menjadi picak, tetapi bulat terus dan beredar dikelilingi matahari".
Hal ini telah diderita oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, yang dituduh kafir lantaran tidak mengakui adanya syafaat wali-wali keramat.
Orang yang marah-marah menyambut pendapat baru, membuktikan kelemahannya, membantah alasan dengan alasan.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 167-168, 172, Republika Penerbit, 2015).
SAMA SAJA
Di zaman sekarang terdapatlah hampir di seluruh dunia Islam orang-orang yang menghormati kuburan orang-orang yang telah meninggal dunia, sama saja dengan kaum musyrikin menyembah berhala.
Kuburan itu mereka hiasi dengan berbagai hiasan, mereka bernazar kalau maksudnya tercapai akan pergi ziarah mengucapkan syukur kepada kuburan itu. Bahkan ada kuburan itu yang sampai diberi kelambu seperti kelambu pengantin. Mereka katakan bahwa Tuan Syekh atau Waliyullah yang berkubur di sana akan menjadi syafaat di akhirat kelak, atau permintaan dan doa di waktu di dunia ini pun sebaiknya jangan langsung kepada Allah, lebih baik dengan "berkat jaah (kebesaran) beliau" yang berkubur itu. Tiap tahun berkumpul ramai-ramai di sana, makan dan minum, berhari raya, berkenduri, berdzikir, berdoa, sehingga sama keadaannya dengan Ka'bah kecil-kecilan.
Kalau mereka mengakui diri orang Islam, mengapa mereka tidak saja memohon kepada Allah, dengan tidak usah meminta syafaat kubur itu, padahal ayat-ayat ini sudah terang mengatakan bahwa seluruh kekuasaan di langit dan di bumi adalah mutlak dengan tangan Allah?
Dan mengapa mesti ke kuburnya? Padahal doa kita didengar Allah walau di mana kita ucapkan!
Oleh sebab itu maka tepat sekalilah apa yang dikisahkan Allah tentang nasihat Luqman kepada putranya tentang berbahaya mempersekutukan Allah,
"Sesungguhnya syirik itu adalah aniaya yang paling besar." (Luqmaan: 13).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 46, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
LANDASAN DAKWAH ISLAMIYAH
"Katakanlah, 'Hanya satu saja nasihat yang akan aku berikan kepadamu, (yaitu) bahwa kamu menghadap Allah berdua-dua dan sendiri-sendiri, kemudian itu hendaklah kamu pikirkan tidaklah ada pada teman kamu itu sakit gila. Dianya lain tidak hanyalah menjadi Pengancam bagi kamu di hadapan adzab yang sangat.'" (Saba' ayat 46).
Di sini Nabi disuruh Allah menganjurkan orang-orang itu supaya berpikir sendiri-sendiri, direnungkan dan tinjau ke dalam hati sendiri.
Sebab seluruh kaum itu tetap percaya kepada Allah Yang Esa.
Mereka menyembah berhala hanyalah sebagai perantara saja.
Dalam anjuran Nabi ini mereka disuruh berdua-dua atau sendiri-sendiri menghadap langsung kepada Allah.
Tinggalkan pengaruh yang lain.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 330-331, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KAFIR
"Telah dicap (dimaterai) oleh Allah atas hati mereka dan atas pendengaran mereka, dan atas penglihatan mereka ada penutup." (al-Baqarah pangkal ayat 7).
Lantaran sikap mereka yang demikian, kesombongan, juhud (menentang), inad (keras kepala), maka hati dan pendengaran mereka telah dicap (dimaterai) oleh Tuhan atau telah disegel. Artinya, kekafiran itu telah menjadi sikap hidup mereka. Tidak bisa diubah lagi.
"Dan bagi mereka adalah adzab yang besar." (al-Baqarah ujung ayat 7).
Kita pun akan berjumpa pertentangan dengan kekufuran yang demikian. Hati mereka menerima kebenaran itu, tetapi mereka timbuni, mereka sembunyikan.
Atau dengan tidak kita sadari, kita mengakui diri orang Islam. Al-Qur'an kita baca dan lagukan dengan tajwid yang baik, tetapi isinya tidak kita pahamkan dengan saksama. Lalu, datang orang menyerukan kebenaran supaya kita benar-benar kembali pada ajaran Rasul. Hati kecil mengakui kebenaran itu, tetapi ditolak dengan keras karena diri tersinggung, karena dengki, karena merasa "dilintasi".
Ada di antara orang Islam yang marah dan merasa dihina kalau dikatakan dia kafir. Akan tetapi, amal Islam tidak dikerjakannya, dan jika diajak pada ajaran Islam, dia marah.
Tahu akan kebenaran, tetapi tidak mau mengakuinya; itulah corak kafir yang terbanyak di zaman Nabi saw.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 104-106, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAQLID ADALAH MUSUH KEMERDEKAAN AKAL
"Adakah akan bersamaan orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan?" (QS. az-Zumar [39]: 9).
Maka iman atau Islam yang hanya dipusakai belaka, atau hanya dikerjakan karena ikut-ikutan, belumlah tentu kesempurnaannya. Meskipun bagaimana teguhnya mereka memegang segala pokok agama, maka pegangan itu mudahlah lepas, karena pertahanannya tidak ada di dalam lubuk kesadaran jiwanya sendiri.
Dan agama yang dikerjakan hanya karena ikut-ikutan (taqlid) amat takut akan ujian akal. Dia lekas sekali murka menuduh "keluar dari agama" kalau ada orang menyatakan pikiran yang berbeda dari apa yang diterimanya dari guru-guru dan nenek moyangnya.
Dan mungkin pula orang-orang yang telah mengakui dirinya Islam, umat Islam dan ibu bapaknya Islam, hidup dalam masyarakat Islam, harus memeriksa kepercayaannya itu kembali, sebab sudah terlalu jauh keluar dari pokok asalnya. Dan jauh benarlah perbedaan arti "percaya (iman)" dengan "menurut sajalah". Sebab, iman adalah pendapat sendiri, di dalam perjalanan hidup mencari kebenaran, yakni kesungguh-sungguhan yang tidak pernah berhenti, sehingga insaf kelemahan diri di hadapan kebesaran Yang Maha Besar. Adapun "percaya sajalah" adalah menurut dengan membuta-tuli apa yang dikatakan orang lain, atau apa yang diterima dari guru, sehingga akal sendiri menjadi beku tidak bergerak. Dan apabila telah timbul kebekuan itu, beku pulalah paham agama dan tidak lagi bercahaya sinarnya. Itulah yang bernama "taqlid". Taqlid adalah musuh kemerdekaan akal.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM Jilid 1, Hal. 27-29, Republika Penerbit, Cet.1, April 2018).
ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI
SAAT KESADARAN
Rumah keislaman itu telah bobrok, rusaknya bukan dari satu pihak saja. Atapnya telah tiris, dindingnya sudah jarang dan masuk angin dari celah-celah dinding itu, orang yang di dalam kedinginan. Batu-batu sendinya telah teranjak dari tempatnya yang bermula, menyebabkan tonggaknya tidak sama lurus lagi tegaknya, tunjang-tenjengan (tinggi-rendahan), rumput yang ada di halaman rumah itu telah panjang, jenjang telah runtuh, pagarnya rompak dan dapurnya tiada beratap lagi, batunya telah berlumut. Jika kita hendak memanggil tukang untuk memperbaiki, tukang itu tidaklah cukup seorang, melainkan berdua, bertiga, bahkan berpuluh. Kalau perlu rumah itu harus diruntuhkan sama sekali. Perumahannya saja yang wajib didatarkan. Di atas perumahan itu didirikan gedung yang baru, yang kukuh dan kuat. Penganjur-penganjur dan pembangun-pembangun Islam yang datang sejak permulaan Abad ke-19 Masehi adalah seumpama tukang yang datang meruntuhkan rumah lama dan mendatarkan perumahan, serta menegakkan rumah yang baru itu.
Sudah jatuh Kerajaan Bani Abbasiyah di Abad ke-7 Hijriyah (656 M), maka tiap-tiap angin datang yang agak keras, runtuh jugalah rumah itu sehingga yang belum ketirisan dan belum lapuk ke ruang yang tinggal sedikit itulah umat Muslimin yang menumpang di dalamnya, datang melindungkan diri. Itulah Kerajaan Turki Utsmani. Itulah lagi negeri yang dipandang "pertahanan akhir bagi Islam". Namun, kebangunan Turki adalah laksana geraknya seekor ayam yang telah disembelih ketika hendak mengembuskan napasnya yang penghabisan. Sesudah Turki di zaman Muhammad al-Fatih dapat menaklukkan Kerajaan Byzantium, Sulaiman al-Qanuni dapat menyerang Balkan dan mengepung ibu kota Oostenrijk, negeri Weenen yang masyhur. Namun, setelah itu Turki surut ke bawah, turun dan turun lagi, sampai di zaman Sultan Abdul Hamid. Waktu itu negeri-negerinya di Eropa diambil satu per satu dari tangannya oleh bangsa-bangsa Rusia, Prancis, Oostenrijk, di Timur pun demikian pula. Pemerintahan tiada teratur, agama sangat kolot, pengaruh budak-budak kebiri amat besar di dalam istana. Kepala-kepala perang mengambil uang suap (risywah). Tunisia diambil Prancis, demikian juga Algeria, Mesir diambil Inggris, Balkan memberontak dengan bantuan Rusia, Tripoli diambil Itali. Turki dapat gelar orang sakit di Eropa. Di zaman itulah timbul beberapa pembangun, dari segala segi.
Awal Abad ke-19 adalah zaman kebangunan.
Mula-mula sekali muncul dahulu "seorang" besar di dalam Abad ke-18. Kedatangan yang seorang bermula ini, ialah ketokan yang pertama. Yang dibangunkan ialah jiwa, bukankah jiwa itu pangkal kerusakan dan kesadaran jiwa pangkal kebangunan umum.
1001 macam penyakit menimpa tubuh masyarakat Islam, pangkalnya hanya satu, yaitu kerusakan Tauhid, kerusakan kemerdekaan jiwa.
Kemunduran siasat, kemunduran ekonomi, masyarakat, kezaliman raja-raja, ulama, kelalaian kepala-kepala perang, kemesuman istana. Kerusakan dan kecabulan di dalam negeri pangkal pokoknya hanya satu, ialah kerusakan perhubungan dengan Tuhan, maka Allah takdirkan menimbulkan mujaddid yang pertama untuk kebangkitan, yang sekarang ini. Itulah Muhammad bin Abdul Wahab di Nejed.
Kebangunan Muhammad bin Abdul Wahab yang mula-mula itu adalah seumpama "bom" yang amat keras memukul kubu-kubu pertahanan Islam yang bobrok. Dia memukul sekeras-kerasnya Islam yang telah rusak. Dipandangnya kaum Muslimin di mana-mana di seluruh dunia telah sesat, telah musyrik. Kemusyrikan itu wajib dibanteras dan umat dibawa kembali kepada Tauhid yang khalis.
Kerajaan Turki dipandangnya sebagai induk dari kemusyrikan di dalam Islam. Mekah al-Mukarramah, tempat Ka'bah didirikan, dipandangnya serupa dengan keadaan mula-mula Nabi Muhammad diutus, yakni telah dicampuri syirik. Kubur yang ada di Mekah dan kubur yang ada di Najaf dan Karbala sarang menyerikatkan Tuhan belaka.
Sebab itu Kerajaan Turki merasa bahwa pertahanannya dan kebesarannya terancam. Lalu diperbuatnya sarana di mana-mana menuduh bahwa Muhammad bin Abdul Wahab dan Raja Saudi yang membantunya adalah paham yang sesat di dalam Islam. Banyak belanja dipergunakan untuk sarana itu, sehingga kaum Wahabi dibenci betul-betul oleh seluruh dunia Islam. Banyak "ulama resmi" yang dipergunakan mengarang buku-buku mencela kebangunan itu.
Turki waktu itu telah lemah. Sendiri tiada sanggup dia menghadapi kebangunan di tanah Arab itu, sebab itu disuruhnyalah kerajaan muda yang baru naik, yaitu Mesir di bawah pimpinan Muhammad Ali Basya menyerang kaum Wahabi dan kerajaannya yang telah rata pengaruhnya di seluruh tanah Arab itu. Sebetulnya kalau sekiranya boleh dibentuk menurut kehendak kita yang datang kemudian, tidak patut Kerajaan Wahabi dengan Kerajaan Mesir berperang. Keduanya itu sama-sama hendak bangun dan tidak puas dengan susunan lama, cuma ubahnya. Wahabi bangun dari segi ruh iman dan Mesir bangun dari sebab masuknya tamadun yang dibawa Napoleon ke sana.
Muhammad Ali Basya disuruh Sultan Turki memerangi Wahabi. Peperangan itu adalah jenjang bagi Muhammad Ali Basya untuk meningkatkan derajat lebih tinggi, yaitu pengakuan Turki bahwa Mesir Kerajaan Merdeka, hanya bersahabat dengan Turki di dalam persatuan agama saja. Permintaannya ini terpaksa dikabulkan oleh Turki. Setelah dikabulkan maka Muhammad Ali Basya pergi memerangi Wahabi sehingga kalah dan raja-rajanya ditangkap dan dikirim ke Istanbul serta dihukum bunuh! Kepalanya digantungkan di pintu gerbang kota berbulan-bulan lamanya.
Dengan kemenangan menghadapi kerajaan Wahabi, Muhammad Ali Basya bertambah kuat. Sampai sekali lagi Turki meminta bantu kepada Mesir mengalahkan Yunani. Setelah itu Muhammad Ali meluaskan kuasa mengalahkan Sudan, sampai tentaranya memasuki tanah Habsyi. Akhirnya dirampasnya tanah-tanah wilayah Turki sendiri sampai ke Syam dan tidak berapa jauh lagi tentaranya akan masuk ke Istanbul ibu kota Turki. Kalau sekiranya tidaklah kerajaan Barat campur tangan, tentulah Muhammad Ali Basya sudah sanggup menumbangkan Turki Utsmani. Jadi adalah Turki Utsmani membesarkan anak harimau.
Meskipun Wahabi terpukul jatuh, tetapi awal kebangunan Islam kedua kali dan yang membangkitkan kesadarannya ialah mereka, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikut-pengikutnya.
Raja Ibnu Sa'ud di Dariyah tanah Nejed menerima ajaran beliau dan menjadikan dasar perjuangan mempersatukan tanah Arab.
Muhammad bin Abdul Wahab itulah yang meletakkan batu pertama dari kebangkitan ini. Sudah itu barulah masuk Abad ke-19, di Abad itulah tumbuh beberapa orang besar yang memperbaiki Islam dan kaum Muslimin dari seginya masing-masing.
(Buya HAMKA, ISLAM: REVOLUSI DAN IDEOLOGI, Hal. 67-71, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Maret 2018).
PESAN-PESAN ISLAM KH. AGUS SALIM
Maka aliran kelima ini, yang keseluruhannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah, yaitu aliran yang membangkang.
Aliran Syi'ah ini pun berpecah-belah berulang kali, dan golongan Syi'ah yang berkuasa terdapat di Kerajaan Yaman, di ujung Barat Daya Jazirah Arab, serta kaum penganut Aga Khan, ayahanda Ali Khan, yang di Amerika lebih terkenal sebagai suami bintang film Rita Hayworth. Berkenaan dengan kekuasaan Aga Khan, pengaruhnya amat kuat, sekalipun ia tidak memegang kekuasaan pemerintah negara terhadap kaum pengikutnya.
Telah saya singgung bahwa kaum Syi'ah sepanjang sejarah menjadi penganut paham teokrasi melalui golongan pendeta atau imam.
Pemerintahan Kerajaan Usmani di Turki semata-mata merupakan pemerintah sekuler, di mana agama diberi kedudukan dalam suatu Majelis yang dipimpin oleh seorang yang diberi gelar Syekh Al-Islam.
Kerajaan Ibn Saud, yang sungguh adalah seorang Muslim yang keras dan telah mengumpulkan kaum ulama di sekitarnya, namun pemerintahnya tidaklah dipimpin oleh kaum ulama.
Demikianlah keempat madzhab dalam hukum agama Islam selalu terbuka untuk perubahan dan penyesuaian.
Demikianlah keadaan sejak semula.
Abu Hanifah adalah seorang murid Jafar Shadiq, dan ia mendirikan madzhabnya sendiri. Dalam Madzhab Hanafi itu pun seorang muridnya yang terdekat, yaitu Abu Yusuf, menyimpang pula dari Madzhab Hanafi. Kemudian, ada Maliki yang berbeda pula dengan Madzhab Hanafi. Demikian pula Ibn Hanbal, murid Imam Syafi'i mendirikan madzhab yang berbeda sama sekali dengan madzhab-madzhab yang terdahulu; madzhabnya adalah yang keempat, dan ia berhadapan dengan ketiga madzhab terdahulu yang mapan, maka ditegaskannya bahwa tidak terdapat kewajiban untuk berpegang pada ajaran suatu madzhab yang terdahulu karena pada setiap waktu manusia bertanggung jawab sendiri terhadap caranya ia memahami ajaran Al-Qur'an dan hukum agama.
Bahkan ada hadits yang mengatakan bahwa Nabi berkata bahwa setiap Abad akan ada orang yang lebih sempurna memahami Al-Qur'an daripada orang-orang zaman sebelumnya. Hal ini memang wajar dan masuk akal. Terdapat pula hadits versi lain, yang menurutnya Nabi bersabda,
"Pada awal setiap Abad akan tampil segolongan di kalangan Muslim yang akan memulai suatu pembaruan agama."
Ada orang berkata bahwa tidak terdapat pembaruan sejak Tahun 1100 H, yaitu 274 Tahun yang lampau. Maka sudah waktunya ada pembaruan lagi. Di Dunia Islam terdapat segolongan orang yang telah menikmati pendidikan modern, yang agaknya mempunyai pandangan dan pertimbangan yang asing bagi golongan santri, yang mempelajari ajaran yang berasal dari 400 Tahun dahulu, membaca dan mempelajari buku-buku yang itu-itu juga.
Selanjutnya, terdapat pula beberapa madzhab lain yang masing-masing disebut madzhab kelima. Golongan ini tidak mengakui keabsahan keempat madzhab hukum yang ada dalam Islam, dan tidak mengakui keabsahan khalifah. Mereka adalah kaum Syi'ah.
Lama-kelamaan mereka menaruh kepercayaan bahwa senantiasa terdapat seorang Imam keturunan Ali, sekalipun berwujud gaib, yang menjadi pemimpin kaum Muslim, dengan siapa kaum mistik yang tinggi perkembangan batinnya, bisa berkomunikasi. Kemudian, mereka membentuk suatu keseluruhan sistem hierarki imam yang bertata-tangga, bertingkat-tingkat, yang dikatakan berasal dari Tuhan melalui Ali, sebagai wakil Tuhan, melalui pucuk tertinggi, sebagai Imam pada masanya, yang hadir, walaupun tak kasat mata.
Kemudian di bawahnya menyusul sekelompok pendeta-pendeta puncak dari kaum Syi'ah, dan seluruh hierarki berjenjang turun begitu saja. Hal itu tidak pernah ada sebelum masa Ali, juga belum ada pada masa Husain. Hal itu hanya berkembang belakangan dan utamanya di Iran. Persia memeluk agama Islam, mengambil Islam tanpa menerima kekhalifahan yang ada. Dengan demikian, mereka bisa mengukuhkan dirinya sebagai negeri Islam yang terpisah di bawah kepemimpinan Ali. Sebagaimana diketahui dinasti di Persia disebut sebagai dinasti Ali dan di dalam perjalanan waktu, kelompok-kelompok partisan bermunculan. Masing-masing mengarah kembali ke salah satu dari keturunan Ali. Ada 12 keturunan Ali yang diketahui, kepada siapa, masing-masing daripadanya, satu bagian dari Syi'ah dipersembahkan, dan yang terakhir dari ke-12 imam adalah Muhammad Al-Mahdi Al-Hujjah.
Tapi, ini sama sekali suatu perkembangan yang terpisah dari perkembangan Islam, yang menurut Al-Qur'an dan Hadits.
Para pemimpin Syi'ah, masing-masing secara terpisah berhak memberikan penafsiran dari Al-Qur'an, dan kemudian pengikut-pengikutnya dibenarkan untuk mengikutinya. Tentu saja ini sesuatu perkembangan agama dengan sistem kependetaan. Jika diakui oleh para pendetanya barulah benar.
Demikianlah mengenai kaum Syi'ah.
(KH. AGUS SALIM, PESAN-PESAN ISLAM: KULIAH-KULIAH MUSIM SEMI 1953 DI CORNELL UNIVERSITY AMERIKA SERIKAT, Hal. 213, 245-246, Penerbit Mizan, Cet.I, Mei 2011).
PANGGILAN BERSATU
Kalau memikirkan bisa timbulnya tuduh-menuduh, fitnah-memfitnah karena bergerak menyiarkan Islam, kadang-kadang maulah kita takut dan berdiam diri saja. Tetapi kalau kita ingat bahwa kita mempunyai tujuan yang besar, yaitu tajdidul Islam, yang telah kita junjung tinggi sejak datangnya 3 ulama WAHABI dari Mekkah ke Minangkabau Tahun 1802, sejak tersebarnya faham Jamaluddin-Abduh di sini, sejak K.H.A. Dahlan memulai langkah perbaharuannya, sejak kita membaca karangan-karangan Bung Karno tentang "Mempermuda Pengertian Islam" dan "Islam Sontoloyo" dan "Surat-surat dari Endeh", dan kalau kita renungkan hari depannya Islam di tanah air kita ini, akan ingatlah kita bahwa tugas ini tidak boleh dihentikan. Dihentikan adalah dosa!
Pernahkah Anda ketahui bahwasanya pada Tahun 1912, dalam satu pertemuan K.H.A. Dahlan ditempeleng kepalanya hingga jatuh serbannya, dengan makian bahwa dia ulama sesat lagi menyesatkan, tetapi sekarang menjadi salah seorang "Pahlawan Kemerdekaan Nasional", dan dengan terang-terang Bung Karno mengatakan bahwa beliaulah yang memberinya pengertian tentang Islam?
Berjuanglah terus, hai mubaligh, menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan. Terhadap sesama pemeluk Islam ambillah satu sikap yang paling baik. Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan. Jika engkau dihina, muliakan mereka! Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas biar sampai tersundak ke langit. Adapun kemuliaan yang sejati, hanyalah pada siapa yang lebih taqwa kepada Allah. Oleh sebab itu, di dalam orang rebut-merebut keuntungan duniawi, mari kita merebut taqwa!
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 75-79, Penerbit Galata Media, Cet. I, Januari 2018).
"Ibnu Taimiyah Nusantara." (Riwayat Hidup HAMKA - Dr Rozaimi Ramle).
youtube.com/watch?v=irIWCrvw9Hw
"HAMKA - The Single Fighter." (Dato Dr Asri).
youtube.com/watch?v=Wio8_VMDGsU
KESIMPULAN bahwa ayat ini adalah undang-undang yang tetap dari Allah, bahwasanya DOSA SUATU MASYARAKAT dari satu negeri bisa menyebabkan datangnya KUTUK ALLAH kepada negeri itu.
Orang jadi ketakutan selalu, takut dirampok, takut garong dan takut serangan dari luar. Yang kuat menganiaya yang lemah sehingga tempat berlindung tak ada lagi.
Mungkin dalam negeri itu ada juga orang baik-baik, namun mereka telah terbawa rendang dan menjadi korban dari kesalahan orang-orang yang berbuat durjana.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 225-226, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
UMPAMA KELEDAI MEMIKUL BUKU
Dengan tegaslah al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menulis dalam kitabnya, I'Iamul Muwaqqi'in, bahwa ayat ini, "Walaupun dijadikan perumpamaan bagi orang Yahudi, namun makna yang terkandung di dalamnya mengenai juga bagi orang-orang yang memikul Al-Qur'an, namun mereka tidak mengamalkannya dan tidak memenuhi haknya dan tidak memelihara maksudnya dengan sepatutnya."
Hendaklah kita camkan, bahwa sebab turun ayat ini karena ada di zaman Nabi kita, Yahudi-yahudi berperangai demikian, lalu mereka ditegur.
Bukan karena Yahudi-nya, melainkan karena perangainya.
Dan Nabi pun pernah mengatakan bahwa kamu akan mengikuti jejak mereka setapak demi setapak.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 124-127, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DZIKIR
"Dan, sebutlah Tuhan engkau di dalam hatimu dengan merendah diri dan takut, dan tidak dengan kata-kata yang keras pada pagi hari dan petang." (al-A'raaf pangkal ayat 205).
Berkata Ibnu Katsir, "Lantaran itu sebaiknya janganlah berdzikir itu dengan bersorak-sorai atau suara keras."
Di sinilah terletak kepentingan dzikir: ingat selalu.
Lantaran itu maka jelaslah dzikir yang dilakukan oleh kebanyakan penganut ajaran Tasawuf, sebagai ratib-tahlil beramai-ramai, bersama-sama dengan suara keras, sampai saking asyik dan lupa diri, terjadi yang mereka namai jadzab sampai pingsan, bukanlah dzikir ajaran Nabi Muhammad saw. melainkan yang dibuat-buat kemudian (bid'ah) yang tidak berasal dari ajaran agama.
Dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. ialah tasbih: Subhaanallah, tahmid: Alhamdulillah, tahlil: La Ilaha Illallah, takbir: Allahu Akbar, Hauqalah: La Haula wala Quwwata Illa Billahi, dan istighfar: Astaghfirullah.
Maka, datanglah ahli-ahli Tasawuf membuat berbagai dzikir ciptaan sendiri, yang tidak berasal dari ajaran Allah dan Rasul. Ada dzikir yang hanya membaca Allah saja berkali-kali dengan suara keras-keras, bersorak-sorak sampai payah dan sampai pingsan. Ada dzikir yang huw saja. Karena kata mereka huwa yang berarti Dia, ialah Dia Allah itu sendiri.
Kadang-kadang mereka adakan semacam demonstrasi sebagai menentang terhadap orang yang teguh berpegang kepada Sunnah.
Maka, dzikir-dzikir semacam itu adalah berasal dari luar Islam atau telah menyeleweng sangat jauh dari pangkalan Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 651-652, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PUNCAK SEGALA DARI SEGALA PERBUATAN ZALIM
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan atas nama Allah suatu kedustaan?" (Huud pangkal ayat 18).
Bahwasanya mengada-ada atau mengarang-ngarangkan suatu keterangan dusta tentang Allah adalah puncak segala dari segala perbuatan zalim.
"Ketahuilah, sungguh laknat Allah atas orang-orang yang zalim." (ujung ayat 18).
Mereka telah dilaknat oleh Allah, kutuk telah menimpanya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 538-539, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PEMBERONTAKAN DI CILEGON (1888 M)
Ulama tidak boleh memilih yang selemah-lemah iman. Melainkan naik setingkat lagi ke atas. Ubah dengan tangan.
Semangat mereka rupanya berpadu satu dan sama sepakat bahwa perubahan tangan akan dilakukan. Berpuluh orang santri di bawah pimpinan Haji Wasit sendiri pergi ke tanah perkebunan, tempat tumbuh kayu yang dikeramatkan itu. Mereka bawa kampak dan lading. Mereka tebang pohon keramat itu hingga tumbang, mereka bersihkan, potong-potong dahan dan rantingnya dan mereka campakkan. Sehingga ketika datang orang berziarah, kayu pujaan mereka sudah tidak ada lagi. Niscaya yang empunya tanah, yang mendapat banyak keuntungan dari pemujaan kayu itu, dapat dihasut oleh orang lain, bahwa penebangan kayu oleh orang di dalam pekarangannya adalah melanggar haknya. Ia pun mengadu kepada pemerintah setempat, sebab ia dirugikan. Orang masuk ke dalam pekarangannya dan merusakkan kayu harta miliknya dengan tidak seizinnya, ia menuntut.
Kiai Haji Wasit dipanggil ke kabupaten dan akhirnya diperkarakan. Niscaya susunan berpikir UNDANG-UNDANG BARAT, TEGASNYA, UNDANG-UNDANG KOLONIAL tidak mendapat jalan untuk membebaskan Kiai Wasit. Alasan-alasan agama yang dikemukakannya di muka pengadilan hanya akan diterima oleh hakim dengan senyum bergumam. Niscaya ia hanya akan dituduh fanatik saja. Akhirnya Kiai Haji Wasit didenda 3 ringgit. (F 7,50,-). Denda 3 ringgit itu sangatlah menyinggung perasaan keagamaan orang Bantam. Kiai yang sangat mereka hormati, yang menurut keyakinan mereka telah bertindak menurut HUKUM ISLAM SEJATI telah dihinakan, telah dipandang salah dan didenda.
DI MANAKAH KEMERDEKAAN AGAMA DALAM NEGERI INI?
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 83, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
IMAN, HIJRAH DAN JIHAD
Ingatlah TUJUAN HIDUP menyelamatkan JALAN ALLAH.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 420, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
AGAMA ALLAH
"Sesungguhnya yang agama di sisi Allah, ialah Islam." (Aali 'Imraan: 19).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 502, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
HAKIKAT ISLAM
"Sesungguhnya, yang agama di sisi Allah ialah Islam." (Aali 'Imraan pangkal ayat 19).
Dia mengaku Islam, tetapi tempatnya menyerahkan dirinya ialah gurunya, dia TAQLID saja kepada guru itu.
Atau, dia mengaku Islam, tetapi KUBURAN yang dikatakannya keramat lebih diramaikannya daripada masjid tempat menyembah Allah. Dia lebih banyak meminta dan memohon kepada yang mengisi kubur itu atau mereka itu dijadikan PERANTARA buat menyampaikan permohonannya kepada Allah.
Orang semacam ini semuanya mungkin telah termasuk golongan Islam di dalam perhitungan (statistik) dan dalam geografi (ilmu bumi), tetapi belum tentu jiwanya sendiri adalah Muslim, yang menyerah bulat kepada Allah Subhanahu wa Ta'aala.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 598, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEGALA PERBUATAN BID'AH itu nyatalah tidak bersumber dari pengetahuan dan tidak dari petunjuk (hidayah Ilahi).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 55, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DUA GOLONGAN
"Satu golongan diberi-Nya petunjuk dan satu golongan (lagi) tertimpalah atas mereka kesesatan. Sesungguhnya, mereka telah mengambil Setan-setan jadi pemimpin-pemimpin selain Allah dan mereka mengira bahwa mereka adalah mendapat petunjuk." (al-A'raaf ayat 30).
Seluruh manusia telah diciptakan Allah dari keturunan Adam. Kemudian, hidup dalam dunia ini dan kelak akan mati. Setelah mati semuanya pun akan kembali hidup di alam lain, alam akhirat. Kebangkitan kedua kali ini menjadi dua golongan. Pertama, golongan yang mengikuti petunjuk Allah, kedua golongan yang tersesat.
Mengapa ada yang tersesat?
Lanjutan ayat telah memberikan jawaban, mengapa ada golongan yang tersesat:
"Sesungguhnya mereka telah mengambil Setan-setan jadi pemimpin-pemimpin selain Allah."
Ingatlah kembali bahwa sejak semula Adam dijadikan dan iblis disuruh sujud lalu menolak, sudah tampak bahwa golongan ini akan terbagi dua. Dan, setelah iblis mencoba memerdayakan Adam dan istrinya, sudah bertambah jelas bahwa golongan ini akan terbagi dua. Pada ayat 28 Allah memperingatkan bahwa apabila Adam dan keturunannya telah disuruh meninggalkan surga bersama iblis itu, barangsiapa yang mengikut petunjuk Allah, tidak usah mereka khawatir, tak usah mereka merasa takut ataupun bersedih hati. Sebab, mereka akan selamat. Di ayat 29 dijelaskan lagi bahwa orang yang menolak dan kafir, yang mendustakan ayat-ayat Allah, nerakalah tempatnya dan akan kekallah dia di dalam.
Rupanya setelah hari Kiamat itu nanti, seluruh insan akan dihidupkan kembali. Sebagaimana dahulu mereka diadakan daripada tidak ada, sekarang mereka dibangkitkan pula daripada tidak ada kepada ada.
MERASA MENDAPAT PETUNJUK
"Dan, mereka mengira bahwa mereka adalah mendapat petunjuk." (al-A'raaf ujung ayat 30).
Demikianlah halusnya bujukan Setan-setan itu sehingga di dalam kesesatan itu mereka merasa mendapat petunjuk.
Yang salah mereka sangka benar, yang bengkok mereka sangka lurus. Yang batil mereka sangka hak, sehingga kerapkali kejadian bahwa orang yang betul-betul hendak menegakkan kebenaran mendapat keaniayaan daripada orang yang mempertahankan barang yang salah.
Kebanyakan orang yang tersesat dalam kepercayaan dan amalan, menyangka mereka mendapat petunjuk. Mereka akan mempertahankan pendirian yang salah, seperti Fir'aun mempertahankan kekuasaannya di hadapan Musa, dan Abu Jahal mempertahankan berhalanya di hadapan Muhammad saw. Sebab, semuanya menyangka bahwa mereka di pihak yang benar. Sehingga orang yang benar-benar berdiri mempertahankan petunjuk dan hidayah Ilahi selalu mesti menghadapi perjuangan yang sengit, kadang-kadang dibayar dengan nyawa sendiri, barulah kebenaran sejati dapat tegak berhadapan dengan kebenaran saduran.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 400-401, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
YAKIN AKAN PERLINDUNGAN ALLAH
"Bilamana mereka diserang ombak dan gelombang besar bergulung-gulung, waktu itu mereka menyeru Allah dengan seikhlas-ikhlasnya karena agama. Tetapi bilamana mereka telah terlepas ke daratan, waktu itu juga mereka akan kembali musyrik."
Begitulah tabiat dan watak manusia di setiap zaman. Tetapi bukan itu pula yang menjadi pedoman. Pedoman ialah beberapa orang yang tidak banyak jumlahnya yang benar-benar ikhlas. Cahaya merekalah yang meliputi semua. Marilah kita berusaha, semoga diri kita termasuk golongan yang sedikit itu! Aamiin.
(Buya HAMKA, KENANG-KENANGAN HIDUP, Hal. 630, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2018).
KATA PENGANTAR
Ahmad Syafii Maarif
Mantan Menteri Agama RI di era Orde Baru, dr. Tarmizi Taher mengatakan bahwa, pada saat itu dirinya masih berusia muda, tapi sudah memiliki hubungan yang dekat dengan Buya HAMKA. Saat itu dr. Tarmizi Taher menghadap Buya HAMKA dan menanyakan alasan mundur dari MUI. Menanggapi pertanyaan itu, Buya HAMKA menjawab, "Tarmizi, Ulama itu tidak boleh dipaksa-paksa. Ulama itu yang justru dengan ilmu dan ijtihad-nya yang harus memaksa umat yang salah agar bersedia mengakui kesalahannya dan kembali pada jalan yang benar."
Dalam pandangan saya, Buya HAMKA dapat diumpamakan sebagai mutiara amat langka yang pernah dimiliki bangsa ini. Beliau adalah salah satu idola saya, dan pemikiran-pemikirannya sangat memengaruhi pemikiran-pemikiran dakwah saya selama ini. Kekaguman saya terhadap Buya HAMKA semakin bertambah, ketika setiap kali berada di Luar Negeri orang-orang sibuk membicarakan HAMKA berikut karya-karyanya. Khususnya Tafsir Al-Azhar yang sangat fenomenal itu. Alangkah populernya nama HAMKA di mancanegara.
(Haidar Musyafa, BUYA HAMKA SEBUAH NOVEL BIOGRAFI, Hal. 14-15, Penerbit Imania, Cet. I April 2018).
BUYA HAMKA MENJAWAB
"Adanya toleransi yang Anda kemukakan itu, ialah karena di Indonesia ini rakyatnya beragama Islam." Lalu, diuraikannya keadaan di negara-negara lain, yang Islam menjadi umat minoritas. Di Philipina selama belasan tahun terjadi pertentangan umat beragama, di India, dan juga di Inggris. "Tunjukkan kepada saya di mana negara yang mayoritas rakyatnya Islam menindas golongan minoritas agama lain?" tantang Ayah.
(Rusydi HAMKA, PRIBADI DAN MARTABAT BUYA HAMKA, Hal. 229-230, Penerbit Noura, Cet.I, Januari 2017).
MENJAWAB PERTANYAAN
Seorang saudara bernama Markasim, dari Desa Beji, Kecamatan Jenu, Tuban, mengirimkan beberapa pertanyaan, di antaranya demikian: "Di dalam Al-Qur'an, surah 2, ayat 62, disebutkan kecuali orang-orang yang beriman juga ada orang-orang yang bernama Yahudi, Nashara, dan Shabiin, semuanya bisa mendapat ganjaran Tuhan, karena beriman kepada Allah dan Hari Akhirat dan beramal saleh. Saya mohon diberi keterangan; Yahudi, Nashara, dan Shabiin yang manakah yang dimaksud?"
JAWABAN
Pada surah 2 (al-Baqarah) ayat 285 rangkaian kepercayaan itu telah dirumuskan demikian bunyinya:
"Telah beriman Rasul itu kepada apa yang turun kepadanya dari Tuhannya, dan telah beriman pula orang-orang yang beriman. Semuanya telah beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Tidak kami bedakan di antara seorang pun dari rasul-Nya itu. Dan semuanya berkata: 'Kami dengar dan kami taati, kami memohon ampunan Engkau ya Tuhan, dan kepada Engkaulah kami semua akan kembali'."
Ayat ini telah MENEGASKAN bahwa orang yang telah mengakui beriman kepada Allah itu, selain dari memercayai malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul, tidak membedakan di antara seorang pun dari rasul Allah.
Kalau ada di antara mereka yang hanya mengakui Nabi Isa dan Nabi Muhammad, sebagaimana orang Yahudi selama ini, tentu iman mereka belum diterima.
Kalau mereka hanya percaya kepada Nabi Isa saja, dan menolak dengan keras kerasulan Nabi Muhammad, niscaya iman mereka belum diterima.
(Buya HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM Jilid 3, Hal. 9-10, Republika Penerbit, Cet.1, April 2018).
PENEGASAN ALLAH, DENGAN SUMPAH bahwa orang yang tidak mau menerima Tahkim dari ALLAH dan RASUL-NYA,
TIDAKLAH termasuk ORANG yang BERIMAN,
"Walau shallaa, walau shaama!"
WALAUPUN dia SHALAT, walaupun dia PUASA.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 353, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TUGAS SEORANG MUBALIGH
"Menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang sebenar-benarnya, bersandar pada kitab suci Al-Qur'an dan sunah-sunah Rasulullah saw. itu tidak gampang, apalagi di saat khurafat dan takhayul memperbudak masyarakat seperti saat ini, Anakanda HAMKA," kata Ayahanda Haji Rasul dalam sebuah kesempatan. "Tapi hal itu tidak boleh menyurutkan langkahmu untuk berbuat demi agamamu, karena kamu adalah seorang mubaligh. Tugas seorang mubaligh itu adalah bekerja dan berjuang untuk umat, mengajak mereka kembali pada Allah dan rasul-Nya."
(Haidar Musyafa, BUYA HAMKA SEBUAH NOVEL BIOGRAFI, Hal. 347, Penerbit Imania, Cet. I April 2018).
KAFIR! HABIS PERKARA!
Kenanglah kisah iblis. Tersebut di dalam riwayat bahwasanya
iblis itu pada
mulanya adalah
penghulu segala malaikat karena
ketaatannya. Dikatakan bahwa tidak ada lagi sejengkal bumi pun dan setempa langit pun, yang di sana iblis belum pernah beribadah. Namun pada suatu masa ia diperintah menundukkan mukanya, sujud kepada Adam. Ia enggan dan membesarkan diri!
"Maka adalah ia menjadi kafir!"
Sederhana saja
hukuman itu. Ia
keluar dari
disiplin Ilahi. Ia disuruh sujud, tetapi tidak mau sujud.
Kafir! Habis perkara! Pengakuannya selama ini tentang keesaan Allah
tidaklah berfaedah lagi. Karena, pengakuannya
tidak diikuti oleh
ketaatan ketika
perintah datang.
(Buya HAMKA, Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh, Hal. 5-7, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
GAGAH PERKASA MEMPERTAHANKAN SUNNAH
Dan kalau yang menegur itu berkata,
"
Bagaimana kalau seruan ini lebih benar,
berdasar Al-Qur'an dan
Sunnah?"
Dia pun akan menjawab,
"
Kami tidak mau ikut ajakan-ajakanmu itu.
Kamu mau apa???"
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 225, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEPADA ORANG-ORANG YANG MEMBANGKIT-BANGKIT bahwa pemuka-pemuka Islam dari Sumatra, yang datang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum
WAHABI, kepada mereka orang-orang dari Sumatra itu
MENGUCAPKAN BANYAK-BANYAK TERIMA KASIH. Sebab kepada mereka telah diberikan
KEHORMATAN YANG BEGITU BESAR.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 216, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
WASIAT ALLAH
TEGASNYA, JALAN YANG LURUS HANYA SATU. Lain dari jalan yang satu itu, ada lagi bermacam-macam jalan,
bersimpang-siur jalan. Yakni jalan yang dibuat
Setan atau jalan yang dibuat khayalan
Manusia, jalan
SYIRIK, jalan
KHURAFAT, dan jalan
BID'AH. Kadang-kadang diperbuat oleh Manusia,
dikatakannya agama, padahal bukan agama. Datanglah lanjutan ayat tadi,
jangan dituruti jalan yang
bersimpang-siur itu. Karena kalau masing-masing kamu menuruti salah satu jalan itu,
niscaya kamu akan
berpecah-belah, bercerai-berai.
"Ash-Shirathal Mustaqim" memang
HANYA SATU.
Lain dari itu adalah
jalan bersimpang-siur tak tentu arah dan tujuan.
Meskipun ada yang
bernama agama, ia adalah
agama yang
batil, bikinan dan khayal Manusia,
diubah-ubah, ditambah-tambah, sehingga
hilang yang
asli karena
tambahan, hilang yang asal karena yang pasal. Demikian juga segala maksiat karena menuruti jalan Setan. Asal dituruti jalan yang bersimpang-siur itu, terpecah-belahlah umat, sengsaralah yang akan terjadi. Di penutup,
Allah menyatakan dengan
tegas,
"Demikianlah Dia wasiatkan kepada kamu, supaya kamu semuanya bertakwa." (ujung ayat 153).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 340-341, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PENDEKNYA, suasana pada waktu itu adalah suasana kuburan. Niscaya suara Ibnu Taimiyah telah mengejutkan, laksana geledek di siang hari. Ulama-ulama Fiqih sendiri mencari dalil buat membantah teguran Ibnu Taimiyah itu.
(Buya HAMKA, Perkembangan & Pemurnian Tasawuf, Hal. 313, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
SURAH AL-JINN
PENDAHULUAN. Maka dalam surah al-Jinn bersama ayat-ayat yang terkandung di dalamnya, dengan
langsung kita
mendapat keterangan dari Al-Qur'an tentang jin sebagai makhluk Allah, dan
terbantah dengan sendirinya
dongeng-dongeng yang
dikarang-karangkan orang bahwa ada jin bersuami manusia, atau manusia bersuami jin, lalu
ahli-ahli fiqih sampai
memperkatakan bagaimana kawinnya! Ada pula
dongeng yang
banyak bertemu dengan buku cerita
1001 Malam menerangkan bahwa
jin itu
dihukum oleh
Nabi Sulaiman, dimasukkan ke dalam
guci, lalu dilemparkan ke laut, sampai terbenam di laut besar
beratus-ratus tahun, lalu terpukat oleh manusia. Setelah guci itu dibuka sumbatnya,
keluarlah asap. Lama-lama asap itu jadi menyerupai manusia, lama-lama bertambah besar dan bertambah besar,
dan cerita-cerita lain.
Maka
cerita-cerita semacam ini
bukan ajaran agama.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 343, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BUYA HAMKA TENTANG WAHABI DAN LCBT (LINGKARAN CHURAFAT BID'AH TAHAYUL) TERKUTUK
MUKADIMAH
Madzhab yang
dianut oleh
penafsir ini adalah
Madzhab Salaf.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 38, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SYARAT ORANG MASUK ISLAM DAN AJARAN ISLAM
PENDAHULUAN.
Ilmu dalam
Islam adalah yang ada dasar dan
dalilnya, terutama dari dalam
Al-Qur'an dan dari
As-Sunnah, termasuk
JUGA PENAFSIRAN ULAMA-ULAMA yang telah mendapat kepercayaan dari umat, yang disebut
SALAFUS SHALIHIN, serta sesuai dengan akal yang sehat.
Kalau tidak ada dasar-dasar yang tersebut itu, bukanlah itu suatu ilmu, melainkan hanya dongeng, khurafat, takhayul, kepercayaan karut yang membawa beku otak orang yang menganutnya atau
hanya boleh dipercayai oleh
orang yang
tidak beres akalnya.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 305, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Kenapa sampai
demikian kerasnya adzab yang
mesti mereka terima?
"Yang demikian, ialah karena sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab dengan kebenaran." (pangkal ayat 176).
"Dan sesungguhnya orang-orang yang masih berselisih dari hal Kitab adalah di dalam pecah belah yang jauh." (ujung ayat 176).
Tentu! Sebab
kalau masing-masing telah
membawakan tafsiran Kitab mengandung kebenaran itu
menurut kemauan sendiri, tentu akan
timbul perpecahan. Kian lama perpecahan itu tidak dapat dipertautkan lagi. Karena
bukan Kitab yang salah, tetapi
pemutarbalikan Kitab itu yang salah. Orang telah
lebih mementingkan kehendak
hawa nafsunya daripada
kehendak Allah. Masing-masing
mau menang sendiri. Bagi
penyembunyi-penyembunyi kebenaran ini, Kitab
hanya membawa celaka, bukan membawa bahagia.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 317-320, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MUFTI KERAJAAN ACEH
Niscaya tidaklah ada yang
berani berdebat
bertantangan dengan
ulama yang kuat
hujjah-nya itu.
Syekh Nuruddin ar-Raniri karena
sikapnya yang
gagah perkasa mempertahankan SUNNAH atau
Madzhab Salaf, yang disebut dalam istilah
Orientalis Barat
Orthodox karena
ketegasan dan
kekerasan sikapnya itu.
Di zaman
Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin, diangkatlah
beliau menjadi
Mufti Kerajaan Aceh.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 239-240, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
SATU BUKTI LAGI bahwa
penjajahan selalu
memupuk orang-orang
ala Mufti Johor.
MASALAH KHILAFIYAH DAN TENTANG TAKLID DAN IJTIHAD
Saya sudah mengalami satu bukti bagaimana bangkrutnya (gagalnya) kekolotan dipertahankan dengan kekuasaan di Johor itu pada Tahun 1960.
Mufti Johor telah mengenal saya sebagai KAUM MUDA dan WAHABI dari Indonesia.
Setelah mendengar bahwa saya akan datang ke beberapa negeri dalam Kerajaan Johor, mufti memerintahkan kepada seluruh qadhi dalam Kerajaan Johor untuk tutup pintu sekalian masjid dalam Kerajaan Johor buat HAMKA mengadakan syarahan (tabligh-ceramah).
Akhirnya apa yang terjadi?
Saya masih berada dalam sebuah
Guesthouse di Malaka, telah datang utusan dari
D.O Muar (District Officer), setingkat Bupati di Indonesia, meminta supaya saya datang ke Muar mengadakan syarahan (tabligh-ceramah). Bukankah mufti melarang saya bersyarah di masjid? Tanya saya. Utusan D.O itu menjawab sambil tersenyum,
"Kuasa mufti hanya di masjid, di tempat-tempat di luar masjid, seumpama tanah lapang tidak ada kuasa mufti. Apatah lagi kalau Tuan HAMKA yang bersyarah (tabligh) di masjid pun tidak juga akan muat."
Begitulah saya terus bersyarah di Sindian, Kluang, Batupahat, dan Kota Johor sendiri, di klub pertemuan atau di tanah lapang.
Larangan Mufti Johor, meskipun sebuah negeri kecil, sebesar satu kecamatan atau kurang, dapat kita jadikan pula perbandingan bahwa
memaksakan suatu
paham agama dengan
kekuasaan, payahlah akan berhasil,
MALAHAN ITULAH YANG AKAN MEMECAHKAN PERSATUAN.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 67-73, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
BANTAHAN TERHADAP TINJAUAN PROF. DR. VERKUYL PERIHAL TALAK
Orang yang tidak mengetahui hakikat
sumber hukum dalam Islam
dapat menyangka bahwa
fiqih adalah
sumber hukum. Padahal,
fiqih bukanlah sumber hukum dalam Islam, melainkan hasil analisis hukum dari fuqaha (ahli fiqih). Fiqih artinya 'paham' atau lebih tegas lagi 'hasil pemikiran'. Hasil pemikiran itu ijtihad namanya, yang mungkin benar dan mungkin pula salah.
Adapun
sumber yang
diakui oleh
sekalian Madzhab dalam Islam adalah
Al-Qur'an dan As-Sunnah (Hadits). Dimasukkan juga oleh sebagian madzhab, yaitu ijma' dan qiyas. Ahli-ahli fiqih sendiri selalu mengatakan bahwa ijtihad itu tidaklah yakin kebenarannya, melainkan
zhan, artinya boleh ditinjau kembali,
"kalau sesuai dengan sumber aslinya (Al-Qur'an dan hadits) boleh diakui terus, dan kalau tidak haruslah segera ditinggalkan dan dibuang." Demikian pesanan dari
pelopor-pelopor mujtahid yang
terdahulu seperti
Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi'i, dan
Imam Hanbali.
Oleh karena itu,
kalau orang ingin berlaku
jujur dan
benar-benar menghendaki pengupasan ilmiah, ia
harus mengetahui atau
mengemukakan bahwa dalam
sumber hukum Islam yang
benar-benar resmi (
Al-Qur'an dan
Hadits, ijma' dan
qiyas).
Sumber hukum Islam resmi
ketiga, menurut sebagian besar ahli fiqih adalah
ijma'. Arti yang populer adalah
persamaan pendapat ulama dalam satu masalah, di dalam satu zaman. Ini pun
boleh dijadikan sumber hukum resmi.
Dalam
peraturan ijma' itu pun
dikatakan, meskipun
hanya 1 orang yang
membantah, dengan sendirinya
ijma' itu
gugur, dan
tidak boleh lagi dijadikan hujjah atau hukum resmi!
Sumber hukum Islam
keempat bagi ahli fiqih Islam (
kecuali Madzhab Zhahiri) adalah
qiyas. Qiyas adalah hasil perbandingan hukum atas satu perkara yang baru terjadi -- yang
tidak ada nash-nya dalam
Al-Qur'an atau Sunnah. Lalu
dicari persamaan illat-nya (sebabnya), untuk mencari
persamaan hukumnya.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 221-223, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Muhammad bin Abdul Wahab dan Sayid Jamaluddin al-Afghany.
Tidaklah cukup kitab untuk memaparkan jasa masing-masing dari pejuang itu.
(Buya HAMKA, LEMBAGA HIDUP: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 377-378, Republika Penerbit, 2015).
Demikianlah penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matinya pun dalam penuh cinta. Tetapi sungguh pun dia meninggal, namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi; kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak.
Sesudah dia menutup mata, barulah orang akan insaf siapa sebetulnya dia ...
(Buya HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Hal. 28, Penerbit Gema Insani, Cet.1, November 2017).
KLIK DISINI: WASIAT ALLAH, TENTANG ASWAJA (AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH) SEJATI (JALAN YANG LURUS VS. JALAN YANG BERSIMPANG-SIUR)
KHURAFAT dan
BID'AH, demikian juga adat lama pusaka usang yang telah ditinggalkan zaman, bukan sedikit memusnahkan harta.
Lihat dan perlihatkanlah berapa banyak ongkos yang percuma dikeluarkan oleh satu rumah bangsa kita yang bodoh, sejak seorang lahir ke dunia sampai matinya, sampai 100 hari setelah dia masuk kubur.
Seketika anak lahir, perlu dibacakan doa "selamat". Cukup umurnya 10 Tahun, dikhitankan, dengan doa "selamat" pula. Setelah mulai mengaji Al-Qur'an, maka jika pindah dari satu surat kepada surat yang lain, misalnya menyeberang dari surat
Wadhdhuha ke
Alif Laam Mim, demikian juga seterusnya, pakai "selamatan" pula. Setelah itu dia pun besar, kawinnya "selamatan", beranaknya "selamatan".
Dia pun mati. Sehari matinya "selamatan" pula. Sebelum mayat masuk kubur perlu pula lebih dahulu "selamatan" dengan makan besar. Sampai hari pertama, kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus!
Semuanya memerlukan ongkos yang tidak sedikit, meminta "selamat" yang membawa celaka.
Upacara perkawinan merupakan pesta besar.
Orang yang penghasilan hidupnya 100, hendak memperlihatkan kepada orang lain, dia sanggup mengadakan pesta 200 melebihi pendapatannya. Orang yang 200 hendak memperlihatkan dia sanggup 300, dan seterusnya. Untuk memperlihatkan itu, maka tidak kaya jenjang dikeping; tidak emas bungkal diasah, Perlu menggadai, menggadai. Perlu meminjam, meminjam, perlu pergi kepada tukang menernakkan uang, sehingga tidak lepas dari utang, bertahun, berpuluh tahun, bahkan sampai masuk kubur, tidak mengapa. Asal terbayar malu yang sekali itu.
Menurut keterangan yang kita terima dari orang tua di kampung, banyak negeri yang jatuh melarat, kekurangan sawah, sebab sawah pindah ke tangan orang-orang kaya. Tersebab digadaikan ketika akan menujuh hari, yaitu pesta kenduri pada hari yang ke tujuh sesudah mayit dikuburkan. Sehingga pada beberapa negeri banyak sawah itu yang pindah ke tangan bangsa asing.
Itulah jenis pertama dari keterbelakangan bangsa kita yaitu kekolotan dan karena suka mencari popularitas.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 226-227, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
JANGAN MENGAMBIL TUHAN SELAIN ALLAH!
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi?" (pangkal ayat 21).
Ayat ini adalah berupa tempelak dari Allah kepada mereka yang mengambil tuhan, tempat mereka memohon pertolongan, tempat mereka memuja dan memuji, tempat mereka mengatur persembahan. Tuhan-tuhan yang mereka sembah itu, yang kadang-kadang mereka beri berbagai sajian banyak sekali. Mereka cari semuanya dari muka bumi, ada yang berupa batu, ada yang berupa kayu, ada yang berupa kubur dari manusia yang telah lama mati, dan ada juga yang berupa keris. Mereka ambil tuhan-tuhan itu dari bumi, padahal bumi itu adalah di bawah kaki mereka sendiri. Sebagai manusia sepatutnya mereka sadar bahwa mereka tinggi dan mulia daripada benda-benda yang mereka junjung tinggi menjadi tuhan-tuhan itu.
Mengapa benda-benda yang mereka pungut dari bumi itu yang mereka ambil menjadi berbagai macam tuhan? Mereka puja, mereka sembah?
"Akan tetapi merekalah yang akan ditanya." (ujung ayat 23).
Merekalah, artinya manusialah, hamba Allah inilah yang akan diminta pertanggungjawaban mereka tentang perbuatan yang mereka lakukan, kalau perbuatan atau amal itu baik, sesuai dengan yang dikehendaki Allah, terpujilah mereka di sisi Allah dan diberi pahala. Tetapi kalau perbuatan itu melanggar yang ditentukan Allah, melanggar larangan Allah, murkalah Dia dan berdosalah di sisi-Nya. Maka banyaklah hamba Allah yang sombong, lupa akan kedudukannya. Lalu dialah yang bercakap seakan-akan meminta pertanggungjawaban atas keadaan dirinya, "Orang lain mengapa dijadikan kaya, sedang saya miskin? Saya sudah selalu berdoa, setiap malam saya shalat tahajjud, namun permohonan saya tidak juga dikabulkan."
Dengan begini mereka telah melanggar batas yang semestinya mereka jaga dalam hubungan dengan Allah. Mereka tidak lagi bersopan santun, yang wajib dipelihara oleh seorang hamba terhadap Tuhannya.
Mengapa aku jadi miskin? Mengapa doaku tidak dikabulkan? Padahal kalau dia seorang hamba Allah yang baik, dirinya sendirilah yang terlebih dahulu mesti ditanyainya:
Sudahkah cukup dia menyelenggarakan apa yang diperintahkan Allah?
Orang yang menanyai Allah, mengapa saya dibeginikan? Mengapa saya miskin? Mengapa doa saya tidak dikabulkan? Orang begitu adalah orang yang telah mulai kufur nikmat. Kesalahannya yang paling besar ialah bahwa dia hendak mengatur Allah Yang Maha Kuasa atas seluruh alam, agar tunduk kepada kehendaknya, bukan dia yang bersedia taat dan menghambakan menuruti kehendak Allah.
"Atau apakah mereka mengambil selain Dia menjadi tuhan-tuhan." (pangkal ayat 24).
Di ayat 21 mereka mengambil berbagai tuhan dari bumi untuk mereka puja dan sembah, ini sudah juga dijelaskan kepalsuannya.
Sekarang hal itu ditanyakan kembali,
"Katakanlah! Tunjukkanlah kemari alasan kamu!"
Dari mana kamu dapat pelajaran mengambil tuhan-tuhan banyak itu? Sejak kapan? Siapa yang mengajarkan? Siapa gurunya?
Di sini kita diberi suatu petunjuk bahwa di dalam menegakkan suatu kepercayaan hendaklah ada alasan atau
dalil yang akan
dijadikan pegangan. Kalau suatu kepercayaan hanya menurut yang dikira-kira akan bagus saja. Kelihatan suatu barang yang ganjil, lalu diangkat jadi tuhan, alangkah banyak tuhan kelaknya di dunia ini. Maka setiap datang seorang guru, dia pun membuat tuhan atau dewa baru dan ajaran baru. Sebab tangan manusia telah campur di dalamnya. Lalu Rasulullah saw. disuruh melanjutkan keterangannya bahwa ajaran yang beliau bawa tidaklah berubah-ubah sejak dahulu sampai sekarang,
"Ini adalah peringatan bagi siapa yang sertaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku."
Yakni, bahwa ajaran
tauhid adalah
ajaran untuk
tiap zaman.
"Orang-orang yang sertaku" ialah umat-umat yang aku datangi.
"Dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku" ialah umat nabi-nabi yang dahulu. Semuanya sama ajarannya, yaitu menolak segala perbuatan manusia mengambil tuhan-tuhan selain Allah,
"Namun sebagian besar mereka tidaklah mengetahui yang benar."
Untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, orang hendaklah mempergunakan akalnya.
Jangan hanya turut-turutan semata-mata. Orang yang
beragama dengan
tidak mempergunakan akal itulah yang
selalu terombang-ambing dalam
soal kepercayaan.
"Tidak ada satu Tuhan pun kecuali Aku, maka sembahlah olehmu akan Daku." (ujung ayat 25).
Isi atau
inti,
pokok atau
pangkal agama, ialah
dua ini.
Pertama, mengakui tiada Tuhan melainkan Allah. Itulah yang bernama
Tauhid Uluhiyah. Mengakui hanya satu Tuhan.
Kedua, bernama
Tauhid Rububiyah. Mengakui hanya Allah yang satu itu saja yang mengatur, mengasuh, memelihara alam ini. Sesudah Dia sendiri menciptakan, Dia yang mengatur.
Sebab itu maka hanya Dia saja yang patut disembah dan dipuja.
Kepada-Nya saja ucapan syukur dan terima kasih.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 20-23, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DAKWAH
Suatu
dakwah yang
mendahulukan hukum halal dan hukum haram,
sebelum orang
menyadari agama, adalah
perbuatan yang
percuma,
Sama saja dengan seseorang yang
menjatuhkan talak kepada
istri orang lain.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 25, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
MAKSUD AGAMA
Disini dapatlah diketahui
maksud agama, yaitu
Tauhid Uluhiyah dan
Tauhid Rububiyah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 21, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Nabi kita Muhammad saw. diberi
bekal untuk
perjuangannya.
Dijelaskan
inti perjuangan, yaitu
menegakkan Tauhid Rububiyah dan
Tauhid Uluhiyah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 643, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PEDOMAN DALAM BERDAKWAH
"Orang-orang yang beriman adalah menarik, dan tidaklah ada kebaikan pada orang yang tidak menarik dan tidak dapat ditarik." (HR. Ahmad).
Pada masa kita yang sudah-sudah tidaklah kita memandang penting
sikap yang menarik ini.
Kita membenci orang lain kalau pahamnya
tidak sama dengan paham
kita.
Kalau perlu kita mau
menentang lawan.
Kita bersorak mengatakan bahwa
kita hanya berpegang kepada
Al-Qur'an dan
al-Hadits, segala
BID'AH akan kita
hantam, kita
cela, kita
maki. Kita
pakai hadits,
"Katakan yang benar walaupun itu pahit."
Kalau ada orang yang
menyelimuti kina yang
pahit dengan
gula di luarnya
agar orang dapat menerima, kita terus
menuduh orang itu
tidak tegas, plintat-plintut, dan sebagainya.
Di manakah kita letakkan sabda Nabi saw.,
"Gembirakanlah, jangan dibuat hati orang sakit; mudahkanlah jangan dipersulit." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sikap yang menarik adalah
modal dakwah yang
utama.
Hal ini kerap kita rasa tidak penting sehingga
menimbulkan antipati!
(Buya HAMKA, PRINSIP DAN KEBIJAKSANAAN DAKWAH ISLAM, Hal. 141-142, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2018).
TOBAT NASUHA
Saya tidak akan berbicara tentang pribadi Bung Karno, tetapi seorang Muhammadiyah yang benar-benar telah mengenal perjuangan Muhammadiyah akan sependapat dengan saya bahwa gelar "anggota setia" yang diberikan kepada diri Bung Karno adalah berlawanan dengan jiwa orang-orang yang memberikan sendiri.
Kemudian, oleh Universitas Muhammadiyah, Soekarno diberi gelar
Doctor Honoris Causa dalam ilmu
tauhid.
Sampai profesor dan sarjana perempuan yang kita banggakan, Ny. Bararah Baried menjadi promotor.
Namun, di saat itu juga Allah menunjukkan bahwa
Dia tidak ridha atas perbuatan itu.
Sebab dalam promosinya,
Bung Karno sendiri menganjurkan supaya orang ziarah ke
kubur ibu atau bapaknya, meminta supaya ibu atau bapaknya itu
menyampaikan permohonannya kepada Allah agar Allah memberikan pertolongan kepada yang meminta.
Padahal, itulah yang oleh kalangan Muhammadiyah
diberantas selama 54 Tahun sampai sekarang ini.
Itulah yang dikatakan
"At-Tawassul wal Wasilah" yang dikarang oleh
al-Imam Ibnu Taimiyyah.
Buku
"At-Tawassul wal Wasilah" ini adalah
salah satu buku pegangan kaum mubaligh dan ulama Muhammadiyah.
Inilah program pertama Muhammadiyah sejak ia berdiri, yaitu
memberantas kemusyrikan.
Ini pulalah sebab terpenting ulama-ulama Sumatera Barat seperti almarhum
Syekh M. Jamil Jambek dan
Syekh Dr. Abdulkarim Amrullah menjadi penyokong Muhammadiyah.
Sebab, sama pendirian memberantas permohonan melalui orang yang telah mati dikubur.
Oleh karena itu,
Doctor Honoris Causa tentang ilmu
tauhid yang dianugerahkan kepada Bung Karno telah dibatalkan oleh Bung Karno sendiri dalam pidatonya itu.
Muhammadiyah yang kami cintai.
Yang sebagian besar dari kami telah mengorbankan segenap usia muda untuknya, kadang-kadang pergi jauh meninggalkan kampung halaman karena hendak menyebarkan pahamnya, kadang-kadang kena fitnah dan derita, tetapi rela karena merasa berjuang untuk menyebarkan cita-cita Muhammadiyah.
Muhammadiyah? Maukah mengambil teladan dari putranya sendiri, Himpunan Mahasiswa Islam, yaitu mengakui bahwa ketiga perbuatan itu salah besar? Lalu, tobat kepada Allah. Sebab, telah mengabaikan prinsip yang diperjuangkan selama ini hanya semata-mata karena menjaga supaya jangan dituduh "kontra revolusi"?
Kesalahan ini tidak dapat dipertahankan dan tak perlu kita membela diri dan mengatakan semuanya ini tidak salah.
Pimpinan Pusat di kala itu sudah terlalu tenggelam dalam lautan ketakutan sehingga
lupa prinsip yang
telah berpuluh tahun diperjuangkan.
Sehingga, kita lupa mengambil contoh dari para ulama-ulama yang jadi ikutan kita.
Lupa kepada
Imam Ahmad bin Hanbal yang sudi menderita masuk penjara 30 bulan karena mempertahankan prinsip pendirian beliau bahwa Al-Qur'an bukanlah makhluk, melainkan tetap Kalam Allah.
Lupa kita kepada
Ibnu Taimiyah, yang selama ini jadi ikutan, yang karena tidak mau mengubah keyakinan sampai meringkuk dalam penjara bertahun-tahun, sampai akhir hayatnya.
Kita hendak mempertahankan hidup organisasi Muhammadiyah walaupun untuk itu, "Jiwa utama Muhammadiyah" sendiri telah mati.
Kita telah mempertahankan bangkai.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 155-160, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
SYAIKH AHMAD SOORKATI
Beliau pun banyak
memberikan inspirasi pada
Kiyai H. A. Dahlan, dalam usaha beliau mendirikan Muhammadiyah. Karena persamaan cita hendak membersihkan agama dari
bid'ah, khurafat, pemujaan
kubur keramat dan
haul yang diadakan di kubur-kubur yang dikeramatkan itu
setiap tahun pada beberapa kota besar di tanah Jawa.
SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA
Beliau menulis dalam
Al-Manar Juz 3, Jilid 32 demikian:
"... maka lahirlah pada masa itu sebuah perkumpulan bernama
"Al-Irsyad". Tujuannya ialah mendirikan sekolah-sekolah dan menyebarkan pelajaran agama dan ilmu-ilmu umum yang sesuai dengan zaman dan semangat kemerdekaan dan menghidupkan petunjuk dari Qur'an dan Sunnah, dan
membanteras segala
khurafat yang tersebar dengan jalan
bid'ah pada agama ..."
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 15-17, Penerbit Galata Media, Cet. I, Januari 2018).
ENGKAU AKAN MATI
"Maka siapakah yang lebih zalim?" (pangkal ayat 32).
Atau
siapakah yang
lebih aniaya kelakuannya,
lebih jahat pekertinya,
"Dari orang yang membuat dusta terhadap Allah."
Yaitu dikarang-karangnya dusta tentang Allah,
misalnya dikatakannya bahwa Allah itu beranak, atau dikatakannya bahwa kalau akan memohon apa-apa kepada Allah itu tidak boleh secara langsung saja, mesti adakan orang
perantaraan, dan bilang perantaraan itu hendaklah orang yang disebut
wali Allah, hendaklah datang meminta kepada
wali itu
di kuburnya.
"Dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya?"
Ketika datang keterangan yang dibawakan oleh utusan-utusan Allah sendiri, atau
wahyu yang disampaikan
hendaklah langsung sendiri
memohon kepada Allah dan
janganlah dipersekutukan yang lain dengan Allah,
mereka dustakan keterangan yang benar itu dan
mereka masih tetap mempertahankan pendiriannya yang
salah.
"Bukankah di dalam Jahannam tempat berdiam orang-orang yang kafir?" (ujung ayat 32).
Kedua suku ayat bersifat pertanyaan karena dia menyadarkan pikiran tentang suatu
perbuatan yang
sangat salah terhadap Allah.
Zalim biasa kita artikan aniaya, ambilan kata ialah dari
zhulm yang berarti gelap. Orang yang berbuat suatu pelanggaran terhadap ketentuan Allah sama artinya dengan menempuh jalan yang gelap, yang tidak dapat diterima oleh pikiran yang sehat. Gelap, tidak tentu ujung pangkalnya. Dan dengan sendirinya tempat orang yang seperti itu menurut pertimbangan akal yang sehat ialah dalam neraka
Jahannam. Tidak mungkin masuk ke dalam surga yang indah dan nyaman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 34-35, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Walaupun tidak merasa senang orang-orang yang kafir." (ujung ayat 14).
Biar
si kafir itu
benci, biar
si kafir itu
tidak senang.
Walaupun untuk itu
dia akan dibenci orang.
Walaupun yang membencinya itu
mengaku Islam juga!
Karena
mereka telah
mengotori tauhid, ikhlas, dan
Muslim (menyerah bulat kepada Allah) dengan
memberhalakan kubur-kubur.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 87-88, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DINDING PEMBATAS
"Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu, sendiri-Nya saja di dalam Al-Qur'an, yaitu bahwa Tuhan itu hanya satu yaitu Allah saja, berpalinglah mereka membelakang dengan benci." (ujung ayat 46).
Inilah yang dikatakan
ta'ashshub, atau
keras kepala bertahan pada satu pendirian yang salah. Mereka tidak berani berhadapan muka dengan kebenaran itu. Mereka takut. Baru saja didengarnya, mereka takut kena! Lalu lari. Inilah
pertentangan yang
hebat di antara
tauhid yang
hendak ditegakkan dengan
syirik yang
masih hendak dipertahankan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KEPENTINGAN PEMBERI PERINGATAN
Salah satu sebab merosotnya budi pekerti suatu umat ialah jika tidak ada dalam kalangan itu orang-orang yang disebut
ulu baqiyatin, artinya yang mempunyai dasar-dasar baik, yang sudi membendung kemerosotan itu dengan keteguhan hatinya dan berani menghadapi tanggung jawab.
Sebab itulah, datang peringatan Allah,
"Alangkah baiknya ada dari angkatan-angkatan sebelum kamu, orang-orang yang mmpunyai peninggalan, yang melarang dari berbuat kerusakan di bumi." (pangkal ayat 116).
Di dalam ayat ini bertemu dua kalimat penting yang kita artikan ke dalam bahasa Indonesia dengan agak panjang.
Pertama ialah kata-kata
quruun, jamak dari
qamin, yang kadang-kadang diartikan orang dalam bahasa Indonesia modern Abad.
Qurun berarti berabad-abad dan
qam diartikan 1 Abad. Tetapi dia pun mengandung arti lain yang cocok dipasangkan di sini, yaitu angkatan-angkatan atau generasi. Sedang kata lain yang kita artikan pula ke dalam bahasa Indonesia, yaitu
uluu baqiyatin, kita artikan orang-orang yang mempunyai peninggalan.
Pangkal ayat 116 ini menjelaskan betapa pentingnya ada orang-orang baik yang meninggalkan peninggalan atau meninggalkan jejak yang selalu akan dikenang oleh generasi-generasi yang akan datang.
Karena pada masa yang telah lampau itu ada orang-orang yang sudi berkorban mendidik dan mengasuh, menyuruh berbuat ma'ruf, mencegah berbuat mungkar, maka generasi yang akan datang di belakang niscayalah akan selamat.
Di dalam ayat ini diperingatkanlah bahwasanya adzab siksa Allah yang menimpa kepada suatu kaum bukanlah semata-mata tiba di waktu itu saja.
Mereka menjadi generasi yang tersiksa karena pada zaman yang lampau tidak ada yang memberikan tuntunan.
Saya teringat kepada
kemenangan gilang-gemilang
Partai Masyumi di Sumatera Barat pada Tahun 1955. Di dalam satu rapat umum menyusuri kemenangan itu
saya berpidato bahwa yang menang sekarang ini bukanlah kita generasi yang sekarang. Ini adalah bekas tangan dari ulama-ulama yang telah lalu, yang kebanyakan sudah meninggal dunia.
Kemenangan Islam di Sumatera Barat pada Tahun 1955 itu telah ditanamkan oleh
Imam Bonjol pada
Tahun 1822, lebih 100 Tahun yang lalu.
Maka kalau di daerah lain Islam kalah ialah karena dari lama sebelum kekalahan itu tidak ada orang yang mempunyai peninggalan, orang yang meninggalkan jejak, yaitu orang-orang yang berani menentang dan melarang usaha membuat kerusakan di muka bumi.
"Kecuali sedikit dari mereka yang Kami selamatkan."
Hanya sedikit orang yang terlepas dari adzab siksaan Allah, diselamatkan dari bahaya, karena sedikit pula usaha orang yang meninggalkan jejak baik, sedikit bilangannya maka sedikit pula hasilnya.
"Dan mengikuti orang-orang yang zalim akan kemewahan yang telah biasa mereka padanya."
Lanjutan ayat ini demikian jelasnya bahwa orang yang zalim, yang bersikap aniaya, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri, bukanlah mereka mengikuti seruan kepada kebenaran; yang mereka ikuti ialah kemewahan, hidup berlebih-lebihan, yang tersebab nafsu tidak dapat dikendalikan lagi. Dikatakan
"yang ada mereka padanya", artinya kehidupan mereka, kekayaan, pangkat, dan jabatan memberikan kesempatan kepada mereka untuk hidup bermewah-mewah dan marah kalau ditegur. Tidak ada suatu ajaran agama yang mengendalikan diri mereka. Tidak mereka dengar nasihat-nasihat dari orang-orang yang disebut meninggalkan jejak tadi.
"Dan adalah mereka itu orang-orang yang durhaka." (ujung ayat 116).
Mereka tantang segala seruan kepada kebenaran. Mereka durhakai nilai-nilai kebenaran yang disampaikan orang kepada mereka.
Kemudian datanglah ayat yang selanjutnya,
"Dan sekali-kali tidaklah Allahmu akan membinasakan negeri-negeri dengan kezaliman, padahal penduduknya berbuat kebaikan." (ayat 117).
Ayat ini adalah penegas apa yang telah dibayangkan, tidaklah akan terjerumus ke dalam lembah kehinaan kalau dalam generasi yang telah lampau masih ada orang-orang yang mempunyai peninggalan atau meninggalkan bekas ajaran, agar dunia ini jangan dirusak oleh perbuatan manusia.
Kalau ada sedikit yang dipelihara Allah, tidak termasuk dalam adzab. Mereka itu ialah penerima pusaka ajaran orang tua-tua yang berjasa.
Yang banyak menjerumuskan suatu negeri ke dalam kecelakaan ialah kemewahan beberapa gelintir manusia yang zalim, yaitu yang tidak mau terikat dirinya oleh tuntunan Ilahi. Proses atau perkembangan dan perjalanan selanjutnya pasti akan mencapai klimaks. Pada akhirnya mesti datang keputusan dari Allah, yaitu kehancuran.
Untuk ini, manusia harus memeriksai dirinya sendiri.
Kalau dalam suatu negeri masih ada orang baik-baik, Allah tidaklah akan membinasakan negeri itu dengan aniaya, dengan tidak ada sebab. Karena itu, manusia harus mencari kesalahannya sendiri jika terdiri apa-apa.
Jangan Allah yang disesali.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 626-627, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SYIRIK
Jika ada orang
zalim menganiaya memerintah, lalu
didiamkan saja dan
tidak ditegur, ketahuilah bahwa
dia sudah sampai di ambang pintu
kemusyrikan, walaupun orang itu
shalat, walaupun dia
puasa.
(Buya HAMKA, FALSAFAH KETUHANAN, Hal. 113, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Mei 2017).
ISTIQAMAH
La tarkanuu: jangan kamu condong ke sana!
Ibnu Abbas dan
Hatim al-Asham menafsirkan,
"Jangan kamu condong serambut pun dalam urusan agamamu kepada orang yang zalim."
Menurut tafsir dari
Abul Aliyah,
"Jangan kamu tunjukkan suka atas amal-amal perbuatan orang yang zalim."
Menurut tafsiran
Qadatah,
"Jangan kamu masuk di rombongan orang-orang musyrikin."
Menurut
as-Suddi dan
Ibnu Zaid,
"Jangan kamu ambil muka kepada mereka."
Tersebutlah perkataan tentang al-Muwaffaq. Wali Negara menjalankan pemerintahan Khalifah Bani Abbas. Al-Mu'tmid (256 H - 279 H, 870 M - 892 M). Meskipun bukan dia yang khalifah, tetapi dia yang berkuasa, karena gagah perkasanya dan disegani. Pada suatu hari, pahlawan al-Muwaffaq itu shalat jadi makmum di suatu masjid di Baghdad. Tiba-tiba imam shalat membaca ayat
la tarkanuu ini. Al-Muwaffaq mendengar dengan khusyuk. Sehabis ujung ayat ini, kedengaran orang jatuh, imam meneruskan shalat. Rupanya al-Muwaffaq, pahlawan Bani Abbas yang besar itu, yang
jatuh pingsan mendengar ayat itu yang dibaca imam dalam shalat.
Setelah beliau siuman dari pingsannya, beliau berkata,
"Sedangkan condong saja kepada orang zalim sudah begitu siksaannya, betapa lagi kalau berlaku zalim. Ya, Allah! Peliharakan daku dari kezaliman."
Orang yang menyandarkan jiwa kepada
si zalim, apatah lagi
si zalim itu sendiri tidaklah akan merasa tawar dan sejuk dalam jiwanya. Jiwanya selalu terbakar, menggelegak dan mendesak untuk meneruskan
kezaliman. Orang yang iman satu kali telah meresap ke dalam hatinya, akan turut terbakar jika mendekat ke situ. Akhirnya
iman itu sendiri pun
terbakar.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 619-620, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Maka Setanlah yang telah menipu mereka dan merayu mereka." (ujung ayat 25).
Perdayaan
Setan tidak saja akan datang merayu orang bodoh, bahkan
orang sangat pandai pun dapat
dirayunya dengan
kepandaiannya. Seorang ulama besar,
Syekh Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengarang sebuah kitab bernama
Naqdul Ilmi wal Ulamaa yang isinya ialah menguraikan bagaimana
Setan merayu dan memperdayakan manusia dalam segala bidang.
Orang alim, ahli tasawuf, ahli fiqih dan
berbagai macam keahlian agama, semuanya dicoba oleh
Setan merayu mereka
sampai jatuh.
Itulah sebabnya maka kita dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. agar membaca doa sehabis shalat,
"Ya Allah yang dapat memutarbalikkan hati manusia, tetapkanlah hatiku di dalam agama Engkau dan taat kepada Engkau."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 347, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Abdullah ibnu Sa'ud dijatuhkan hukuman untuk
dibunuh, dipotong kepalanya, dan
digantungkan di pintu Kota Istambul.
Semenjak kejadian itu hingga 100 Tahun kemudian hilanglah kebesaran kaum Wahabi sampai munculnya
Abdul Aziz ibnu Sa'ud mendirikan kerajaan itu kembali dan
melanjutkan kembali cita-cita nenek moyangnya,
Yaitu
mempersatukan Tanah Arab dan
membersihkannya dari kekotoran
SYIRIK.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 255, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Dan barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka adalah mereka itu orang-orang yang kafir." (ujung ayat 44).
Tentang ketiga ayat ini
banyaklah pula
perbincangan ahli tafsir, apakah dia hanya terkhusus sebagai ancaman kepada
Yahudi dan
Nasrani, ataukah
mengenai juga kita kaum Muslimin?
Riwayat yang diterima dari
Maqaam, Maula Ibnu Abbas pun menyatakan demikian pula, bahwa ayat ini diturunkan kepada Ahlul Kitab dan
kepada kita kaum Muslimin.
Cuma tambahannya ialah bahwa
kafir di sini
bukanlah mencapai kafir
syirik, dan
zhulm di sini pun
bukan mencapai zhulm syirik, dan fasik di sini pun
bukan mencapai fasik
syirik.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 702-707, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BAB VI
DAULAH-DAULAH ISLAMIYAH DI MESIR, SYAM DAN SEMENANJUNG ARABIA
MUHAMMAD ALI PASYA
Rupanya,
Muhammad Ali Pasya telah mengetahui bahwa bukan saja kerajaan
Wahabi yang dipandang berbahaya oleh
Sultan Turki, melainkan dirinya pun dipandang berbahaya. Oleh sebab itu, sepeninggalan Muhammad Ali Pasya yang pulang kembali ke Mesir, ia menyuruh anaknya,
Thouson, mengikat perjanjian dengan kaum
Wahabi untuk meletakan senjata.
Ketika itu kaum
Wahabi berada di bawah perintah
Amir Abdullah ibnu Sa'ud. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa Abdullah wajib memulangkan harta benda yang dirampasnya dari
kuburan Rasulullah saw. di Madinah, dan Amir Abdullah akan diakui sebagai amir di negerinya sendiri dengan syarat mau mengaku taat pada Muhammad Ali Pasya. Dengan perjanjian itu, berhentilah peperangannya yang pertama dengan Wahabi, Thouson pun kembali ke Mesir. Tidak berapa lama setelah ia sampai di Mesir,
Thouson Pasya yang masih muda meninggal dunia.
Kaum
Wahabi menyangka bahwa kekuatannya telah cukup sehingga mereka berusaha hendak melepaskan diri dari ikatan perjanjian dengan
Muhammad Ali Pasya.
Mereka merasa amat hina bertuankan
Muhammad Ali Pasya yang dipandang
kafir menurut pengajaran guru Abdullah,
Muhammad ibnu Abdul Wahab.
Oleh sebab itu, mulailah mereka mencoba kembali hendak meluaskan kekuasaan. Melihat itu
Muhammad Ali Pasya mulai menyusun kembali bala tentara di bawah pimpinan putranya sendiri bernama Ibrahim.
Ibrahim adalah seorang kepala perang yang gagah berani. Hal ini terjadi pada tanggal 12 Syawal 1231 H (13 September 1816 M).
Setelah bala tentara yang besar itu sampai di
Janbu', Ibrahim menujukan serangannya terus ke negeri
Dari'iyah, pusat kekuasaan kaum
Wahabi. Setelah dikepung selama beberapa hari,
Amir Abdullah ibnu Sa'ud tunduk dan menyerah tanpa syarat.
Abdullah dan
kaum kerabatnya, ditawan dan dikirim ke Mesir lalu
Muhammad Ali Pasya mengirimnya terus ke Istambul, pusat kedudukan khalifah.
Kemudian,
Abdullah ibnu Sa'ud dijatuhkan hukuman untuk
dibunuh, dipotong kepalanya, dan
digantungkan di pintu Kota Istambul. Ia dituduh seorang perusak agama yang paling besar.
Semenjak kejadian itu hingga 100 Tahun kemudian hilanglah kebesaran kaum Wahabi sampai munculnya
Abdul Aziz ibnu Sa'ud mendirikan kerajaan itu kembali dan
melanjutkan kembali cita-cita nenek moyangnya, yaitu
mempersatukan Tanah Arab dan
membersihkannya dari kekotoran
syirik.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 254-255, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB
ABDULLAH
Abdullah terpaksa menyerah dengan tidak bersyarat sesudah ia menunjukkan
keberanian dan
kekesatriaan yang
mengagumkan. Penyerahannya pun diterima oleh
Ibrahim Pasya dengan cara satria pula ketika ia menyerahkan khanjarnya. Setelah itu, ia pun dibawalah oleh Ibrahim Pasya ke Mesir sebagai
tawanan terhormat. Tidak lama di Mesir oleh
Muhammad Ali Pasya ia dikirim ke Istambul.
Dengan tidak mengenal ampun ia dibunuh di tanah lapang di depan
Masjid Aya Sophia bersama dengan setia-usaha dan bendaharanya.
Dengan senyuman ia menjalani hukuman sesudah mengucapkan
kata-katanya yang akan tetap menjadi ingatan, "Adat perang, menang atau kalah." (17 Desember 1818 M).
Dengan sebab kemenangan ini sultan memberi gelar
Muhammad Ali Pasya sebagai Wali Mekah.
MUSYARI
Baru saja
Ibrahim Pasya meninggalkan Najd,
Musyari (saudara Abdullah) masuk kembali menduduki
Dar'iyah. Kemudian, dikirimlah seorang Panglima Perang Mesir bernama
Husin Bey. Musyari dapat ditawannya dan dikirimnya ke Mesir lalu ia mati dalam perjalanan. Tentara Mesir pun menghancurkan dinding Kota
Dar'iyah, diadakan tentara pendudukan Mesir di bawah pimpinan
Isma'il Pasya. Kemudian, ia diganti dengan komandan yang lebih gagah,
Khalid Pasya. Namun, Khalid Pasya
sangatlah ganas, dipandangnya hina orang
Wahabi yang telah kalah,
dibunuhnya sesuka hatinya. Berangkatlah beberapa ulama dalam negeri menjemput Turki ibnu Abdullah yang bersembunyi di Basrah agar ia menggantikan Musyari menjadi
Imam Wahabi.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 294, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
PANGGILAN BERSATU
Ada pada orang
awam dengan
takhayul dan
menyembah kubur!
Ulamanya kehilangan gairah, sehingga
tidak tersinggung perasaannya buat
berjuang menegakkan agama di tengah
masyarakat yang telah
sesat!
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 130, 131, Penerbit Galata Media, Cet. I, Januari 2018).
PENGANTAR
Lantaran hebatnya ancaman Allah kepada manusia yang menolak ajakan Allah yang dibawa rasul itu, orang yang lebih dahulu merasa ngeri memahamkan isinya, bukan orang lain, melainkan Nabi Muhamamd saw. sendiri. Sampai sebagian rambutnya menjadi putih, artinya mulai beruban.
Sebelum surah ini, telah turun surah Yuunus; sebelum itu, telah turun surah al-Israa', dan sebelum itu surah al-Furqaan. Bila kita kaji surah ini semua, isinya begitu padat mengajarkan tauhid dan menguatkan aqidah sehingga kita mendapat kesan bahwa betapa pun hebat dan beratnya pukulan pribadi yang dihadapi, kewajiban menegakkan aqidah tidaklah mundur walau setapak, bahkan makin jelas dan tegas. Kisah perjuangan Nabi Nuh dalam surah Huud, perjuangan Nabi Hud sendiri, perjuangan Nabi Shalih, perjuangan Nabi Syu'aib, apatah lagi perjuangan Nabi Yusuf, semuanya itu mengandung dialog, tantangan, dan sambutan,
Di antara
tauhid dan
syirik,
Yang tidak luput karena giliran zaman, malahan bertemu terus di sela zaman,
Selama kebenaran mendapat ujian dari kesalahan,
Yang hak ditantang oleh yang batil.
Maka kisah perjuangan nabi-nabi yang bertemu di dalam surah Huud ini dan akibat Hari Kemudian sesudah hidup yang sekarang, telah menyebabkan rambut Rasulullah saw. lekas putih.
Bagi kita sendiri pengikut Nabi Muhammad saw. yang berjuang dalam bidang dakwah, dalam perjuangan hidup kita masing-masing menegakkan kebenaran di antara hawa nafsu dan loba-tamak manusia, akan dapatlah memaklumi apa sebab rambut Rasulullah saw. lekas putih, bahkan kita sendiri pun akan lekas beruban kepala kita kalau kita berpikir meniru Nabi dan memandang soal besar ini,
Soal keselamatan manusia dunia dan akhirat bukan soal main-main, melainkan soal sungguh-sungguh.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 518-519, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TALI ALLAH DAN TALI INSAN
Dengan ayat ini,
Allah membuka mata kita untuk adil dan menghargai orang lain. Agar kita mengakui bahwa
orang baik yang demikian
pun ada dalam agama lain. Dan kita pun mengakui, niscaya orang itu akan jauh lebih baik lagi, jika dia memegang agama menyerahkan diri yang sebenar-benarnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa
jika sampai kepada dakwah yang benar dari Islam dan diterimanya, kedudukannya, akan lebih baik lagi dunia dan akhirat.
Akan tetapi, sudah terang dia lebih baik daripada orang yang mengaku dirinya Islam, tetapi hanya pengakuan mulut atau keturunan saja, padahal hatinya
tidak pernah benar-benar menyerah (Islam) kepada Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 50, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KLIK DISINI: QUOTES, KATA MUTIARA DAN WASIAT KEPADA MUBALIGH AHLI DAKWAH, 10 WASIAT ALLAH
"Dan kalau kiranya Kami binasakan mereka dengan satu siksa dari sebelumnya, niscaya mereka akan berkata: "Ya Allah kami! Mengapa tidak Engkau utus kepada kami seorang rasul, agar kami ikut ayat-ayat-Mu, sebelum kami jadi hina dan kami jadi rendah?"
Ayat inilah satu di antara beberapa ayat yang jadi pokok perselisihan pendapat di antara
Madzhab Ahlus Sunnah atau Madzhab Salaf dengan Kaum
Mu'tazilah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 634, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Jika kita memberantas perbuatan yang
tidak berasal dari Islam, kita pun
dituduh memecah persatuan.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 75, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENGHADAPI HARI KIAMAT
"Maka serulah Allah dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya." (pangkal ayat 14).
Aqidah (kepercayaan),
ibadah (perhambaan dan persembahan),
syariah (peraturan dan tata cara) yang dilakukan hendaklah
murni, ikhlas kepada Allah. Dengan kalimat
mukhlishiina yang berarti orang-orang yang
berhati jujur, murni, maka berjumpalah kata
ikhlash.
Kalimat
ikhlash sama artinya dengan
tauhid, yang berarti menyatukan pikiran, menyatukan tujuan
kepada Allah saja.
Surah
"Katakanlah! Allah itu adalah satu", bernama surah al-Ikhlaash.
"Walaupun tidak merasa senang orang-orang yang kafir." (ujung ayat 14).
Tadi pada ayat 12 sudah dinyatakan sikap orang-orang kafir itu. Kalau yang diseru itu Allah saja dalam keesaan-Nya, mereka tidak mau terima, mereka kafir.
Tetapi kalau dipersekutukan yang lain dengan Allah,
mereka mau beriman.
Sekarang dalam ayat ini
Nabi Muhammad saw. dan
orang-orang yang beriman disuruh tetap pada
pendirian, yaitu bahwa agama
semata-mata murni untuk
Allah saja.
Biar
si kafir itu
benci, biar
si kafir itu
tidak senang.
Pendirian itu adalah
pertahanan jiwa sebagai
Muslim.
Dengan itu kita hidup dan dengan itu kita mati, bahkan dengan itu pula kita akan bangkit kembali.
Kalau Rasulullah saw. diwajibkan memegang pendirian setegas itu menghadapi
musyrikin Quraisy dahulu kala,
maka pengikut Muhammad sampai di akhir zaman wajib pula
mempertahankan pendirian itu.
Agamanya
murni untuk
Allah saja.
Kadang-kadang mereka bertemu dengan
penyembah-penyembah berhala model lain; berhala
tanah air, berhala
diktator, berhala
mendewa-dewakan pemimpin, berhala
kultus individu, bahkan
berhala menyembah dan
memuja kubur-kubur, sampai
menjadi mata pencarian.
Maka hendaklah
seorang Mukmin Muslim dengan
tegas menegakkan keyakinannya bahwa agama adalah
murni untuk
Allah semata-mata;
Walaupun untuk itu
dia akan dibenci orang.
Walaupun yang membencinya itu
mengaku Islam juga!
Karena mereka telah mengotori tauhid, ikhlas, dan
Muslim (menyerah bulat kepada Allah) dengan
memberhalakan kubur-kubur.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 87-88, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Namun, kadang-kadang mereka menjawab juga,
"Meskipun kami meminta di kubur itu, tempat kami meminta tetap kepada Allah yang satu."
Kemudian kalau kita tanya,
"Mengapa meminta kepada Allah yang satu mesti ditentukan tempatnya di kubur itu? Dan apakah Allah hanya berada di sekeliling kubur itu?"
Mereka tidak dapat menjawab lagi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 204, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DISIPLIN PENDIRIAN
"Katakanlah: Wahai sekalian manusia! Jika adalah kamu dalam keraguan dari hal agamaku." (pangkal ayat 104).
Artinya, jika kamu masih ragu tentang inti dan pokok ajaran agamaku ini, atau kamu masih menyangka bahwa aku masih bisa bertolak angsur tentang pendirian ini, atau kamu masih mengharap bahwa satu waktu aku bisa mundur dari kepercayaan yang aku tegakkan, maka lebih baik aku katakan kepada kamu terus terang bahwa pengharapan kamu itu akan hampa, sebab,
"Maka tidaklah aku menyembah apa yang kamu sembah selain Allah."
Selangkah pun aku tidak mau mundur daripada pendirian bahwa selain dari Allah tidak aku sembah.
"Dan aku diperintahkan bahwa hendaklah aku berada dalam golongan orang-orang yang beriman." (ujung ayat 104).
Tiga ayat berturut-turut, isinya satu, yaitu mengulang-ulangkan tentang bahaya syirik, dan syirik adalah zalim. Supaya jelas betul-betul bagi kita sebagai Muslim tentang benteng jiwa dengan tauhid itu. Sampai di dalam ayat-ayat ini Nabi Muhammad saw. disuruh menyampaikan seruan ini kepada manusia, tetapi mengabarkan perintah kepada dirinya sendiri sehingga beliau disuruh menyebut "Aku diperintah" dan "Aku disuruh". Menjadi penegasan bahwa ketauhidan itu mulai ditegakkan pada diri beliau sendiri, dan tidak mengenal ragu-ragu atau tolak-angsur.
Mari kita renungkan sebentar!
Kita kaum Muslimin dianjurkan, disunnahkan agar selalu memperbanyak membaca Al-Qur'an supaya kita paham isinya. Niscaya akan terbacalah ayat-ayat ini, terutama surah Yuunus yang sangat banyak mengulang-ulangi tentang tauhid itu.
Tetapi apakah yang kita lihat?
Di beberapa kuburan yang dianggap keramat, kubur yang disebut kuburan waliyullah, berkumpullah orang-orang membaca Al-Qur'an. Berkumpul membaca surah Yaasiin. Kuburan itu dipuja, di sana berdoa meminta syafa'at wali itu, memohonkan kepada beliau menjadi wasilah atau orang perantaraan kepada Allah supaya si peminta dilepaskan dari bahaya atau disampaikan suatu kehendak. Mintakan berlaba berniaga, mintakan supaya anak gadis yang telah besar lekas mendapat jodoh. Dan 1001 macam permintaan. Kadang-kadang dibawakanlah hadiah apa-apa, sampai kambing dan kerbau, untuk beliau yang dalam kubur. Tetapi karena beliau tidak lagi dapat makan daging kambing dan kerbau, diulutlah segala hasil hadiah itu oleh penjaga kubur.
Alangkah zalimnya!
Dan oleh karena salah satu makna zalim ialah gelap, maka alangkah gelapnya dan alangkah kacau-balaunya, alangkah
rijs-nya jiwa berbuat ini.
Kemudian itu berpuluh orang membaca Al-Qur'an siang dan malam di kubur itu. Membaca Al-Qur'an di mana-mana sunnah! Supaya isinya satu ayat demi satu ayat bisa meresap ke dalam pikiran, buat dipahamkan dan diamalkan. Tetapi mengapa mereka khususnya membaca di kuburan itu? Kata mereka supaya pahala bacaan itu dihadiahkan kepada beliau tuan wali yang di kubur itu.
Ini pun bertambah kacau lagi!
Kalau memang beliau itu seorang wali keramat, yang telah sanggup memberi manfaat dan mudharat seperti Allah, buat apa lagi dihadiahi pahala bacaan? Bukankah bacaanmu itu sebagai upah yang kamu bagikan kepadanya karena dia telah berkenan menyampaikan permohonanmu kepada Allah?
Dan sudah pastikah bagimu bahwa kamu membaca itu berpahala?
Ibarat
kwitansi tanda penerimaan pahala sudah yakin kamu terima, lalu kamu serahkan kepada kubur yang kamu sembah itu? Apakah pahala itu berupa barang?
Kamu akan menjawab, "Pahala adalah urusan gaib, yaitu janji akan masuk surga kelak di kemudian hari!"
Alangkah hebat dermawan kamu sehingga kamu demikian royal memberikan tiket masuk surga yang telah kamu terima, sebagai pahala membaca Al-Qur'an, kepada seorang yang kamu yakini sendiri bahwa dia akan masuk surga sebab dia wali, sedang kamu sendiri masih ragu apakah memang kamu akan masuk ke dalamnya. Namun, karena demikian cintamu kepada walimu itu, sampai hati kamu menyerahkan pahala itu kepadanya, biar engkau sendiri tidak masuk! Atau kurang mendapat pembahagian.
Maka dapatlah
disimpulkan bahwa
memuja kubur dengan
segala hiasannya itu, di antaranya
menghadiahkan pahala membaca Al-Qur'an kepada beliau yang terkubur, adalah termasuk dalam
rentetan pekerjaan
syirik belaka.
Dalam kesempatan-kesempatan yang lain dalam tafsir ini telah kita berikan uraian ini dan akan kita berikan lagi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 506-509, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
WASILAH
Tetapi kemudian di kurun-kurun pertengahan, jauh dari zaman Nabi, yang biasanya timbul dari
kaum Sufi, suatu perbuatan yang sudah sangat jauh daripada contoh yang diberikan Rasulullah saw. itu. Dan dinamai orang juga
al-Wasilah.
Yaitu orang pergi ke
kuburan orang yang telah mati, baik ke kubur Nabi, atau kubur orang yang dipandang wali, atau guru, atau ulama besar. Lalu meminta tolong, memakai orang yang telah di dalam kubur itu menjadi
wasilah atau jalan buat menyampaikan doa kepada Allah.
Di sinilah timbul satu persoalan besar. Terutama setelah
Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah (662-729 H. 1263-1328 M). Dengan tegas beliau menyatakan pendapatnya bahwasanya
wasilah yang dilakukan dengan meminta kepada orang yang telah mati, supaya orang itu mendoakan kepada Allah, agar kita terlepas dari bahaya, atau diberi rezeki dan sebagainya,
bukan wasilah dan
bukan tawassul, melainkan
perbuatan syirik. Tidak pernah yang begitu dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah, ketika beliau hidup atau setelah beliau mati.
Golongan yang melakukan meminta doa kepada orang yang telah mati itu mengatakan bahwa perbuatan mereka adalah
wasilah kepada orang yang saleh, yang lebih dekat kepada Allah, meskipun mereka telah mati. Maka dengan keras
Ibnu Taimiyah membantahnya: Karena orang yang telah mati tidak dapat berbuat apa-apa.
Golongan yang sebelah mengambil alasan bahwa Umar bin Khaththab meminta kepada paman Nabi membaca doa untuk umat supaya Allah menurunkan hujan adalah
wasilah juga. Maka
Ibnu Taimiyah membantah keras paham itu. Kata beliau, bahwa yang diperlukan oleh Umar
bukan diri Abbas, melainkan doanya. Dan kalau berdoa bersama, sudah terang seorang juga yang berdoa dan yang lain mengaminkan. Musa berdoa, Harun mengaminkan. Adam berdoa dan Hawa mengaminkan. Semuanya itu di kala hidup. Tidak ada orang yang telah mati memohonkan doa kepada Allah untuk orang yang masih hidup, kalau ada tidaklah Umar akan meminta kepada Abbas supaya berdoa, bahkan sudah pasti dia akan pergi ke kubur Rasulullah, lalu meminta kepada beliau yang di dalam kubur mendoakan untuk umat supaya Allah menurunkan hujan kepada mereka.
Ibnu Taimiyah telah menulis sebuah buku, yang diberinya nama
Qa'idah Jalilah, fit Tawassul wal Wasilah yang isinya mengupas kesalahan
wasilah dan
tawassul kepada orang yang telah mati itu, sehingga
berguncanglah masyarakat di waktu itu, sebab rupanya sudah lama pekerjaan ini dikerjakan orang, sedang
ulama-ulama telah
membiarkannya saja. Dengan nama
tawassul dan
wasilah itulah orang
mempertahankan pemujaan kubur, sehingga banyak orang memusuhi Ibnu Taimiyah, yang
keras menentang pemujaan kubur itu. Padahal perbuatan demikian
sudah sangat bertentangan dengan ajaran
tauhid.
Kemudian ajaran
Ibnu Taimiyah itu dibangkitkan kembali oleh
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri ajaran
Wahabi dalam lingkungan
Madzhab Hanbali. Tentu saja ajaran
Wahabi ini pun menjadi tantangan keras dari negeri-negeri Islam yang telah terpengaruh oleh pemujaan kubur dengan nama
tawassul dan
wasilah itu. Sehingga sampai sekarang masih saja terasa reaksi yang hebat dari golongan Islam yang telah menjadikan kubur-kubur orang yang dianggap keramat itu sebagai tempat pemujaan. Baik di dalam negeri-negeri penganut paham
Sunnah, apatah lagi dalam negeri penganut
Madzhab Syi'ah. Dan juga di negeri-negeri kita
Indonesia ini.
Maka ayat ini
menunjukkan dengan jelas garis yang wajib kita tempuh sebagai
Muslim di dalam menuju kejayaan dan kemenangan jiwa. Yaitu,
Pertama, takwa kepada Allah.
Kedua,
wasilah yaitu mengatur jalan supaya dapat cepat sampai (kurban) kepada Allah dengan ibadah, amal saleh, dan doa.
Ketiga, berjihad bersungguh-sungguh atau bekerja keras mengatasi segala penghambat perintang yang akan menghambat kita akan sampai kepada keridhaan Allah.
Sebagaimana tersebut dalam satu hadits yang dirawikan oleh ath-Thabrani dengan
isnad yang hasan, dari Abu Bakar ash-Shiddiq sendiri, bahwa Rasulullah saw. berkata,
"Tidaklah meninggalkan suatu kaum akan jihad, melainkan akan disapu bersih mereka oleh Allah dengan adzab." (HR. ath-Thabrani).
Lain daripada jalan yang telah ditentukan itu adalah
jalan sesat dan
kufur.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 687-688, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IBRAHIM MENGHANCURKAN BERHALA
"Kami mendengar seorang anak muda yang menyebut-nyebut mereka, kata orang namanya Ibrahim." (ujung ayat 60).
Kita melihat di dalam
Al-Qur'an beberapa kali cerita tentang
pekerjaan penting dikerjakan oleh anak muda;
Demikian pentingnya darah muda, sehingga
Ibnu Abbas pernah berkata,
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidak pula diberi Allah ilmu, melainkan di waktu muda." Lalu beliau baca ayat 60 surah al-Anbiyaa' ini sebagai alasan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 47, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka adalah mereka itu orang-orang yang kafir." (ujung ayat 44).
Artinya, jika selama ini kamu mengaku memegang teguh setia kepada Taurat, hendaklah hukum yang tersebut di dalam Taurat itu kamu jalankan. Rasulullah saw. sendiri di waktu diminta oleh mereka menjadi hakim, telah mengajak mereka supaya kembali kepada hukum Taurat. Maka pendakwaan mereka teguh setia memegang Taurat, tetapi tidak mau menjalankan hukumnya, berarti mereka kafir juga, yaitu menolak dan tidak percaya juga.
Di dalam Taurat itu pun memang ada peraturan-peraturan hukum yang berlaku pada Bani Israil.
Tentang ketiga ayat ini
banyaklah pula
perbincangan ahli tafsir, apakah dia hanya terkhusus sebagai ancaman kepada Yahudi dan Nasrani, ataukah mengenai juga kita kaum Muslimin?
Ada dibawakan orang tafsir yang mereka katakan diriwayatkan dari
Ibnu Abbas bahwa beliau berkata,
"Kafir di sini bukanlah mencapai kafir, dan zalim bukanlah mencapai zalim, dan fasik bukanlah mencapai fasik."
Dan ada riwayat
Ibnu Abbas juga, katanya ayat-ayat ini hanya mengenai orang Yahudi, tidak mengenai Islam sedikit pun.
Dan ada pula riwayat dibawakan dari
as-Sya'bi, bahwa ayat pertama dan kedua mengenai Yahudi dan ayat ketiga mengenai Nasrani.
Tetapi kita tertarik pula kepada keterangan
Hudzaifah bin al-Yaman ketika orang bertanya kepada beliau tentang ayat ini. Seorang berkata bahwa ayat-ayat ini hanya mengenai Bani Israil. Mendengar itu berkatalah
Hudzaifah,
"Enak benar bagimu ada kawan Bani Israil, kalau segala yang manis hanya untukmu dan segala yang pahit untuk Bani Israil. Sungguh, demi Allah, kamu akan menempuh pula jalan mereka menurut jejak langkah mereka."
Dan satu riwayat lain dari
Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir,
"Sebaik-baik kaumlah rupanya kamu ini kalau segala yang manis hanya untuk kamu dan segala yang pahit buat Ahlul Kitab."
Dan ditanyakan orang kepada
Sa'id bin Jubair ke mana tujuan ketiga ayat. "Barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah", itu apa benarkah tertuju kepada Bani Israil saja? Beliau menjawab,
"Tidak! Bahkan dia diturunkan atas kita."
Riwayat yang diterima dari
Maqaam, Maula Ibnu Abbas pun menyatakan demikian pula, bahwa ayat ini diturunkan kepada Ahlul Kitab dan kepada kita kaum Muslimin.
Cuma tambahannya ialah bahwa kafir di sini bukanlah mencapai kafir
syirik, dan
zhulm di sini pun bukan mencapai
zhulm syirik, dan fasik di sini pun bukan mencapai fasik
syirik.
Kita pun dapatlah memahamkan bahwa ayat Al-Qur'an, diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw. meskipun tertuju kadang-kadang kepada Ahlul Kitab, bukanlah dia semata-mata suatu kisah yang akan kita baca saja, tetapi adalah dia untuk kita ambil banding.
Sebagai Muslimin janganlah kita melalaikan menjalankan hukum Allah.
Sebab di awal surah sendiri, yang mula-mula diberi peringatan kepada kita ialah supaya menyempurnakan segala
'Uqud. Maka menjalankan hukum Allah adalah salah satu
'Uqud yang terpenting di antara kita dengan Allah.
Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah sekali-kali boleh kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di dalam alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal.
Moga-moga tercapai sekadar apa yang dapat kita capai.
Karena Allah tidaklah memikulkan kepada kita suatu beban yang melebihi dari tenaga kita.
Kalau hukum Allah belum jalan, janganlah kita berputus asa.
Dan
kufur, zhulm, dan fasiklah kita kalau kita percaya bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Allah.
Dan jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang,
"Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum Syari'at Islam dalam negara yang kamu kuasai itu?"
Janganlah berbohong dan mengolok-olokkan jawaban. Katakan terus terang bahwa cita-cita kami memang itu. Memang hendaknya berjalan hukum Allah dalam negara yang kita kuasai itu.
Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang telah digariskan Allah dalam Al-Qur'an itu kita mungkiri?
Dan kalau ditanyakan orang pula,
"Tidakkah dengan demikian kamu hendak memaksakan agar pemeluk agama lain yang golongan kecil (minoritas) dipaksa menuruti hukum islam?"
Jawablah tegas,
"Memang akan kami paksa mereka menuruti hukum Islam. Dan setengah dari hukum Islam terhadap golongan pemeluk agama yang minoritas itu ialah agar supaya mereka menjalankan hukum Taurat, ahli Injil diwajibkan menjalankan hukum Injil. Dan kita boleh membuat undang-undang menurut teknik pembikinannya, memakai fasal-fasal dan ayat-ayat suci, tapi dasarnya wajiblah hukum Allah dari kitab-kitab suci, bukan hukum buatan manusia atau diktator manusia."
Katakan itu terus terang, dan jangan takut.
Insaflah bahwasanya rasa takut orang menerima hukum Islam ialah karena propaganda terus-menerus dari kaum penjajah selama berpuluh beratus tahun, sehingga orang-orang yang mengaku beragama Islam sendiri pun kemasukan rasa takut itu karena dipompakan oleh penjajahan.
Lihatlah bagaimana celakanya perikemanusian di zaman sewenang-wenang hukum buatan manusia.
Dalam
Islam sudah nyata bahwa
sumber hukum ialah Allah dan Rasul, atau
Al-Qur'an dan
Sunnah.
Sebab itu
dalam Islam manusia
bukanlah pencipta hukum melainkan
pelaksana hukum Allah.
Tetapi manusia tadi diberi kebebasan pula berijtihad, bagaimana supaya hukum Allah itu berjalan. Pokok hukum Allah dan Rasul itu disimpulkan dalam bunyi ayat,
"Menghalalkan bagi kamu akan yang baik-baik dan mengharamkan atas kamu barang yang buruk." Dan mengambil
manfaat dan menolak
mudharat. Adapun pelaksanaan hukum yang tersebut dalam Al-Qur'an
tidaklah banyak; yang terkenal hanya beberapa buah saja, yaitu
hukuman atas
gerombolan pengacau, hukuman atas
pencuri, dan hukuman atas
berzina. Dan
beberapa hukum lainnya terdapat dalam
Sunnah.
Lalu ahli-ahli fiqih Islam yang besar-besar telah membagi pula bentuk negara kepada tiga macam, yaitu
Darul Islam (negara Islam),
Darul Harb (negeri tengah berperang dengan orang Islam) dan
Darul Kuffar (negara orang Kafir). Maka sepakatlah ahli-ahli fiqih bahwa dalam negara Islam 100%, niscaya hendaklah 100% pula hukum Islam berlaku. Tetapi meskipun bebas memakai ijtihadnya, sehingga ada juga hukum yang dinamai
ta'zir, yaitu hukum sebagai pendidik, dan pengajar si bersalah.
Perkembangan bernegara sebagaimana di zaman sekarang ini pun akan memperlengkap pandangan kita tentang istilah-istilah nama negara yang disebutkan ahli-ahli fiqih tadi.
Di negara-negara modern ada undang-undang dasar yang menjamin kemerdekaan pemeluk agama yang kecil bilangannya dalam negeri itu, seumpama golongan kecil orang Islam di Burma, Philipina, Muangthai, dan lain-lain. Hukum di negeri-negeri itu teranglah hukum nasional yang tidak berdasar agama, melainkan hukum umum. Niscaya orang Islam di negeri itu, kalau dapat, hendaklah
memperjuangkan agar
Syari'at Islam dan
hukumnya berlaku di kalangan penduduk Islam itu sendiri, dalam rangka kesatuan negara.
Kalau kita tilik pula keadaan bertumbuhnya
Republik Indonesia. Secara hukum kita dapat mengatakan bahwa selain dari negara ini suatu negara kesatuan, dia pun adalah negara yang didirikan atas persetujuan golongan-golongan yang terbesar di dalam negeri ini pada hari bulan
Juli 1945, yang dikenal dengan nama
Jakarta Charter, yaitu golongan Islam, Nasionalis, dan Kristen. Pemuka yang mengikat perjanjian itu mempunyai cukup syarat-syarat buat disebut
Ahlul Halli wal 'Aqdi. Isi perjanjian ialah akan mendirikan sebuah negara yang semua golongan terjamin menganut kepercayaannya;
malahan pernah
ditegaskan bahwa
bagi pemeluk Islam supaya
menjalankan syari'at agamanya.
Maka negara kita telah dibentuk atas dasar janji bersama, atau
'Uqud; yang telah diperintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya menyempurnakannya.
Menurut pangkal surah al-Maa'idah ini, perjanjian ini wajiblah dipelihara dan disempurnakan, karena dia bukanlah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Bahkan pada adatnya,
kalau tidaklah ada Charter ini, tidaklah akan tercapai kemerdekaan yang telah ada ini.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 702-707, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PIMPINAN IBLIS
Seperti tersebut di dalam beberapa ayat yang lain yang telah kita salinkan tadi,
Iblis mendurhaka karena sombong
Abaa was-takbara! (Enggan dan sombong!). Lalu datanglah
penegasan Allah berupa pertanyaan,
"Maka apakah akan kamu ambil dia dan anak-cucunya akan menjadi pimpinan selain Aku?"
Iblis telah mendurhaka kepada Allah karena sombong. Apakah
Iblis yang mendurhaka kepada-Ku itu yang akan kamu ambil menjadi pimpinan hidupmu untuk tukaran dari Aku, Allah, Tuhanmu?
"Padahal mereka itu bagi kamu adalah musuh!"
Bukankah kamu pun telah mengetahui bahwa
Iblis dan
anak-cucunya itu adalah
musuh-musuh kamu.
"Sungguh amat buruklah bagi orang-orang yang zalim yang dijadikan tukaran." (ujung ayat 50).
Sekali lagi disebut orang yang zalim, yang salah berhitung, yang menyesatkan diri sendiri;
Allah ditukarnya dengan Iblis!
Bukan saja
Iblis, bahkan sampai kepada
anak-cucu Iblis, mereka puja, mereka sembah,
mereka jadikan mata pencarian dan
sumber hidup.
"Dan (ingatlah) akan hari." (pangkal ayat 52).
Ingatlah akan hari Kiamat yang akan datang dan pasti datang itu!
"Yang Dia akan berfirman, "Panggillah sekutu-sekutu-Ku yang kamu ada-adakan itu!"
Pada hari itu kelak
segala penyembah berhala, penyembah kayu dan batu, penyembah benda-benda dan orang-orang yang mendewa-dewakan menuhan-nuhankan,
sesamanya manusia, baik ketika manusia itu hidup atau terhadap
kuburnya sesudah dia mati, yang dipuja disembah dan
dipandang ada kuasanya di samping kuasa Allah,
Semua penyembah itu kelak akan disuruh berkumpul ke hadapan hadirat Allah dan mereka disuruh memanggil segala persembahan mereka itu, suruh berhadapan dengan Allah.
"Lalu mereka panggil!"
Tetapi apakah yang terjadi?
"Namun mereka tidaklah ada yang menyahut panggilan itu."
Berhala-berhala, pendewaan, manusia yang dituhankan dan barang benda yang banyak itu, semuanya tidak ada yang menyahut. Kalau dia dari kayu atau batu dan segala yang berupa benda, tentu tidak ada yang akan menyahut, karena mereka hanya benda yang beku.
Kalau yang didewakan itu sesama manusia, maka kebanyakan sesama manusia itu dituhankan di luar tahu mereka. Mereka diagung-agungkan demikian rupa, hanyalah karena khayal si penyembah itu saja. Tetapi kalau memang manusia itu sendiri yang menghendaki supaya dirinya yang dituhankan, sebagai yang dilakukan Fir'aun, tentu di hari itu dia pun akan bersama londong ke neraka. Sebab itu ujung ayat tersebut,
"Dan Kami adakan di antara mereka itu satu tempat kehancuran." (ujung ayat 52).
Tempat kehancuran,
maubiqaa, itu ialah
neraka Jahannam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5 Hal. 397-398, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Adalah
hak bagi
setiap insan untuk
menolak dan
menentang, bahkan
kalau perlu perang terhadap
segala percobaan yang
hendak merampas kemerdekaan dirinya
berhubungan langsung dengan Allah." (Buya HAMKA).
Oleh karena itu, adalah
hak bagi
setiap insan untuk
berhubungan langsung dengan Allah,
tidak perlu ada perantara, tidak perlu ada "pokrol bambu" yang akan menolong, dan
tidak usah ada sekutu-sekutu apa pun di dalam
segala macam bentuk.
Apa akibat dari ajaran ini? 360
berhala di sekeliling
Ka'bah yang selama ini
dipuja dan
diasapi dengan
kemenyan, dibawakan hadiah berbagai macam, mulai saat ajaran itu keluar
telah bertukar menjadi batu mati. Bahkan,
menghambat penglihatan, menjemukan dan
membosankan, satu waktu
wajib diruntuhkan, dan
runtuhannya itu
boleh di potong-potong, lalu diambil
menjadi dasar bangunan rumah, atau
menjadi alas jembatan.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 82-83, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Menurut keterangan
Ali bin Abi Thalib, kabilah Khaz'am dan Bujailah pun mempunyai berhala, mereka namai berhala itu
"Ka'bah Yaman"; sedang
Ka'bah yang
sebenarnya, yang ada di
Mekah mereka namai
"Ka'bah Syam". Rasulullah telah mengutus ke sana Jarir bin Abdullah al-Bajali, yang seketurunan dari Bani Bujailah pula. Pekerjaan Jarir pun berhasil. Ka'bah tiruan itu dihancurkan sampai lumat.
Ibnu Ishaq meriwayatkan pula bahwa di Yaman ada pula berhala bernama
Riyaam. Disebut orang bahwa di sana ada dipelihara seekor anjing hitam. Semuanya habis dihancurkan setelah agama
Islam beroleh kemenangan dan kejayaan.
Dan sesudah itu
segala yang
bersifat berhala habis disapu bersih.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 544, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IBRAHIM MENGHANCURKAN BERHALA
"Dan demi Allah." (pangkal ayat 57).
Nabi Ibrahim telah mulai perkataannya dengan sumpah. Tandanya beliau berkata bersungguh-sungguh, bukan bermain-main.
"Kami mendengar seorang anak muda yang menyebut-nyebut mereka, kata orang namanya Ibrahim." (ujung ayat 60).
Dari kedua ayat ini, ayat 60 dan 61 kita mendapat
beberapa pelajaran.
Pertama ialah tentang keadaan Nabi Ibrahim waktu menghancurkan berhala, yaitu dia masih terhitung anak muda!
Yang berani mengerjakan pekerjaan nekad begitu memang hanya anak muda.
Kita melihat di dalam
Al-Qur'an beberapa kali cerita tentang
pekerjaan penting dikerjakan oleh anak muda.
Yang menyembunyikan diri ke dalam gua, dalam surah al-Kahf, ialah
beberapa orang anak muda, karena keyakinan terhadap Allah yaitu berpegang kepada
tauhid amat
berlawan dengan kepercayaan kaumnya yang
mempersekutukan Allah dengan yang lain. Di dalam surah al-Kahf,
pemuda-pemuda itu 2 kali mendapat pujian. Pertama di ayat 10, kedua di ayat 13.
Demikian pentingnya darah muda, sehingga
Ibnu Abbas pernah berkata,
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidak pula diberi Allah ilmu, melainkan di waktu muda."
Lalu beliau baca ayat 60 surah al-Anbiyaa' ini sebagai alasan.
Nabi Musa pun membawa anak muda bernama
Yusya' menjadi temannya pergi mencari
Nabi Khidhir (disebut dalam surah al-Kahf ayat 60), yang disebut
fatahu, ialah karena dididik akan jadi pengganti beliau nanti. Di zaman sekarang, dinamai
kader.
Berkata
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini,
"Memang inilah yang dikehendaki Ibrahim, yaitu supaya mereka di hadapan pertemuan besar itu, agar tersingkap bagaimana banyaknya kebodohan mereka dan sedikitnya akal mereka, karena menyembah berhala yang tidak dapat menangkis mudharat dan tidak dapat menolong apa-apa."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 46-49, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Aqidah dan
ibadah Islam
harus dikembalikan kepada
ajaran asli Nabi Muhammad, menurut
Qur'an dan
Hadits dan memakai ijtihad. Kita harus berani kembali meninjau pendapat-pendapat ulama yang datang di belakang, baik dia
Imam Syafi'i sekalipun.
Sunnah mesti ditegakkan dan
bid'ah mesti dibuangkan;
Menuduh-nuduh adalah
alat terakhir dari
orang-orang yang
telah kehilangan alat.
(Buya HAMKA, PANGGILAN BERSATU: Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa, Hal. 65, 66, Penerbit Galata Media, Cet. I, Januari 2018).
JAHILIYYAH MODERN
Apakah perbedaan mereka dengan
umat dahulu kala yang dinamakan
kaum jahiliyyah itu?
Perbedaan itu ialah orang yang dinamakan
jahiliyyah paham arti tauhid, tetapi
tidak mau mengucapkannya, dan
Orang jahiliyyah sekarang pandai
mengucapkan tauhid, tetapi
tidak paham apa
maksud dan
isinya.
Inilah yang dinamakan orang pada
zaman ini dengan
"jahiliyyah modern".
-Tulisan ini dinukil dari Ceramah Allahuyarham Prof. Dr. HAMKA, yang pernah disampaikan di TVRI sekitar Tahun 1975, yaitu siri ceramah yang bertemakan, "Iman dan Pembangunan".
(Buya HAMKA, Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh, Hal. 37, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
INTI TAUHID. Oleh karena itu,
batal dan
tertolaklah persangkaan
orang-orang musyrik dan
tersesat yang mengharapkan semoga Rasul pun atau manusia pun dapat menolong mereka meringankan adzab atau menambah pahala mereka.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 47, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KAMU TIDAK MEMPUNYAI TAUHID RUBUBIYAH
"Dan tidak Kami melihat ada beserta kamu orang-orang yang akan melepaskan kamu."
Orang yang akan melepaskan kamu, yaitu
syufa'au dan orang-orang yang memberikan
syafaat, yang akan memohon kepada Allah agar dia dibebaskan dari adzab.
Karena
menurut kepercayaan orang
mempersekutukan yang lain dengan Allah, baik
berhala atau
sesama manusia atau
kuburan orang
keramat, semuanya itu
mereka sembah, mereka puja karena
mengharapkan bahwa semuanya akan membela mereka di akhirat.
Pada saat itu, selain datang kepada Allah seorang diri, tidak ada pangkat lagi, tidak ada harta dan kekayaan, pun
tidak ada berhala-berhala atau
orang-orang keramat atau
kubur itu yang datang menemui.
Sebatang kara, tak ada harta, tak ada teman, tak ada pembela.
"Yang kamu anggap bahwa mereka itu pada kamu sebagai sekutu-sekutu (Allah)."
Artinya, bahwa
kamu masih tetap
mengakui bahwa
Allah Ta'aala itu memang
Ada dan memang
Esa, dan hanya Dia sendiri yang menciptakan alam ini.
Dasar kepercayaan itu memang ada padamu, yang dinamai
Tauhid Uluhiyah.
Setelah akan
memohonkan apa-apa,
kamu tidak langsung memohon kepada-Nya lagi, tetapi pada yang lain atau meminta tolong pada yang lain itu supaya menyampaikannya kepada Allah. Walaupun mengakui Dia Yang Menciptakan alam,
kamu campur-aduk dengan yang lain.
Kamu tidak mempunyai Tauhid Rububiyah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 218, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAK ADA DAYA DAN KEKUATAN, KECUALI PADA ALLAH
Ada ucapan zikir lagi
"laa haula walaa quwwata illaa billaah", tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali pada Allah.
Manusia tidak boleh menguasai jiwaku. Sebab, manusia berasal dari mani seperti aku juga. Asal dari tanah, hidup di atas tanah, dan akan kembali ke dalam tanah. Walaupun badannya dililit emas, tongkat bersalutkan emas, dada dihiasi berbagai bintang emas, emas itu pun tanah juga.
Walaupun dibuat patung yang seram, matanya melotot keluar, gigi dan taring menjulur keluar sehingga kelihatan seram, aku tidak takut. Karena yang mengukir patung itu hanyalah tangan manusia juga. Kalau, aku sulut ia dengan api, ia akan terbakar hangus, balik jadi abu dan tanah. Semuanya itu, tiap insan hanya menuju Yang Esa, habis.
Apa akibat dari ajaran ini?
360 berhala di sekeliling
Ka'bah yang selama ini dipuja dan diasapi dengan kemenyan, dibawakan hadiah berbagai macam, mulai saat ajaran itu keluar telah bertukar menjadi batu mati. Bahkan,
menghambat penglihatan, menjemukan dan
membosankan, satu waktu
wajib diruntuhkan, dan runtuhannya itu boleh di potong-potong, lalu diambil menjadi dasar bangunan rumah, atau menjadi alas jembatan.
Manusia-manusia yang
dituhankan, diagungkan dan
dipuja-puja, disanjung sehingga ia pun telah merasa bahwa ia memang Dewa,
dengan sendirinya telah
jatuh pamornya.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 82-83, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENEGUHKAN KEYAKINAN TAUHID
"Katakanlah: "Aku sesungguhnya berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan." (ujung ayat 216).
Berlepas diri artinya tidak bertanggung jawab. Atau tidak tahu-menahu sebab Rasulullah sudah sejak semula telah memberi peringatan bahwa barangsiapa yang berbuat jahat, berbuat maksiat pasti akan dihukum oleh Allah.
Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya,
"Ancaman yang khusus ini tidaklah berarti bahwa tidak kena-mengena kepada yang umum, bahwa dia adalah mengenai tiap satu dari yang umum."
Tegasnya, bahwa ancaman ini
mulanya memang
khusus. Peringatan kepada keluarga terdekat Nabi dan orang-orang beriman yang Nabi disuruh merendahkan sayap kepada mereka. Maka kalau keluarga terdekat Nabi itu berbuat maksiat, disuruhlah Nabi memperingatkan bahwa beliau berlepas diri dari kesalahan itu.
Mentang-mentang dia
keturunan Rasulullah, misalnya apa yang kita sebut
"Dzurriyat Rasul", yang diturunkan oleh perkawinan
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan
Fatimah binti Rasulullah, janganlah mereka salah sangka dan janganlah orang awam terperosok menyangka bahwa keturunan Rasulullah itu kalau bersalah tidak berdosa. Sedangkan Nabi saw. sendiri kalau dia tidak menauhidkan Allah, beliau diancam akan dimasukkan dalam golongan orang yang kena adzab, yang disebut di ayat 213 di atas tadi, dan beliau pun dilarang keras jadi orang musyrikin (surah al-Qashash ayat 88), dan kalau dia misalnya berbuat demikian, dia pun terhitung orang yang zalim (surah Yuunus ayat 106). Sedangkan Nabi saw. memegang disiplin demikian ketat, bagaimana
orang-orang yang mengakui diri anak cucu beliau, akan leluasa saja melanggar perintah Allah, berbuat maksiat kepada nenek moyangnya, lalu meminta disediakan
surga dengan
gratis? Hanya
orang yang dadanya
kosong dari
ilmu tentang
Islam yang akan percaya kepada persangkaan begitu.
Dan seperti perkataan
Ibnu Katsir tadi,
meskipun ayat ini
khusus ditekankan untuk
peringatan keras bagi
orang-orang yang merasa dirinya sekeluarga dengan Nabi, niscaya begitulah mestinya untuk
seluruh umat Muhammad.
Di sinilah kita dapat merenungkan dengan saksama betapa besarnya persediaan jiwa Nabi kita Muhammad saw. di dalam menghadapi tugasnya yang amat berat itu, menjadi
basyir dan
nadzir. Pemberi peringatan gembira bagi yang taat dan peringatan ancaman keras kalau tidak dipatuhi. Dia mulanya tegak seorang diri. Tidak ada temannya melainkan Tuhannya. Datang ke tengah-tengah alam
kemusyrikan hendak
menegakkan ajaran
tauhid, tetapi dimulai pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Di samping berjuang melatih diri. Dalam melatih diri meneruskan perjuangan.
Bukan melatih diri terlebih dahulu,
baru nanti berjuang.
Dan
bukan pula terus berjuang dengan
tidak memperlengkapi diri.
Oleh sebab itu cocok benarlah jika ayat selanjutnya begini bunyinya,
SETAN REKAN PENDUSTA
"Aku akan ceritakan kepada kamu, kepada siapa Setan-setan itu turun?" (ayat 221).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 484-486, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
TAUHID MEMBESARKAN JIWA
"Sama saja atas kamu, apakah kamu ajak mereka ataupun kamu berdiam diri." (ujung ayat 193).
Walaupun diajak dan diseru dengan alasan yang kuat, mereka tidaklah akan meninggalkan kebiasaan yang buruk itu. Didiamkan saja pun, mereka tidak juga akan berubah. Sehingga di antara ajakan dengan mulut atau pun didiamkan, menjadi sama saja bagi mereka. Akan tetapi,
ayat-ayat yang lain telah menunjukkan bahwa dengan begini
bukanlah berarti bahwa hal
syirik ini
didiamkan saja. Bertambah didiamkan, niscaya penyakit mereka akan bertambah larut. Sebab itu,
ayat yang
selanjutnya bukanlah berarti menyuruh berdiam diri, melainkan
menyuruhkan bekerja terus-menerus menyadarkan mereka.
"Sesungguhnya yang kamu seru selain dari Allah itu adalah hamba-hamba seperti kamu (iuga)." (pangkal ayat 194).
Inilah salah satu
inti ajaran
tauhid bagi
memerdekakan manusia dari pengertian
syirik. Diperintahkan kepada manusia bahwa yang mereka sembah selain dari Allah itu tidaklah lebih keadaannya dari mereka yang menyembah.
Kalau dia manusia, maka kamu pun manusia. Sama-sama dijadikan Allah daripada air mani yang
lata. Mengapa mereka akan kamu katakan lebih daripada kamu? Kalau kamu katakan mereka lebih daripada kamu, sebab mereka orang yang telah lebih dekat kepada Allah,
tersebab shalihnya misalnya, mengapa tidak kamu sendiri langsung berbuat amal shalih yang diridhai Allah, sehingga kamu sendiri mencapai martabat yang sama dengan dia? Sama-sama dekat kepada Allah?
Kemudian dengan
lebih berani lagi, Nabi saw. disuruh mengatakan,
"Serulah sekutu-sekutu kami itu."
Cara kita sekarang, pasanglah dupa, bakarlah kemenyan, ratib tegaklah memanggil segala barang pujaan itu, wahai
berhala anu, hantu pemburu anu, wahai nan di bigak nan di bigau, wahai
wali keramat di Luar Batang dan
segala tempat atau
kubur yang dikeramatkan, wahai
arwah kyai anu di kampung anu,
habib fulan di kampung fulan,
tolonglah kami,
perkenankan doa kami.
"Kemudian itu cobakanlah tipu dayamu kepada-Ku."
Tegasnya cara sekarang, embuskanlah segala macam mantra, segala macam sihir, segala macam tuju permaya untuk menganiaya diriku, dengan pertolongan segala berhala itu.
"Maka, cobalah jangan Aku diberi tempo." (ujung ayat 195).
Arti cara sekarangnya ialah,
"Cobakanlah pengaruh berhalamu itu kepadaku sekarang juga, jangan aku diberi waktu lagi. Niscaya semuanya itu tidak akan memberi bekas. Semua omong kosong!"
Inilah salah satu
didikan kebenaran jiwa
tauhid yang dibenarkan dan dihunjani
Nabi kepada
orang yang beriman. Sampai
beliau berani menentang. Orang yang
telah teguh tauhidnya, tentu memegang ini. Pegangan
orang yang
bertauhid ialah bahwa
alam tidak memberi bekas.
"Sesungguhnya pelindungku ialah Allah, yang telah menurunkan kitab dan Dialah yang melindungi orang-orang yang shalih." (ayat 196).
Sebagai
orang yang
bertauhid, Rasulullah saw. telah mempunyai
pendirian yang teguh, bahwasanya
berhala atau
apa jua pun yang dipuja
selain Allah, tidaklah memberi bekas,
tidak memberi manfaat dan
mendatangkan mudharat. Sebab itu, beliau yakin pula, bagaimana pun beliau menentang pemuja berhala dan berhalanya sendiri, tidak sebuah pun yang akan dapat bertindak, sebab semuanya tidak berkuasa. Kakinya terpaku tak dapat melangkah, matanya terbelalak, tetapi tidak dapat melihat, telinganya seluas tampian, tetapi tidak mendengar.
Oleh sebab
keyakinannya telah
bulat kepada
Allah maka
yang lain sudah dianggap tidak ada lagi. Ruh yang telah dekat kepada Allah, tidaklah ragu memandang ketiadaan yang lain. Sebab itu, lanjutan ayat ialah bahwa tempat aku berlindung hanya Allah. Bukan saja Allah dianggap sebagai tempat berlindung, bahkan Dia pun mengirimkan kitab pula untuk tuntunan hidup. Dan,
Dia pun
menjamin, memelihara dan melindungi orang-orang yang shalih, orang-orang yang berbuat baik.
Oleh sebab itu, keberanian menentang berhala, bukanlah keberanian membabi buta, bukan pula karena sombong dan takabur, tetapi keberanian karena ada pedoman.
Di ayat ini bertemu tiga perlengkapan ruhani.
Pertama, yakin bahwa tempat berlindung hanya Allah.
Kedua, yakin kepada tuntunan yang diberikan Allah, sebagai yang kita di zaman modern ini biasa menyebutnya "konsepsi" ada di dalam tangan, yaitu Al-Qur'an.
Ketiga, yakin pula bahwa selama kitab yang diturunkan Allah itu diamalkan dengan sebaik-baiknya,
tidak satu pun bahaya yang akan menimpa di dalam alam ini, sebab Allah selalu melindungi.
Menurut sebuah riwayat dari
Ibnu Abbas, hantu-hantu itu
lebih lagi takutnya kepada manusia, daripada manusia menakuti hantu. Lebih-lebih
manusia yang
mempunyai kepribadian.
Rasa takut adalah salah satu
naluri manusia yang berpokok dari keinginan memelihara hidup. Oleh sebab itu dia telah termasuk naluri, tidaklah dia dapat dihapuskan dari dalam diri.
Akan tetapi, dengan
ajaran tauhid rasa takut itu
disalurkan kepada Yang Satu, yaitu
Allah.
Setelah Mekah ditaklukkan, Rasulullah saw. mengeluarkan perintah agar setiap orang memecah atau menghancurleburkan setiap berhala yang masih ada dalam rumah orang masing-masing. Beliau pun memerintahkan sekaligus meruntuh dan menghancurkan berhala yang masih bersandarani di Ka'bah.
Laata dan
Manaata, semuanya dia hancurkan bersama 360 berhala yang lain. Untuk menghancurkan berhala
'Uzza yang besar di dekat kota Mekah, Nabi saw. memerintahkan
Khalid bin Walid dengan 5 hari terakhir dari bulan Ramadhan. Setelah dia sampai ke tempat berhala itu, segeralah dia runtuhkan. Dan, setelah selesai tugasnya, dia pun kembali kepada Rasulullah saw.
Dan,
Rasulullah saw. pun bertanya,
"Sudahkah engkau runtuhkan?"
Khalid menjawab,
"Sudah, ya, Rasulullah!"
"Adakah engkau melihat sesuatu?", tanya
Rasulullah saw.
"Tidak ada", jawab
Khalid.
"Kalau begitu pekerjaanmu belumlah selesai. Segeralah engkau kembali ke sana dan hancurkanlah berhala itu!"
Dengan gemas dan marahnya
Khalid kembali ke tempat itu. Dia masuk kembali ke dalam rumah berhala itu.
Tiba-tiba keluarlah seorang
perempuan tua, hitam warna kulitnya, dan kusut tergerai rambutnya. Itulah
juru kunci rumah berhala tersebut. Juru kunci itu menjerit-jerit ketakutan.
Khalid segera menyentak pedangnya lalu dipancungnya perempuan tua hitam itu, sehingga terpotong dua. Setelah itu
Khalid kembali kepada Rasulullah saw., menceritakan apa yang telah kejadian.
Maka, bersabdalah
Rasulullah saw.,
"Memang itulah dia yang sebenarnya 'Uzza. Dia telah putus asa buat disembah lagi di negeri ini."
Inilah kisah menghancurkan berhala
'Uzza yang tersebut di dalam sejarah. Bagaimana kalau
Khalid takut melihat hantu penghuni berhala itu, yang merupakan dirinya sebagai perempuan tua hitam?
Tentu berhala itu masih akan dipandang angker oleh pemujanya. Akan tetapi,
Khalid bin Walid bukan
Khalid kalau dia takut kepada hantu itu, terus dipancungnya, kudung dua!
Bersamaan dengan perjalanan Khalid itu Rasulullah saw. mengutus
Amr bin 'Ash pula untuk menghancurkan sebuah berhala yang dipuja oleh suku Huzail. Setelah
Amr sampai ke tempat itu bertemu dia dengan
juru kuncinya.
Juru kunci itu bertanya,
"Apa maksud engkau?"
Amr menjawab,
"Aku diperintah Rasulullah saw. menghancurkan berhala ini!"
Juru kunci menjawab,
"Engkau tidak akan sanggup berbuat begitu!"
Jawab
Amr, "Apa sebab?"
"Berhala itu akan mempertahankan diri", jawab
juru kunci.
Lalu, dengan murka
Amr menjawab,
"Sampai kini engkau masih saja percaya kepada yang karut dan batil itu. Bagaimana dia akan dapat mempertahankan dirinya? Padahal dia tidak mendengar dan tidak melihat?"
Berkata
Amr ketika mencerita kejadian itu,
"Lalu saya mendekat kepada berhala itu lalu segera saya hancurkan. Setelah itu saya suruh pula kawan-kawan saya menghancurkan rumah pemujaan itu sampai rata dengan tanah. Tidak ada terdapat apa-apa." Maka, saya berkata kepada juru kunci itu,
"Sekarang bagaimana engkau lihat? Apa engkau masih percaya?"
Juru kunci menjawab,
"Mulai hari ini saya menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada Allah." (aslamtu lillahi).
Setelah itu Rasulullah saw. mengutus
Sa'ad bin Zaid al-Asyhali pergi meruntuhkan berhala
Manaata, berdiri di satu tempat bernama Musyallal, di dekat kampung Qadid. Pemujanya di zaman lampau sebelum Islam ialah Aus dan Khazraj dan Bani Ghassan dan lain-lain.
Sa'ad datang ke sana membawa 20 orang tentara berkuda.
Sampai di sana bertemu pula dengan
juru kunci.
Dia pun bertanya,
"Apa maksud kalian?"
Sa'ad menjawab,
"Hendak meruntuhkan berhala Manaata!"
"Silakan!" kata juru kunci itu.
Dengan tidak ragu-ragu sedikit pun
Sa'ad masuk ke dalam rumah pemujaan. Sampai di dalam,
tiba-tiba muncul pulalah
seorang perempuan tua, hitam, bertelanjang bulat dan rambutnya tergerai lepas, bersorak-sorak, memekik-mekik, dan menampar-nampar dadanya.
Maka, berkatalah
juru kunci tadi kepada perempuan itu,
"Hai, Manaata! Pertahankan dirimu. Orang yang durhaka kepadamu mencoba hendak mengganggumu!"
Perempuan tua yang
menakutkan itu tampil hendak menggumuli
Sa'ad, tetapi sekali pancung saja, dia pun rubuh. Lalu,
Sa'ad mempergunakan kampaknya menghancurkan berhala itu, sehingga menjadi tumpukan puing dan tidak ada apa-apa.
Catatan sejarah tidak menyebut apakah
perempuan itu manusia biasa
yang dianggap sebagai
Manaata? Atau
orang-orang gila rawan yang datang ke sana lalu diangkat oleh pemujanya sebagai penjelmaan
Manaata, sebagai pada berhala
'Uzza tadi? Atau memang ada
hantu yang menjelmakan diri dan
menimbulkan takut orang yang lemah pribadi?
Kesemuanya itu mungkin saja. Namun,
apa pun ancaman, entah hantu perburu, si gulambai, hantu haru-haru dan sebagainya, tetapi
bagi orang-orang beriman sebagai
Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Sa'ad bin Zakl al-Asyhali, tidak sebuah juga yang mereka takuti dan
mereka tidak gentar menghadapinya. Semua runtuh
hancur karena
kekuatan tauhid. (14)
Tidak ada tempat takutnya seorang Mukmin, melainkan Allah!
"Dan, mereka yang kamu seru selain dari Dia, tidaklah mereka sanggup menolong kamu; dan tidak pula menolong diri mereka sendiri." (ayat 197).
Di ayat yang sebelumnya tadi dikatakan, pendirian yang tegas dari Nabi saw., yaitu bahwa pelindung beliau ialah Allah, yaitu Allah yang menurunkan kitab. Maka,
Allah menjamin memberikan perlindungan kepada
orang yang shalih. Di ayat 197 ini dikatakan lagi bahwa makhluk tidak berdaya. Sekarang ke mana kita hendak pergi, meminta tolong kepada berhala atau sesama manusiakah atau langsung meminta pertolongan kepada Allah?
Kalau ada orang berkata bahwa ayat 197 sudah memberikan ketegasan bahwa memang ada
wali Allah. Orang-orang yang istimewa di sisi Allah karena
shalihnya. Sebab itu, kami
meminta dengan
perantaraannya!
Dengan ayat ini
jelaslah kebodohan mereka.
Allah dan Rasul membuka pintu
bagi semua orang, supaya
menjadi wali Allah langsung sendiri mendekati Allah, sedang mereka masih saja mencari perlindungan yang lain. Mereka mengaku memang ada
waliullah, tetapi mereka tidak berniat sendiri-sendiri hendak menjadi
waliyullah pula.
Allah sendiri yang memanggil, marilah menjadi wali-Ku, tetapi mereka enggan memasuki pintu yang terbuka itu, melainkan hendak memakai
perantaraan juga. Padahal, tempat meminta dari orang yang dipandang
wali itu tidaklah ada yang lain, hanya Allah juga.
Oleh sebab itu
musyrik adalah satu
kejahilan.
"Dan, jika kamu seru mereka kepada petunjuk, tidaklah mereka mau mendengarkan." (pangkal ayat 198).
Pangkal ayat ini
menyatakan betapa sulit menghadapi orang yang telah berurat-berakar
kemusyrikan di dalam diri mereka.
Mereka tidak dapat diajak berunding untuk menyadarkan akal mereka yang telah ditutupi oleh
ta'ashub, keras kepala mempertahankan
pendirian yang
salah. Mereka tidak mau mendengarkan, sebab jiwa mereka telah ditutup oleh pengaruh
hawa nafsu. Sebagaimana keadaan kaum Quraisy ketika berhala mereka dicela sedemikian rupa,
tidaklah mereka segera meninjau kesalahan pendirian mereka, melainkan
bersitegang urat leher mempertahankan pendirian.
(14) Lihat
Zaadul Ma'ad, Jilid I oleh Ibnul Qayyim.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 636-642, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PERISTIWA SEBELUM PEMBERONTAKAN CILEGON;
Apa artinya menjadi orang Islam, di tanah air sendiri pula, apabila
perbuatan musyrik mendapat
perlindungan dari pemerintah, pegawai pemerintah sendiri telah berani berlancang tangan meruntuhkan menara sebuah langgar?
Niscaya akan datang lagi larangan lain sehingga
hilanglah agama Islam dari
negeri kita ini. Haji Wasit menemui temannya Tubagus Haji Isma hendak memperbincangkan
bahaya yang
menimpa agama ini. Haji Ismail telah merasa, kawan dan ulama yang lain pun merasa.
Apa akal? Berontak.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 92, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
PERINGATAN YANG TEGAS;
"Dan orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah maka tidaklah Allah akan menyesatkan amalan mereka." (ujung ayat 4). Atau tidaklah terbuang percuma amalan mereka. Sebab untuk mencapai kemenangan gemilang, harus ada yang berani mati. Kalau tidak ada yang berani mati, tidaklah akan tercapai bagi suatu bangsa hidup yang sejati. Hidup yang tidak disertai oleh keyakinan dan kesanggupan mati, sama juga artinya dengan mati, karena hidup yang berarti ialah hidup diperjuangkan dengan nyawa. Dalam sejarah Islam sendiri bertemulah orang yang seperti demikian. Terutama ialah paman Rasulullah sendiri,
Hamzah bin Abdul Muthalib yang gagah perkasa. Dia
mati syahid dalam Peperangan Uhud. Dadanya dibedah oleh
musykirin dan jantungnya dikerat lalu dihisap oleh
Hindun, istri Abu Sufyan untuk membalaskan dendamnya. Namun kemudian, pada tahun kedelapan Hijrah, kota Mekah dikepung dan ditaklukkan dan
Muslimin mencapai kemenangannya dan
kedaulatan berhala habis dimusnahkan dan
Bilal,
muadzin Rasul, memanjat ke atas puncak atap Ka'bah, di sana dia membacakan suara adzan dengan suara yang merdu. Untuk itu semuanya, Hamzah tidak menyaksikan lagi. Tetapi kalau tidak ada keberanian Hamzah dalam Peperangan Uhud, tidaklah akan begitu tinggi nilainya
Futuh Mekah. Dia tidak ada lagi, tetapi dia seakan-akan ada, sehingga Al-Qur'an dengan tegas menjelaskan bahwasanya orang yang mati dalam perjuangan menegakkan jalan Allah itu janganlah disangka mati. Dia itu adalah hidup terus, mendapat rezeki terus, sehingga lebih panjang umurnya dalam sebutan daripada umurnya ketika nyawanya masih dikandung badannya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 329, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BULAN TABUT; Itulah akibat kebanggaan kemenangan
Yazid, yang setelah lama ia mati. tapi anak cucunya masih menerima akibatnya. Meskipun perjuangan politik antara dua keturunan,
Bani Hasyim dengan
Bani Umayah telah lama habis, tetapi sisanya dalam lapangan lain yaitu lapangan
aqidah dan keyakinan hidup masih belum habis sampai sekarang. Di Iran ada 18 juta
kaum Syi'ah, di Pakistan sekian juta, di Irak sekian pula, demikian pula di India.
Agha Khan yang terkenal adalah seorang pemimpin dari cabang golongan
Syi'ah, demikian juga
Daud Beureuh.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 117, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
HASAN IBNU SABAH; Pada zaman pemerintahan Raja Malik Syah dan wazirnya, Nizamul Mulk yang terkenal,
muncullah satu kekuasaan yang
sangat mengerikan bagi
dunia Islam pada waktu itu, yaitu sebuah cabang dari
Syi'ah Isma'iliyah atau
Batiniyah dipimpin oleh Hasan ibnu Sabah; Terkenal juga pengikutnya dengan nama
Hasysyasyin, diambil dari kata
hasyisy, artinya
rumput ganja, sebab apabila mereka sudah diberi pelajaran, mereka disuruh memakan
ganja sehingga
mabuk, dan apabila mereka telah mabuk,
mereka seakan-akan ada di dalam surga,
dikelilingi oleh
anak-anak bidadari yang
cantik jelita, yaitu
perempuan-perempuan cantik yang
ditawan dan
dikumpulkan di dalam gua, itulah
surga, kata Hasan ibnu Sabah. Sampai sekarang ini, kata
Hasysyasyin telah menjadi bahasa yang umum dipakai di negeri-negeri Eropa dengan sebutan
assasin, dipergunakan menjadi istilah untuk
pembunuh-pembunuh karena
persengketaan politik.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 317-318, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
KLIK DISINI: TENTANG PEMURNIAN TASAWUF
Nasrani dapat kita ketahui serba sedikit, sebab
zending dan misi agama ini berusaha menyebarkan agama mereka. Mereka bukan saja menjadi
71 atau
72 golongan, yang disebut Sekte, bahkan golongan Protestan yang memisahkan diri dari Katholik saja, tidak kurang dari 200 sekte, masing-masing mendakwakan bahwa gereja merekalah yang benar, dan yang lain sudah agama lain. Pengikut Sekte
Method's misalnya, tidak akan suka memasuki gereja Baptis. Apalagi orang Katholik akan masuk ke gereja Protestan.
Dalam Islam, belumlah sampai separah itu. Namun,
karena kurang hati-hati, sampailah
di Mekah sendiri pada
1925 itu pengikut
Madzhab Hanafi tidak mau shalat di belakang imam
Madzhab Syafi'i dan
demikian pula yang lain.
Syukurlah Raja
Abdul Aziz Ibnu Sa'ud bertindak
menyatukan shalat
kembali. Dengan
kenyataan sejarah ini, nyarislah bertemu ancaman Rasulullah saw. bahwa
umatnya akan
mengikuti jejak
Bani Israil, terompah atas terompah (setapak demi setapak). Sampai beliau ancamkan bahwa perpecahan itu bukan lagi madzhab, bahkan telah menjadi
millah, yang berarti agama juga.
Peringatan Rasulullah saw. yang demikian, bukanlah menerangkan suatu takdir yang mesti diikuti, melainkan
menyuruh agar
jangan sampai meniru. Sebab, beliau katakan bahwa yang akan
selamat hanya satu, yaitu
yang mengikuti ajaran beliau dan
sahabat-sahabat beliau jua.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 353, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Nabi saw. beliau bersabda:
"Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka menempuh (masuk) ke dalam lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah yang baginda maksud
Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab:
"Siapa lagi (kalau bukan mereka)." (HR. Bukhari No. 3197 dsb).
Golongan adat ini
tidak semata-mata zaman sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi rasul, tetapi
segala penyelewengan dari garis agama yang benar lalu
dikatakan bahwa itu pun
agama, termasuklah dalam
jahiliyyah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 56, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
PURBASANGKA
Kalau di
zaman purbakala benar-benar orang mendirikan patung dan
berhala buat
disembah,
Tergelincir yang kedua ialah karena menurutkan
purbasangka belaka.
Mereka tidak mau mempelajari hakikat dan agama yang dipeluknya sehingga apa yang dikerjakannya hanyalah turut-turutan, sehingga hakikat agama hilang dalam selimut dan selubung dari
bid'ah dan
khurafat.
Mereka telah
tekun beramal, padahal yang diamalkannya itu
tidak ada dalam Islam.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 397, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SEGALA PERBUATAN
BID'AH itu nyatalah
tidak bersumber dari
pengetahuan dan
tidak dari petunjuk (hidayah Ilahi).
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 55, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Berkata
Ibnu Arthiyah,
Jalan yang
bersimpang-siur banyak itu termasuk
Yahudi, Nasrani, Majusi, dan sekalian agama-agama buatan manusia dan tukang-tukang
bid'ah dan penyesat dan ahli-ahli hawa nafsu yang suka membuat-buat perkara ganjil dalam furu' dan yang lain-lain yang suka memperdalam berdebat dan menggali-gali ilmu kalam.
Semuanya bisa membawa tergelincir dan membawa iktikad yang
sesat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 340-341, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Tiap-tiap orang yang
beriman itu adalah dia
Islam, tetapi tidaklah tiap-tiap orang
Islam itu
beriman." (Syeikhul Islam IBNU TAIMIYAH).
"Maka, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu." (pangkal ayat 152).
Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan ad-Dailami dari jalan Jubair diterimanya dari adh-Dhahhak bahwa
Ibnu Abbas menafsirkan demikian,
"Ingatlah kepada-Ku, wahai sekalian hamba-Ku, dengan taat kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberimu ampun."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 284, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan memberi ampun dosa sekaliannya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Lekas-lekaslah minta
tobat dan
segeralah perbaiki kesalahan itu,
yaitu
jika kesalahan tersebut timbul dari
kebodohan, belum ada pengalaman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 163, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BAB AQIDAH KLIK DISINI
Bahkan, keadaan ini adalah seperti yang dikatakan salah seorang Imam ikutan, yaitu
Nu'aim bin Hammad al-Khuza'i, guru dari
Imam Bukhari. Kata beliau,
"Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya adalah
kafir, dan barangsiapa yang tidak mau percaya akan sifat Allah yang telah dijelaskan-Nya sendiri tentang dirinya, dia pun
kafir."
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 438, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Ibnu Taimiyah sampai
dituduh oleh
musuh-musuhnya berpaham
"mujassimah" (menyifatkan Allah bertubuh) karena kerasnya
mempertahankan paham ini.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 35, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
BULAN TABUT
Itulah akibat kebanggaan kemenangan
Yazid, yang setelah lama ia mati. tapi anak cucunya masih menerima akibatnya. Meskipun perjuangan politik antara dua keturunan,
Bani Hasyim dengan
Bani Umayah telah lama habis, tetapi sisanya dalam lapangan lain yaitu lapangan
aqidah dan keyakinan hidup masih belum habis sampai sekarang. Di Iran ada 18 juta
kaum Syi'ah, di Pakistan sekian juta, di Irak sekian pula, demikian pula di India.
Agha Khan yang terkenal adalah seorang pemimpin dari cabang golongan
Syi'ah, demikian juga
Daud Beureuh.
Di tempat-tempat yang mereka anggap suci, sampai sekarang masih kita lihat orang meratap, dan
ratap itu dipandang
sebagai sebagian dari
ibadat. Hanya karena satu kesalahan, yaitu kebanggaan
Yazid atas kemenangannya.
Para pemikir modern telah berusaha menghilangkan perpecahan
Ahli Sunnah dengan
Syi'ah, baru sedikit hasilnya karena demikian dalam pengaruh kematian
Husein di
Padang Karbala.
Rupanya ada seorang mati syahid, untuk menimbulkan kenangan dan dendam 14 Abad lamanya.
Ke negeri kita pun terbawalah juga pengaruh kejadian itu.
Di Padang dan Pariaman ada perayaan
Tabut, lambang dari
kepala Sayyidina Husein yang diangkat oleh burung
Buraq ke surga, untuk dipertemukan dengan ayah, bunda dan neneknya, setelah beliau selesai memperjuangkan hak dan keadilan.
Di tanah
Jawa dan
Makassar terkenallah
bubur Asyura, atau
bubur Suro, lambang dari hari berkabung yang hadiah menghadiahi di hari
Suro. Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram, menukar Tahun Saka lawi dan menyesuaikannya dengan Tahun Hijrah, dan menamai bulan pertama bulan
Suro.
Pada 50 Tahun yang lalu, ada seorang Pujangga Minang,
Bagindo Malim, mengarang sebuah buku syair, bernama Hikayat Hasan Husein, berperang dengan raja (Ba) Yazid. Dibaca dengan nyanyian merdu oleh perempuan-perempuan muda, terutama pada 10 Muharram.
Kejadian Husein dan pengurbanannya, kebanggaan para pemimpin perang yang mabuk kemenangan dengan
mengerat kepala Husein dan membawanya kepada
Yazid, tetap
menjadi buah ratap kaum
Syi'ah, memberi inspirasi bagi penyair mereka, menjadi dasar bagi
Kerajaan Shafawi, Kajari dan
Pahlevi di Iran (Persia), dan
menjadi perbandingan bagi orang-orang yang
mabuk kemenangan di saat yang
hanya sehari, tidak ingat bahwa itu
akan membawa ekor bagi
umat yang
di belakang, turunan demi turunan.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 112-118, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
WAHABI DAN NKRI (NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA)
"Negeri-negeri Melayu mulai merasakan kebangkitan yang baru dari Islam karena masuknya paham-paham yang diajarkan oleh Kaum Wahabi ... Kemudian, seluruh kebangkitan dan kesadaran Islam itu bersatu padu dengan gerakan kebangsaan sehingga tercapai kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945." (Buya HAMKA).
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 521, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
GERAKAN WAHABI DI INDONESIA
Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran
Tauhid yang
murni, menghapuskan
segala sesuatu yang
akan membawa kepada
syirik.
Sebab itu timbullah perasaan
tidak ada tempat takut melainkan Allah SWT.
Wahabi adalah
menantang keras kepada
Jumud, yaitu
memahami agama dengan
beku.
Orang harus kembali kepada
Al-Qur'an dan
al-Hadits.
Ir. Dr. Sukarno (Presiden Soekarno atau
"Bung Karno", Presiden Republik Indonesia ke-1, -pen) dalam surat-suratnya dari Endeh kelihatan bahwa
pahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir
Wahabi.
Kebanyakan orang Islam yang
tidak tahu di waktu ini,
yang dibenci bukan lagi
pelajaran Wahabi,
melainkan nama Wahabi.
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 213-216, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
Tidaklah perlu orang
yang diberi pengajaran itu
takluk pada
waktu itu juga.
Biar lama asal selamat.
"Dan jika tertarik kepadamu seseorang dengan tulusnya, lebih baik bagi kamu daripada orang senegeri, tetapi tak tentu haluannya."
(Buya HAMKA, Lembaga Hidup: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 226, Republika Penerbit, 2015).
AYAH DAN ANAK
Kita belajar banyak mengenai apa yang
HAMKA kagumi di diri ayahnya: disiplinnya, kecerdasannya dan keahlian retorikanya yang tajam, keberaniannya, dan pengabdiannya yang
teguh kepada Islam.
Tapi HAMKA juga mencoba memberikan potret Rasul yang menampilkannya secara apa adanya, manusiawi, kepada pembaca. Dia suka kucing. Dia terobsesi dengan kerapian; dia mencuci dan memperbaiki sendiri pakaiannya.
Kita juga diberitahu bahwa dia suka mendominasi, arogan, dan keras hati.
Dan sering marah.
HAMKA memberitahu kita bahwa
amukan Rasul itu
terkenal dahsyat dan
apabila sedang
murka, kata-kata
"ayat, hadits, syair, pepatah Arab, dan lain-lain", berhamburan dari mulutnya.
Kadang kalau sedang marah, dia memukul murid-muridnya.
HAMKA takut kepadanya.
(James R. Rush, ADICERITA HAMKA: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Hal. 62-63, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet.1, 2017).
Demikian pintarnya
Setan sehingga
kalau ada orang yang berani menegur, mereka
yang menegur itulah yang
akan dituduh Kaum Muda (
Wahabi, -pen) yang
mengubah-ubah agama dan
membongkar-bongkar masalah khilafiyah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 309, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH YAASIIN
"Dan mereka ambil yang selain Allah jadi tuhan-tuhan." (pangkal ayat 74).
Yang
lebih lucu lagi ialah jika orang yang datang ziarah
dipungut bayaran dan bayaran itu masuk ke dalam kantong tukang-tukang jaga itu.
Tuhan-tuhan dipersewakan oleh orang-orang yang menyembahnya.
"Maka janganlah kata-kata mereka mendukacitakan engkau!" (pangkal ayat 76).
Karena berbagai macam celaan dan makian akan mereka sampaikan atau telah mereka sampaikan kepada engkau, ya Muhammad!
"Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan." (ujung ayat 76).
Kalau berhala tidak dipuja lagi tentu
pengunjung akan
sepi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 450-451, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
BEBAS DARI RASA TAKUT
Mukmin sejati jika tampil ke medan peperangan, walaupun menghadapi
tombak dan
pedang atau
bom atom atau
bom nuklir, tidaklah takut
menghadapi maut.
Sebab sebelum mati dia
sudah yakin bahwa
mati itu
pasti datang dan
lebihlah mulia apabila
seseorang mencapai mautnya sebagai seorang
syahid menegakkan
jalan Allah.
"Dan inilah hujjah Kami yang telah Kami datangkan dianya kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." (pangkal ayat 83).
Hujjah artinya ialah alasan suatu pendirian atau
pertahanan, baik ketika
menangkis bantahan lawan atau ketika
menyerang pendirian lawan itu.
Hujjah demikianlah yang telah dianugerahkan Allah kepada Ibrahim yang disebut pada ayat 81 dan 82 sehingga kaumnya tidak dapat bangkit lagi mempertahankan alasan mereka, bahkan sebagai kita ketahui, akhirnya
Ibrahim pun
lebih berani, dicincangnya berhala mereka.
"Kami angkatkan beberapa derajat barangsiapa yang Kami kehendaki."
Artinya,
diangkatkan derajat orang yang lebih teguh pendiriannya dan
lebih kuat hujjahnya, lebih
tepat alasannya, sebab
dia di pihak benar dan
sebaliknya menurunlah derajat
orang yang
pendiriannya tidak benar, walaupun dengan gigih mereka mempertahankannya.
"Sesungguhnya Tuhan engkau adalah Maha Bijaksana Maha Mengetahui." (ujung ayat 83).
Dengan
kedua sifat Allah itu,
bijaksana dan
mengetahui, Allah membimbing orang yang berilmu, menaikkan derajatnya ke tingkat yang tinggi itu dengan izin Allah dan dia pun akan bertambah naik derajat bila diteladaninya kedua sifat Allah itu, yaitu di samping berilmu hendaklah dia bijaksana.
Nabi Ibrahim pun telah memakai
kedua sifat ini,
bijaksana dan
ilmu, hingga
derajatnya tinggi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 202-205, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
IMAN BELUM! ISLAM YA!
"Jika adalah kamu semuanya benar-benar jujur." (ujung ayat 17).
"Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Pengampun."
Atas
kelancangan mulut
mengakui diri telah
beriman.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 433-434, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
KESIMPULAN
Lantaran itu, dengan ayat ini kita mendapat pengajaran bahwasanya percaya kepada hukum Allah dan Rasul
janganlah separuh-separuh.
Islam yang berintikan
tauhid, sekali-kali tidaklah mau dicampuri dengan kepercayaan-kepercayaan
syirik, mempercayai
jibti dan
thagut.
Orang
Yahudi di zaman Nabi, mengakui memeluk agama ajaran Nabi Musa, tetapi
mereka masih mencampur-aduk dengan
jibti dan
thagut.
Janganlah orang Islam setelah jauh dari Nabi Muhammad saw.
mengakui umat Muhammad padahal
kepercayaannya bersimpang siur kepada yang lain, kepada
jibti dan
thagut, kepada
kubur dan kayu, kepada batu dan tukang ramal.
Di ayat 65 akan kita baca
penegasan Allah, dengan sumpah bahwa
orang yang tidak mau menerima Tahkim dari
Allah dan Rasul-Nya,
Tidaklah termasuk
orang yang
beriman,
"Walau shallaa, walau shaama!"
Walaupun dia
Shalat, walaupun dia
Puasa.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 352-353, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Jika ada keyakinan bahwa ada ajaran lain untuk mengatur masyarakat yang lebih baik dari Islam,
kafir-lah orangnya,
walaupun dia masih shalat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 357, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan yang demikian itulah agama yang lurus." (ujung ayat 5).
Tidaklah mereka itu
diberi perintah melainkan dengan
segala yang telah diuraikan itu.
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir." (pangkal ayat 6).
Yaitu
orang-orang yang sengaja
menolak, membohongkan, dan
memalsukan ajaran-
ajaran yang dibawa oleh
Nabi Muhammad saw., padahal kalau mereka pakai akal yang sehat, tidak ada satu jua pun yang dapat dibantah sehingga
mereka menolak itu
hanya karena alasan
hawa nafsu belaka.
"Dari Ahlul Kitab dan musyrikin itu."
Yaitu orang Yahudi dan Nasrani dan musyrikin penyembah berhala.
"Adalah di neraka Jahannam, yang akan kekal mereka padanya."
Di sanalah mereka akan mendapat
adzab dan
siksanya tanpa kesudahan.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 266-267, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"
Kebanyakan orang Islam yang
tidak tahu di waktu ini,
yang dibenci bukan lagi
pelajaran Wahabi,
melainkan nama Wahabi." (Buya HAMKA).
(Buya HAMKA, DARI PERBENDAHARAAN LAMA: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara, Hal. 215, Penerbit Gema Insani, Cet.1, Agustus 2017).
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa Allah menurunkan surah tentang
Abu Lahab dan
istrinya ini akan
menjadi pengajaran dan
i'tibar bagi manusia yang mencoba berusaha hendak
menghalangi dan
menantang apa yang diturunkan
Allah kepada
Nabi-Nya karena memperturutkan
hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan
adat-istiadat yang
karut-marut.
Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya dengan dia kaya, tujuannya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karena berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Allah, dan harta bendanya yang telah dibelanjakan habis-habisan untuk maksud yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka.
Demikian Ibnu Katsir.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 317, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan dengan kitab yang bercahaya." (ujung ayat 25).
Imam Malik mula bertemu dengan murid barunya, yang kelak akan menggantikan kebesarannya, yaitu
Imam Syafi'i, belum beberapa jenak duduk berhadapan, telah berkata kepada murid itu,
"Aku lihat pada hatimu ada cahaya, maka janganlah engkau padamkannya dengan melakukan maksiat."
Imam Waki pun mengatakan seperti itu pula kepada
Syafi'i,
"Jangan kau kotori dirimu dengan dosa, aku takut cahaya itu hilang."
Ini adalah firasat ulama tentang cahaya itu, '
cahaya Allah.'
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 7 Hal. 368-369, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Buya HAMKA adalah seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang
dihormati dan
disegani di kawasan
Asia hingga Timur Tengah.
Pengabdian dan pengorbanan Buya HAMKA dalam membangun kesadaran umat Islam mendapat apresiasi dari Pemerintah berupa gelar
Pahlawan Nasional pada Tahun 2011.
kebudayaan.kemdikbud.go.id/buya-hamka-sosok-suri-tauladan-bermulti-talenta
KENANG-KENANGAN HIDUP
Lain daripada itu, dia dapat berkenalan pula dengan beberapa orang Serdadu Nejd. Rupanya timbullah persahabatan karib antara mereka.
Kepada teman-temannya yang lain, dia diperkenalkan sebagai orang alim yang teguh memegang
Madzhab Wahabi.
Kalau dia bertanya: "Buat apa bedil ini?"
Serdadu menjawab: "Buat tembak Inggris!"
(Buya HAMKA, Kenang-kenangan Hidup: Buku Satu, Hal. 129, Penerbit Balai Pustaka, Cet.1, 2015).
SURAH AL-FAATIHAH
(PEMBUKAAN)
"Dan bukan jalan mereka yang sesat." (ujung ayat 7).
Adapun
orang yang
sesat ialah orang yang
berani-berani saja membuat jalan sendiri
di luar yang
digariskan Allah.
Tidak mengenal kebenaran atau
tidak dikenalnya menurut
maksudnya yang
sebenarnya.
Orang-orang yang telah mengaku beragama pun bisa juga tersesat.
Kadang-kadang
karena terlalu taat dalam beragama lalu ibadah
ditambah-tambah dari
yang telah ditentukan dalam
syari'at sehingga timbul
bid'ah.
Disangka masih dalam
agama, padahal
sudah terpesong ke luar.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 77-78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Dalam hukum agama, nyatalah bahwa
mempelajari bacaan
al-Faatihah dan
mengetahui artinya dalam
fardhu, wajib bagi
tiap-tiap Muslim.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 89, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
YANG MENOLONG ALLAH, ALLAH MENOLONGNYA
"Dan neraka adalah tempat diam mereka." (ujung ayat 12).
Ancaman demikian kepada
orang yang pikirannya hanya sekadar cari makan dengan
kehilangan cita-cita ialah karena dia
Manusia.
Kalau
Kuda atau
Kambing, tidaklah ada ancaman akan
masuk neraka sebab tidak ada pada mereka
akal yang akan
jadi sebab tuntutan atas diri mereka.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 336, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Bagi Indonesia yang masih gamang merumuskan jati dirinya setelah lebih 71 Tahun merdeka,
karya-karya HAMKA perlu disebarluaskan terus-menerus karena di dalamnya berhimpun
pesan abadi untuk kebesaran dan kedaulatan bangsa ini.
HAMKA sangat mencintai Indonesia.
Jiwa juang HAMKA pasti berontak menyaksikan
sebagian anak-anak bangsa yang sampai hati melukai Indonesia dengan tangan-tangan kumuh berlumur darah.
PENUTUP
Akhirnya, sebagai penutup, saya kutipkan pengakuan
A.R. Fachruddin 39 Tahun yang lalu tentang jasa HAMKA kepadanya,
"... Buya HAMKA adalah orang tua dalam Muhammadiyah. Namun, saya merasa bahwa beliau tetap memberikan rasa hormat kepada orang-orang yang lebih muda, termasuk saya. Bahkan, yang menaikkan saya sampai menjadi Ketua Muhammadiyah mulai Tahun 1968 sampai sekarang (1978) ini pada lahirnya, hanyalah karena Buya HAMKA."
-Disampaikan pada Forum Seminar "Refleksi Pemikiran HAMKA & Peletakan Batu Pertama Pesantren Modern Terpadu Prof. DR. HAMKA", Padang, 25 Maret 2017.
(James R. Rush, ADICERITA HAMKA: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Hal. xvii-xviii, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet.1, 2017).
Saya sudah mengalami satu bukti bagaimana bangkrutnya (gagal-nya) kekolotan dipertahankan dengan kekuasaan di Johor itu pada
Tahun 1960.
Mufti Johor telah mengenal saya sebagai
Kaum Muda dan
Wahabi dari
Indonesia.
Kita mempunyai keyakinan dengan
kepala negara pemimpin besar revolusi kita (Presiden Soekarno atau
"Bung Karno", Presiden Republik Indonesia ke-1, -pen) bahwa kita harus menggali
api Islam sehingga
semangat jihad itu
berkobar kembali.
Jihad menurut agama,
revolusi menurut istilah negara.
Namun, kita pun harus sadar bahwa
akan terdapat sebagian besar dari umat itu yang
tidak mau kekolotannya disinggung,
Tidak mau penyakitnya diobati, karena
obat itu pahit.
Kita pun harus sadar
akan ada golongan yang tersinggung puncak bisul (kedudukan)-nya jika kita
membuka soal agama.
Kadang,
kita akan dituduh sebagai pemecah belah persatuan, dilarang membahas, mengutik-utik masalah khilafiyah.
Dengan segala daya upaya kita telah memilih jangan menyinggung, jangan berkhilafiyah.
Namun, oleh karena soal khilafiyah itu ternyata sangat relatif maka terkadang
jika kita memberantas perbuatan yang tidak berasal dari Islam, kita pun
dituduh memecah persatuan.
Kalau kita renungkan
hari depan Islam di tanah air, kita menjadi ingat bahwa
tugas ini
tidak boleh berhenti.
Dihentikan adalah dosa.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Berjuanglah terus, wahai mubaligh menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan.
Terhadap sesama pemeluk Islam, ambillah satu sikap yang paling baik.
Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan.
Jika engkau dihina, muliakan mereka!
Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas agar sampai tersundak ke langit.
Adapun kemuliaan yang sejati hanyalah pada siapa yang lebih takwa kepada Allah!
Oleh karena itu, ketika orang-orang berebut keuntungan duniawi, mari kita merebut takwa!
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
PESAN-PESAN ISLAM KH. AGUS SALIM
NEGARA-NEGARA ISLAM MENCAPAI KEMERDEKAAN
Sayang sekali, saya tidak dapat menyajikan isi pidato teman saya,
Mohammad Natsir, yang diucapkannya di hadapan Majelis Perwakilan Rakyat di Karachi.
Pidato itu diulanginya pula di Beirut, Ibu Kota Lebanon; di Damaskus, Ibu Kota Suriah; di Bagdad, Ibu Kota Irak; di Kairo, Ibu Kota Mesir; serta di Makkah, Ibu Kota Hijaz, yang merupakan wilayah Kerajaan Arab Saudi.
Pada
hakikatnya dalam pidatonya itu
ditegaskan bahwa
teokrasi dalam bentuk yang dikenal di dunia Barat,
tiada dasarnya dalam agama Islam.
Maka aliran kelima ini, yang keseluruhannya
dikenal dengan sebutan
kaum Syi'ah, yaitu
aliran yang
membangkang,
Telah saya singgung bahwa
kaum Syi'ah sepanjang sejarah menjadi
penganut paham
teokrasi melalui
golongan pendeta atau
imam.
(KH. AGUS SALIM, PESAN-PESAN ISLAM: KULIAH-KULIAH MUSIM SEMI 1953 DI CORNELL UNIVERSITY AMERIKA SERIKAT, Hal. 210, Penerbit Mizan, Cet.I, Mei 2011).
HAJI AGUS SALIM
Pada suatu hari di bulan Oktober 1937 pengarang berziarah ke rumah
ahli pikir kita, Haji Agus Salim.
Setelah mendengar
wejangannya yang begitu mendalam, saya berpikir,
tidak semua orang bisa memahami pikiran-pikiran Beliau.
Lalu
saya berkata dengan tersenyum,
"Ah, engku terlalu lekas datang ke dunia, sehingga apa yang engku katakan dan pikirkan, belum dapat diterima oleh orang sekarang entah kalau 50 Tahun lagi".
Dengan tersenyum beliau menjawab,
"Perkataan yang demikian telah pernah pula diucapkan orang lain kepadanya, Prof Schrieke berkata, kata beliau, pikiran ini bukan buat 50 Tahun lagi, tetapi buat 100 Tahun lagi."
Demikianlah paham
H. Agus Salim seorang
intelektual, yang lahir mendahului zamannya yang berpikir bukan buat ketika hidupnya, dan memang rupanya sudah ditakdirkan demikian, tetapi
buat generasi yang akan datang di belakang.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 282, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
YAZID I
Setelah terdengar oleh golongan yang setia kepada
Ali dan keturunannya (yang kemudian lebih dikenal dengan nama
Syi'ah) di Kufah bahwa
Muawiyah meninggal (Tahun 60 H atau 580 M), dan Yazid diangkat menjadi penggantinya di Syam, mereka pun mengirimkan surat kepada
Husin ibnu Ali memintanya datang ke Kufah karena mereka ingin mengembalikan kekuasaan pada keturunan Ali. Setelah membaca surat itu, berangkatlah ia dari Mekah,
tidak diikutinya nasihat beberapa orang pandai yang
melarang ia berbuat demikian.
Nasihat itu
tidak diindahkannya, ia
percaya benar pada surat
orang-orang Syi'ah di Kufah.
Padahal, orang di Kufah itulah yang
selalu mengecewakan ayahnya pada waktu dahulu.
Husin pun berangkat meninggalkan Mekah bersama anak-anaknya serta beberapa orang pengiring.
Setelah dekat dari Kufah, barulah didengarnya bahwa Bani Umayah telah bersiap hendak menentangnya, tetapi ia tidak mau kembali ke Hijaz lagi.
Setelah terdengar bahwa Husin tidak dapat mengurungkan niatnya lagi, Yazid mengirim tentara dikepalai oleh
Ubaidillah ibnu Zayyad.
Di tengah padang yang bernama
Karbala, bertemulah kedua belah pihak.
Padahal,
tentara Husin sedikit jumlahnya, yang terbanyak hanyalah kaum kerabat, anak, dan istrinya saja.
Husin mati terbunuh di situ, kepalanya diceraikan dari badannya dan dibawa ke Damsyik ke hadapan Yazid.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 191-192, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
HASAN IBNU SABAH
Pada zaman pemerintahan Raja Malik Syah dan wazirnya, Nizamul Mulk yang terkenal,
muncullah satu kekuasaan yang
sangat mengerikan bagi
dunia Islam pada waktu itu, yaitu sebuah cabang dari
Syi'ah Isma'iliyah atau
Batiniyah dipimpin oleh Hasan ibnu Sabah.
Kaum ini tidak mau takluk dan tidak mau mengakui segala macam kekuasaan. Mereka menentang khalifah di Baghdad atau Bani Sauk. Mereka menyiarkan semacam paham yang pada pokoknya mengakui hanyalah keturunan Ali ibnu Abi Thalib yang berhak penuh memegang kekuasaan, dan orangnya ialah Isma'il ibnu Imam Ja'far as-Shadiq ibnu Imam Muhammad al-Baqir ibnu Imam Zainal Abidin ibnu Imam Husin ibnu Imam Ali ibnu Abi Thalib, yaitu imam yang ketujuh, termasuk Hasan ibnu Ali.
Hasan ibnu Sabah pergi ke Iran dan dapat merampas sebuah benteng yang bernama Alamut. Di sanalah ia bersembunyi dan dari sana ia mengendalikan kekuasaannya pada pengikut-pengikutnya yang sangat setia yang ditebarkannya di seluruh negeri dan kerajaan-kerajaan Islam yang sedang berpecah-belah.
Pengikut-pengikut itu diambil dari orang-orang melarat yang dikobar-kobarkan pada mereka, perasaan anti kekuasaan. kekuasaan mana pun. Dijanjikan pada mereka bahwa imam besar yang ghaib itu sudah dekat kedatangannya untuk membawa keadilan sejati di alam ini.
Mereka dilatih membunuh dan dikirim ke seluruh istana raja untuk membunuh raja-raja menurut daftar yang telah ditentukan oleh pemimpin besarnya, Hasan ibnu Sabah, yang bergelar Syaikh al-Jabal (pemimpin di gunung) sebab ia tinggal bersembunyi di dalam benteng yang teguh (Benteng Alamut) di atas gunung itu.
Terkenal juga pengikutnya dengan nama
Hasysyasyin, diambil dari kata
hasyisy, artinya
rumput ganja, sebab apabila mereka sudah diberi pelajaran, mereka disuruh memakan
ganja sehingga
mabuk, dan apabila mereka telah mabuk,
mereka seakan-akan ada di dalam surga,
dikelilingi oleh
anak-anak bidadari yang
cantik jelita, yaitu
perempuan-perempuan cantik yang
ditawan dan
dikumpulkan di dalam gua, itulah
surga, kata Hasan ibnu Sabah. Sampai sekarang ini, kata
Hasysyasyin telah menjadi bahasa yang umum dipakai di negeri-negeri Eropa dengan sebutan
assasin, dipergunakan menjadi istilah untuk
pembunuh-pembunuh karena
persengketaan politik.
Pengikut-pengikutnya harus taat setia pada Syaikh al-Jabal, orang-orang yang diperintahnya agar dibunuh harus dibunuh sehingga banyaklah orang-orang besar yang mati begitu saja, baik di jalan raya maupun di dalam istananya sendiri dengan tidak diketahui siapa pembunuhnya sehingga bertambah takutlah orang akan bahaya kaum
assasin itu. Sultan Sanyar telah berkali-kali mencoba menyusun tentara untuk menaklukkan Benteng Alamut, tetapi tidak berhasil.
Dalam suatu perjalanan pergi memerangi mereka, ketika baginda tersentak dari tidurnya didapatinya sebuah khanjar (badik) telah tertancap di kasur, tepat di dekat jantungnya, pada hulu khanjar (badik) itu ada secarik kertas bertuliskan,
"Jangan diteruskan peperangan ini karena kalau kami bermaksud hendak membunuh tuan, tidak ada satu kekuatan yang dapat menghalangi."
Setelah Hasan ibnu Sabah mati, kekuasaannya diteruskan oleh anak cucunya dan tidak ada suatu kerajaan pun yang dapat memusnahkan bahaya yang besar ini. Barulah musnah setelah datang banjir bangsa Mongol.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 317-318, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Bangunlah wahai Kaum Muslimin dari tidur nyenyakmu,
Bersatulah menentang penjajahan yang telah menghancurkan sisa-sisa kekuatan yang ada padamu,
Tegak dan lawanlah raja-rajamu sendiri yang menjadi penghalang dari kebangkitanmu.
Bebaskanlah jiwamu daripada
khurafat, syirik dan
bid'ah yang
telah menyebabkan kamu hancur!
-Jamaluddin Al-Afghani.
(Buya HAMKA, Ayahku, 137, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
Mengawali langkah pembaruan atau tajdid dengan langkah-langkah di atas merupakan langkah yang umum dipakai para pembaru di era modern, termasuk Muhammadiyah. Sebagai langkah awal dalam melakukan tajdid, apa yang dilakukan oleh
Syeikh al-Islam Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab adalah langkah tepat.
Setidaknya, hal ini diakui oleh
L. Stoddard. Dia mengatakan:
"Ketika dunia Islam diliputi kegelapan tiba-tiba bergemalah seruan dari padang pasir, tempat lahir Islam, memanggil kembali ke jalan yang benar. Yang meneriakkan seruan itu ialah juru ishlah yang termasyhur Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab. Ia menyalakan api yang membakar dunia Islam. Ia menggerakkan dunia umat Islam untuk memperbaiki jiwa dan membangkitkan kemegahan dan kebenaran. Kebangkitan perkasa dunia Islam mulailah." (Stoddard. Lothrop, 1966: 30).
(MUHAMMADIYAH & WAHHABISME: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru, Hal. 139, Penerbit Suara Muhammadiyah, Cet. Kedua, 2013).
SEDERHANA PADA HARTA BENDA
Di Turki, ada ulama yang menfatwakan bahwa pemerintahan
Mustafa Kemal itu haram hukumnya, murtad, wajib diperangi, halal darahnya, sebab dia hendak mengubah negeri Turki.
Tetapi tentara
Inggris yang telah
melabuhkan kapal perangnya di muka pelabuhan Istanbul,
tidak ada hukumnya. Apakah sebabnya? Tidak lain karena
para ulama telah diberi harta oleh Inggris.
Astaghfirullah!
Manusia tidak enggan
mempermainkan ayat, hadits karena
tamak akan harta.
Mempermainkan nama martabat bangsa, bahkan martabat diri sendiri pun mereka tidak enggan, karena harta adalah segalanya.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 204, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
XII. Muhammad Saw. Orang Besar yang Telah Mengeluarkan Manusia dari Kejatuhan
Di dalam Islam telah datang
Muhammad bin Abdul Wahhab dan
Sayid Jamaluddin al-Afghany.
Pemikir dan
pejuang yang
menyeru orang supaya kembali kepada
jalan yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad juga.
Tidaklah cukup kitab untuk memaparkan jasa masing-masing dari pejuang itu.
(Buya HAMKA, Lembaga Hidup: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 377-378, Republika Penerbit, 2015).
KEMULIAAN
Jaranglah orang berjasa yang mendapat pangkat dunia. Sebab pangkat dunia itu didapat dengan saling berebutan dan saling berkejaran, saling menekan, dan saling memfitnah.
Orang berjasa tidak pandai berbuat begitu. Dia mau mendapat kemenangan yang sah; walaupun tak dilihatnya dengan mukanya ketika hidupnya.
Dia hendak melihat kemenangan itu sesudah matinya, yang kian nyata, dan kian lama kian subur.
Jika dia dihinakan, dicela, dan dimaki karena pikirannya yang merdeka, maka ucapannya ialah sebagaimana syair Arab,
Biarkan daku berkata, dan namailah saya apa pun yang kau suka namakan,
Saya adalah pemaaf dan pemurah.
Cuma satu yang saya tak sanggup menjualnya, yaitu kemerdekaan hati saya sendiri,
Cobalah katakan kepadaku, siapakah yang sudi menjual kemerdekaan hatinya?
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 285-286, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
Ma'ruf Amin: Sekarang Ulamanya Kurang Pintar, Setannya Pintar-Pintar
republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/19/oq6fbh396-maruf-amin-sekarang-ulamanya-kurang-pintar-setannya-pintarpintar
Oleh ahli-ahli dibagilah amanah itu kepada tiga bagian,
2. Amanah terhadap sesama Hamba Allah.
Ulama-ulama yang
membangkit-bangkit masalah khilafiyah yang
membawa fitnah dalam kalangan umat
adalah pengkhianat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 339, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
DASAR ORANG MUSYRIK
"Dan barang yang tidak ada ilmu mereka terhadapnya."
Tiap-tiap ditanya orang yang menyembah atau memuja kepada yang
selain Allah itu, apa sebab
berhala itu, atau
pohon rindang itu, atau
keris itu, atau
lembu itu, atau
kuburan si anu itu disembahnya? Tidaklah seorang juga yang dapat memberi keterangan yang pasti dan ilmiah apa sebab itu dia sembah.
Tidak ada pengetahuan yang dapat dipegang yang mereka kemukakan.
Umumnya hanya dongeng atau
memperbodoh diri sendiri atau
diperbodoh oleh juru kunci. Atau mereka jawab kalau ditanyai bahwa sudah begitu didapati
diperbuat oleh nenek moyang dahulu kala. Kami hanya tinggal
meniru saja.
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, memberikan keterangan." (pangkal ayat 72).
Bahwa menyembah kepada yang selain Allah itu adalah
dosa yang paling besar, dengan keterangan-keterangan yang cukup,
"Engkau ketahui pada wajah-wajah orang-orang yang kafir itu keingkaran."
Artinya, dapat saja engkau ketahui pada wajah mereka bahwa mereka tidak senang.
"Hampir saja mereka menyerbu orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka."
Karena mereka sangat marah.
Mereka tidak mau disinggung kebiasaan mereka menyembah-nyembah yang selain Allah.
Karena
mereka tidak mempunyai kepandaian untuk membalas, atau karena memang tidak ada alasan yang masuk akal atas perbuatan mereka,
mereka pun marah.
Mereka mau saja main pukul atau sampai kepada menganiaya dan membunuh.
"Katakanlah" olehmu hai Rasul,
"Apakah akan aku beritakan kepada kamu yang lebih buruk dari itu?"
Dan kalau aku katakan apakah kamu akan marah juga?
"Api neraka yang telah dijanjikan Allah untuk orang-orang yang tidak mau percaya."
Kabar ini sangat buruk bagimu.
Api neraka tidak akan dapat kamu tolak atau kamu elakkan, semata-mata dengan marah.
"Dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (ujung ayat 72).
Lebih baik dari
waktu hidup di dunia sekarang inilah seburuk-buruk tempat kembali itu kamu jauhi!
Dan itulah sebabnya maka hal itu disampaikan sekarang.
Tanda
belas kasihan Allah kepadamu.
"Tidaklah mereka menilai Allah sebenar-benar penilaian." (pangkal ayat 74).
Orang-orang yang menyembah kepada yang selain Allah itu percaya juga bahwa Allah ada.
Tetapi
mereka tidak mau mengerti atau
salah mengerti tentang Allah.
Kadang-kadang ada di kalangan mereka menyembah berhala, katanya karena berhala itulah yang akan menyampaikan keinginannya kepada Allah.
Katanya, Allah itu serupa dengan seorang raja besar; kita
tidak dapat langsung saja datang menghadap, kalau tidak pakai
perantaraan.
Yang lebih disayangkan lagi ialah
kesalahan penilaian mereka tentang arti
wali Allah.
Allah berfirman,
"Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak ada duka cita; yaitu orang-orang yang beriman dan mereka adalah bertakwa." (Yuunus: 61-62).
Dengan ayat ini
Allah membuka pintu selebar-lebarnya bagi semua orang untuk jadi
wali Allah.
Syarat yang mesti dipenuhi hanya dua saja;
Pertama
iman, kedua
takwa.
Tetapi mereka tidak menilai Allah dengan sebenar penilaian, mereka tidak mau memasuki pintu yang terbuka itu.
Melainkan mereka pergi ke
kuburan orang yang
mereka anggap di masa hidupnya jadi
wali, lalu dia memohon apa-apa di situ.
Padahal
ayat-ayat itu menyuruh orang bertauhid, mereka lakukan sebaliknya, jadi musyrik.
Kalau ditegur dia marah, hingga mau dia
menyerang orang yang menegurnya itu,
seperti tersebut pada ayat 72 di atas tadi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 153-156, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Kecuali sesudah Tuhan memberikan keizinan untuk barangsiapa yang dikehendaki-Nya dan diridhai-Nya." (ujung ayat 26).
Sudah jelaslah bahwasanya malaikat-malaikat yang sangat banyak itu dengan taat serta mengerjakan apa yang diperintah Allah, menjadi contoh dan teladan bagi manusia, bahkan mereka berani membanggakan diri, di hadapan Allah ketika Allah bermaksud hendak mengangkat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Maka dalam ayat ini ditegaskan bahwasanya keshalihan malaikat menyembah Allah, demikian juga bilangan mereka yang berlipat ganda lebih banyak dari manusia, namun malaikat-malaikat itu juga tidak mendapat kekuasaan sama sekali akan memberikan syafa'at atau pembelaan bagi manusia, kalau Allah tidak mengizinkan.
Oleh sebab itu nyatalah bahwa malaikat tidak mendapat kekuasaan apa-apa dan manusia pun tidak, kalau Allah tidak mengizinkan.
Maka ayat ini dapatlah memberikan paham bagi kita manusia, bahwa langsunglah memohon kepada Allah, janganlah mengharapkan pertolongan dari yang lain.
Karena yang lain itu hanya dapat memberikan syafa'at kalau Allah mengizinkan.
Dan pertimbangan dalam pemberian izin itu terserah kepada ke Maha bijaksanaan Allah sendiri.
Ayat ini pun menambah teguhnya ajaran tauhid, sebagai memperkukuh ayat-ayat yang datang sebelumnya tadi.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 8 Hal. 547, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
OJO SAK ENAKE DEWE
Jika pekerjaan itu ternyata
salah dan sesat, hendaklah salahkan diri itu, sesali,
bayangkan bahayanya dan celakanya.
Sehingga lantaran memikirkan itu timbul kehendak tobat sesal.
Timbul janji dalam batin, bahwa yang salah tidak akan dilakukan lagi.
Jangan ditutup pintu bagi orang lain pada perkara yang berhak dia masuk.
Misalnya jika ada perbuatan kita yang salah, ditegur orang, lalu kita jawab,
"Peduli apa tuan atas diriku, jika ini perbuatan berbahaya, bukan tuan yang akan menanggungkan".
Jawaban itu salah.
Yang akan rugi bukan kita yang mempunyai diri saja, tetapi masyarakat.
Sebab dengan pintu yang kita tutupkan itu, kita telah mengikat diri sendiri di dalam daerah kita.
Kita tidak masuk lagi ke dalam masyarakat.
Dan masyarakat pun tidak masuk lagi ke daerah kita.
Masyarakat kehilangan seorang manusia yang berguna untuk menyempurnakan jalannya.
Budi pekerti mempunyai undang-undang bukan untuk orang seorang saja.
Undang-undang budi menghendaki enak bersama, manis bersama dan pahit pun menurut rasa bersama.
Bukan
nafsi-nafsi menurut mau sendiri-sendiri saja.
Bahasa Jawa,
"Ojo sak enake dewe."
(Buya HAMKA, Lembaga Hidup: Ikhtiar Sepenuh Hati Memenuhi Ragam Kewajiban untuk Hidup Sesuai Ketetapan Ilahi, Hal. 79, Republika Penerbit, 2015).
"Dan bahwa sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Sebab itu, turutilah dia." (pangkal ayat 153).
Tegasnya, jalan yang lurus hanya satu, yaitu yang digariskan oleh Allah. Dengan petunjuk Allah, Nabi Muhammad saw. telah menempuh jalan Allah yang satu dan lurus itu. Asal jalan Muhammad itu yang kamu turuti maka itulah jalan Allah. Sebab Muhammad menempuh jalan itu dengan tuntunan wahyu.
Jalan inilah yang dijamin sampai pada tujuan.
Lain dari jalan yang satu itu, ada lagi bermacam-macam jalan, bersimpang-siur jalan.
Yakni jalan yang dibuat
Setan atau jalan yang dibuat khayalan manusia, jalan
syirik, jalan
khurafat, dan jalan
bid'ah.
Kadang-kadang diperbuat oleh manusia, dikatakannya agama,
padahal bukan agama.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 340-341, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
RASA BENCI
Membaca tulisan
walaupun bagaimana keras dan panas isinya, tidaklah menyakitkan hati kalau cinta telah ada kepada penulisnya.
Tetapi meskipun tidak keras, biasa saja, kalau lebih dahulu
telah ada perasaan hasad-dengki, bukan main besar kesannya kepada hati
si pembenci dan
pendengki itu.
Dia merasa saja bahwa dia disindir!
Sebab itu
hapuskanlah sifat benci, gantilah dengan
sifat cinta.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 361, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
Ketua MUI KH Ma'ruf Amin berharap IBF bisa melahirkan
para penulis buku yang
berbobot untuk
melanjutkan kiprah para ulama seperti Buya HAMKA.
"Umat kini merindukan ulama seperti itu," kata Kiai Ma'ruf.
republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/04/opetdp384-kiai-maruf-harap-ibf-lahirkan-penulis-penerus-para-ulama
Umur badan terbatas. Umur batu nisan kadang-kadang lebih panjang dari umur badan, tetapi umur jasa dan kenangan lebih panjang dari umur batu nisan. Sebab itu Jalaluddin Rumi pernah mengatakan ketika orang minta izin kepadanya hendak membuatkan kubah pada kuburannya nanti apabila dia telah mati,
"Tak usahlah nisan dan kubah pada kuburanku. Kalau hendak menziarahi aku, temuilah aku dalam hati orang yang mengenal ajaranku."
(Buya HAMKA, Lembaga Budi: Menegakkan Budi, Membangun Jati Diri Berdasar Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, Hal. 178, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
RENUNGAN BUDI
Banyak Guru Agama yang gagal dan mengeluh karena kegagalannya.
Dia mendahulukan 'usran daripada yusraan, mendahulukan yang sukar daripada yang mudah.
Kadang-kadang dia hendak membuat agama menurut kehendaknya,
Bukan menurut kehendak Tuhan.
(Buya HAMKA, Lembaga Budi: Menegakkan Budi, Membangun Jati Diri Berdasar Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, Hal. 164, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
DAKWAH
Setengah ahli tafsir mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan
al-khairi yang berarti kebaikan di dalam ayat ini ialah
Islam; yaitu memupuk kepercayaan dan
iman kepada Allah, termasuk
tauhid dan
ma'rifat.
Kalau
kesadaran beragama belum tumbuh, menjadi
sia-sia sajalah menyebut yang ma'ruf dan menentang yang mungkar.
Suatu dakwah yang mendahulukan hukum halal dan hukum haram, sebelum orang menyadari agama, adalah
perbuatan yang percuma,
Sama saja dengan seseorang yang
menjatuhkan talak kepada istri orang lain.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 25, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SINAR CAHAYA
"Sungguh telah datang kepada kamu dari Allah, suatu cahaya dan suatu kitab yang nyata." (ujung ayat 15).
Dan sumber
Al-Qur'an dan Sunnah inilah kita mendapat apa yang dikatakan
Islam.
"Dan dia menunjuki mereka kepada jalan yang lurus." (ujung ayat 16).
Setelah hilang gelap, timbullah terang dan cahaya.
Inilah akibat selanjutnya dari mendapat cahaya hidayah itu, yaitu mendapat jalan yang lurus.
Dalam ayat ini kita mendapat
3 tingkat kebahagiaan.
Pertama, mendapat jalan kedamaian. Damai dalam jiwa dan damai dalam pergaulan hidup, sesama manusia, oleh karena mendapat pendirian yang benar.
Kedua, keluar dari gelap gulita kejahilan, khurafat, dan pikiran kacau, karena dipimpin secara tidak jujur oleh pemuka-pemuka agama, sehingga orang tidak boleh berpikir bebas, bahkan diwajibkan musti tidak berpikir, dan apa yang beliau pikirkan sajalah yang wajib dianggap benar.
Ketiga, jalan yang lurus, yaitu jalan yang cepat sampai kepada tujuan. Sebab dia tidak bengkok-bengkok, berbelok-belok memusingkan kepala.
Dan bagi orang yang mengakui dirinya sendiri pun, untuk mencapai ketiga perkata ini, yaitu jalan-jalan yang damai, sinar hidayah dalam jiwa, jalan yang lurus menuju Allah, hanya akan tercapai apabila mereka kembali mengambil pedoman dari Al-Qur'an itu sendiri dan Sunnah Rasul, sebagai penerang bagi isi Al-Qur'an itu.
Dan bila mereka telah meninggalkan Al-Qur'an, lalu jatuh ke dalam
cengkeraman taqlid, menurut saja kepada kehendak penafsiran guru-guru, meskipun tidak terterima oleh akalnya,
mereka pun akan hidup dalam gelap, sebagaimana gelapnya Ahlul Kitab karena pendetanya sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 643-645, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
"Dan, demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu supaya mereka kembali." (ayat 174).
Artinya, Allah mengemukakan ayat-ayat ini yang di sini berarti
keterangan dari dalil, maksudnya ialah
supaya orang-orang yang telah tersesat atau
salah berpaham itu
kembali kepada jalan yang benar.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 597, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
SURAH AL-KAAFIRUUN (ORANG-ORANG KAFIR)
"Katakanlah, "hai orang-orang kafir! Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah."" (ayat 2).
Menurut tafsiran
Ibnu Katsir yang disalinkan dari
Ibnu Taimiyah, arti ayat yang kedua,
"Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah", ialah menafikan perbuatan
(nafyul fi'li). Artinya, perbuatan begitu tidaklah pernah aku kerjakan.
Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini: "Katakan olehmu wahai utusan-Ku, kepada orang-orang kafir itu, bahwa aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu; kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja, sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah, perkataanmu itu bohong, karena kamu adalah musyrik. Sedang Allah itu tidak dapat diperserikatkan dengan yang lain. Dan ibadah kita pun berbeda. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku seperti cara kamu menyembah berhala. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan,
"Bagi kamu agama kamu, bagiku adalah agamaku pula." Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita."
Surah ini memberi
pedoman yang tegas bagi kita, pengikut Nabi Muhammad, bahwa aqidah tidaklah dapat diperdamaikan.
Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil akan mendapat untung. Oleh sebab itu maka aqidah tauhid tidaklah mengenal apa yang dinamai
Cynscritisme, yang berarti menyesuai-nyesuaikan.
Misalnya di antara animisme dengan tauhid,
penyembahan berhala dengan shalat, menyembelih binatang guna
pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz 'Amma Hal. 309-310, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Membongkar struktur masyarakat yang berurat berakar sekaligus, bukanlah kekuatan manusia.
Lihatlah
contoh kecil, yaitu daerah Minang yang berdasarkan masyarakat
keibuan.
Di situlah yang
paling banyak ulama Islam di Indonesia.
Syekh Ahmad Khatib yang berpendapat bahwa
harta pusaka adalah harta
syubhat, terpaksa meninggalkan negeri itu, untuk
menghindarkan diri supaya jangan dipukul oleh fatwanya sendiri.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 185, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
JIBTI DAN THAGUT
Setengah ulama tafsir menyatakan maksud
jibti ialah sihir.
Tetapi setelah digali ke dalam rumpun-rumpun bahasanya, bertemulah
bahwa segala kepercayaan yang tahayul, dongeng, khurafat, yang tidak dapat diterima oleh akal yang wajar, itulah dia jibti.
Thagut berumpun dari kalimat
thaagiyah kita artikan kesewenang-wenangan, melampaui batas, terkhusus kepada
manusia yang telah lupa atau sengaja keluar dari batasnya sebagai insan, lalu mengambil hak Allah.
Atau manusia dianggap Tuhan oleh yang mempercayainya.
Segala pemujaan kepada manusia sampai mendudukkannya jadi Tuhan,
meskipun tidak diucapkan dengan mulut, tetapi bertemu
dengan perbuatan, termasuklah dalam arti
thagut.
Ada
ulama besar yang
disegani, akhirnya
dipandang keramat, lama-lama diikuti
sehingga segala fatwanya wajib dipandang suci seperti firman Allah saja.
Maka
ulama itu telah
menjadi thagut bagi yang mempercayainya.
Apatah lagi setelah dia mati, kuburnya pula yang dipuja-puja, diziarahi untuk meminta
wasilah, menjadi orang perantara akan menyampaikan keinginan-keinginan kepada Allah,
menjadi thagut pulalah dia sesudah matinya.
Atau ada
penguasa negeri yang berkuasa besar.
Orang takut akan murkanya dan orang menghambakan diri kepadanya. Barangsiapa yang mencoba menyatakan pikiran, bebas menyatakan yang benar, ada bahaya akan dihukum, dipenjarakan, diasingkan, ditahan, dibuang, atau dibunuh. Tetapi barangsiapa yang tunduk, taat setia, sudi mengorbankan kemerdekaan pikiran, dan bersedia takut kepada yang berkuasa, bersedia jadi budak supaya bebas bergerak, bahkan kadang-kadang lebih takut daripada menakuti Allah, penguasa itu pun
menjadi thagut.
Kadang-kadang
bercampur aduklah di antara
jibti dengan
thagut, atau
berpadu jadi satu.
Di Mesir orang mengadakan
Maulid Sayyid Badawi tiap-tiap tahun, berkumpul beribu-ribu manusia laki-laki dan perempuan ke kuburan beliau.
Sebab
beliau dipandang sangat keramat.
Gadis tua minta suami ke sana, perempuan mandul minta anak ke sana.
Mahasiswa yang takut tidak Iulus ujian pergi menuju ke sana.
Di kuburan itu ada pula
jibti-nya, yaitu ada serban beliau yang dipandang sangat membawa rezeki jika dapat dipegang.
Di tanah air kita pun banyak terdapat yang demikian.
Kalau mau mempelajari
campur aduknya jibti dengan thagut pergilah ziarah ke
kubur Sunan-sunan (Wali Songo), dan dengarkanlah dongeng-dongeng yang tidak masuk akal,
kumpulan jibti dan thagut dari
juru kunci.
Di dalam ayat ini diterangkanlah
betapa sesatnya orang-orang yang telah diberi sebagian dari kitab.
Kepercayaan
tauhid yang asli telah hilang, di dalam lipatan
jibti (kesesatan) dan
thagut (menuhankan makhluk).
Kalau ditanyakan, engkau pertuhankan si anu?
Niscaya mereka akan menjawab juga, "Tuhan kami Allah!"
Tetapi kalau ditanya lagi,
mengapa perkataan si anu, fatwa si anu, tafsiran si anu, kamu terima saja dengan tidak mempergunakan akal, padahal kadang-kadang
berjauhan sangat dengan firman Allah yang disampaikan Nabi kamu?
Mereka tidak dapat memberikan jawaban yang tepat.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 322-324, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Dan yang lebih mengherankan kita lagi ialah segala perbuatan ini dilihat oleh orang-orang yang berilmu, lalu mereka biarkan saja tidak mereka cegah, dan tidak mereka bendung orang-orang itu, yang telah hanyut kembali ke dalam jahiliyah pertama, bahkan lebih jahat lagi.
Karena orang-orang jahiliyah dahulu itu tetap mengakui bahwa Allah sajalah Yang Khalik (Maha Pencipta). Dialah yang memberi rejeki, Dia yang menghidupkan, Dia Yang mematikan, Dia saja yang berkuasa memberi mudharat dan memberi manfaat.
Mereka hanya semata-mata menjadikan berhala-berhala mereka itu sebagai syafa'at (pembela) di sisi Allah dan pendekat di antara mereka dengan Allah.
Sedang pemuja-pemuja kubur sekarang ini menganggap orang yang telah di dalam tanah itu mempunyai kuasa memberi mudharat dan manfaat.
Kadang-kadang mereka seru namanya tunggal, kadang-kadang namanya diseru dan diserentakkan dengan menyebut nama Allah.
Cukuplah engkau pahami betapa jahatnya pendengaran ini.
Moga-moga Allah tetaplah menolong agamanya dan membersihkan Syari'at-Nya.
Sebab Setan yang terkutuk itu telah memperalat cara-cara yang dipakai mereka ini untuk membawa jadi kafir umat yang diberkati Allah ini.
Senang hati Setan melihatnya sebab mereka sendiri menyangka bahwa perbuatan mereka itu baik.
Innaa Lil Laahi Wa Innaa Ilaihi Raji'un!!!
Sekian
asy-Syaukani di dalam
Fathul Qadir-nya.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 4 Hal. 425-426, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Boleh jadi sebagian orang tergoda mencari benih Islamisme Indonesia zaman sekarang di HAMKA dan Adiceritanya.
Seperti telah kita sebutkan, HAMKA adalah seorang perintis gerakan dakwah Indonesia dan bercita-cita membangkitkan Islam.
Tapi keliru kiranya
mencari asal-usul Islamisme radikal Indonesia hari ini di Adicerita HAMKA.
(James R. Rush, ADICERITA HAMKA: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Hal. 255-256, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet.1, 2017).
Sebagaimana perkataan
Ibnu Ruslan, "Orang yang alim kalau tidak mengamalkan ilmunya akan diazab sebelum orang yang menyembah berhala."
Baru sah iman kalau telah diikut dengan amalan, dan amalan itulah Islam.
Islam artinya menurut, menyerah, bukti menyerah itu ialah amalan.
Ke situlah pulangnya perkataan
Ulama Salaf yang mula-mula tadi, yang
iman itu ialah
ilmu dengan amal.
(Buya HAMKA, Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 66, 68, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
KEMULIAAN
Orang yang berjasa tidak boleh gamang dan kecewa jika di masa hidupnya dilupakan orang.
Orang tidak boleh menyesal jika tinggal di sebuah gubuk yang buruk.
Tidak boleh kecewa jika makan minumnya dan pakaiannya tidak semewah orang lain.
Sebab kelak buah tangannya akan menjadi modal kemajuan angkatan yang akan datang.
(Buya HAMKA, FALSAFAH HIDUP: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Hal. 280, Republika Penerbit, Cet. IV, 2016).
MUHAMMAD IBNU SA'UD
Pedang dan
Al-Qur'an, yakni pedang dalam tangan Amir
Muhammad ibnu Sa'ud, dan Al-Qur'an dalam tangan
Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab.
Mulailah Muhammad ibnu Sa'ud menyiarkan ajaran itu, membongkar syirik dan bid'ah di kalangan kabilah yang dipimpinnya dalam kota kecil Dar'iyah. Tunduklah semua pada ajaran itu dengan sendirinya pula, kuatlah kedudukannya sebagai kepala (amir). Kemudian, disusunnya satu angkatan kecil dengan tombak dan bedil si tenggar, berbaris dua-dua pergi ke desa-desa berkeliling menyampaikan ajaran itu dan menegakkan kekuasaan.
Di sana pula, duduk Syekh Muhammad ibnu Abdul Wahab menerima taubat dan memberikan nasihat-nasihatnya kepada amir dalam hal hukum agama.
Kebangkitan di Najd ini cepat tersiar ke seluruh pelosok. Amir-amir di tiap dusun, desa, negeri yang selama ini berkuasa sendiri merasa cemas. Dengan pimpinan dari seorang amir di antara amir-amir yang ada di Tanah Yaman yang bernama Hasan ibnu Haibatullah mereka mencoba menyerang gerakan baru itu langsung ke pusatnya, Dar'iyah yang dalam beberapa tahun saja sudah menjadi kota yang ramai. Di antara yang menyerang itu ikut pula Daham ibnu Dawn hingga Riyadh pun dapat direbutnya kembali.
Dengan mati-matian dan
keimanan yang teguh atas kebenaran pendiriannya Muhammad dan putranya mempertahankan kekuasaannya hingga Hasan ibnu Haibatullah terpaksa mundur ke negerinya dan Daham ibnu Dawas tidak dapat bertahan lagi, ia menyingkir ke negeri al-Ahsaa. Kemudian, masuklah Muhammad ke Kota Riyadh pada Tahun 1185 H (1772 M). Kian lama kian besarlah lawan yang dihadapi, dan kian lama kian luaslah daerah kekuasaannya yang berbenturan dengan Bani Khalid yang menguasai al-Ahsaa, dan dengan Bani al-Makrami yang menguasai Najran al-Yaman.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 289-290, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
VIII. PANDANGAN AHLI-AHLI TARIKH BARAT TENTANG DUNIA SEBELUM MUHAMMAD SAW.
Lothrop Stoddard menerangkan dalam bukunya
The New World of Islam (3) memang Islam telah bangkit laksana halimbubu yang hebat dan keras di jazirah itu. Di tengah jalan ia bertemu dengan padang yang tandus dari pimpinan roh suci. Dua kerajaan, Persia dan Romawi, telah menjadi dua pohon yang kekurangan air dan mendekati tumbang, entah hidup entah mati.
Agama yang ada pada kedua kerajaan ini telah menjadi agama permainan dan mengecewakan. Di negeri Persia, agama Mazdakiyah telah sangat luntur coloknya menjadi sebuah agama Majusi yang busuk dan menjadi pencaharian dan tipuan kekejaman juga kemungkaran oleh kepala-kepala agama sehingga agama itu menjadi sangat dibenci orang karena kecabulannya.
Di Kerajaan Roma Timur (Kerajaan Byzantium) agama telah memakai pakaian yang bukan pakaiannya yang asli, telah dimasuki oleh ajaran
syirik, penuh dengan
khurafat dan
bid'ah di bawah pimpinan
kepala-kepala agama bangsa Romawi yang
sangat sontok pikirannya sehingga agama Nasrani telah menjadi
agama olok-olokan.
Bid'ah dan
kesesatan itulah yang paling besar memegang peranan dalam menjatuhkan derajat kedua kerajaan itu. Apabila terjadi perselisihan senantiasa diselesaikan secara kejam. Terlebih lagi, karena kekuasaan raja-raja zalim yang tidak mengenal belas kasihan pada rakyatnya sehingga habis musnah perasaan cinta pada tanah air dan cinta pada kerajaan. Selain dari itu, adanya kelemahan yang timbul karena peperangan yang tiada henti antara keduanya, kelemahan dahulu daripada mestinya.
Sedilot menyebutkan, tatkala bangsa Arab berada dalam kebingungannya dan keinginan pada pergaulan bersama, terjadi peperangan besar dan hebat antara kisra dan Heraclius pada Abad ke-7 M. Ketika itu kisra berhasil merampas Dajlah, Furrat, Syam, Palestina, dan Mesir. Namun kemudian, dapat dirampas kembali oleh Heraclius (Raja Konstantinopel). Peperangan terhentikan dengan perdamaian setelah habis segenap kekuatan dari keduanya, hancur benteng-benteng dan pertahanan, kocar-kacir urusan rakyat karena terlalu banyak pembayaran pajak, bertambah lama bertambah morat-marit sehingga akhirnya muncul agama Islam.
(3) Telah diterjemahkan oleh A. Nuwaihid dalam bahasa Arab dan disyarahkan oleh Amir Syakib Arselan sehingga menjadi empat kali lebih tebal daripada kitab aslinya, diberi nama
Hadiral Alamil Islam.
(Buya HAMKA, Sejarah Umat Islam, Hal. 74-75, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Kalau kita mencintai Allah maka
jalan satu-satunya yang akan kita ikuti
hanyalah jalan yang ditempuh Nabi Muhammad saw.
Kalau kita masih ragu, menyangka ada jalan lain
selain jalan Muhammad saw. yang kita anggap benar,
batal-lah Islam kita.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 121, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
"Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun, melainkan supaya ditaati dengan izin Allah." (pangkal ayat 64).
Orang yang
mengakui Rasul, tetapi
ajarannya tidak diikuti adalah
munafik.
Mendurhakai Rasul artinya
mendurhakai Allah.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 2 Hal. 354, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
RENUNGAN BUDI
Di waktu saya masih muda dan semangat masih bergelora karena pendidikan agama yang dinamakan
"paham kaum muda" (Wahabi, -pen), kalau masuk ke rumah yang saya pandang berpaham "kaum tua",
saya kurang senang melihat ayat-ayat Al-Qur'an dijadikan perhiasan dinding.
Saya berkata dalam hati, apalah gunanya ayat Al-Qur'an dengan tulisan bagus itu digantungkan di dinding, kalau isinya tidak diamalkan.
Apalagi Nabi Muhammad saw. tidak menggantungkan ayat-ayat itu.
Tetapi setelah berlalu beberapa tahun, ayat-ayat suci itu sudah mulai tergeser atau diturunkan.
Sebab ayah yang menggantungkan ayat-ayat itu telah meninggal dunia dan telah diganti oleh anak-anaknya dengan gambar-gambar bintang-bintang film.
Sekarang mulailah saya meninjau kembali sikap saya sebagai "kaum muda", apakah saya hanya akan melihat kitab-kitab lalu menyampaikan isi kitab itu untuk masyarakat
atau saya akan melihat pula kitab kemasyarakatan lalu mengisinya dengan agama?
(Buya HAMKA, Lembaga Budi: Menegakkan Budi, Membangun Jati Diri Berdasar Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, Hal. 155, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
Setelah Ibnul Arabi menyampaikan cerita itu kepada beliau yang bersangkutan bertanyalah beliau dengan penuh keheranan,
"Apa jalannya saya mesti dibunuh, padahal amalan saya mengangkat tangan itu adalah menurut Sunnah?"
Lalu Ibnul Arabi menjawab,
"Perbuatan tuan Guru itu benar menurut Sunnah, tetapi cara mempertahankan Sunnah itu tidak kena. Karena kaum yang jadi makmum ini adalah orang-orang yang awam dan tidak mengerti."
Sebab itu Ibnul Arabi menganjurkan bahwa dalam soal-soal khilafiyah yang tidak pokok, seorang ulama hendaklah memperhatikan situasi dan menjaga jangan sampai timbul mudharat yang lebih besar oleh karena urusan kecil-kecil.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 Hal. 77, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
WAHABI DAN MAZHAB-MAZHAB
Memang, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Pendiri paham Wahabi adalah bermazhab Hambali.
Beliau jelas-jelas mengatakan bahwa paham yang dianutnya dalam menegakkan Tauhid ialah paham Ibnu Taimiyah (meninggal 728 H/1327 M) dan murid Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnul Qayyim (meninggal 751 H/ 1350 M).
Malahan kadang-kadang bagi orang yang tidak mengetahui sejarah disangka bahwa Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berguru langsung kepada kedua Ulama itu: Memang berguru langsung, tetapi kepada karangannya, bukan kepada pribadinya.
Dari sebab itu dapatlah dimengerti bahwa paham Wahabi timbul mula-mula di kalangan Mazhab Hambali.
Tetapi janganlah berpikir dangkal, menyangka bahwa Paham Wahabi itu hanya monopoli dalam Mazhab Hambali.
Lothrop Stoddard menulis di dalam bukunya yang terkenal "The New World of Islam" yang disalin ke bahasa Arab oleh 'Ajaj Nuaiwidh dengan judul "Hadhiru Alamil Islam", dan diberi komentar 3 kali lipat oleh Amir Syakib Arselan, menyebut dalam buku itu bahwa kebangkitan Wahabi di pusat Tanah Arab itu adalah awal permulaan kebangkitan baru di seluruh Dunia Islam Modern, untuk menantang penjajahan asing, baik dari segi jiwa (Ajaran Tauhid) atau dari segi politik.
Pengaruh dari kebangkitan Wahabi ini menjalar ke Tripoli dan Barqah yang bernama Libya sekarang, dipimpin oleh Sayid Muhammad bin Ali as-Sanusi meninggal tahun 1859.
Padahal mazhabnya adalah MALIKI (lihat al-Harkatus-Sanusiyah, Ahmad Shidqiy ad-Dajaniy, 1967).
Gerakan Wahabi ini pula yang memberikan inspirasi bagi kebangkitan seorang Mujahid yang besar di Hindustan (India dan Pakistan sekarang), bernama Syaikh Ahmad yang setelah beliau tewas di medan perjuangan menegakkan cita Islam, dikenal dengan sebutan Syaikh Ahmad asy-Syahid (meninggal tahun 1831). (Lihat karangan Dr. Mahmood Hussain, Majalah al-Muslimoon. no 4, juni 1955).
Padahal Mazhab Syaikh Ahmad asy-Syahiid adalah HANAFI.
Gerakan ini yang dilihat dan diperhatikan, bagaimana militan-nya, bagaimana pembersihan Tauhid-nya, dilihat oleh 3 orang Haji dari Minangkabau seketika mereka naik haji ke Mekah.
Yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.
Lalu mereka sebarkan dengan bersemangat di negeri mereka sendiri Minangkabau pada tahun 1803. Lalu diikuti orang, maka berdirilah gerakan Kaum Agama yang dimasyhurkan orang dengan nama Gerakan Padri.
Padahal ketiganya bermazhab Syafi'i.
Fakih Saghir, setelah menerangkan bagaimana besar pengaruh Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo di dalam menyebarkan dan membangkitkan semangat Islam berkata dalam keterangannya itu;
"Maka sekira-kira 4 tahun lamanya mendirikan agama itu, digerakkan Allah, datanglah Tuanku Haji Miskin dari negeri Mekah-Madinah, kemudian sempurna hajinya. Dia mendapat ke negeri Batu Tebal. Sebab pada masa dahulu sebelum dia pergi haji adalah dia diam di negeri itu. Karena dia mengambil ilmu dari pada saya punya Bapak masa dahulunya. Maka daripada banyak khabar daripada hal pekerjaan orang Mekah-Madinah bertambah-tambahlah berahi hati mendirikan Agama Allah dan Agama Rasulullah dan bersungguh-sungguhlah orang mendirikan shalat, hingga sempurna Jum'at 40 orang. Maka tidak lama antaranya pulanglah Tuanku Haji Miskin ke Pandai Sikat dan bersungguh-sungguhlah ia mendirikan Agama serta memperbaiki tempat adanya. Maka terlebih sangat pulalah masyhur pekerjaan Tuanku Haji Miskin itu dan banyaklah orang mendirikan Agama pada barang mana negeri adanya. Maka daripada mula-mula Tuanku Haji Miskin di negeri Mekah-Madinah hingga penyakit ketumbuhan, banyak habis, 9 tahun lamanya."
Ini menunjukkan bahwa inti gerakan Wahabi, sebagai gerakan kembali kepada Tauhid yang sejati mendapat sambutan hangat, lama sebelum gerakan Padri berdiri sebagai suatu kekuatan yang bersifat militan.
Jelas, sebagaimana Sejarah Padri yang "tradisional" kita terima, bahwa seluruh Alam Minangkabau menerima gerakan Wahabi dengan tidak perlu menukar mazhab,
Tuanku Nan Tuo, Syaikhul Masyaikh (Guru dari sekalian Guru) cukup disiarkan tidak dengan kekerasan dan ada yang menyusun kekuatan memberantas segala bid'ah dan khurafat adat jahiliyah; Kalau perlu dengan Pedang!
Timbullah golongan Tuanku Nan Renceh (yang keras) dan golongan Fakih Saghir (yang lunak); Dan guru mereka, Tuanku Nan Tuo lebih condong kepada paham Fakih Saghir, sehingga murid-muridnya "Harimau Nan Salapan" berontak melawan beliau ditanggalkan "Imamat" dari diri beliau dan diserahkan kepada Tuanku Mansiangan (Dekat Koto Lawas Padang Panjang). Sedang Tuanku Nan Tuo segan kepada Tuanku Mansiangan itu, sebab dia adalah anak kandung daripada gurunya Tuanku Mansiangan Nan Tuo.
Maka pecahlah Wahabi sama Wahabi, putih sama putih.
Dan Belanda pun masuklah.... Terjadilah perang sampai 34 tahun.
MENEMPUH JALAN GELAP SENDIRI
Oleh karena Parlindungan telah menegakkan kepastian, menurut dokumen sejarah Tuanku Tambusai yang tidak jelas di mana tersimpannya sekarang, dan catatan Tuanku Nan Renceh yang telah terbakar, dan menolak segala catatan lain sebab sudah dijungkir-balik, maka Parlindungan tidak dapat memberikan keterangan yang memuaskan tentang satu perkara.
Yaitu: 300 tahun Agama Islam Mazhab Syi'ah/Aliran Qaramithah telah meresap di seluruh Minangkabau sampai ke pelosok-pelosok.
Datang Gerakan Agama Islam? Mazhab Hambali? Aliran Wahabi, di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh, tetap di bawah penasihat tertinggi seorang dari Tanah Batak, yaitu Haji Hassan Nasution, maka hancurlah Syi'ah/ Qaramithah itu dalam masa 34 tahun.
Sekarang timbul pertanyaan orang: Qaramithah sudah hancur, Hambali Wahabi sudah menang, mengapa Syafi'i yang timbul?
Mengapa tidak satu jua pun nagari di Minangkabau yang menganut Mazhab Hambali? Baik Bonjol negerinya Tuanku Imam Bonjol, atau Kamang negerinya Tuanku Nan Renceh?
Mengapa ulama-ulama Minangkabau yang demikian masyhurnya, sampai ke Mesir (Syaikh Thaher Jalaluddin; cucu Fakih Saghir), sampai menjadi Imam Khatib dan Profesor dari Mazhab Syafi'i di Mekah; keturunan Tuanku Nan Kecil di Koto Gedang, (Syaikh Ahmad Khatib) bermazhab Syafi'i?
Mengapa mereka tidak jadi sisa dari Syi'ah/Qaramithah padahal nenek moyang mereka berlawanan dengan sikap kekerasan Tuanku Nan Renceh? Atau bermazhab Hambali jika mereka telah taubat?
Inilah mata rantai yang lemah dari karangan Parlindungan.
Memang payah mengarangkan hal yang tidak ada!
Kecuali jika mengarang cerita roman atau dongeng.
Tetapi kalau orang sudi menerima fakta jelas yang saya kemukakan; orang tidak akan bingung!
Sebab memang tidak pernah ada Mazhab Hambali di Minangkabau, hanya ada penganut Mazhab Syafi'i yang terpengaruh oleh semangat ajaran Imam Muhammad bin Abdul Wahhab,
Yaitu kembali kepada ajaran Tauhid yang sejati.
Dilanjutkan terus sampai kini.
(Buya HAMKA, Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao, Hal. 135-140, Republika Penerbit, Cet.I, Mei 2017).
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 219-220, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
Dengan tulisan ini saya tegaskan bahwa pimpinan majalah ini adalah bermadzhab Syafi'i.
Karena imam kita atau seorang di antara imam-imam kita, yaitu Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i pernah memesankan bahwa madzhab beliau adalah hadits yang shahih.
Beliau berkata,
"Apabila telah shahih sebuah hadits, itulah ia madzhabku."
Barangsiapa yang tahu dan mengerti Madzhab Syafi'i, pastilah ia tahu akan perkataan beliau itu.
Madzhab Syafi'i sama juga dengan madzhab-madzhab Sunni yang lain, (Madzhab Imam Malik dan Madzhab Imam Abu Hanifah di Irak, dan madzhab dari Dawud Zhahiri pecahan dari Madzhab Syafi'i),
Semuanya adalah berpokok dan berpangkal dari Al-Qur'an dan hadits yang shahih.
(Buya HAMKA, 1001 Soal Kehidupan, Hal. 201, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
MENGADU KE MEKAH
Pihak yang tua-tua rupanya tidak merasa puas melihat perkembangan fahaman yang muda-muda ini.
Diajak berdebat tidak bisa, dan pengaruhnya kepada rakyat bertambah lama bertambah kukuh.
Mereka berani menentang ulama-ulama yang mana sahaja, asal dengan alasan yang cukup, hujah dengan hujah, usul dengan usul dan mantik dengan mantik.
Akhirnya dapatlah jalan lain.
Iaitu mengirim surat kepada ulama-ulama Mekah, ulama yang pada hakikatnya lebih jumud, lebih beku daripada ulama yang mengadu sendiri.
Bagaimana mereka akan dapat mengukur masyarakat di Indonesia dengan di Mekah?
Ketika itu, pahlawan ulama Indonesia yang tidak mahu dibungkus-bungkuskan sahaja, iaitu Syeikh Ahmad Khatib telah wafat.
Maka berleluasalah melepaskan torpedo celaan.
Disusun pertanyaan yang isinya belum membuka duduk masalah, hanya mencaci maki 4 orang "biang keladi" dalam perkara ini, iaitu Abdullah Munir, Haji Rasul, Haji Jambek dan Lebai Zainuddin, yang menerbitkan majalah "Al-Munir" yang berisi fatwa yang terpacul dari ijma ulama.
Maka datanglah Fatwa Mekah, yang terkenal dengan nama "17 Masalah".
Di sana dihukumkanlah keempat-empat orang itu keluar daripada jalan Ahli Sunnah wal Jama'ah.
Sehingga kalau sekiranya mereka naik haji ke Mekah pada masa itu, tentu akan terus masuk penjara!
Lucu juga nama Abdullah Ahmad diganti dengan Abdullah Munir, jadi Abdullah yang bercahaya.
Gelaran ejekan itu menjadi kemasyhuran pula bagi beliau.
Fatwa dari Mekah mereka sambut dengan senyuman sahaja.
Pada suatu hari tiba-tiba datanglah ke Padang seorang ulama yang telah bertahun-tahun mengajar di Mekah, iaitu Syeikh Abdulkadir Mandahiling (Al-Mandili, cara Mekahnya). Sengaja beliau datang ke Padang untuk menghadiri pertemuan yang diadakan untuk menghormati beliau. Baru sama-sama mengaji, rupanya Syeikh itu tidak biasa berpidato: Kalah semangat.
Lalu mengaku sahaja:
"Innama ana muqallid. Saya cuma taklid kepada Ulama-ulama sahaja."
(Buya HAMKA, Ayahku, 156-157, PTS Publishing House Malaysia, 2015).
Kategorisasi syirk dan kufur merupakan khas Wahhabi, yang memang cenderung rigid atau kaku dan keras dalam pandangan ketauhidan.
Mungkin, dalam tradisi Arab, kata-kata "sesat", "syirk", "kafir", dan sejenisnya memiliki anatomi kebahasaan yang wajar sebagaimana keterbukaan masyarakat Arab, namun manakala ditarik ke ranah dan konstruksi hukum dan berlaku untuk wilayah-wilayah Muslim di belahan dunia lain menjadi bermasalah.
(MUHAMMADIYAH & WAHHABISME: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru, Hal. 69, Penerbit Suara Muhammadiyah, Cet. Kedua, 2013).
Gerakan Wahhabiyyah atau predikat apapun yang dinisbahkan pada gerakan Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab ini, memang pada dasarnya merupakan "gerakan pemurnian Islam" (al-Harakah al-Tandhifiyyah al-Islamiyyah).
Pemurnian Islam atau pemurnian akidah yang diusung, merujuk pada akidah "al-Salaf al-Shalih" sebagaimana dipelopori oleh mazhab Hanbali dan Ibn Taimiyyah yang menjadi kiblat pemikiran keagamaan Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab serta gerakan-gerakan pemurnian Islam lain di banyak belahan dunia Islam kala itu dan sesudahnya.
Akidah Salaf tentu saja merujuk pada akidah yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw, generasi Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut at-Tabi'in; yakni era Nabi dan tiga generasi sesudahnya.
Lebih khusus lagi, gerakan Wahhabiyyah pada pemberantasan syirk, bid'ah, dan khurafat dengan pendekatan yang cenderung keras.
Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab sebenarnya merupakan pelanjut dari pemikiran Ibn Taimiyyah dalam hal pemurnian akidah (tandhif al-'aqidah al-Islamiyyah), sekaligus penganut mazhab Hanbali yang ketat.
Tapi, di tangan Wahhab, gerakan pemurnian itu dibumikan secara lebih konkret dan massif dalam wujud pemberantasan "paganisme" atau praktik keagamaan yang cenderung syirk, bid'ah, tahayul, dan khurafat (TBC).
(MUHAMMADIYAH & WAHHABISME: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru, Hal. 68, Penerbit Suara Muhammadiyah, Cet. Kedua, 2013).
Beliau sendiri pun melihat, memang masih banyak amal orang awam (jelata) Indonesia yang bid'ah.
Kata mereka bermadzhab Syafi'i, padahal dalam madzhab itu sendiri, tidak ada contoh amal demikian.
(Buya HAMKA, Kenang-kenangan Hidup: Buku Satu, Hal. 125, Penerbit Balai Pustaka, Cet.1, 2015).
Setelah mendengar bahwa saya akan datang ke beberapa negeri dalam Kerajaan Johor, mufti memerintahkan kepada seluruh qadhi dalam Kerajaan Johor untuk tutup pintu sekalian masjid dalam Kerajaan Johor buat HAMKA mengadakan syarahan (tabligh-ceramah).
Saya masih berada dalam sebuah Guesthouse di Malaka, telah datang utusan dari D.O Muar (District Officer), setingkat Bupati di Indonesia, meminta supaya saya datang ke Muar mengadakan syarahan (tabligh-ceramah).
"Bukankah mufti melarang saya bersyarah di masjid?", tanya saya.
"Kuasa mufti hanya di masjid, di tempat-tempat di luar masjid, seumpama tanah lapang tidak ada kuasa mufti. Apatah lagi kalau Tuan HAMKA yang bersyarah (tabligh), di masjid pun tidak juga akan muat."
Begitulah saya terus bersyarah di Sindian, Kluang, Batupahat, dan Kota Johor sendiri, di klub pertemuan atau di tanah lapang.
Larangan Mufti Johor, meskipun sebuah negeri kecil, sebesar satu kecamatan atau kurang, dapat kita jadikan pula perbandingan memaksakan suatu paham agama dengan kekuasaan, payahlah akan berhasil, malahan itulah yang akan memecahkan persatuan.
Jika mereka mengarang tentang fiqih, yang diulang-ulangnya hanyalah fiqih lama untuk 800 Tahun yang lalu, tidak berani menyatakan fiqih (paham) yang baru.
Syukur pula di negara kita Indonesia ini tidak terdapat lagi perkongsian antara para sultan dengan para ulama kerajaan untuk menghambat kemajuan berpikir tentang agama.
Khilafiyah adalah cencang air tidak putus. Yang satu berpendapat begini, dipandangnya dari satu sudut. Yang lain berpendapat begitu, dipandangnya dari sudut lain.
Sebab, yang demikian itu menjadi alamat (pertanda) bahwa bangsa dalam negeri itu berpaham bebas dan bersemangat toleransi.
Kita harus menyadari bahwa umat Islam seluruh dunia itu hanyalah satu. Tidak ada perubahan juz dan surah, sekalipun perubahan titik dan baris.
Kalau demikian, mengapa kadang-kadang timbul seakan-akan "perang dingin" di antara golongan-golongan umat Islam karena berlainan khilafiyah?
Namun, kita pun harus sadar bahwa akan terdapat sebagian besar dari umat itu yang tidak mau kekolotannya disinggung,
Dengan segala daya upaya kita telah memilih jangan menyinggung, jangan berkhilafiyah.
Namun, oleh karena soal khilafiyah itu ternyata sangat relatif maka terkadang jika kita memberantas perbuatan yang tidak berasal dari Islam, kita pun dituduh memecah persatuan.
Kepopuleran tidak saja tegak di atas sanjung puji manusia, tetapi barulah sah kepopuleran itu apabila ia tegak di atas dua tonggak yang teguh.
Ketahuilah bahwa suatu cita-cita pembaruan tenaga Islam adalah perjuangan jangka panjang.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 70, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).